Hari Ketiga Kajian Sepekan; Matahari Terbit dari Barat dan Munculnya Dabbah

BANDUNG (sigabah.com)—Pembahasan mengenai terbitnya matahari dari barat dan munculnya dabbah dipaparkan pada hari ketiga Kajian Sepekan Ramadhan di Pendopo Pesantren Ibnu Hajar, Selasa (29/5/18). Dengan dihadiri oleh ratusan jumlah peserta yang hadir, seperti biasanya pembahasan dibagi dalam dua sesi.

Pada sesi pertama, Ustaz Amin Muchtar mendahulukan pembahasan terbitnya matahari dari barat. Ayat yang mengabarkan tentang kejadian ini tercantum dalam ayat 38 pada surat Yasin, “dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” Memahami makna dari kalimat “limustaqarril lahaa (di tempat peredarannya)” maka didapati dua pemaknaan.

Pertama, tempat menetapnya matahari. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat al-Bukhari, tempat yang di maksud ialah di bawah ‘Arsy. “Berarti di manapun matahari berada, mau di barat mau di timur, pada dasarnya ia tidak akan pernah keluar di bawah ‘Arsy. Begitu pula semua makhluk, mengingat ‘Arsy merupakan atap bagi semua makhluk Allah,” jelas Ustaz Amin Muchtar.

Kedua, waktu atau batas terakhir perjalanannya. Maksudnya ialah pada hari kiamat, perjalanan matahari akan terhenti dan diam tidak bergerak lagi, serta digulung (dipadamkan), sehingga alam semesta ini mencapai usianya yang paling maksimal.

Adapun kronologi kejadian matahari terbit dari barat tercantum dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Dzar. Isi dari hadis tersebut ialah matahari terus beredar hingga berhenti pada tempatnya di bawah ‘Arsy, lalu menyungkur sujud. Ia tetap sujud hingga dikatakan kepadanya, ‘Kamu naiklah dan kembalilah pada tempat dari mana kamu datang.’ Hal ini disebutkan dua kali oleh Nabi, sampai akhirnya Allah memerintahkan kepada matahari, ‘Naiklah dan terbitlah pagi hari dari barat.’

Kejadian ini, kata Ustaz Amin setelah mengemukakan beragam dalilnya, memiliki hikmah tersendiri. Di antara hikmahnya ialah tertutupnya pintu taubat. “Berbagai dalil tersebut menunjukkan bahwa taubat tidak diterima setelah matahari terbit dari barat, dan seorang kafir tidak diterima keislamannya ketika itu,” tutur beliau.

Pada sesi kedua, materi yang disampaikan masuk ke pembahasan mengenai munculnya dabbah. Dalam ayat 82 pada surat al-Naml dijelaskan bahwa yang dimaksud dabbah adalah sejenis hewan melata. Hanya saja, al-Quran maupun hadis sahih tidak menyebutkan ciri-ciri lebih spesifik terkait hewan ini.

“Maka cukuplah bagi kita untuk mengimani apa yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang al-dabbah, tanpa perlu menetapkan ciri-cirinya secara mendetail, karena perkara tersebut termasuk hal gaib yang tidak bisa diketahui kecuali dari wahyu berupa ayat al-Qur`an ataupun hadis Nabi,” terang beliau.

Namun, dalam sebuah hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa dabbah akan muncul pada pagi hari berdekatan dengan kejadian terbitnya matahari dari barat, tanpa disebutkan kejadian mana yang lebih dulu terjadi.

Selain itu, terdapat hikmah dari kemunculan dabbah ini, yaitu hewan tersebut dapat berbicara kepada manusia, memberi tanda kepada orang-orang kafir, serta memberi tanda kepada kaum mukminin dengan membuat terang wajah mereka hingga bersinar cemerlang.

Di penutup acara, Ustaz Amin mengingatkan agar cara pandang yang digunakan dalam hal apapun, termasuk mengenai akhir zaman senantiasa sesuai dengan al-Qur’an dan sunah. “Jadi cara pandang kita pada hari ini terus direparasi disesuaikan dengan petunjuk Qur’an sunah. Mudah-mudahan semakin yakin kita akan benarnya ajaran Islam dan lebih semangat untuk mempelajari dan terus menebarkan seluruh petunjuk ini di keluarga kita dan di masyarakat kita,” pungkas beliau. (/IF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *