Hari Keempat Kajian Sepekan 1440 H: Hari Perhitungan dan Pembalasan Amal Manusia

BANDUNG (sigabah.com)—Hari Perhitungan dan Pembalasan Amal Manusia menjadi materi keempat setelah membahas mengenai kuburan dan alam kubur, tiupan sangsakala dan hari berbangkit, serta hari dikumpulkannya manusia di padang mahsyar yang dipaparkan oleh Ustaz Amin Muchtar pada Rabu (16/5/19) di Pendopo Pesantren Ibnu Hajar.

Dalam penyampaiannya, Ustaz Amin mengingatkan bahwa materi ini sangat penting untuk disampaikan mengingat masih banyak yang terlupa bahwa masuk surga itu sejatinya bukan karena banyaknya amal, tetapi karena hadirnya rahmat Allah.

“Kita bernafsu dalam beramal saja belum cukup seandainya kita tidak bisa menjadi manusia pilihan Allah. Amal yang telah kita tabung, kebaikan yang telah kita investasikan ternyata belum tentu memadai andai kata kita tidak terpilih. Dengan rahmat Allah lah kita masuk surga. Baru, nanti di surga menentukan level melalui amal,” tutur Ustaz Amin.

Inilah yang menjadi pertimbangan bagi siapapun agar senantiasa menjaga amalannya dari perkara dosa, karena bagaimanapun juga orang yang pintar berdusta di dunia tidak akan mampu mengelak ketika ditampakkan rekaman amal yang sebenarnya.

“Hari ini gunung merekam setiap gerak gerik kita, tetapi tidak bisa melaporkan. Sungai dan semua ciptaan Allah itu merekam setiap yang kita lakukan, tetapi tidak bisa menampakkan. Maka di padang mahsyar, semua yang terucap, tingkah laku yang kita perbuat memiki rekam jejak yang demikian lengkap dan kita tidak bisa mengelak saat dihadapkan pada mahkamah ilahi dan ditegakkan persaksian. Jadi, apa yang nanti akan terjadi dalam proses hisaban sebetulnya kita pun sudah punya rekamannya tapi sering kali kita tidak mengakui,” jelas Ustaz Amin.

Oleh karena itu, sambung beliau, setiap kesalahan yang dilakukan harus segera diperbaiki ketika kita masih diberikan jatah usia di dunia.

“Jika kita salah, kita akui salah. Jangan kemudian kita salah dibalut dengan berbagai dalih. Semakin banyak dibela dan dibalut, maka penyakit kita semakin parah. Lebih baik sekarang kita memiliki beban lalu terbebas daripada nanti dihisaban justru menjadi beban dan tanggung jawab,” ungkap Ustaz Amin. (/IF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *