AGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM DAN BARAT

Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang ahli dalam dunia pendidikan dan pemikiran Islam, dalam bukunya yang berjudul “Risalah untuk kaum Muslimin” berpesan kepada kita semua: “Seperti juga dalam ilmu peperangan kau harus mengenal siapakah dia seterumu itu; di manakah letaknya kekuatan dan kelemahan tenaganya; apakah helah dan tipu muslihatnya bagi mengalahkanmu; bagaimanakah cara dia menyerang dan apakah yang akan diserangnya; dari jurusan manakah akan serangan itu didatangkan; siapakah yang membantunya, baik dengan secara disedari mahupun tiada disedari.”

Prof. Al-Attas dalam tulisannya itu mengingatkan kepada kita, supaya kita harus mengenal hakikat “musuh” itu sendiri, tujuannya bukan supaya kita ikut pemikiran mereka, tapi untuk tau dimana letak kekuatan dan kelemahan mereka, juga untuk tau dari segi apa aja mereka menyerang kita, ketika kita tahu sejarah peradaban “musuh” kita, maka kita akan tau keadaan mereka, sehingga kita bisa (lebih) mempersiapkan apa yang seharusnya dipersiapkan. Sebagaimana yang kita tau, dunia hari ini dikuasai sama peradaban Barat dari banyak aspek. Nah, di kesempatan ini, kita akan coba liat gimana perbedaan Islam dan Barat dalam melihat agama, sebagai upaya kita memahami, siapa yang sebenarnya sedang kita hadapi.

Pertama kita bakal bahas agama menurut kacamata Barat. Orang-orang barat (mayoritas) liat agama ini dari perspektif sekuler. Dalam perspektif sekuler, agama itu cuma sekedar urusan spiritual. Jadi kalau disebut agama, berarti itu cuma salah satu sistem dalam kehidupan. Kalau kita belajar lmu antropologi, kita bakal dikenalin dengan yang namanya sistem-sistem kehidupan, ada sistem sosial, sistem politik, sistem teknologi, sistem pengetahuan, dan nanti ada yang disebut dengan sistem religi. Jadi agama (sistem religi) itu cuma salah satu dari bagian kehidupan manusia. Jadi dalam perspektif Barat, yang namanya agama itu terbatas. Sifatnya itu privat, agama itu urusan masing-masing lah. Maka kalau kita liat di negara-negara sekuler, disana gaakan ada badan pemerintah yang ngurus urusan agama (kalau di Indonesia kan ada departemen agama), karena kalau ada badan yang ngurus agama, jatuhnya agama bukan lagi privat tapi jadi publik, engga sesuai sama perspektif sekuler.

Awal munculnya perspektif sekuler, bahwa urusan agama dan kehidupan dunia itu harus dipisah, justru dibuat sama orang barat di zaman modern, ditandai dengan adanya Renaissance di Eropa. Di zaman ini ada kritik terhadap agama, kritik terhadap gereja, yang waktu itu dianggap terlalu dominan ngatur urusan-urusan manusia. Maka akhirnya, orang-orang Eropa ini bikin gerakan protes. Nah, gerakan protes ini melahirkan distrust atau ketidakpercayaan sama agama. Ada semacam trauma kepada agama.

Jadi, orang-orang sekuler ataupun liberal, dimana pun mereka berada, sebisa mungkin mereka bakal memperjuangkan supaya agama engga dibawa ke ranah publik. Semisal di negara kita indonesia, mereka akan mati-matian menolak diterapkannya syariat Islam sebagai sistem pemerintahan, karena menurut perspektif mereka itu artinya agama udah dibawa ke ranah publik.

Lalu gimana dengan Islam? Dalam Islam justru sebaliknya. Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi, tidak mewariskan ajaran agama seperti yang didefinisikan sama orang-orang Barat. Islam yang dicontohin sama nabi, dicontohin sama para sahabat, memandang agama sebagai keseluruhan aspek kehidupan. Keseluruhan bukan sebagian.

Dalam Islam, agama ini dipraktekin dalam kehidupan sehari-hari. Dan otomatis maka dia akan bersentuhan dengan semua aspek kehidupan manusia. Jadi kalau di dalam peradaban manusia ini, ada yang namanya aspek hukum, Islam akan hadir di sana. Makanya satu-satunya agama yang mempunyai hukum yang mapan itu cuma Islam.

Contoh kedua, Islam juga mengatur hubungan antara manusia dengan kekuasaan. Yaitu sistem politik namanya. Islam sangat berpengaruh, nanti kan dijelasin gimana karakter seorang pemimpin dalam Islam, gimana hakikat kekuasaan itu sendiri, dan sebagainya.

Contoh ketiga, interaksi dengan sistem pengetahuan dan teknologi. Pengetahuan dan teknologi dalam Islam itu sangat dipengaruhi oleh Qur’an-Sunnah. Karena ada beberapa hal yang emang perlu adanya pengetahuan dan teknologi. Contoh dalam ibadah-ibadah, biasanya itu kan diukur lewat peristiwa-peristiwa alam. Solat 5 waktu misalnya. Kalau subuh, diliat waktu terbit matahari. Dzuhur, waktu matahari tergelincir, dan lainnya. Kan ini sangat mengandalkan matahari, kalau hujan gimana? Maka disinilah perlunya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan Islam, hadir disini. Dari ilmu pengetahuan dikembangkanlah ilmu astronomi. Jadi astronomi itu pertamakali berkembang, karena kepentingan umat Islam. Dari situ dikembangkan juga teknologi. Misalnya alat untuk mengetahui peristiwa-peristiwa alam. Ini dikembangkan juga karena ada kebutuhan.

Contoh lain, manusia juga kan berhubungan sama aspek seni, yaitu sebagai ekspresi keindahan, Islam hadir juga disana. Kita akan mengenal yang namanya Islamic art. Nanti ada seni arsitektur, seni sastra, bahkan juga seni membaca Al-Qur’an; Islam jadi satu-satunya agama di dunia, yang bahkan dalam hal baca kitab suci saja ada seninya.

Dan terakhir udah pasti, Islam juga mengatur  sistem hubungan manusia dengan Allah, karena emang dasarnya agama adalah berangkat dari keyakinan.  Bahkan dalam aspek ini Islam sangat apik mengatur kita berhubungan dengan Allah, misal dalam wudhu saja, kita kan diatur sedemikian rupa, engga asal, ada tata caranya; tertib.

Itulah beberapa contoh gimana Islam masuk ke berbagai sendi kehidupan manusia. Dengan pengaruhnya yang demikian besar, jelas kalau ‘agama’ dalam perspektif Islam engga bisa didefinisikan kayak perspektif Barat, yang hanya sebatas spiritual, dia tidak ada kaitannya dengan teknologi, sosial, pengetahuan, dan aspek kehidupan lainnya.

Dalam Islam, agama didorong sebagai pembangun peradaban khusus. Peradaban Islam.  Dan dalam sejarah kehidupan manusia, peradaban yang dikaitkan sama agama itu cuma berlaku di Islam. Kita hampir tidak mendengar ada peradaban Yahudi, peradaban Kristen. Mereka hanya akan menyebut peradaban Barat. Karena mereka engga bangga sama agamanya.  Agama kristen yang mereka ciptakan, itu engga ngelahirin peradaban apapun, sebab itu bukan agama dari Allah, melainkan agama yang mereka ciptakan sendiri yang sudah tentu penuh dengan keterbatasan.

Akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa Islam, sepanjang perjalanan sampai hari ini, bukan hanya agama yang sekedar bisa mengatur manusia dengan Tuhannya saja. Tapi Islam ini sebagai satu sistem yang lengkap di dalam mengatur kehidupan manusia. Dan yang paling penting buat kita garis bawahi, Islam bukan cuma sekedar konsep kosong, melainkan sudah terbukti berhasil diaplikasikan, ketika pada zaman Rasul dahulu. Islam membangun sebuah perdaban yang unggul dalam segala aspek, dan manusia-manusia pada zaman itu berhasil menjadi generasi manusia terbaik. So, mari kita pegang teguh Islam dengan sebenarnya agar kesuksesan hidup dunia-akhirat dapat diraih oleh kita sebagai umat Islam.

By Azmi Fathul Umam

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *