AKIBAT BEDA PILIHAN (Tafsir Surat An-Nisa:115)

Allah Swt. berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahanam. Dan, jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. Qs. An-Nisa:115

Mayoritas ahli tafsir menyatakan, bahwa ayat ini dan beberapa ayat sebelumnnya (105-114) diturunkan berhubungan dengan Thu’mah bin Ubairiq yang murtad dari Islam. Dalam hal ini,  Imam at-Thabari menjelaskan:

فَأَنْزَلَ اللهُ فِي شَأْنِهِ: ( وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا )

“Maka Allah menurunkan ayat tentang urusannya: ‘wa man yusyaaqiqir rasula…” [1]

Dalam keterangan lainnya, ia menjelaskan:

وَنَزَلَتْ هذِهِ الآيَةُ فِيْ الْخَائِنِيْنِ الَّذِيْنَ ذَكَرَهُمُ اللهُ فِي قَوْلِهِ:”وَلاَ تَكُنْ لِلْخَائِنِيْنِ خَصِيْمًا”، لَمَّا أَبَى التَّوْبَةَ مَنْ أَبَى مِنْهُمْ، وَهُوَ طُعْمَةُ بْنُ الأُبَيْرِقِ، وَلَحِقَ بِالْمُشْرِكِيْنَ مِنْ عَبْدَةِ الأَوْثَانِ بِمَكَّةَ مُرْتَدًّا، مُفَارِقًا لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَدِيْنِهِ

“Ayat ini turun tentang para pengkhianat telah diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya ‘wa laa takun lilkhainiina khashiima.’ (QS.An-Nisa:105) Ketika orang yang menolak di antara mereka enggan taubat, yaitu Thu’mah bin Ubairiq, dan ia bergabung dengan orang-orang musyrik, penyembah berhala di Mekah dalam keadaan murtad, meninggalkan Rasulullah saw. dan agamanya.” [2]

Kisah yang melatarbelakangi turunnya ayat ini diterangkan pula oleh para ahli tafsir lainnya.

Menyingkap Petunjuk Ayat Secara Global

Pokok pembicaraan ayat itu berkisar tentang ancaman terhadap orang murtad (wa’ied al-murtaddin) dan balasan bagi perkara mereka (‘aqibatu amrihim).

Ayat tersebut (ayat 115), memiliki korelasi (hubungan timbal balik) dengan ayat-ayat sebelumnya, baik ayat terdekat (ayat 114) maupun ayat terjauh  (ayat 113-105), dilihat dari aspek pelaku persitiwa (sababun nuzul) dan perbandingan keadaan (muqabalah) antara janji (wa’d) bagi kaum mukmin (ayat 114) dan ancaman (wa’ied) bagi kaum murtad kembali kafir (ayat 115). Gaya ungkap seperti ini, merupakan adat Allah swt. dalam menyusun keindahan rangkaian ayat Alquran. Sehubungan dengan itu, Imam as-Shawi menyatakan:

لَمَّا ذَكَرَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْمُطِيْعِيْنَ وَمَا أَعَدَّ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ ذَكَرَ وَعِيْدَ الْكُفَّارِ وَعَاقِبَةَ أَمْرِهِمْ عَلَى عَادَتِهِ سُبْحَانَهُ فِي كِتَابِهِ

“Tatkala, Dia (Allah) telah menyebut mukmin taat dan balasan yang disediakan bagi mereka di akhirat, Dia menyebut ancaman kaum kafir dan balasan perkara mereka, menurut adat Allah swt. dalam kitab-Nya.” [3]

Dari korelasi inilah, kita dapat memahami siapa al-mu’min yang dimaksud? Apa maksud sabilul mu’minin dan ghair sabilil mu’minin? Berdasarkan ayat sebelumnya, al-mu’min yang dimaksud adalah al-muthi’in (mukmin yang taat). Sabilul mu’minin adalah agama Islam yang dipegang teguh oleh mukmin taat, baik dalam aqidah (ushul) maupun amaliah  (furu’). Ghair sabilil mu’minin adalah agama yang dipegang teguh oleh mukmin yang telah murtad, baik dalam ‘aqidah maupun amaliah.

Menyingkap Petunjuk Ayat Secara Rinci

Para pakar Al-Quran telah berupaya menyingkap mutiara petunjuk Ilahi di balik ayat di atas melalui ragam pendekatan. Jika pendekatan gaya bahasa dan kosa kata sebagai keyword digunakan, di sana kita temukan beberapa kata kunci untuk mengantarkan kita kepada penghayatan pesan utama yang terkandung di dalamnya, sebagai berikut:

Pertama, untuk menjelaskan status orang yang senantiasa menentang syariat Rasulullah saw., ayat di atas menggunakan kata yusyaaqiq (يشاقق). Kata ini, terambil dari kata dasar Syiqq (شق) yang berarti “sisi” (الجانب). Penggunaan makna bahasa demikian itu dapat kita temukan dalam riwayat tentang al-Fadhl bin Abbas yang bertatap muka dengan seorang wanita dari Khats’am. Waktu itu, kata Ibnu Abas:

وَجَعَلَ النَّبِيُّ يُصَرِّفُ وَجْهَ الْفَضْلِ اِلَى الشِّقِّ اْلاخَرِ

“dan Nabi memalingkan wajah Al-Fadhl ke sisi yang lain.” HR. Al-Bukhari-Muslim.

Dalam perkembangan selanjutnya, kata ini digunakan untuk pengertian menentang atau berbeda dengan sengaja, karena penentang seakan-akan memilih sisi yang berbeda dengan sisi orang lain. [4] Jadi, penggunaan kata ini hendak mengesankan bahwa orang yang menempuh jalan hidup selain syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw. dipandang sebagai pihak yang sengaja memilih sisi yang berbeda dengan sisi beliau. Sehubungan dengan itu, Ibnu Katsir menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: {وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى} أَيْ: وَمَنْ سَلَكَ غَيْرَ طَرِيْقِ الشَّرِيْعَةِ الَّتِيْ جَاءَ بِهَا الرَّسُوْلُ صلى الله عليه وسلم، فَصَارَ فِي شِقٍّ وَالشَّرْعُ فِي شِقٍّ، وَذلِكَ عَنْ عَمْدٍ مِنْهُ بَعْدَمَا ظَهَرَ لَهُ الْحَقُّ وَتَبَيَّنَ لَهُ وَاتَّضَحَ لَهُ

Firman Allah: ‘Wa man yusyaaqiqir rasul …’ Yaitu, dan siapa yang menempuh jalan selain syariat yang dibawa oleh Rasul, maka ia jadi berada di satu pihak dan syariat pada pihak lainnya. Dan, hal itu sengaja dilakukan setelah nampak dan jelas kebenaran baginya. [5]

Kata dan makna yang sama dapat kita temukan pula dalam ayat lain:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” QS. Al-Anfal:13

Menurut Imam al-Baidhawi dan Ibnu Su’ud, penentangan mereka disebut syaaqqa, karena masing-masing dari pihak penentang berada pada sisi yang berbeda dengan sisi Allah dan Rasul-Nya. [6]

Kedua, untuk menjelaskan penentangan itu, ayat di atas menggunakan kategori “bukan jalan mukmin”, dengan firman-Nya:

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ

mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin.”

Maksud ghair sabiilil mu’minin, menurut Imam at-Thabari:

وَيَتَّبِعْ طَرِيْقًا غَيْرَ طَرِيْقِ أَهْلِ التَّصْدِيْقِ، وَيَسْلُكُ مِنْهَاجًا غَيْرَ مِنْهَاجِهِمْ، وَذلِكَ هُوَ الْكُفْرُ بِاللهِ، لأَنَّ الْكُفْرَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ غَيْرُ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَغَيْرُ مِنْهَاجِهِمْ

Dan mengikuti jalan selain jalan Ahlut tashdiq (ahlul iman) dan menempuh manhaj selain manhaj mereka. Dan, hal itu adalah kufur kepada Allah. Karena, kufur kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan jalan kaum mukmin dan bukan pula manhaj mereka.”[7]

Sementara menurut Imam al-Alusi:

{ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ } أَيْ غَيْرَ مَا هُمْ مُسْتَمِرُّوْنَ عَلَيْهِ مِنْ عَقْدٍ وَعَمَلٍ فَيَعُمُّ الأُصُوْلَ وَالْفُرُوْعَ وَالْكُلَّ وَالْبَعْضَ

“(Firman Allah:) Wa yattabi’ ghaira sabilil mu’minin.’ Yaitu, selain aqidah dan amal yang dipegang teguh oleh mereka. Maka, ‘wa yattabi’ ghaira sabilil mu’minin,’ itu mencakup perkara ushul dan furu’, seluruh dan sebagiannya.” [8]

Dalam pemaknaan Imam Fakhruddin ar-Razi:

قَوْلُهُ { وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ } يَعْنِي غَيْرَ دِيْنِ الْمُوَحِّدِيْنَ ، وَذلِكَ لأَنَّ طُعْمَةَ تَرَكَ دِيْنَ الإِسْلاَمِ وَاتَّبَعَ دِيْنَ عِبَادَةِ الأَوْثَانِ

“Firman Allah, ‘Wa yattabi’ ghaira sabilil mu’minin.’ Yaitu, selain agama ahli tauhid. Demikian itu, karena Thu’mah telah meninggalkan agama Islam dan mengikuti agama penyembahan berhala.” [9]

Menurut Imam al-Baidhawi:

{ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ } غَيْرَ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنِ اعْتِقَادٍ أَوْ عَمَلٍ

“(Firman Allah:) Wa yattabi’ ghaira sabilil mu’minin. Yaitu selain ‘aqidah dan amal yang dipegang teguh oleh mereka.”[10]

Imam az-Zamakhsyari menjelaskan:

{ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ } وَهُوَ السَّبِيْلُ الَّذِيْ هُمْ عَلَيْهِ مِنَ الدِّيْنِ الْحَنِيْفِيِّ الْقَيِّمِ

“(Firman Allah:) Wa yattabi’ ghaira sabilil mu’minin.’ Yaitu, agama hanif lagi lurus yang dipegang teguh oleh mereka.” [11]

Dalam pemaknaan Imam as-Syaukani:

{ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ } أَيْ غَيْرَ طَرِيْقِهِمْ ، وَهُوَ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ دِيْنِ الإِسْلاَمِ وَالتَّمَسُّكِ بِأَحْكَامِهِ

“(Firman Allah:) Wa yattabi’ ghaira sabilil mu’minin.’ Yaitu, selain jalan mereka. Yaitu, agama Islam yang mereka anut. Dan, berpegang teguh terhadap hukum-hukumnya.” [12]

Adapun hubungan antara kalimat: “mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin” dengan kalimat sebelumnya: “barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya” , dijelaskan oleh Ibnu Katsir sebagai berikut:

وَقَوْلُهُ: {وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ} هذَا مُلاَزِمٌ لِلصِّفَةِ الأُوْلَى، وَلكِنْ قَدْ تَكُوْنُ الْمُخَالَفَةُ لِنَصِّ الشَّارِعِ، وَقَدْ تَكُوْنُ لِمَا أَجْمَعَتْ عَلَيْهِ الأُمَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ، فِيْمَا عُلِمَ اتِّفَاقُهُمْ عَلَيْهِ تَحْقِيْقًا، فَإِنَّهُ قَدْ ضُمِنَتْ لَهُمُ الْعِصْمَةُ فِي اجْتِمَاعِهِمْ مِنِ الْخَطَأِ، تَشْرِيْفًا لَهُمْ وَتَعْظِيْمًا لِنَبِيِّهِمْ

Dan, firman Allah, ‘wa yattabi’ ghaira sabilil mu’minin.’ Ini, mengikuti sifat pertama (yusyaaqiq), namun terkadang penentangan itu terhadap nas Allah dan terkadang pula terhadap ijma’ umat Muhamad dalam perkara yang kesepakatan mereka terhadap perkara itu telah diketahui secara pasti. Karena, kesepakatan mereka telah dijamin terbebas dari kesalahan sebagai pemuliaan kepada mereka dan penghormatan kepada Nabi mereka.” [13]

Menurut Imam Abu Hayyan:

وَسَبِيلُ الْمُؤْمِنِينَ: هُوَ الدِّيْنُ الْحَنِيْفِيُّ الَّذِيْ هُمْ عَلَيْهِ . وَهذِهِ الْجُمْلَةُ الْمَعْطُوْفَةُ هِيَ عَلَى سَبِيْلِ التَّوْكِيْدِ وَالتَّشْنِيْعِ ، وَإِلاَّ فَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ هُوَ مُتَّبِعٌ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ ضَرُوْرَةً ، وَلكِنَّهُ بَدَأَ بِالأَعْظَمِ فِي الإِثْمِ ، وَأَتْبَعَ بِلاَزِمِهِ تَوْكِيْداً

“Sabilul Mu’minin itu adalah agama hanif yang dipegang teguh oleh mereka. Dan, perkataan ini di-“athaf”-kan (dihubungkan) sebagai keterangan penguat dan penjelas kejelekan. Jika tidak demikian fungsinya, maka orang yang menentang Rasul itu dia pasti pengikut selain jalan mukmin. Tetapi, karena Dia (Allah) telah memulai dengan (penyebutan) dosa yang terbesar dan menyertakan/mengikutkan kelazimannya sebagai penguat.” [14]

Menurut Ibnu Asyur:

وَسَبِيْلُ كُلِّ قَوْمٍ طَرِيْقَتُهُمُ الَّتِيْ يَسْلُكُوْنَهَا فِي وَصْفِهِمُ الْخَاصِّ ، فَالسَّبِيْلُ مُسْتَعَارٌ لِلاِعْتِقَادَاتِ وَالأَفْعَالِ وَالْعَادَاتِ ، الَّتِيْ يُلاَزِمُهَا أَحَدٌ وَلاَ يَبْتَغِي التَّحَوُّلَ عَنْهَا… فَمَنِ اتّبَعَ سَبِيْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي الإِيْمَانِ وَاتّبَعَ سَبِيْلَ غَيْرِهِمْ فِي غَيْرِ الْكُفْرِ مِثْلَ اتِّبَاعِ سَبِيْلِ يَهُوْدَ خَيْبَرَ فِي غَرَاسَةِ النَّخِيْلِ ، أَوْ بِنَاءِ الْحُصُوْنِ ، لاَ يُحْسَنُ أَنْ يُقَالَ فِيْهِ اتَّبَعَ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ . وَكَأَنَّ فَائِدَةَ عَطْفِ اتِّبَاعِ غَيْرِ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى مُشَاقَّةِ الرَّسُوْلِ الحَيْطَةُ لِحِفْظِ الْجَامِعَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ بَعْدَ الرَّسُوْلِ ، فَقَدِ ارْتَدَّ بَعْضُ الْعَرَبِ بَعْدَ الرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم …فَكَانُوْا مِمَّنِ اتَّبَعَ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَلَمْ يُشَاقُّوْا الرَّسُوْلَ

“Sabil setiap kaum adalah cara yang mereka tempuh dalam sifat khusus. Maka, kata as-Sabil itu adalah kata pinjaman untuk berbagai keyakinan, perbuatan, dan adat yang dipegang teguh oleh seseorang. Dan, dia tidak ingin berpindah darinya. …. Maka, orang yang mengikuti jalan mukmin dalam hal keimanan dan mengikuti jalan selain mukmin, bukan dalam hal kekufuran, seperti mengikuti cara Yahudi Khaibar dalam menanam kurma atau membangun benteng, tidak tepat dikatakan bahwa orang itu mengikuti jalan selain jalan mukmin. Dan, seakan-akan faidah di-athaf-kannya kalimat ittiba’ ghair sabilil mu’minin kepada yusyaaqiqir rasul adalah kewaspadaan untuk menjaga persekutuan Islam setelah Rasul. Karena, sungguh telah murtad sebagian bangsa Arab setelah Islam. Maka, di antara orang yang mengikuti selain jalan mukmin tidak secara otomatis menentang Rasul.” [15]

Maksud Ibnu Asyur, mengikuti orang-orang kafir bukan dalam nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya dalam bidang penerapan teknologi, tidak termasuk yang diancam dalam ayat ini.

Dari berbagai penjelasan para ulama di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa:

  1. Sabilul mu’minin adalah agama Islam yang dipegang teguh oleh kaum mukmin, baik dalam perkara ‘aqidah (ushul) maupun pengamalan (furu’).
  2. Orang yang menempuh jalan hidup selain sabilul mu’minin dipandang sebagai pihak yang sengaja memilih sisi yang berbeda dengan sisi syariat Nabi saw.
  3. Perbedaan pilihan itu ditandai dengan penyimpangan dalam perkara ushul dan furu’, baik secara totalitas maupun sebagiannya.
  4. Pilihan berbeda itu akan berakibat hukum berupa pertanggungjawaban di akhirat (azab Jahannam).

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

[1]Lihat, Tafsir at-Thabari, IX:183.

[2]Ibid., IX:205

[3]Lihat, Hasyiah as-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, I:245

[4]Lihat, penjelasan Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa at-Tanwir, IV:35; Syekh Thanthawi dalam at-Tafsir al-Wasith, III:310; Syekh al-Maraghi dalam Tasir al-Maraghi, V:152-153

[5]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, II:412.

[6]Lihat, Anwaar at-Tanziil wa Asraar at-Ta’wiil, II:372; Irsyaad al-‘Aql as-Saliim ilaa Mazaayaa al-Kitaab al-Kariim, III:103

[7]Lihat, Tafsir at-Thabari, IX:204-205

[8]Lihat, Tafsir Ruhul Ma’ani, IV:230

[9]Lihat, Tafsir Mafatihul Ghaib, V:381

[10]Lihat, Anwarut Tanzil, I:498

[11]Lihat, Tafsir Al-Kasysyaf, I:463

[12]Lihat, Tafsir Al-Kasysyaf, I:463

[13]Lihat, Tafsir Fathul Qadir, II:214.

[14]Lihat, Tafsir al-Bahr al-Muhith, I:131.

[15]Lihat, At-Tahrir wa at-Tanwir, IV:35.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *