FUNGSI PSIKOLOGIS MANUSIA

Manusia diberi bekal oleh Allah swt, untuk menjalani kehidupannya di dunia. Manusia diberi keistimewaan oleh Allah swt, yang membedakan dengan makhluk lainnya yaitu Akal. Allah swt tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia, selalu ada hikmah dibalik penciptaannya. Allah membekali manusia agar mampu menjalankan tugas-tugasnya di bumi, dengan begitu manusia mempunyai kemampuan berpikir yang membuatnya dapat membaca setiap “sinyal-sinyal” yang terjadi dalam setiap fase kehidupan. Kemampuan berpikir inilah yang lantas menjadikan manusia mampu menjalankan tugas-tugasnya di muka bumi ini yaitu untuk beribadah kepada Allah swt.

Tak hanya sebatas akal, Allah juga menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk yang dilengkapi dengan alat indra, dengan indra tersebut kita dapat menangkap stimulus-stimulus yang ada di lingkungan atau yang terjadi diluar diri kita (ektsternal), serta dapat mempersepsi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya (internal) yang bekerja sesuai dengan fungsi psikologisnya yang disebut persepsi, yang amat sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia dalam memandang sesuatu yang mendorong dirinya melakukan sesuatu. Dari stimulus yang mereka dapatkan di lingkungannya kemudian semua kejadian yang tertangkap oleh alat indra nya tersimpan dalam memori.

Seorang anak yang lahir ke dunia dalam keadaan tidak mengetahui apapun, kemudian alat indra seorang anak mulai berfungsi dengan baik dan anak belajar dari lingkungannya, anak pun mendapatkan stimulus-stimulus dari luar yang dapat mempengaruhi perasaan dalam dirinya. Itulah kemudian yang menjadi dasar terbentuknya persepsi dan pengetahuan anak terhadap dunia luar. Mereka melihat apa yang orang tuanya lakukan, mereka mendengar apa yang orang lain bicarakan, dan melalui indra mereka belajar merasakan stimulus-stimulus yang didapatkan dari berbagai lingkungan melalui alat indranya. Allah berfirman dalam Qs. An-Nahl [16] ayat 78:

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ‌ۙ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Seorang anak terus belajar dari pengalaman-pengalaman melalui observasi di lingkungan sosialnya. Segala bentuk informasi yang diperoleh anak pada fase pertama kehidupannya akan tersimpan dalam memori dan membentuk pola pikir untuk kehidupan selanjutnya. Informasi -informasi yang mereka dapatkan pada fase kehidupan pertamanya akan mempengaruhi juga tingkah laku yang akan dilakukannya di masa yang akan datang. Oleh karena itu pendidikan agama bisa dilakukan sejak dini bahkan sejak dalam kandungan, sebagai pondasi ketauhidan dalam menjalani kehidupan.

Dengan akal seharusnya manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk berdasarkan observasinya selama ini dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi kemampuan akal manusia itu terbatas, pemikiran manusia bisa juga salah dan ada hal-hal yang menghalangi manusia untuk berpikir secara benar. Dengan begitu manusia membutuhkan teladan yang mampu membimbingnya, mengarahkannya dan mengajarinya. Oleh karena itu Allah SWT., mengutus para nabi dan rasul sebagai pembawa kebenaran serta menurunkan kitab suci yang membawa kita menuju cahaya kebenaran dan menjadi pegangan serta teladan bagi manusia menuju jalan kebaikan. Allah berfirman dalam Qs. An Nahl [16] ayat 36:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِى ڪُلِّ أُمَّةٍ۬ رَّسُولاً أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّـٰغُوتَ‌ۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَـٰلَةُ‌ۚ فَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

Jika Akal itu digunakan sesuai tuntunan ilahi dengan menjalankan perintah-Nya dan meneladani Sunnah Rasul-Nya, maka Allah akan memberi anugerah berupa ketajaman akal dan kejernihan hati yang akan mempengaruhi setiap fungsi psikologis manusia, seperti persepsi, berfikir, belajar, dll. Maka akal akan membantu manusia untuk senantiasa berada di jalan kebenaran, karena manusia yang senantiasa bersyukur atas apa yang Allah berikan, senantiasa berpikir untuk memilih jalan kebaikan daripada kemaksiatan. Alat indra yang Allah berikan dapat kita gunakan untuk mempersepsi setiap fase dalam kehidupan dengan penuh hikmah sesuai dengan tuntunan Allah swt, supaya manusia memperoleh pengetahuan dan pandai membaca maksud Allah swt dalam setiap kejadian dalam fase kehidupannya. Serta dapat mengatur kehidupannya di muka bumi dan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang abadi agar terwujudya kebahagiaan di dunia dan akhirat.

By Arina M Husna, sigabah.com/beta

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *