PEMAKNAAN HADIS TARAWIH VERSI AISYAH

Setiap kali memasuki bulan Ramadhan, tak terkecuali Ramadhan tahun ini, banyak pertanyaan yang disampaikan kepada kami tentang masalah tata cara (kaifiyat) shalat Tarawih 4 rakaat, baik dari jamaah online (OL) atau Facebooker maupun offline (di masjid dan majelis taklim). Pertanyaan itu pada umumnya dipacu oleh munculnya fatwa dari sebagian mubalig atau asatidz, baik “di darat” maupun “di udara” bahwa shalat tarawih 4+4 itu dilakukan dengan salam pada setiap 2 rakaat. Sehubungan dengan itu, analisa yang tersaji pada forum ini semoga dapat dijadikan bahan perbandingan

Takhrij[1] Hadis Aisyah

Informasi tentang kaifiyat shalat Tarawih 4 rakaat diperoleh dari Ummul Mukminin Aisyah saat menjawab pertanyaan salah seorang muridnya yang popular dengan sebutan Abu Salamah bin Abdurahman:

كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى رَمَضَانَ، قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً، قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَارَسُولَ اللهِ، أَ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلَمْ يَنَمْ قَلْبِي

“Bagaimana salat Rasulullah saw. pada malam bulan Ramadhan ? Ia (Aisyah) menjawab, ’Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, dan engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya, beliau salat (lagi) empat rakaat, dan jangan (pula) engkau bertanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat. Aisyah berkata, ‘Aku bertanya wahai Rasulullah ! Apakah engkau tidur sebelum witir ? Beliau menjawab, ’Hai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur’.”

Keterangan Abu Salamah bin Abdurahman di atas kita peroleh melalui jalur yang sama, yaitu Malik bin Anas. Ia menerima dari Sa’id bin Abu Sa’id al-Maqburi. Ia menerima dari Abu Salamah bin Abdurahman.

Dari Malik, hadis itu diriwayatkan oleh 15 orang rawi sebagai berikut:

  1. Abdurrahman bin Mahdi.[2]
  2. Ishaq bin Isa.[3]
  3. Abu Salamah Manshur bin Salamah al-Khuza’I.[4]
  4. Abdullah bin Yusuf.[5]
  5. Ismail bin Abu Uwais. [6]
  6. Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi. [7]
  7. Yahya bin Yahya. [8]
  8. Ma’an bin Isa. [9]
  9. Abdurrahman bin al-Qasim. [10]
  10. Qutaibah bin Sa’id. [11]
  11. Abdullah bin Wahab. [12]
  12. Ahmad bin Abu Bakar. [13]
  13. Bisyr bin Umar az-Zahrani. [14]
  14. Abdurrazaq. [15]
  15. Abu Mus’ab. [16]

Keterangan Abu Salamah di atas diriwayatkan pula melalui jalur lain, yaitu Sufyan bin Uyainah, dari Abdullah bin Abu Labid, dari Abu Salamah, dengan variasi redaksi sebagai berikut:

Pertama:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى لَبِيدٍ سَمِعَ أَبَا سَلَمَةَ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَىْ أُمَّهْ أَخْبِرِينِى عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَتْ كَانَتْ صَلاَتُهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِاللَّيْلِ مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ.

Dari Abdullah bin Abu Labid, ia mendengar Abu Salamah berkata, “Saya mendatangi Aisyah, lalu saya berkata kepada Aisyah, ‘Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw.’ Aisyah berkata, ‘Salat beliau di waktu malam pada bulan Ramadhan dan selainnya sama tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar’.”

Redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanad Amr an-Naqid, Sufyan bin Uyainah, dari Abdullah bin Abu Labid, dari Abu Salamah. [17]

Kedua:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ أَيْ أُمَّتْ أَخْبِرِينِي عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَتْ صَلَاتُهُ فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ سَوَاءً ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِيهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ قُلْتُ فَأَخْبِرِينِي عَنْ صِيَامِهِ قَالَتْ كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ وَمَا رَأَيْتُهُ صَامَ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ فِي شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُهُ إِلَّا قَلِيلًا

Dari Abu Salamah, saya pernah berkata kepada Aisyah, “Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw.” Aisyah berkata, “Salat beliau di bulan Ramadhan dan selainnya sama tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar.” Lalu saya berkata, “Kabarkanlah kepadaku mengenai shaum beliau!” (Aisyah) berkata, “Beliau rajin bershaum hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berbuka dan beliau juga rajin berbuka hingga kami katakan seolah-olah beliau tak pernah shaum. Saya tidak pernah melihat beliau shaum lebih sering pada suatu bulan dari pada shaumnya di bulan Syaban, beliau terus melakukan shaum di bulan itu kecuali sedikit hari saja yang tidak.”

Redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad Sufyan, dari Ibnu Abu Labid, dari Abu Salamah. [18]

Ketiga:

عَنِ ابْنِ أَبِي لَبِيدٍ سَمِعَ أَبَا سَلَمَةَ يَقُولُ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ : أَيْ أُمَّهْ أَخْبِرِينِي عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ  فَقَالَتْ : كَانَتْ صَلاَتُهُ بِاللَّيْلِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَفِيمَا سِوَى ذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dari Ibnu Abu Labid, ia mendengar Abu Salamah berkata, “Saya pernah berkata kepada Aisyah, ‘Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw. Di waktu malam.’ Aisyah berkata, ‘Salat beliau di waktu malam, pada bulan Ramadhan dan selainnya tiga belas rakaat’.”

Redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dengan dua sanad (1) Abu Hasyim Ziyad bin Ayub, (2) Abdul Jabar bin al-‘Ala. Keduanya dari Sufyan, dari Ibnu Abu Labid, dari Abu Salamah. [19]

Keempat:

عَنِ ابْنِ أَبِي لَبِيدٍ  سَمِعَ أَبَا سَلَمَةَ يَقُولُ : أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ : أَيْ أُمَّهْ أَخْبِرِينِي عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَتْ : كَانَتْ صَلاَتُهُ بِاللَّيْلِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَفِيمَا سِوَى ذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ قُلْتُ : أَخْبِرِينِي عَنْ صِيَامِهِ  قَالَتْ : كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ : قَدْ صَامَ  وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ : قَدْ أَفْطَرَ  وَلَمْ أَرَهُ صَامَ مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ  كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.

Dari Ibnu Abu Labid, ia mendengar Abu Salamah berkata, “Saya mendatangi Aisyah, lalu saya berkata, ‘Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw.’ Aisyah berkata, “Salat beliau di waktu malam, pada bulan Ramadhan dan selainnya tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar.” Lalu saya berkata, “Kabarkanlah kepadaku mengenai shaum beliau!” (Aisyah) berkata, “Beliau rajin bershaum hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berbuka dan beliau juga rajin berbuka hingga kami katakan seolah-olah beliau tak pernah shaum. Saya tidak pernah melihat beliau shaum lebih sering pada suatu bulan dari pada shaumnya di bulan Syaban, beliau terus melakukan shaum di bulan itu kecuali sedikit hari saja yang tidak.”

Redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam Abu Ya’la dengan sanad al-Abbas bin al-Walid an-Narsi, dari Sufyan bin Uyainah, dari Ibnu Abu Labid, dari Abu Salamah. [20]

Kelima:

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِىُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى لَبِيدٍ – وَكَانَ مِنْ عُبَّادِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ – قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُولُ : دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْتُ : أَىْ أُمَّهْ أَخْبِرِينِى عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِاللَّيْلِ وَعَنْ صِيَامِهِ. فَقَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ صَائِمًا فِى شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ فِى شَعْبَانَ ، كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ ، بَلْ كَانَ يَصُومُهُ إِلاَّ قَلِيلاً ، وَكَانَتْ صَلاَتُهُ بِاللَّيْلِ فِى رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْهَا رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ .

Dari Abdullah bin Abu Labid, dan ia termasuk ahli ibadah di antara penduduk Madinah, ia berkata, ‘Saya mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, ‘Saya mendatangi Aisyah, lalu saya berkata kepada Aisyah, ‘Ibu, kabarkanlah kepadaku mengenai salat Rasulullah saw. Di waktu malam dan mengenai shaum beliau’ Aisyah berkata, ‘”Rasulullah saw. rajin bershaum hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berbuka dan beliau juga rajin berbuka hingga kami katakan seolah-olah beliau tak pernah shaum. Saya tidak pernah melihat beliau shaum lebih sering pada suatu bulan dari pada shaumnya di bulan Syaban, beliau terus melakukan shaum di bulan itu kecuali sedikit hari saja yang tidak. Dan salat beliau di waktu malam pada bulan Ramadhan dan selainnya tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar’.”

Redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam Al-Humaidi dengan sanad Sufyan bin Uyainah, dari Ibnu Abu Labid, dari Abu Salamah. [21]

Penjelasan Hadis

A. Rawi Abu Salamah bin Abdurahman bin Awf

Para ulama berbeda pendapat tentang nama asli Abu Salamah. Sebagian berpendapat namanya Abdullah. Sedangkan menurut yang lain, namanya Ismail.

Oleh para ulama Abu Salamah dikategorikan sebagai thabaqat tabi’in wushtha, yaitu generasi para rawi setelah sahabat yang wafat pada tahun 90-an hingga 198 H. Ia dilahirkan pada tahun 20 H lebih dan wafat tahun 94 H. di Madinah pada masa kekhalifahan al-Walid, pada usia 92 tahun. Namun menurut al-Waqidi, ia wafat tahun 104 H, dalam usia 72 tahun. [22]

Abu Salamah termasuk salah seorang di antara tujuh ahli fiqih (al-fuqaha as-Sab’ah) di Madinah, bendaharawan hadis di kalangan tabiin. Ia banyak menerima hadis dari sejumlah tokoh sahabat, antara lain Aisyah.

B. Matan Hadis 

Di dalam matan hadis itu disebutkan bahwa Abu Salamah bertanya kepada Aisyah. Kata tanya yang digunakannya adalah kaifa (bagaimana), sementara masalah yang ditanyakan adalah:

كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى رَمَضَانَ

“Salat Rasulullah saw. pada malam bulan Ramadhan”

Dalam menjelaskan maksud pertanyaan ini, Imam al-Baji berkata:

قَوْلُهُ كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ يَحْتَمِلُ السُّؤَالُ عَنْ صِفَةِ صَلَاتِهِ وَهُوَ الْأَظْهَرُ مِنْ جِهَةِ اللَّفْظِ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ سُؤَالًا عَنْ عِدَّةِ مَا يُصَلِّي مِنْ الرَّكَعَاتِ يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ جَوَابُ عَائِشَةَ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً فَأَجَابَتْهُ بِالْعَدَدِ ثُمَّ أَتْبَعَتْ ذَلِكَ الصِّفَةَ عَلَى مَا يَأْتِي فِي الْحَدِيث وَقَدْ تَأْتِي كَيْفَ بِمَعْنَى كَمْ

“Perkataannya (Abu Salamah): ‘bagaimana salat Rasulullah di bulan Ramadhan’ pertanyaan itu mengandung makna tentang sifat (kaifiyat) salat beliau, dan makna ini yang lebih jelas dilihat dari aspek lafal. Dan dapat pula mengandung makna tentang jumlah rakaat salat. Pemaknaan itu diperoleh dari jawaban Aisyah, ‘’Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat.’ Maka ia menjawabnya dengan jumlah. Selanjutnya ia menyertakan sifat shalat itu sebagaimana diterangkan dalam hadis itu.  Dan terkadang kata kaifa bermakna pula kam (berapa).” [23]

Adapun dalam menjelaskan kandungan pertanyaan itu, Imam al-Baji berkata:

وَإِنَّمَا قَصَرَ السُّؤَالَ عَلَى رَمَضَانَ لِمَا رَأَى مِنْ الْحَضِّ عَلَى صَلَاةِ رَمَضَانَ فَظُنَّ لِذَلِكَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخُصُّهُ بِصَلَاةٍ فَأَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ أَنَّ فِعْلَهُ كَانَ فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ سَوَاءٌ وَفِي ذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ حُصُولَنَا عَلَى صَلَاةِ رَمَضَانَ لِمَا عُلِمَ مِنْ ضَعْفِنَا عَنْ إقَامَةِ ذَلِكَ فِي جَمِيعِ الْعَامِ فَحَضَّنَا عَلَى أَفْضَلِ أَوْقَاتِ الْعَامِ

“Dan ia (Abu Salamah) membatasi pertanyaan (salat malam) di bulan Ramadhan tiada lain sebab ia melihat terdapat anjuran salat malam di Ramadhan, karena itu ia menduga bahwa Nabi saw. mengkhususkannya dengan suatu salat. Maka Aisyah mengabarkan kepadanya bahwa amal Nabi di Ramadhan dan di luar Ramadhan itu sama.  Dan dalam hal itu terdapat penjelasan bahwa kita hanya dapat mencapai salat di bulan Ramadhan, karena telah diketahui kelemahan kita untuk melaksanakan salat itu di semua tahun. Maka Nabi saw. mendorong kita kepada waktu yang paling utama dalam satu tahun.” [24]

Penjelasan Atas Jawaban Aisyah

Di dalam matan hadis itu disebutkan oleh Abu Salamah jawaban Aisyah terhadap pertanyaan yang diajukannya, sebagai berikut:

Pertama:

مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat.”

Dalam jalur periwayatan lain dengan redaksi:

كَانَتْ صَلاَتُهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِاللَّيْلِ مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ.

“Salat beliau di waktu malam pada bulan Ramadhan dan selainnya sama tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar.”

Di dalam jawaban Aisyah ini terdapat keterangan tambahan, selebih dari masalah yang ditanyakan, yaitu Abu Salamah bertanya tentang salat malam Nabi saw. di bulan Ramadhan, sementara jawaban Aisyah:   “Pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainnya.”

Sehubungan dengan itu, Imam al-‘Aini berkata:

وَفِيْهِ تَعْمِيْمُ الْجَوَابِ عِنْدَ السُّؤَالِ عَنْ شَيْءٍ لِأَنَّ أَبَا سَلَمَةَ إِنَّمَا سَأَلَ عَائِشَةَ رضي الله تعالى عنها عَنْ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ فِي رَمَضَانَ خَاصَّةً فَأَجَابَتْ عَائِشَةُ بِأَعَمَّ مِنْ ذلِكَ وَذلِكَ لِئَلاَّ يَتَوَهَّمَ السَّائِلُ أَنَّ الْجَوَابَ مُخْتَصٌّ بِمَحَلِّ السُّؤَالِ دُوْنَ غَيْرِهِ فَهُوَ كَقَوْلِهِ هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ وَالْحِلُّ مَيْتَتُهُ لَمَّا سَأَلَهُ السَّائِلُ عَنْ حَالَةِ رُكُوْبِ الْبَحْرِ وَمَعَ رَاكِبِهِ مَاءٌ قَلِيْلٌ يَخَافُ الْعَطَشَ إِنْ تَوَضَّأَ فَأَجَابَ بِطُهُوْرِيَّةِ مَاءِ الْبَحْرِ حَتَّى لاَ يُخْتَصُّ الْحُكْمُ بِمَنْ هذِهِ حَالُهُ

“Dan padanya terdapat dalil memperumum jawaban bagi pertanyaan sesuatu (yang khusus), karena sungguh Abu Salamah bertanya kepada Aisyah khusus tentang salat Rasulullah di bulan Ramadhan, maka Aisyah menjawab dengan jawaban yang lebih umum (di Ramadhan dan luar Ramadhan) daripada yang ditanyakan (di Ramadhan). Demikian itu (mesti dilakukan) agar tidak menimbulkan sangkaan pada benak  penanya bahwa jawaban itu dikhususkan bagi kasus sesuai konteks pertanyaan (bulan Ramadhan), tidak berlaku di luar. Jawaban demikian itu seperti sabda Nabi saw. ’Dia (laut) itu suci akirnya dan halal bangkainya.’ Sebagai jawaban atas pertanyaan tentang orang yang berlayar di lautan dengan membawa air tawar sedikit. Jika digunakan untuk wudhu, khawatir ia kehausan. Maka Nabi menjawab kesucian air laut (secara umum) agar hukum kesucian air itu tidak dikhususkan bagi orang yang mengalami kasus itu (membawa air sedikit).”[25]

Kedua, jumlah Rakaat 11 & 13

Aisyah mengatakan:

مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat.”

Pada kalimat di atas, Aisyah menggunakan huruf maa yang berfungsi menegasikan atau kata sangkalan. Hingga fragmen (petikan) ini dapat dipahami seakan-akan Aisyah hendak menyatakan bahwa tidak ada tambahan dari sebelas rakaat dalam salat sunat malam, baik di Ramadhan, Sya’ban, dan tidak pula Syawal. Fragmen ini merupakan nash, yaitu perkataan atau kalimat yang dipakai sebagai alasan atau dasar untuk ketetapan kammiyyah (jumlah rakaat).

Jika kita bandingan periwayatan Abu Salamah versi rawi Sa’id bin Abu Sa’id al-Maqburi dan Abdullah bin Abu Labid, kita mendapatkan gambaran bahwa semua periwayatan Abu Salamah melalui jalur rawi Sa’id bin Abu Sa’id al-Maqburi menegaskan jumlah rakaatnya tidak lebih dari 11:

مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan, (juga) pada bulan yang lainnya, dari sebelas rakaat.”

Sedangkan semua periwayatan Abu Salamah melalui jalur rawi Abdullah bin Abu Labid menegaskan jumlah rakaatnya 13 (11+2 qabla subuh):

كَانَتْ صَلاَتُهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِاللَّيْلِ مِنْهَا رَكْعَتَا الْفَجْرِ.

“Salat beliau di waktu malam pada bulan Ramadhan dan selainnya sama tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya dua rakaat fajar.”

Dengan demikian kedua jumlah itu (11 & 13) tidak bertentangan, karena kalimat:

عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“(tidak lebih) dari sebelas rakaat.” Tidak menghitung dua rakaat sebelum shubuh.

Sehubungan dengan itu, al-Qasthalani dan Muhammad Syamsul Haq Abadi menyatakan bahwa kalimat

عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً : أَيْ غَيْرَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

“(tidak lebih) dari sebelas rakaat, yaitu selain dua rakaat sebelum shubuh.” [26]

Dalam mensikapi indikasi pertentangan keterangan Aisyah tentang jumlah salat malam Nabi, Imam al-Qurthubi berkata:

وَهذَا – أَيْ الإِضْطِرَابُ – إِنَّمَا يَتِمُّ لَوْ كَانَ الرَّاوِيْ عَنْهَا وَاحِدٌ أَوْ أَخْبَرَتْ عَنْ وَقْتٍ الصَّوَابُ أَنَّ كُلَّ شَيْءٍ ذَكَرَتْهُ مِنْ ذلِكَ مَحْمُوْلٌ عَلَى أَوْقَاتٍ مُتَعَدِّدَةٍ وَأَحْوَالٍ مُخْتَلِفَةٍ بِحَسَبِ النَّشَاطِ وَبَيَانِ الْجَوَازِ

“Dan ini—yaitu kekacauan—akan memadai tiada lain jika rawi yang meriwayatkan dari Aisyah itu seorang atau Aisyah mengabarkan tentang satu waktu. Yang benar semua keterangan yang disampaikannya menunjukkan waktu yang berbilang dan berbagai keadaan yang berbeda sesuai dengan aktivitas dan penjelasan tentang hukum kebolehan.” [27]

Bantahan terhadap dugaan pertentangan dalam keterangan Aisyah disampaikan pula oleh Imam al-Baji:

ذَكَرَتْ عَائِشَةُ فِي هذَا الْحَدِيْثِ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً غَيْرَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ و ذَكَرَتْ في الْحَدِيْثِ السَّابِقِ أَنَّهُ كَانَ لاَ يَزِيدُ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ ذَكَرَ بَعْضُ مَنْ لَمْ يَتَأَمَّلْ أَنَّ رِوَايَةَ عَائِشَةَ إِضْطَرَبَتْ فِيْ الْحَجِّ وَالرَّضَاعِ وَصَلاَةِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ وَقَصْرِ الصَّلاَةِ فِيْ السَّفَرِ قَالَ وَهذَا غَلَطٌ مِمَّنْ قَالَهُ فَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهَا أَحْفَظُ الصَّحَابَةِ فَكَيْفَ بِغَيْرِهِمْ وَإِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى هذَا قِلَّةُ مَعْرِفَتِهِ بِمَعَانِي الْكَلاَمِ وَوُجُوْهِ التَّأْوِيْلِ فَإِنَّ الْحَدِيْثَ الأَوَّلَ إِخْبَارٌ عَنْ صَلاَتِهِ الْمُعْتَادَةِ الْغَالِبَةِ وَالثَّانِي إِخْبَارٌ عَنْ زِيَادَةٍ وَقَعَتْ فِيْ بَعْضِ الأَوْقَاتِ أَوْ ضَمَّتْ فِيْهِ مَا كَانَ يَفْتَتِحُ بِهِ صَلاَتَهُ مِنْ رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ قَبْلَ الإِحْدَى عَشْرَةَ

“Aisyah menyebutkan dalam hadis ini bahwa, ‘beliau salat tiga belas rakaat selain dua rakaat sebelum shubuh.’ Dan ia menyebutkan pada hadis sebelumnya bahwa, ‘beliau tidak menambah dari sebelas rakaat.’ Dan sungguh sebagian orang yang tidak berfikir secara mendalam telah menyebutkan bahwa riwayat Aisyah itu kacau pada bab haji, penyusuan, salat Nabi saw. di waktu malam, dan salat qashar di perjalanan. Dan ini adalah kekeliruan dari orang yang mengatakannya, maka sungguh para ulama telah sepakat bahwa Aisyah adalah sahabat yang paling hafal (tentang salat malam Nabi saw.), maka bagaimana dengan selain mereka? Yang memacu munculnya pendapat demikian itu tiada lain karena minimnya pengetahuan tentang makna pembicaraan dan berbagai aspek takwil. Karena hadis pertama mengabarkan tentang salat yang biasanya dilakukan Nabi. Sementara hadis kedua mengabarkan tentang tambahan rakaat yang terjadi pada sebagian waktu lain  atau menggabungkan dua rakaat yang beliau lakukan sebagai pembuka salat malam, sebelum melakukan 11 rakaat.” [28]

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa Aisyah mengabarkan kepada Abu Salamah berdasarkan pengetahuan Aisyah tentang salat malam semata yang dilakukan Nabi di rumah Aisyah. Selanjutnya, Aisyah menggabungkan keterangan dua rakaat sebelum salat subuh pada jumlah 11 rakaat salat malam itu.

Ketiga, Sifat 11 Rakaat

Setelah Aisyah mengukuhkan kammiyyah (jumlah) 11 rakaat dengan menegasikan tambahan dari jumlah itu, selanjutnya Aisyah menjelaskan kaifiyyah (tata cara) pelaksanaan 11 rakaat itu, sebagai berikut:

يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً،

“Beliau salat empat rakaat, maka engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya, beliau salat (lagi) empat rakaat, dan jangan (pula) engkau bertanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat.

Penjelasan Aisyah di atas menunjukkan bahwa:

أَنَّهُ إِذَا صَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ صَلاَّهَا أَرْبَعًا أَرْبَعًا ثُمَّ صَلَّى ثَلاَثاً

“Nabi saw. apabila salat malam 11 rakaat, beliau melaksanakannya 4 rakaat, 4 rakaat, kemudian beliau salat 3 rakaat.” [29]

Setiap selesai menyebut rincian kaifiyat, Aisyah menyatakan:

فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ

“maka engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya”

Aisyah melarang Abu Salamah menanyakan tentang hal itu karena berbagai kemungkinan:

  1. karena Abu Salamah dipandang tidak mampu melakukan hal yang serupa dengan Nabi dalam hal kualitas salat dan kuantitas lamanya, sehingga tidak perlu ditanyakan,
  2. karena Abu Salamah dipandang sudah mengetahui hal itu karena kualitas salat Nabi dan kuantitas waktunya sudah popular, sehingga tidak perlu ditanyakan lagi,
  3. Karena Aisyah tidak mampu menjelaskan sifat amal Nabi itu secara hakiki. [30]

 

Penjelasan Kalimat: Yushalli Arba’an

Dalam  menjelaskan kaifiyyah (tata cara) pelaksanaan 11 rakaat itu, Aisyah menggunakan kalimat:

يُصَلِّى أَرْبَعًا ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً

“Beliau salat empat rakaat, kemudian beliau salat (lagi) empat rakaat, kemudian beliau salat tiga rakaat.”

Para ulama dari berbagai generasi dan beragam madzhab fikih telah menjelaskan maksud perkataan Aisyah: 4 rakaat, 4 rakaat, dan 3 rakaat, di atas. Dalam menjelaskan maksud perkataan itu—hemat kami—mereka telah berupaya secara objektif, tanpa “terpengaruh” madzhab yang dianutnya.

Sikap ini berbeda dengan sebagian kalangan yang membaca atau mempelajari penjelasan para ulama yang bersangkutan. Di mana penjelasan dari mereka sering kali dipahami secara tidak utuh atau tidak objektif, sehingga melahirkan suatu kesimpulan yang belum tentu selaras dengan maksud ulama tersebut.

Demi memelihara objektifitas tersebut, di sini akan kami sajikan penjelasan dari para ulama itu secara lengkap beserta teks aslinya, antara lain:

Ibnu Abd al-Barr (w. 463 H) berkata:

وَأَمَّا قَوْلُهُ يُصَلِّى أَرْبَعًا ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً فَذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى أَنَّ الأَرْبَعَ لَمْ يَكُنْ بَيْنَهَا سَلاَمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ وَلاَ جُلُوْسَ إِلاَّ فِي آخِرِهَا وَذَهَبَ فُقَهَاءُ الْحِجَازِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ إِلَى أَنَّ الْجُلُوْسَ كَانَ مِنْهَا فِي كُلِّ مَثْنَى وَالتَّسْلِيْمَ أَيْضًا وَمَنْ ذَهَبَ هذَا الْمَذْهَبَ كَانَ مَعْنَى قَوْلِهِ فِي هذَا الْحَدِيْثِ عِنْدَهُ أَرْبَعًا يَعْنِي فِي الطُّوْلِ وَالْحُسْنِ وَتَرْتِيْبِ الْقِرَاءَةِ وَنَحْوِ ذلِكَ وَدَلِيْلُهُمْ عَلَى ذلِكَ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم:صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى لِأَنَّهُ مُحَالُ أَنْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ وَيَفْعَلَ خِلاَفَهُ صلى الله عليه وسلم

“Dan adapun perkataannya yushalli ‘arba’an (beliau salat 4 rakaat), tsumma yushalli ‘arba’an, tsumma yushalli tsalaatsan, maka suatu kaum berpendapat bahwa 4 rakaat itu tanpa salam di antaranya, dan sebagian mereka berpendapat, ‘Tidak duduk (tahiyat) kecuali di akhir rakaat keempat.’ Sementara ahli fiqh Hijaz dan sekelompok ulama Irak berpendapat bahwa duduk (tahiyat) di antara  4 rakaat itu pada setiap 2 rakaat, demikian pula salam. Dan orang yang berpendapat demikian memaknai kata empat pada hadis itu dalam hal panjang (lama rakaat), keelokan (tata cara), tertib bacaan, dan lain-lain. Dan dalil mereka atas pendapat itu sabda Nabi saw. ‘Salat malam itu dua rakaat, dua rakaat’, karena mustahil beliau memerintah terhadap sesuatu dan beliau berbuat sebaliknya.” [31]

Al-Qadhi Iyadh (w.544 H) berkata:

قَوْلُهَا : (يُصَلِّى أَرْبَعًا اَرْبَعًا) الْحَدِيْثَ : فَذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى أَنَّ الْأَرْبَعَ لَمْ يَكُنْ بَيْنَهَا سَلاَمٌ وَكَذَلِكَ الْأَرْبَعُ الأَخَرُ ، وَقَالَ آخَرُونَ: لَمْ يَجْلِسْ إِلَّا فِي آخِرِ كُلِّ أَرْبَعٍ وَذَهَبَ مُعْظَمُ الْفُقَهَاءِ الْحِجَازِيِّيْنَ وَبَعْضُ الْعِرَاقِيْنَ إِلَى التَّسْلِيْمِ بَيْنَ كُلِّ اثْنَتَيْنِ مِنَ الأَرْبَعِ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ ، وَتَأْوِيْلُ مَعْنَى ذِكْرِ أَرْبَعٍ هُنَا عِنْدَ بَعْضِهِمْ أَنَّهَا كَانَتْ فِي التِّلاَوَةِ وَالتَّحَسُّنِ عَلَى هَيْئَةٍ وَاحِدَةٍ لَمْ يَخْتَلِفِ الرَّكْعَتَانِ الأَوَّلَيَانِ مِنَ الآخِرَتَينِ ثُمَّ الأَرْبَعُ بَعْدَهَا أَيْضًا مُشْتَبِهَةٌ فِي الصِّفَةِ مِنَ التَّرْتِيْلِ وَالتَّحْسِيْنِ وَإِنْ لَمْ تَبْلُغْ فِي طُوْلِهَا قَدْرَ الأَوَّلِ كَمَا قَالَ فِي الْحَدِيْثِ الاَخَرِ : (يُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ هُمَا دُوْنَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا)

“perkataannya yushalli ‘arba’an ‘arba’an (beliau salat 4 rakaat, 4 rakaat), maka suatu kaum berpendapat bahwa tanpa salam di antara 4 rakaat itu, dan demikian pula 4 rakaat kedua, dan sebagian mereka berpendapat, ‘Tidak duduk (tahiyat) kecuali di akhir tiap rakaat keempat.’ Sementara sebagian besar ahli fiqh Hijaz dan sebagian ulama Irak berpendapat bahwa terdapat salam pada setiap 2 rakaat di antara  4 rakaat itu, dan ini pendapat Malik. Dan orang yang berpendapat demikian mentakwil kata empat pada hadis itu dalam hal tilawah dan pengelokan atas satu cara yang tidak berbeda antara dua rakaat pertama dengan dua rakaat akhir, demikian pula 4 rakaat setelahnya serupa dalam sifat tartil dan tahsin meskipun ukuran panjangnya tidak sama antara satu rakaat dengan rakaat sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis lain semisalnya, ‘Beliau salat dua rakaat yang panjang, lalu salat dua rakaat yang kurang dari ukuran sebelumnya’.” [32]

Imam al-‘Aini (w. 855 H) berkata:

وَفِيْ قَوْلِهَا يُصَلِّى أَرْبَعًا حُجَّةٌ لِأَبِيْ حَنِيْفَةَ رضي الله تعالى عنه فِيْ أَنَّ الأَفْضَلَ فِيْ التَّنَفُّلِ بِاللَّيْلِ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ وَفِيْهِ حُجَّةٌ عَنْ مَنْعِ ذلِكَ كَمَالِكٍ رحمه الله وَفِيْ قَوْلِهَا يُصَلِّى ثَلاَثًا حُجَّةٌ لِأَصْحَابِنَا فِيْ أَنَّ الْوِتْرَ ثَلاَثُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ لِأَنَّ ظَاهِرَ الْكَلاَمِ يَقْتَضِي ذلِكَ فَلاَ يَعْدِلُ عَنِ الظَّاهِرِ إِلاَ بِدَلِيْلٍ فَإِنْ قُلْتَ قَدْ ثَبَتَ إِيْتَارُ النَّبِيِّ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ وَثَبَتَ أَيْضًا قَوْلُهُ وَمَنْ شَاءَ أَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ قُلْتُ سَلَّمْنَا ذلِكَ وَلكِنَّهُ إِنَّ تِلْكَ الرَّكْعَةَ الْوَاحِدَةَ تُوْتِرَ الشَّفْعَ الْمُتَقَدَّمَ لَهَا وَالدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ مَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Pada perkataan Aisyah: yushalli ‘arba’an (beliau salat 4 rakaat) terdapat hujjah bagi Abu Hanifah bahwa yang paling utama pada salat sunat waktu malam itu 4 rakaat dengan satu salam, dan pada perkataan itu pula terdapat hujjah (bantahan) terhadap orang yang melarang hal itu (4 rakaat dengan satu salam) seperti Malik—semoga Allah merahamatinya—dan  pada perkataan Aisyah: yushalli tsalaatsan (beliau salat 3 rakaat) terdapat hujjah bagi para sahabat kami bahwa witir itu 3 rakaat dengan satu salam, karena zhahir pembicaraan menghendaki demikian. Maka tidak boleh meninggalkan makna zhahir kecuali berdasarkan dalil. Jika anda mengatakan, ‘Sungguh terbukti Nabi witir dengan satu rakaat dan terbukti pula sabda beliau: ‘Siapa yang mau berwitirlah dengan satu rakaat.’ Saya katakan, ‘Kami menerima itu, namun sungguh satu rakaat itu mewitirkan rakaat genap yang mendahuluinya, dan dalil atas hal itu riwayat al-Bukhari, (ia berkata) ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami.’ Ia berkata, ‘Malik telah mengabarkan kepada kami.’ Dari Nafi dan Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi tentang salat malam. Maka Rasulullah bersabda, ‘Salat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Maka jika seseorang di antara kamu khawatir tiba waktu subuh, ia salat satu rakaat yang mengganjilkan rakaat yang telah ia laksanakan.” [33]

Al-Mula Ali al-Qari (w. 1014 H) berkata:

 ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا لَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ) ظَاهِرُ الْحَدِيثِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلًّا مِنَ الْأَرْبَعِ بِسَلَامٍ وَاحِدٍ ، وَهُوَ أَفْضَلُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ فِي الْمَلَوَيْنِ ، وَعِنْدَ صَاحِبَيْهِ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُصَلِّيَ السَّالِكُ أَرْبَعًا بِسَلَامٍ مَرَّةً وَسَلَامَيْنِ أُخْرَى جَمْعًا بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ ، وَرِعَايَةً لِلْمَذْهَبَيْنِ ( ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا ) ، وَهَذَا أَيْضًا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ صَلَّاهَا بِسَلَامٍ وَاحِدٍ ، وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُ مُسْلِمٍ بَعْدَ إِيرَادِ صَلَاةِ اللَّيْلِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلَاثٍ

“Kalimat ‘Kemudian Beliau salat empat rakaat, maka engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya.’ Zhahir hadis menunjukkan bahwa setiap 4 rakaat dengan satu salam, dan cara ini lebih utama menurut Abu Hanifah dalam al-Malawain, sementara menurut kedua sahabatnya salat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Maka layak bagi salik (murid, pengikut) untuk salat 4 rakaat dengan satu salam pada satu waktu dan dengan dua salam pada waktu lain sebagai upaya kompromi di antara dua riwayat dan memelihara kedua madzhab. Kalimat ‘Kemudian Beliau salat tiga rakaat,’ dan ini pun menunjukkan bahwa beliau melaksanakan 3 rakaat dengan satu salam, dan hal itu diperkuat oleh pendapat Muslim setelah menyebutkan salat malam kemudian beliau witir dengan 3 rakaat.” [34]

Imam Ash-Shan’âniy (w. 1182 H) berkata:

 يُصَلِّي أَرْبَعًا) يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُنْفَصِلَاتٌ وَهُوَ بَعِيدٌ إلَّا أَنَّهُ يُوَافِقُ حَدِيثَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى)

“Kalimat Yushalli arba’an (Beliau salat empat rakaat).  Kata arba’an (empat rakaat) mengandung dua kemungkinan makna: Pertama, makna zhahir, yaitu menunjukkan bersambung (empat rakaat sekaligus). Kedua, makna jauh, yaitu menunjukkan dipisah (empat rakaat tidak sekaligus). Namun makna jauh ini sejalan dengan hadis:

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat.” [35]

Muhammad Syamsul Haq Abadi (w. 1329 H) berkata:

وَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيث عَائِشَة فِي بَيَان صَلَاة اللَّيْل : يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَل عَنْ حُسْنهنَّ وَطُولهنَّ ثُمَّ أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَل عَنْ حُسْنهنَّ وَطُولهنَّ الْحَدِيث . فَهَذَا الْفَصْل يُفِيد الْمُرَاد ، وَإِلَّا لَقَالَتْ ثَمَانِيًا فَلَا تَسْأَل . كَذَا ذَكَرَهُ اِبْن الْهُمَام فِي فَتْح الْقَدِير شَرْح الْهِدَايَة .

“Dan keterangan dalam as-Shahihain (al-Bukhari-Muslim) dari hadis Aisyah dalam menjelaskan salat malam: ‘Beliau salat empat rakaat, maka engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau salat (lagi) empat rakaat, dan jangan (pula) engkau bertanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat.’ Maka pemisahan ini  (4+4) menghasilkan yang dimaksud (4 rakaat satu salam), dan jika tidak demikian (maknanya) niscaya Aisyah mengatakan, ‘‘Beliau salat delapan rakaat, maka engkau jangan bertanya.’ Demikian yang diterangkan oleh Ibnu al-Humam dalam kitab Fath al-Qadier Syarh al-Hidayah.” [36]

Pemahaman Kami Terhadap Maksud Imam Ash-Shan’âniy

Perkataan Imam Ash-Shan’âniy oleh sebagian kalangan dijadikan rujukan bahwa salat tarawih 4 rakaat dengan satu salam memiliki landasan ilmiah. Namun kalangan lainnya, mengganggap bahwa tidak demikian maksud dari Imam Ash-Shan’âniy, bahkan mereka mengatakan  “banyak orang terkecoh dan terjebak dalam memahami penjelasan Imam Muhammad as-Shan’âniy dalam kitab Subul al-Salâm Syarh Bulûgh Al-Marâm, sehingga mereka mengatakan tata cara shalat Tarawih dengan 4 rakaat sekali salam disebutkan dalam kitab itu.”

Untuk menghindari klaim yang tidak proporsional, mari kita pelajari bersama redaksi perkataan Imam Ash-Shan’âniy yang sesungguhnya. Sehubungan dengan itu, kita cantumkan kembali perkataan beliau sebagai berikut:

يُصَلِّي أَرْبَعًا) يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُنْفَصِلَاتٌ وَهُوَ بَعِيدٌ إلَّا أَنَّهُ يُوَافِقُ حَدِيثَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى)

“Kalimat Yushalli arba’an (Beliau shalat empat rakaat).  Kata arba’an (empat rakaat) mengandung dua kemungkinan makna: Pertama, makna zhahir, yaitu menunjukkan bersambung (empat rakaat sekaligus). Kedua, makna jauh, yaitu menunjukkan dipisah (empat rakaat tidak sekaligus). Namun makna jauh ini sejalan dengan hadis:

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

‘Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat.’

Bila redaksi perkataan di atas kita cermati secara jernih, tentu kita dapat memahami bahwa “Isu sentral” yang dibicarakan oleh Imam Ash-Shan’âniy bukan praktik 4 rakaat itu apakah dengan 1 kali salam atau 2 kali salam, melainkan pemaknaan kalimat Yushalli arba’an (Beliau shalat empat rakaat) antara washal (bersambung) ataukah fashal (dipisah), karena kata arba’an (empat) dipandang bermakna ganda.

Maka untuk mencari kejelasan makna yang dimaksud, beliau mengajukan dua perspektif: Pertama, zhahir. Kedua, ba’iid (makna jauh).  Menurut beliau, kata empat yang dimaksud menunjukkan bersambung (empat rakaat sekaligus). Pemaknaan demikian disebut zhahir. Mengapa pemaknaan ini disebut zhahir? Di sini perlu sedikit dijelaskan tentang kaidah zhahir, agar kita dapat memahami maksud Imam As-Shan’âniy dengan sebenarnya.

Yang dimaksud dengan lafal zhahir  adalah:

الظَّاهِرُ هُوَ اللَّفْظُ الَّذِي يَدُلُّ عَلَى مَعْنَاهُ دِلاَلَةً وَاضِحَةً بِحَيْثُ لاَ يَتَوَقَّفُ فَهْمُ المُرَادِ مِنْهُ عَلَى قَرِيْنَةٍ خَارِجِيَّةٍ.

“Zhâhir ialah suatu lafaz yang menunjukkan kepada pengertian yang jelas tanpa memerlukan penjelasan dari luar.” [37]

Lafal nash zhahir ini wajib diamalkan sesuai dengan kejelasannya. Sungguhpun demikian, lafal zhahir dapat di-ta`wîl-kan bila terdapat qarinah (indikasi). Sebagai contoh dapat dilihat dalam ayat:

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا … البقرة [2]: 275.

Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… (QS. Al-Baqarah, 2:275)

Ayat ini begitu jelas artinya, bahwa jual beli itu hukumnya halal dan riba` itu haram. Pengertian inilah yang segera dapat ditangkap oleh akal pikiran kita tanpa memerlukan qarînah untuk menjelaskannya. Namun demikian, ayat ini bukan hanya sekedar menyatakan bahwa jual beli itu halal dan riba` itu haram hukumnya, tetapi ayat ini untuk menyatakan dan membantah anggapan orang-orang munafik Mekah waktu itu di mana jual-beli itu sama dengan riba`. Padahal jual-beli itu tidak sama dengan riba`.

Sekarang kita kembali kepada kata ‘arba’an (empat). Ketika Aisyah menyatakan:

(يُصَلِّي أَرْبَعًا )

“Beliau shalat empat rakaat.”

Maka pengertian yang segera dapat ditangkap oleh akal pikiran kita tanpa memerlukan qarînah untuk menjelaskannya adalah berjumlah 4 rakaat. Apabila kata “empat” dimaknai 2+2 maka pemaknaan demikian itu memerlukan qarînah untuk menjelaskannya. Karena itulah beliau menyebutnya dengan kata ba’iid (makna jauh).

Jadi, apabila kata itu dimaknai washal maka kata itu dikategorikan zhahir. Artinya, kata ‘arba’an menunjukkan kepada pengertian empat rakaat sekaligus tanpa memerlukan penjelasan dari luar. Sedangkan bila dimaknai fashal maka kata itu dikategorikan ba’iid (jauh). Artinya, kata ‘arba’an dimaknai empat rakaat tidak sekaligus atau dipisah menunjukkan pengertian jauh. Dengan perkataan lain makna secara ta`wîl, yaitu memalingkan atau mengubah arti zhahir lafal ‘arba’an (empat rakaat sekaligus) kepada arti lain (empat rakaat dipisah).

Hemat kami, menurut beliau, pemaknaan demikian merupakan ta`wîl yang jauh dari arti zhahirnya. Untuk itu diperlukan dalil yang dapat mendukung pen-ta`wîl-an tersebut. Maka dalam hal ini beliau mengajukan dalil, yaitu sabda Nabi Saw.:

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat.”

Sampai kalimat ini, kami tidak menangkap “sinyal” adanya pemahaman dari beliau, bahwa “shalat Tarawih 4 Rakaat itu dilakukan dengan dua kali SalamApalagi “pemaksaan fiqih” bahwa  “Shalat Tarawih 4 Rakaat Satu Salam itu merupakan kesalahkaprahan.”

Penutup

Berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa para ulama telah berupaya memberikan petunjuk ilmiah untuk memahami suatu teks dalil, khususnya penjelasan Aisyah terhadap pertanyaan tentang salat malam Nabi di bulan Ramadhan. Dari petunjuk itu, kita diharapkan dapat meneladani mereka sehingga kita tidak tergesa-gesa dalam menyikapi penjelasan ilmiah mereka.

Dalam memahami hadis: “4 rakaat, 4 rakaat, dan 3 rakaat” kami cenderung mengikuti perspektif pemaknaan secara zhahir, yaitu kata empat yang dimaksud menunjukkan bersambung (empat rakaat sekaligus). Karena pengertian yang segera dapat ditangkap oleh akal pikiran kita tanpa memerlukan qarînah (indikasi) untuk menjelaskannya adalah berjumlah 4 rakaat, bukan 2 rakaat, 2 rakaat. Apabila kata “empat” dimaknai 2+2 maka pemaknaan demikian itu memerlukan qarînah untuk menjelaskannya.

Dengan demikian, pelaksanaan salat tarawih 4 rakaat, 4 rakaat, dan 3 rakaat, dengan masing-masing satu kali salam, memiliki pijakan ilmiah.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1] Pentakhrijan hadis adalah penelusuran atau pencarian hadis dalam berbagai kitab hadis sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan, baik menyangkut matan (materi atau isi), maupun sanad (jalur periwayatan) hadis yang  dikemukakan.

[2] HR. An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, I:165, No. 412; I:174, No. 453; Ahmad, Musnad Ahmad, VI:36, No. 24.119.

[3] HR. Ahmad, Musnad Ahmad, VI:73, No. 24.490

[4] HR. Ahmad, Musnad Ahmad, VI:104, No. 24.776

[5] HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I:248, No. 1147

[6] HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I:417, No. 2013; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, II:495, No. 4798 bersama rawi lain, yaitu Yahya bin Yahya

[7] HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:310, No. 3569; Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:40, No. 1341; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VII:62, No. 13.164 bersama rawi lain, yaitu Yahya bin Yahya; Ibnu al-Mundzir, Al-Awsath, VIII:77, No. 2535

[8] HR. Malik, al-Muwatha’, I:121, No. 263; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, VII:62, No. 13.164 bersama rawi lain, yaitu Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi

[9] HR. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, II:302, No. 439

[10] HR. An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, I:160, No. 393, Sunan an-Nasai, III:234, No. 1697

[11] HR. An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, I:160, No. 395, I:446, No. 1421

[12] HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, I:30, No. 49, II:192, No. 1166; Ath-Thahawi, Syarh Musykil al-Atsar, I:282; Abu ‘Awanah, Musnad Abu ‘Awanah, II:59, No. 2304, No. 3052

[13] HR. Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VI:186, No. 2430

[14] HR. Ishaq bin Rahawaih, Musnad Ishaq bin Rahawaih, II:556, No. 1130

[15] HR. Abdurrazaq, al-Mushannaf, III:38, No. 4711

[16] HR. Al-Baghawi, Syarh as-Sunnah, IV:4-5, No. 899

[17] Lihat, Shahih Muslim, I:510, No. 738

[18] Lihat, Musnad Ahmad, VI:39, No. 24.162

[19] Lihat, Shahih Ibnu Khuzaimah, III:341, No. 2213

[20] Lihat, Musnad Abu Ya’la, VIII:273, No. 4860

[21] Lihat, Musnad Al-Humaidi, I:92, No. 173

[22] Lihat, Siyar A’lam an-Nubala, IV:287-290

[23] Lihat, Al-Muntaqa Syarh al-Muwatha, I:227

[24] Ibid.

[25] Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, VII:204.

[26] Lihat, Irsyad as-Sari Syarh Shahih al-Bukhari, II:235; ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, IV:218.

[27]  Lihat, Ta’sis al-Ahkam bi Syarh Umdah al-Ahkam, II:235

[28] Lihat, Tanwir al-Hawalik Syarh Muwatha Malik, I:145

[29] Lihat, Minhah al-‘Alam Syarh Bulugh al-Maram, I:249

[30] Lihat, Syarh Bulugh al-Maram, I:258

[31] Lihat, At-Tamhid limaa fii al-Muwatha min al-Ma’ani wa al-Asaanid, XXI:70

[32] Lihat, Ikmal al-Mu’lim Syarh Shahih Muslim, III:49

[33] Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, VII:204

[34] Lihat, Jam’ al-Wasa’il fii Syarh as-Syama’il.

[35] Lihat, Subul as-Salam Syarh Bulugh al-Maram, II:275

[36] Lihat, ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, IV:146-147

[37] Lihat, Ushûl al- Fiqh al-Islâmî, Zakî al-Dîn Sya‘bân, hlm. 341.

6 thoughts on “PEMAKNAAN HADIS TARAWIH VERSI AISYAH

  1. Untuk penjelasan terakhir mengenai dzahir dan ba’id perspektif Imam Ash-Shan’ani, ana masih kurang begitu faham Ustadz. mohon pnjelasannya lebih lanjut. syukron

    1. Imam Ash-Shan’ani berpendapat bahwa kata “Shalat 4 rakaat” itu memiliki 2 makna. (1) Makna Zhahir (makna yang langsung dapat ditangkap akal, yaitu 4 rakaat sekaligus tidak dipisah jadi 2-2 rakaat). (2) Makna Takwil yang ba’iid (memalingkan dari makna zhahir pada makna lain karena adanya qarinah, yaitu shalat 4 rakaat dengan formasi 2 rakaat – 2 rakaat karena ada qarinah). Inilah yang dimaksud pengertian “dimungkinkan bermakna zhahir atau ba’iid.” Terimakasih atas komentarnya, semoga bisa menjelaskan apa yang belum jelas.

  2. Persoalan kedua terletak pada waktu sholat tarawih itu, betulkah setelah sholat iesya seperti umumnya sekarang, atau kembali spt disebutkan pd hadits siti Aisyah dg kata ‘…baik bulan Ramadhan atau bulan lainnya…’ dilaksanakan jhaufi layll….?

    1. Terima kasih atas komentarnya. Tentu saja baik pelaksanaan shalat tarawih, qiyamu ramadhan, tahajud, qiyamu lail, ataupun witir itu dapat dilakukan dari setelah shalat Isya sampai sebelum shalat shubuh. Karena hakikatnya, shalat-shalat tersebut adalah sama cuma beda nama dan khusus di bulan Ramadhan formasinya mesti 4-4-3. Maka waktu pelaksanaan shalat tarawih itu sama seperti shalat malam di bulan lain, yaitu dari sehabis isya sampai sebelum shubuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *