Preloader logo

PRINSIP KOMUNIKASI (1): QAUL BALIGH

Manusia adalah mahluk sosial yang kehidupannya tidak bisa lepas dari manusia lain dengan keragaman tipe kepribadian, pembawaan, dan  karakter. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang luas tentang prinsip-prinsip komunikasi agar bisa saling memahami sehingga terjalin interaksi yang komunikatif.

Dalam hal ini al-Quran telah memberi petunjuk illahi tentang prinsip-prinsip komunikasi secara global sebanyak enam prinsip meliputi: Qaul Baligh, Qaul Karim, Qaul Maisur, Qaul Ma’ruf, Qoul Layyin, dan Qoul Sadid, sebagaimana telah disebut pada edisi keempat buletin Humaira. Mulai buletin edisi kelima ini, insya Allah akan dibahas secara rinci, diawali oleh prinsip pertama: Qaul Baligh.

Qaul Baligh terdiri atas dua kata: Qaul dan Baligh. Kata Qaul merupakan akar kata (mashdar) bagi kata qaala yang bermakna perkataan. Sementara kata balīgh berasal dari kata bulugh, bermakna “sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain.” Juga bisa dimaknai “cukup (al-kifāyah).” Dari situ kata balīgh digunakan sebagai sifat perkataan yang bermakna “perkataan yang merasuk dan membekas dalam jiwa.”  Sementara menurut al-Ashfahani, bahwa perkataan balīgh mengandung tiga unsur utama, yaitu bahasanya tepat, sesuai dengan yang dikehendaki, dan isi perkataan adalah suatu kebenaran. Sedangkan istilah balīgh dalam konteks pembicara dan lawan bicara, adalah bahwa si pembicara secara sengaja hendak menyampaikan sesuatu dengan cara yang benar agar bisa diterima oleh pihak yang diajak bicara.

Di dalam al-Quran, istilah qaul balîgh hanya disebutkan sekali, yaitu pada QS an-Nisâ’/4: 63:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka yang berbekas pada jiwa mereka.” QS. an-Nisâ’(4): 63

Ayat ini, dan ayat sebelumnya (QS. An-Nisa:62) menginformasikan tentang kebusukan hati kaum munafik, bahwa mereka tidak akan pernah bertahkim (berdamai) kepada Rasulullah saw. meski mereka bersumpah atas nama Allah, kalau apa yang mereka lakukan semata-mata hanya menghendaki kebaikan. Walapun begitu, beliau dilarang menghukum mereka secara fisik (makna dari “berpalinglah dari mereka”), akan tetapi, cukup memberi nasihat sekaligus ancaman bahwa perbuatan buruknya akan mengakibatkan turunnya siksa Allah,  dan berkata kepada mereka dengan perkataan yang balîgh.

Adapun orang munafik memiliki tiga ciri, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis, yaitu (1) bila berbicara bohong, (2) bila berjanji ingkar, dan (3) bila diamanati khianat. Siapapun bisa terkena dengan ketiga ciri kemunafikan tersebut, baik orang dewasa maupun anak-anak. Maka prinsip Qoul Baligh dapat kita gunakan ketika berkomunikasi dengan orang yang memiliki ciri-ciri seperti di atas, sebagaimana Rasulullah diperintahkan oleh Allah melalui ayat di atas.

Sebuah komunikasi dianggap baligh jika bertujuan hendak mengungkap sebuah kebenaran dan memenuhi kriteria-kriteria khusus sebagai berikut:

  • Tertampungnya seluruh pesan dalam kalimat yang  disampaikan, tidak bertele-tele, juga tidak terlalu pendek sehingga pengertiannya menjadi kabur.
  • Pilihan kosa kata dan tata bahasanya yang benar tapi  tidak dirasakan asing bagi si  pendengar.
  • Gaya bicara harus ditunjang oleh bahasa tubuh yang  tepat agar pesan yang disampaikan bisa lebih difahami oleh lawan bicara.
  • Pilih waktu yang tepat.

Dari uraian di atas tampak jelas ukuran suatu perkataan atau komunikasi dipandang sebagai qaul baligh. Dengan demikian, memberi nasihat atau mengatakan sesuatu yang mengandung ancaman atau larangan sekalipun dapat dikategorikan qaul baligh jika bertujuan hendak mengungkap sebuah kebenaran dan memenuhi kriteria-kriteria sebagaimana disebutkan di atas. Wallahu A’lam.

 

Sumber: Buletin Humaira, Edisi 5 Agustus 2015

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#main-content .dfd-content-wrap {margin: 0px;} #main-content .dfd-content-wrap > article {padding: 0px;}@media only screen and (min-width: 1101px) {#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars {padding: 0 0px;}#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars > #main-content > .dfd-content-wrap:first-child,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars > #main-content > .dfd-content-wrap:first-child {border-top: 0px solid transparent; border-bottom: 0px solid transparent;}#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width #right-sidebar,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width #right-sidebar {padding-top: 0px;padding-bottom: 0px;}#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars .sort-panel,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars .sort-panel {margin-left: -0px;margin-right: -0px;}}#layout .dfd-content-wrap.layout-side-image,#layout > .row.full-width .dfd-content-wrap.layout-side-image {margin-left: 0;margin-right: 0;}