MENIMBANG SYI’AH (Bagian ke-43)

Syiah dan Ummahât Al-Mu’minîn (1)

Melaknat Istri-Istri Nabi

Di antara sikap tidak baik dari Syiah adalah caci-maki mereka terhadap istri-istri Nabi Muhammad saw. Beragam kata-kata kotor dilontarkan kepada Ummahât al-Mu’minîn, seperti pelacur, pendusta dan lain sebagainya. Bukankah Sayyidah Aisyah dan Hafshah (putri Sayyidina Abu Bakar dan Umar), juga dilaknat oleh orang-orang Syiah dalam doa yang rutin mereka baca (doa Shanamai Quraisyin), sebagaimana telah kami tulis pada sub sebelumnya?:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ وَالعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ جِبْتَيْهِمَا وَطَاغُتَيْهِمَا وَإفْكَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا الَّذَيْنِ خَالَفَا أمْرَكَ…

Berbagai tuduhan, cemooh dan caci maki orang-orang Syiah terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi, sudah jelas hanya dari kemarahan, tanpa ada bukti historis, ilmiah apalagi dalil agama (naqliyah). Karena itu, sebetulnya tidak memerlukan argumen untuk menolaknya, sebab semua argumen dan fakta telah berseberangan dengan tuduhan-tuduhan itu. Syiah, misalnya, menuduh istri-istri Nabi sebagai seorang pelacur. Dikatakan bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah: “Kamu tak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” Demikian antara lain termaktub dalam Ikhtiyâr Ma’rifat ar-Rijâl, karya Ath-Thusi.[1]

Lebih menikam dari tuduhan di atas, dinyatakan oleh al-Majlisi dalam Hayât al-Qulûb bahwa meninggalnya Rasulullah karena telah diracun oleh dua istri Nabi, yakni Aisyah dan Hafshah:

إنَّ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا وَعَلَى أبَوَيْهِمَا قَتلَتَا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِالسَّمِّ دَبَّرَتَاهُ.

Sesungguhnya Aisyah dan Hafshah telah membunuh Rasulullah saw. dengan meminumkan racun yang telah mereka rencanakan.”[2]

Pernyataan seirama juga bisa ditemukan di dalam Tafsir al-‘Ayasyi yang ditulis oleh mufassir Syiah kawakan, Muhammad bin Mahmud bin ‘Ayasyi. Juga Al-Kasyani dalam Ash-Shâfî dan Al-Bahrani dalam al-Burhân. Pernyataan para mufassir Syiah ini kemudian dijadikan sebagai rujukan oleh Syiah konservatif generasi revolusi, yakni al-Khomaini, dalam Kasyf al-Asrâr-nya. Hal ini digambarkan dengan jelas oleh seorang peneliti Syiah, Abdullah al-Maushuli, dalam bukunya Hattâ lâ Nankhadi’, sebagai berikut:

… وَذَكَرَ المُفَسِّرُ العَيَّاسِيُّ فِيْ تَفْسِيْرِهِ والْمُفَسِّرُ الْكَاشَانِيُّ فِي الصَّافِيِّ وَالْبَحْرَانِيُّ فِي الْبُرْهَانِ أَنَّ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا سَقَتَا السَّمَّ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ عِنْدَ هَذِهِ الآيَةِ: وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ (آل عمران]3[: 144).

Mufassir al-‘Ayasyi menyebutkan dalam tafsirnya (Tafsir al-‘Iyâsyî), al-Kasyani dalam as-Shâfî dan al-Bahrani dalam al-Burhan bahwa Aisyah dan Hafshah telah meracuni Rasulullah saw. Kesimpulan ini diambil ketika (Syiah) menafsiri ayat ini: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? (QS. Ali Imran [3]: 144).”[3]

Selanjutnya, akibat kemarahan dan kebencian yang tak terkendali, al-‘Ayasyi menuding Sayyidah Aisyah telah murtad. Ketika menafsiri ayat 92 dalam surat an-Nahl, ia mengatakan:

أَنَّ الَّتِيْ (وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا) هِيَ عَائِشَةُ نَقَضَتْ إِيْمَانَهَا أيْ: أَنَّهَا ارْتَدَّتْ.

Sesungguhnya perempuan yang dimaksud dalam ayat yang artinya: “Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali” adalah Aisyah, yang telah rusak keimanannya alias murtad. [4]

Memang, dari sembilan istri Rasulullah saw., yang paling banyak mendapat cacian adalah istri beliau yang paling dicintai, yakni Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ. Hal demikian tak lain karena Sayyidah Aisyah pernah terlibat perselisihan dengan Sayyidina Ali dalam perang Jamal.[5]

Dalam bukunya, Hattâ lâ Nankhadi’,[6] Abdullah al-Maushuli menambahkan fakta dan data, bahwa Muhammad Nâbi at-Tausirkani, seorang pemuka Syiah diberi gelar ‘umdat al-‘ulamâ’ wa al-muhaqqiqîn, dalam bukunya La’âli’ al-Akhbâr, mengatakan:

Ketahuilah bahwa tempat, keadaan dan waktu paling mulia dan pantas untuk melaknat mereka adalah jika kamu sedang dalam kamar kecil. Ketika kamu telah selesai dari buang air kecil atau air besar, bacalah doa berikut:

اللَّهُمَّ الْعَنْ عُمَرَ ثُمَّ أبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ثُمَّ عُثْمَانَ وَعُمَرَ ثُمَّ مُعَاوِيَةَ وَعُمَرَ ثُمَّ يَزِيْدُ وَعُمَرَ ثُمَّ ابْنَ زِيَادٍ وَعُمَرَ ثُمَّ ابْنَ سَعْدٍ وَعُمَرَ ثُمَّ شَمَّراً وَعُمَرَ ثُمَّ عَسْكَرَهُمْ وَعُمَرَ. اَللَّهُمَّ الْعَنْ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ وَهِنْداً وَأَمَّ الحَكَمِ وَالْعَنْ مَنْ رَضِيَ بِأفْعَالِهِمْ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ.

“Ya Allah, laknatlah Umar, lalu Abu Bakar dan Umar, lalu Usman dan Umar, lalu Mu’awiyah dan Umar, lalu Umar dan Yazid, lalu Ibnu Ziyad dan Umar, lalu Ibnu Sa’d dan Umar, lalu Syammar dan Umar, lalu pasukan mereka dan Umar. Ya Allah laknatlah Aisyah, Hafshah, Hindun, Ummu Hakam, dan laknatlah orang yang meridhai perbuatan mereka hingga hari kiamat.” [7]

Kenapa, cacian orang-orang Syiah terhadap para istri Rasulullah saw. sampai separah itu, bahkan kepada istri yang sangat beliau sayangi, Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ? Sebab, selain karena faktor politik kekuasaan, fanatisme buta dan kebencian yang memuncak, mereka juga berpendapat bahwa Ahlul Bait itu tidak termasuk istri-istri nabi, karena menurut mereka, banyak istri Nabi yang melawan suaminya, seperti istri Nabi Nuh As. dan istri Nabi Luth As, juga termasuk Aisyah dan Hafshah yang—menurut Syiah—hampir saja diceraikan oleh Rasulullah saw. dan pada akhirnya meracuni beliau.[8]

Cercaan-cercaan Syiah terhadap istri-istri Rasulullah saw., seperti halnya penghinaan mereka terhadap para sahabat dari Ahlussunnah, amat melimpah dalam literatur-literatur mereka. Tak ada buku-buku Syiah yang steril dari aksi-aksi seperti ini.

Tuduhan-tuduhan dan caci-maki yang dilontarkan Syiah pada para istri Rasulullah saw. tidak memerlukan tanggapan apa pun. Sebab tuduhan-tuduhan tak bermacam seperti itu terlalu tampak kebohongannya. Selain “Kebencian”, tak ada data ilmiah dan fakta empirik yang mendukung Syiah. Terlebih, kesucian Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ telah mendapatkan pengakuan dari al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (النور ]24[: 11)

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Jangalah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (QS. An-Nur [24]: 11)

Selain itu, ajaran Islam yang bersumber dari Ummahât al-Mu’minin juga tidak akan mentah sebab mereka dicaci-maki. Jadi, dari stigma-stigma negatif yang dilontarkan Syiah pada para istri Nabi saw., hanya ada dua poin yang penting untuk ditanggapi. Tanggapan itu akan ditampilkan pada edisi selanjutnya.

By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku: Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

 

[1] Lihat, Ath-Thusi, Ikhtiyâr Ma’rifat ar-Rijâl, hlm. 57-60.

[2] Lihat, Al-Majlisi, Hayât al-Qulûb, juz 2 hlm. 700.

[3] Lihat, Abdullah al-Maushuli, Hattâ Lâ Nankhadi’, hlm. 77.

[4] Lihat, Al-‘Iyâsyî, juz 2 hlm. 269.

[5] Pada juz 2, hlm. 243 dari Tafsir al-‘Iyâsyî juga dikatakan: “Aisyah telah keluar dari iman dan menjadi penghuni jahanam.” Al-Bayadhi dalam Ash-Shirâth al-Mustaqîm (juz 3, hlm. 135) mengatakan: “Aisyah digelari dengan umm asy-syurûr (ibu kejelekan) dan umm asy-syaithân (ibu setan). Sementara dalam At-Talkhîsh asy-Syâfî (hlm. 465-468) dipromklamirkan bahwa “Aisyah tidak mau bertaubat dan terus memerangi Ali sampai meninggal.”

[6] Lihat, Abdullah al-Maushuli, Hattâ lâ Nankhadi’, hlm. 78.

[7] Lihat, La’âli’ al-Akhbâr, juz 4, hlm. 92, cetakan al-Alamah, Qum.

[8] LSM OASE (Organization of Ahlulbayt for Social Support and Education, Jakarta), dalam Mengapa Kita Memilih Syiah? Tanggapan untuk Majalah Sabili edisi No. 5 th. XVIII, 22 September 2005, hlm. 4.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *