MENGEPALKAN KEDUA TANGAN KETIKA AKAN BERDIRI (Bagian ke-2)

Sikap Ulama Terhadap Hadis ‘Ajin

 

Status Hadis ‘Ajin versi Ibnu Abbas

 

أَنَّ رسَوُلْ َاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلاَتِهِ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ كَمَا يَضَعُ الْعَاجِنُ

Sesungguhnya Rasulullah saw. jika beliau (hendak) berdiri dalam sholatnya, beliau meletakkan kedua tangannya di atas bumi sebagaimana yang dilakukan oleh al-‘ajin (orang yang melakukan ‘ajn).”

Hadis ini disepakati kedha’ifannya oleh para ulama dengan sebab kedha’ifan sebagai berikut:

Ibnu ash-Shalah (577-643 H/1181-1245 M) berkata:

هَذَا الْحَدِيثُ لَا يَصِحُّ وَلَا يُعْرَفُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُحْتَجَّ بِهِ.

“Hadis ini tidak shahih dan tidak dikenal. Tidak boleh dipergunakan sebagai hujjah.”[1]

Selanjutnya Ibnu ash-Shalah menyatakan:

وَعَمِلَ بِهَذَا كَثِيرٌ مِنْ الْعَجَمِ، وَهُوَ إثْبَاتُ هَيْئَةٍ شَرْعِيَّةٍ فِي الصَّلَاةِ لَا عَهْدَ بِهَا، بِحَدِيثٍ لَمْ يَثْبُتْ، وَلَوْ ثَبَتَ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ مَعْنَاهُ، فَإِنَّ الْعَاجِنَ فِي اللُّغَةِ: هُوَ الرَّجُلُ الْمُسِنُّ، فَإِنْ كَانَ وَصْفُ الْكِبَرِ بِذَلِكَ مَأْخُوذًا مِنْ عَاجِنِ الْعَجِينِ فَالتَّشْبِيهُ فِي شِدَّةِ الِاعْتِمَادِ عِنْدَ وَضْعِ الْيَدَيْنِ لَا فِي كَيْفِيَّةِ ضَمِّ أَصَابِعِهَا،

“Cara demikian itu diamalkan oleh kebanyakan orang ‘Ajam (non Arab), yaitu menetapkan suatu cara syar’I dalam shalat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan hadis yang tidak shahih. Sekiranya hadis itu shahih pun maknanya bukan begitu, karena kata ‘ajin secara bahasa bermakna seorang yang telah tua. Jika sekiranya sifat tua diambil dari  orang yang menguli (meremas-remas dan menekan-nekan) adonan maka penyerupaannya terletak pada bertelekan dengan kuat ketika menempatkan kedua tangan, bukan pada cara mengepalkan jari-jari tangan.” [2]

قَالَ الْغَزَالِيُّ: وَإِذَا قُلْنَا بِالزَّايِ، فَهُوَ الشَّيْخُ الْمُسِنُّ الَّذِي إذَا قَامَ اعْتَمَدَ بِيَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ مِنْ الْكِبَرِ، قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ، وَوَقَعَ فِي الْمُحْكَمِ لِلْمَغْرِبِيِّ الضَّرِيرِ الْمُتَأَخِّرِ: الْعَاجِنُ هُوَ الْمُعْتَمِدِ عَلَى الْأَرْضِ وَجَمَعَ الْكَفَّ، وَهَذَا غَيْرُ مَقْبُولٍ مِنْهُ، فَإِنَّهُ لَا يُقْبَلُ مَا يَنْفَرِدُ بِهِ لِأَنَّهُ كَانَ يَغْلَطُ وَيُغَالِطُونَهُ كَثِيرًا، وَكَأَنَّهُ أَضَرَّ بِهِ مَعَ كِبَرِ حَجْمِ الْكِتَابِ ضَرَارَتَهُ، انْتَهَى كَلَامُهُ

“Al-Ghazali berkata, ‘Jika kita mengatakan dengan huruf zay (‘Aajiz) maka bermakna seorang yang telah tua, apabila bangkit ia bertelekan dengan kedua telapak tangannya pada tanah.’ Ibnu ash-Shalah berkata, ‘Pada al-Muhkam karya al-Maghribi adh-Darir mutaakhir terdapat keterangan bahwa ‘aajin ialah orang yang bertelekan pada tanah dan mengepalkan telapak tangan. Pemaknaan ini tidak dapat diterima karena dia sendirian (yang memaknai demikian). Dia keliru dan banyak orang yang berlawanan dengannya. Seolah-olah dengan pemaknaan itu ia mendatangkan bahaya di samping ukuran kitabnya besar dengan bahaya.”[3]

Imam An-Nawaw (631-676 H/1233-1277 M) berkata:

فَهُوَ حَدِيْثٌ ضَعِيْفٌ، أَوْ بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ وَلَوْ صَحَّ لَكَانَ مَعْنَاهُ قَائِمٌ مُعْتَمِدًا بِبَطْنِ يَدَيْهِ كَمَا يَعْتَمِدُ الْعَاجِزُ، وَهُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ عَاجِنَ الْعَجِينِ

“Maka ia hadis dhaif atau batal tidak ada sumber asalnya. Dan sekirannya shahih tentu saja maknanya bangkit sambil bertelekan dengan kedua telapak tangannya kepada tanah sebagaimana orang yang lemah, yaitu yang tua renta, dan maksudnya bukan orang yang menguli (meremas-remas dan menekan-nekan) adonan.”[4]

Argumentasi seperti di atas diulas pula oleh Imam ar-Rafi’I[5] (w. 623 H)  An-Nawaw[6] (w. 676), Sirajuddin Ibnu al-Mulaqqin[7] (w. 804 H),  dan Ibnu Hajar al-Asqalani[8] (w. 852 H).

Semua ulama bersepakat bahwa hadis bertumpu dengan kedua tangan pada tanah/lantai saat bangkit untuk berdiri versi Ibnu Abas statusnya tertolak karena tidak ada sumber asalnya.

Sementara terhadap hadis Ibnu Umar, para ulama berbeda pendapat dalam menilai status hadisnya. Misalnya, Syekh al-Albani menilainya sahih. Sedangkan Syekh Bakr Abu Zaid menilainya dhaif. Perbedaan itu hemat kami disebabkan dua faktor: Pertama, penetapan rawi bernama al-Haitsam, apakah bin ‘Alqamah bin Qais bin Tsa’labah ataukah bin Imran ad-Dimasyqi? Kedua, para ulama yang menetapkan bahwa rawi itu al-Haitsam bin Imran ad-Dimasyqi pun berbeda pendapat tentang sifat rawi itu antara majhul (tidak dikenal) dan tsiqah (kredibel).

Penjelasan lebih lanjut tentang argumentasi kedua pihak terhadap status hadis itu akan disampaikan pada edisi selanjutnya.

 

By Amin Muchtar, sigabah.com

 

[1] Dikutip oleh Ibnu Hajar dalam at-Talkhish al-Habir fi Takhrij Ahadits ar-Rafi’I al-Kabir, Juz 1, hlm. 467

[2] Ibid.

[3] Ibid., Juz 1, hlm. 467-468

[4] Lihat, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz 3, hlm. 442

[5] Lihat, Fath al-Aziz Syarh al-Wajiz, Juz 3, hlm. 491.

[6] Lihat, Khulashah al-Ahkam fi Muhimmat as-Sunan wa Qawa’id al-Islam, Juz 1, hl. 423-424; Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz 3, hlm. 442,

[7] Lihat, Khulashah al-Badr al-Munir, Juz 1, hlm. 137,

[8] Lihat, at-Talkhish al-Habir fi Takhrij Ahadits ar-Rafi’I al-Kabir, Juz 2, hlm. 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *