HARTA KITA BUKAN MILIK KITA (Bagian Ke-1)

Pendahuluan

Dalam kehidupan ini setiap orang senantiasa mendambakan dan merindukan sesuatu yang bernama bahagia. Tak seorang pun di dunia ini yang menginginkan hidupnya sengsara penuh derita. Oleh karenanya tidaklah heran bila sejak dari terbit mentari di ufuk timur yang disambut dengan kicau murai di dahan dan ranting pohon serta kokok ayam di kandangnya, dunia ini penuh dengan berbagai macam kesibukan.

Orang berpacu dengan waktu, bergulat dan bergumul dengan berbagai aktivitas. Sejak dari petani yang turun ke sawah atau ladang, karyawan atau pegawai yang menuju ke kantor, ke pabrik, dan pedagang yang pergi ke pasar, kalau diamati tujuan akhirnya tidak lain ialah untuk mendapatkan sesuatu yang bernama bahagia.

Dalam kenyataannya tidak semua orang berhasil memperolehnya. Tidak semua orang tahu bagaimana untuk mendapatkannya. Padahal tidak begitu sulit untuk memperolehnya, sebab sebenarnya bahagia itu ada di mana-mana. Di kampung, di desa, dan di kota ada kebahagiaan. Di tepi pantai, di kaki gunung, dan di puncak bukit pun ada bahagia. Namun tidak semua orang berhasil memperolehnya dan tidak semua orang tahu di mana sebenarnya letak kunci kebahagiaan itu.

Ada orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan itu akan diperolehnya bila mempunyai harta benda yang banyak, sehingga waktunya dihabiskan hanya untuk mencari harta. Prinsip hidupnya adalah waktu untuk harta. Dia yakin bila harta benda sudah banyak, apa yang diinginkan mudah didapat. Jalan yang jauh menjadi dekat, ke mana pergi orang pasti menghormat. Singkat kata yang namanya harta benda membuat orang di mana-mana menjadi hebat. Semua bisa diatur dengan harta benda. Demikian besarnya pengaruh harta dalam kehidupan sehingga tidak sedikit orang yang berpacu dengan waktu untuk memperoleh harta benda sebanyak-banyaknya.

Orang yang benar-benar beriman yakin bahwa harta benda bukanlah satu-satunya kunci untuk meraih kebahagiaan, karena orang yang mempunyai banyak harta belum tentu merasa bahagia. Bisa jadi seseorang mampu membeli rumah yang mewah, tetapi rumah yang mewah belum tentu menjadi tempat tinggal yang nyaman kalau orang yang menempatinya selalu resah gelisah, hidup serba khawatir karena tidak mempunyai pedoman hidup yang jelas.

Orang yang tidur di tempat tidur yang model mutakhir, belum tentu merasa bahagia dan dapat tidur nyenyak, kalau hidupnya jauh dari rahmat dan berkah Allah. Tidak mustahil kalau selalu diliputi rasa cemas karena hatinya gersang dari keimanan. Orang yang mampu membeli fasilitas yang serba menunjang, belum tentu hidupnya merasa bahagia, kalau hatinya tidak bisa tenteram lantaran jauh dari tuntunan Ilahi.

Orang yang mempunyai banyak aset tetapi selalu sakit-sakitan jelas tidak akan merasa bahagia dan tidak pernah dapat menikmati manfaat aset yang banyak itu. Dengan aset yang banyak berbagai macam obat dapat dibeli, tetapi kalau penyakit tak kunjung sembuh, jelas tidak mungkin akan memperoleh kebahagiaan. Anugerah kesehatan adalah merupakan nikmat yang sangat tinggi nilainya setelah anugerah keimanan.

Dengan memiliki banyak harta tanpa dibarengi keimanan, orang bisa saja memperturutkan hawa nafsu seksualnya, tetapi tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang yang hakiki, bahkan justru bahaya yang akan mengancam dirinya dan tidak menutup kemungkinan juga keluarganya.

Dari uraian di atas ternyata bahwa kunci kebahagiaan itu tidak terletak pada banyaknya harta benda yang dimiliki seseorang. Sebab bila kunci kebahagiaan itu terletak pada banyaknya harta benda yang dimiliki seseorang, maka sudah barang tentu di rumah mewah, yang fasilitasnya serba menunjang tidak akan ada tangis dan derita, sedih dan pilu. Tetapi kenyataannya tidak demikian, suka dan duka, sedih dan bahagia, resah dan gelisah, tangis dan ketawa ternyata milik semua orang. Apakah dia seorang raja atau seorang penggembala domba, pembesar atau rakyat jelata, direktur maupun tukang cukur, si kaya yang tinggal di singgasana atau si miskin yang tinggal di gubuk derita, semuanya sama-sama memiliki perasaan suka dan duka.

Si kaya gelisah ketika mobil Mitsubishi Eclipse atau Hummer H3 Alpha-nya yang dibawa anaknya sudah larut malam belum kunjung datang. Si miskin gelisah tatkala hujan turun, atap rumahnya bocor. Sama-sama tidak bisa tidur nyenyak, sama-sama gelisah, hanya berbeda penyebabnya.

Kalau demikian halnya, bagaimana agar harta itu mewujudkan kebahagiaan? Kunci kebahagiaan ada pada diri manusia itu sendiri, yakni menyadari akan kedudukan dan fungsi harta yang sesungguhnya. Dalam konteks inilah Islam telah memperingatkan agar manusia tidak tergiur oleh gemerlap harta atau diperbudak olehnya sehingga menjadikan seseorang lupa akan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Islam juga mengingatkan kita agar sadar bahwa harta ternyata bukan satu-satunya “benda” yang menentukan kehidupan seseorang, sehingga kesalahan memahami apa itu harta benda bisa berakibat langkah hidup seseorang menjadi fatal.

Tentunya bukan sekadar ingat atau eling saja. Tetapi dimanifestasikan di dalam kehidupan sehari-hari dengan menaati dan melaksanakan perintah-perintah Allah, dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Sebaliknya, orang yang melupakan Allah, apalagi menderita penyakit rohani semisal sikap iri hati, hasud, dengki dan sejenisnya, maka dijamin hidupnya tidak akan pernah bahagia walaupun secara lahiriah serba berkecukupan. “Dan barang siapa yang berpaling dari pada ingat kepada-Ku, maka niscaya dia akan merasakan kehidupan yang serba sempit,” Q.s. Thaha:124

Sehubungan dengan unsur kedudukan dan fungsi harta itulah Islam menyambut baik kehadiran harta benda. Pada hakikatnya pandangan Islam terhadap harta benda amat positif. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezeki bukan hanya yang mencukupi kebutuhannya, tetapi Alquran memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkannya fadhl Allah, yang secara harfiah berarti “kelebihan yang bersumber dari Allah”. Salah satu ayat yang menunjuk ini adalah:

فَإِذَا قُضِيَتْ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila kamu telah selesai shalat (Jumat) maka bertebaranlah di bumi, dan carilah fadhl (kelebihan/rezeki) Allah. dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” Q.s. Al-Jumu’ah:10

Di samping dorongan, apresiasi positif itu juga terwujud dalam bentuk perangkat aturan hukum yang dibangun di atas tiga kaidah, yaitu kepemilikan (propherty), menajemen kepemilikan, dan distribusi kekayaan di tengah-tengah manusia.

Meskipun demikian apresiasi positif itu tampaknya belum dipahami secara luas di kalangan masyarakat mengingat masih minimnya pembahasan tentang harta dalam pandangan Islam. Tulisan ini, setidaknya dapat memenuhi harapan tersebut, sehingga dapat memberikan gambaran yang utuh tentang masalah kedudukan dan fungsi harta benda dalam kehidupan serta bagaimana sebenarnya kepemilikan harta itu dalam kaidah hukum Islam. Selamat membaca, dan menikmati harta dengan cara yang lain.

By Amin Muchtar, sigabah.com

 

1 thought on “HARTA KITA BUKAN MILIK KITA (Bagian Ke-1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *