ALI: SANG KHALIFAH DI TENGAH GEJOLAK

Ali adalah anak dari pasangan Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf dengan Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf. Dia dilahirkan di kota Mekah pada tanggal 13 Rajab (sekitar 600 M) atau 30 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad saw. Dia masih saudara sepupu Nabi Muhammad dan juga menjadi menantu beliau karena menikah dengan Fatimah, putri beliau.

Ali bin Abu Thalib mempunyai kedudukan tersendiri dalam sejarah umat Islam. Sejak kecil Ali diasuh oleh Nabi Muhammad saw. bersama istri beliau, Khadijah. Hal ini sebagai balas budi kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak kecil hingga dewasa. Dengan bimbingannya, pada usia 10 tahun Ali menjadi anak laki-laki yang pertama kali masuk Islam.

Di bawah pengasuhan Nabi Muhammad saw., Ali memiliki dua sifat utama yang melekat pada dirinya: (1) akhlak, dan (2) keberanian.

Dilihat dari aspek akhlak, sifat Ali yang paling menonjol berupa rendah hati (tidak merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain), murah hati, lapang dada, tidak pendendam, selalu memelihara silaturahmi dan pemaaf.

Sementara dilihat dari sifat keberanian, sejarah telah mencatat dengan tinta emas salah satu bukti keberaniannya, yaitu pada malam sebelum peristiwa hijrah dia diperintah Nabi Muhammad saw. untuk memakai mantel Nabi dan diminta berbaring menggantikan beliau di tempat tidurnya. Kemudian secara diam-diam Nabi Muhammad ditemani Abu Bakar hijrah ke Yasrib (Madinah). Sementara di luar rumah orang-orang Quraisy telah bersiap-siap untuk membunuh Nabi Muhammad, dan mereka menduga bahwa yang sedang berbaring itu Nabi Muhammad. Posisi demikian itu Tentu saja beresiko dapat mengancam nyawa Ali. Namun, dengan jiwa pemberani yang dilandasi keimanan dan kesetiaan, Ali melaksanakan semua perintah Nabi dengan baik.

Selain itu, keberaniannya ditunjukkan pula dalam beberapa peperangan, seperti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar dan lain-lain. Dalam peperangan itu dia menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan. Allah memberi kemenangan lewat tangannya.

 

Pembaiatan Ali Sebagai Khalifah

Ali dibaiat menjadi khalifah ke-4 setelah syahidnya sang khalifah Usman bin Affan di tangan para pembelot dan pemberontak yang datang dari berbagai penjuru berberapa daerah yang berbeda-beda, dan beberapa kabilah yang beragam. Sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak meninggalkan sedikitpun kebaikan pada agama. Yaitu setelah mereka berhasil membunuh Usman secara zalim, dusta dan penuh permusuhan. Tepatnya pada malam Jumat, 18 Dzulhijjah tahun 35 H.

Pengukuhan kekhalifahannya tidak semulus pengukuhan tiga orang khalifah sebelumnya. Dia dibaiat di tengah-tengah suasana berkabung atas terbunuhnya Usman bin Affan, yang menimbulkan pertentangan dan kekacauan serta kebingungan umat Islam. Pertentangan dan kekacauan itu timbul dari gerakan Khawarij yang tidak lepas dari peranan Abdullah bin Saba yang aktif mengadakan kegiatan politik. Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam.

Selama kepemimpinan Ali bin Abu Thalib sering terjadi konflik yang ditimbulkan oleh pemberontak di wilayah Kuffah, Basrah, dan Mesir—di saat kaum muslim di daerah itu belum sepenuhnya memahami ajaran Islam—sehingga pemerintahannya tidak mudah ditegakkan kembali dalam waktu singkat (tahun 35 H – 40 H). Meski begitu, Ali bin Abu Thalib selalu mencari jalan damai dan keadilan demi menjaga terpeliharanya persatuan dan persaudaraan umat Islam.

Dalam kondisi pemerintahan yang tidak stabil, banyak prestasi-prestasi yang berhasil dicapai Ali bin Abu Thalib di antaranya :

  1. Mengganti pejabat-pejabat yang kurang cakap agar terwujud pemerintahan yang efektif dan efisien.
  2. Membenahi Keuangan Negara (Baitul Mal)

Setelah mengganti para pejabat yang kurang cakap, Ali menyita harta para pejabat tersebut, kemudian disimpan di Baitul Mal dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat.

  1. Memajukan Bidang Ilmu Bahasa Arab.

Pada saat Ali bin Abi Thalib memegang pemerintahan, wilayah Islam sudah mencapai India. Pada saat itu, penulisan huruf hijaiyah belum dilengkapi dengan tanda baca, seperti kasrah, fathah, dhommah dan syaddah. Hal itu menyebabkan banyaknya kesalahan bacaan teks Al-Qur’an dan Hadis di daerah-daerah yang jauh dari Jazirah Arab.

Untuk menghindari kesalahan fatal dalam bacaan Al-Qur’an dan Hadis. Khalifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Aswad ad-Duali untuk mengembangkan pokok-pokok ilmu nahwu, yaitu ilmu yang mempelajarai tata bahasa Arab. Keberadaan ilmu nahwu diharapkan dapat membantu orang-orang non  Arab dalam mempelajari sumber utama ajaran Islam: yaitu Al-Quran dan Hadis.

  1. Bidang Pembangunan. Salah satu kota yang menjadi perhatian khusus pembangunan adalah kota Kuffah. Kota tersebut menjadi pusat ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu nahwu dan ilmu pengetahuan lainnya.

Kaum Khawarij tidak henti-hentinya membuat kerusuhan di kalangan Islam. Pada tanggal 17 Ramadhan 40 H, Ali bin AbuThalib dibunuh oleh Abdur Rahman bin Muljam, utusan dari golongan Khawarij. Pada saat itu, Ali bin AbuThalib hendak melaksanakan shalat subuh di Mesjid Kuffah.

Ali bin Abu Thalib wafat tanggal 20 Ramadhan 40 H. Beliau gugur sebagai syahid di usia 63 tahun. Dengan meninggalnya Ali bin Abu Thalib maka berakhirlah zaman Khulafa ar-Rasyidin. Para ahli sejarah menyatakan bahwa model pemerintahan Islam di masa empat Khulafa ar-Rasyidin merupakan pemerintahan yang mendekati model pemerintahan pada masa Rasulullah saw.

Sumber: Buletin Humaira, edisi 4, Juni 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *