(Ust. Usman Sholehuddin) Pengakuan Sang Adik, Ust. Zae Nandang: “Si Cikal, yang Prihatin dan Penuh Perhatian”

Ust. Usman adalah putra dari pasangan bapak Uya Mulyana dan Ibu Odah, anak pertama dari tujuh bersaudara, tiga laki-laki dan empat perempuan. Semasa sekolah beliau adalah anak yang paling memprihatinkan dibanding adik-adiknya, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau, sekalipun harus jalan kaki menuju pesantren. Sehingga hasil dari keseriusannya dalam belajar membuahkan hasil dan ilmunya bisa dirasakan oleh adik-adiknya secara khusus, begitu juga oleh umat secara umum. Kata-katanya khas, padat dan mendalam, sedikit tapi sarat makna.

Beliau menjadi tumpuan dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan. Sepeninggal orangtua, beliau betul-betul mengamalkan sabda Rasulullah Saw, Kabiratul-Ikhwah bi manzilatil-ab, (anak yang paling besar itu, harus bisa menggantikan tempat seorang ayah). Hal tersebut tampak sekali ditunjukkannya, sehingga semua saudara, yaitu adik-adiknya yang selalu memiliki permasalahan selalu dibereskan oleh beliau. Seluruhnya patuh kepada beliau, apalagi karakter beliau yang tegas terhadap semuanya, beliau selalu menekankan supaya kami betul-betul menjadi orang yang benar. Tidak hanya ketegasannya saja yang dirasakan, tapi rasa sayang seorang kakak kepada adik-adiknya, dirasakan oleh semua. Sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk menentang beliau.

Peran beliau di keluarga sangat penting terutama dalam hal Birrul Waalidain yang sampai saat ini tidak bisa diikuti oleh adik-adiknya. Dalam berbuat kebaikan kepada orangtua, beliau tidak pernah terhalang oleh apapun. Sempat satu waktu ibu saya ingin pergi ke Cimahi dan ingin diantar oleh Uman (panggilan ibunya kepada Ust. Usman), beliau pasti datang. Mau dalam keadaan capek, sakit, jauh atau sedang ada tugas sekalipun, pasti beliau datang. Kalau saya, belum tentu sanggup seperti beliau.

Beliau juga tidak pernah mengeluh, tidak mencari alasan apapun, selama sang ibu membutuhkannya, pasti beliau datang. Ini adalah pelajaran yang berharga dari beliau kepada adik-adiknya, dalam menghormati dan berbuat baik kepada seorang ibu. Makanya, saya tidak berani menolak beliau ketika menyuruh pengajian di suatu tempat, sekalipun saya sudah ada jadwal.

Sebagai seorang kakak, beliau sangat terbuka dengan adik-adiknya. Permasalahan apapun selalu dibahas bersama, sehingga terasa enak oleh semuanya. Beliau adalah orang yang dituakan di keluarga, sehingga kalau pulang ke rumah sangat bisa dirasakan kehadirannya. Kalau Ust. Usman sudah menetapkan harus seperti apa, maka beres sudah masalah tersebut. Beliau betul-betul figur buat kami.

Sikapnya sangat sederhana, semangat dalam membaca kuat, dan perhatian sekali kepada kami. Kami semua didorong untuk semangat membaca, cinta akan ilmu dan tidak berhenti belajar, baik dilembaga pendidikan yang formal ataupun non formal.

Beliau selalu menuntut kami untuk terus meningkatkan keilmuan kami. Pernah satu waktu saya mengisi pengajian di Cimahi, beres pengajian beliau dengan kata-kata khasnya mengatakan, “suaranya kedengaran sampai sini, tapi hati-hati, awas tidak ada isinya”. Pernah juga saya dan Ust. Ua Saepudin mengisi pengajian di Cipatat, terus jamaah Cipatat mengatakan Alhamdulillah yang mengisi pengajian bagus-bagus. Ust. Usman Cuma berkomentar “Lilin juga terang kalau di tempat gelap”. Saya mengerti komentar beliau ditujukan kepada saya, supaya saya terus meningkatkan keilmuan. Setiap kali beliau berkunjung ke rumah, pasti beliau ngomong “can nambah kitab teh” (belum bertambah lagi kitabnya). Jadi beliau selalu mengajarkan supaya kami punya kitab dan buku yang baru, supaya banyak membaca. Maka, ketika beliau wafat kami sangat merasa kehilangan.

Pesan yang saya ingat adalah ketika saya berdua di Maleer, kemudian ada kuli Batako lewat, beliau nanya, mau bawa pake tenaga atau pake ilmu?. Artinya jangan jadi orang yang cape-cape kesana kemari bawa ijazah untuk mencari pekerjaan, tapi wujudkan diri menjadi pribadi yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh orang lain, punya apa kita, sehingga orang lain datang kepada kita.

Seperti A Hassan saja, walau tempatnya jauh, tapi banyak jamaah yang selalu berdatangan ke tempat beliau untuk belajar, karena pada diri A Hassan ada sesuatu yang diperlukan jamaah, maka mereka datang saja sekalipun harus menempuh jarak yang jauh. Kami berharap, ada yang meneruskan perjuangan dan kebaikan beliau, saya selaku pihak keluarga juga berusaha supaya jejak langkah beliau menjadi jariyah buat semuanya.

Ust. Usman sudah aktif di Jam’iyyah sejak masih muda, kecintaannya terhadap Persis tidak lepas dari peran bapak Uya yang sebelumnya beliau sering mengikuti kegiatan A Hassan, sehingga ketertarikannya kepada A Hassan membuat bapak Uya menyekolahkan anak-anaknya ke Pesantren Pajagalan. Dimulai dari Pesantrenlah Ust. Usman mengenal tokoh-tokoh Persis seperti KH. E. Abdurrahman, dan dari beliaulah kakak saya mendapatkan ilmu, dan ilmunya semakin terasah sewaktu beliau menjadi asisten Ust. H.E Abdurrahman.

Sepengetahuan saya, beliau hanya belajar kepada Ust. Abdurrahman saja, sehingga ilmu dan karakternya melekat pada diri Ust. Usman. Keberhasilan beliau menjadi seorang ustadz adalah bentuk dari terlaksananya cita-cita orangtuanya. Beliau adalah anak yang pertama yang mewujudkan keinginan bapak dan ibu, yang ingin mempunyai anak seorang ustadz.

Ust. Usman mengawali kiprah di Jam’iyyah setelah aktif di Pemuda Persis pada usia 17 tahun. Setelah itu sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah lepas dari Persis. Beliau pernah berpesan, “tong kabita ku imah batur najan alus” (jangan tertarik oleh rumah orang lain, sekalipun bagus), sekalipun ada bagian rumah yang bocor, perbaiki karena itu rumah kita dan tidak perlu membangun rumah yang baru lagi. Cukup yang ada saja, tinggal di urus dengan baik, sebab belum tentu yang baru juga bagus.

Dalam pandangannya, Jam’iyyah Persis memiliki ciri khas tersendiri, sehingga menarik perhatian orang lain. Karena kita menggarap sesuatu yang tidak digarap oleh orang lain, kalau garapan kita sama dengan yang lain maka orang tidak akan mau bergabung dengan Persis. Tapi, kadang-kadang  kritkannya keras terhadap jam’iyyah, itu bukan hal yang aneh, karena memang karakternya seperti itu. Kritikan yang keras merupakan rasa sayang beliau kepada Jam’iyyah, makanya sampai akhir hayatnya tidak pernah lepas dari Persis.

 

Sumber: Majalah Risalah no.9 th.52 Shafar 1436/Desember 2014 hlm.16-18 Rubrik Kajian Utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *