TANGAN KANAN-MU BERADA DI SURGA

Samar-samar suara sirine terdengar di telingaku. Aku masih tidak bisa membuka mataku, seketika pikiranku beku tidak tahu apa yang kupikirkan. Ada sepasang tangan yang memegang tangan kiriku dengan erat, dan ada yang seperti berteriak namun lagi-lagi aku hanya mendengarnya samar. Sesampainya di suatu tempat, aku mulai bisa membuka mataku walau hanya sedikit. Aku lemas, sangat merasa lemas, aku hanya bisa sedikit melihat lampu-lampu ruangan yang aku lewati. Aku seperti didorong di atas suatu tempat untukku berbaring, orang-orang berlarian menggiringku. Dengan susah payah aku coba angkat tangan kiriku dan kulihat darah, namun entah darah siapa, rasanya tangan kanan ku pun mati rasa. Sekarang aku sedikit mulai bisa mendengar, ada seseorang yang berteriak, sepertinya aku kenal suara itu “ASTAGHFIRULLAAHHH, YA ALLAAHH.. ALLAAHU AKBARRR, ALLAAHU AKBARR, CEPAT DOK CEPATTTT!! BERTAHANLAHH…. KAMU HARUS KUAT!!!” dia, itu suara dia sahabatku, apa yang dikatakannya? Apa maksudnya? Aku harus kuat??.

*****

“Kamu harus kuat! kamu harus kuat! Muak aku denger kalimat itu setiap hari!” aku menghentakinya, kesabaranku sudah habis tiap kali Farhan sahabatku terus mengucapkan kalimat itu “Ayolah San, sarapan dulu dikit lah, kondisimu bagaimana mau stabil jika kamu susah makan kayak gini terus,” ucap Farhan lembut sambil mengasongkan satu sendok bubur ke arah mulutku. “Kamu gak mau duduk di kursi roda kayak gini terus kan? Makanya habisin dulu makanannya. Kamu harus kuat San..” benar-benar emosiku sudah tidak tertahankan lagi, dengan kasar aku mendorong Farhan hingga dia terjatuh dan berakhirlah sarapanku kali ini “Aahhh..!!” teriak Farhan sambil menahan panas dari bubur yang tumpah mendarat di wajah dan bajunya. “Gue sekarang cacat Han! Bagaimana gue bisa kuat? Apa lo pernah berpikir bagaimana seandainya lo ada di posisi gue hah??!! Atau gue harus ancurin dulu satu tangan lo biar lo cacat dan lo ngerasain apa yang gue rasain?!” dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ada di leherku, aku meneriaki Farhan penuh emosi, air mataku tak kuasa jatuh menetes di atas ubin putih itu. Hening sejenak, dengan tertunduk Farhan masih membersihkan sisa bubur yang ada di bajunya “Astagfirullaah..” itulah yang lirih terdengar ketika ia bangkit, “Assalaamu’allaikum..” kemudian Farhan melangkah pergi dari teras depan rumahku.

Aku sudah mengenal Farhan dari sejak kelas satu SD, ketika hampir seluruh teman kelasku menjauhi Farhan, aku malah ingin sekali menjadi teman baik dia, begitupun titah ibundaku, aku disuruhnya untuk menjadi pribadi yang baik dan berteman dengan tidak memandang harta dan status sosial, ibuku hanya menyuruh aku berteman dengan seseorang yang baik akhlaqnya, ibuku sangat akrab dengan seseorang yang ku sebut nenek Rahmah, beliau yang telah mengurus dan membesarkan Farhan hingga ia menginjak di usia yang ke 20 nya, usia yang sama denganku saat ini. Kami memiliki visi dan misi yang sama, bahkan gaya rambut kamipun hampir sama, seperti gaya rambut korea, namun tetap tidak menyalahi syariat Islam, kami memelihara janggut meskipun tidak lebat, dan kami bahagia dengan pakaian koko dan celana katun kami. Dulu semasa sekolah Aliyah, kami berdua begitu populer di kalangan akhawat terutama karena akhlaq dan kepintaran kami, terlebih kami berkulit putih bersih dan selalu berpakaian dengan rapih. Aku lebih pendek dari Farhan 3 cm pada tingginya yang mencapai 171 cm, dan kami pun saling menguatkan tekad untuk tidak pacaran seperti orang-orang kebanyakan hingga kami menghalalkan salah seorang perempuan yang berkeyakinan sama seperti kami, akhawat sholihah berhijab syar’i.

Lagi-lagi tangisanku selalu pecah kala mengingat kecelakaan itu yang menyebabkan tangan kanan ku harus diamputasi, menangis sejadi-jadinya di dalam kamarku, mempertanyakan dimana keadilan-Nya saat ini. Padahal sebelumnya, shalat wajib tidak pernah aku tinggalkan, selalu menjalankan sunnah, selalu menjaga akhlaq, dan berbakti kepada orangtua. Orangtuaku hanya menjengukku 3 kali sampai saat ini, ketika aku masuk Rumah Sakit, ketika aku dirawat, dan ketika mengantarkanku pulang ke rumah, mereka hanya berempati berperantarakan gatged dan social media, ayahku sibuk mengurusi bisnisnya di tanah melayu dari sejak aku masih bayi, sedangkan ibuku membantu perusahaan kecil yang sudah lama dibangun kakekku di Jepang setelah aku lulus MTS, jadi aku hanya bisa berbakti kepada meraka dengan menjadi anak sholeh dan mendo’akan mereka. Sedangkan saat ini di rumahku hanya ada aku dan satu pembantuku yang dari sejak aku masih kecil turut serta membesarkanku. Menjadi anak tunggal dari orangtua yang berpenghasilan di atas rata-rata dan hidup di dalam istana besar dengan sebuah kolam renang dan kendaraan yang bagus, mereka pikir aku hidup bahagia? Seandainya bisa, aku lebih memilih hidup dalam kemiskinan tapi aku mendapatkan cukup perhatian dari kedua orangtuaku daripada aku harus hidup layaknya pangeran tapi aku merasa aku tidak pernah memiliki orangtua, dan sekarang lengkaplah sudah, setelah merasa kehilangan orangtua sekarang aku harus menerima takdir pahit, hidup tanpa tangan kananku, kenapa kemarin aku tidak mati saja sekalian? Jadi aku tidak harus merasakan penderitaan ini. Putus asa? Ya, tentu saja, bahkan beberapa kali aku mencoba untuk mengakhiri diriku sendiri, namun selalu gagal karena teringat perkatan bodoh dari Farhan yang bahwasannya aku harus kuat, terutama aku takut akan siksaan-Nya. Semua terjadi karena memang kesalahanku sendiri, aku dikejar waktu sehingga aku harus mengemudikan motorku dengan sangat cepat, tidak menyadari lampu hijau telah menjadi lampu merah di perempatan kala itu, beruntung Farhan terpental dari jok belakang dan selamat, tidak ada yang meninggal, tapi aku harus ganti rugi karena telah membuat penyok mobil mewah itu, dan aku harus kehilangan tangan kananku untuk selama-lamanya.

Baru-baru ini aku merasa Farhan mulai cakap berbicara, padahal biasanya ia tidak pernah banyak bicara, yang hanya bisa dia lakukan hanya senyum dan senyum terus sepanjang hari, sampai-sampai aku sendiri pegal melihatnya. Tapi jujur, senyuman Farhan begitu bersahaja, bersahabat, dan mampu membuat aku tenang kala aku menghadapi sesuatu yang rumit. Dan baru kali ini aku sadar, Farhan mulai cakap berbicara karena ia ingin menghibur aku, karena sejak kejadian itu aku banyak berubah derastis, yang awalnya banyak berbicara, sekarang menjadi diam seribu bahasa, dan Farhan mencoba mengobati luka di dalam hatiku dengan kecakapannya itu. Teringat emosiku saat itu, aku sangat menyesal, sudah beberapa pekan ini aku tidak melihat Farhan, apa karena pertengkaran yang kubuat itu sehingga Farhan tidak sudi menginjakakan kakinya di rumahku lagi? Padahal rumah kami hanya berjarak beberapa meter saja, rumah Farhan terletak di seberang jalan kecil tepat di depan rumahku. Keadaanku berangsur membaik, aku sudah bisa berjalan dan bibi sudah tidak mengurusi kebutuhanku lagi, seiring berjalannya waktu aku pun mulai terbiasa hidup dengan satu tangan. Namun kekesalan dan kekecewaan itu selalu ada, berkoloni dan akhirnya membentuk gumpalan emosi yang bisa membuat seisi rumahku hancur berantakan, dan seperti biasa, lagi-lagi bibi rela merapihkannya kembali dengan penuh kesabaran. Kemana sahabatku? Aku mulai merasa kehilangannya, disaat seperti ini aku butuh obrolan hangat dan kata-kata sakti motivasinya untuk menenangkan diriku, sungguh saat itu aku khilaf, aku benar-benar sangat menyesal telah membuat dia sakit hati. Setiap hari aku menghabiskan waktuku di lantai dua rumahku, menatap keluar jendela dengan mata tertuju kearah rumah Farhan, aku tidak pernah melihat dia keluar rumah, bahkan halamannya pun nampak tidak terurus, sangat berbeda dari Farhan yang ku kenal yang mencintai kebersihan. Akupun mulai menaruh curiga, perasaanku tidak enak, apa dia pindah? Apa dia sedang sakit? Seribu pertanyaan setiap hari terus aku pendam, namun tidak kunjung mendapat jawaban yang nyata, hanya saja setiap pikiran ini suuzhon (buruk sangka) aku selalu langsung menepisnya dengan pemikiran yang husnuzhon (berbaik sangka).

Ini sudah minggu keenam dari sejak pertemuan terakhirku dengan Farhan, saat di mana emosiku memakan sahabatku sendiri. Akhirnya aku bertekad pergi ke rumahnya untuk meminta maaf. Kali ini aku harus membantai habis ke egoisanku yang biasanya selalu ingin menang. Ku ketuk pintu rumah Farhan beberapa kali hingga salam ketiga tidak kunjung ada jawaban, karena sudah kucoba kontak Farhan namun handphonenya tidak aktif, lantas aku mencoba menghubungi ibuku yang selalu berkomunikasi dengan Farhan, bahkan beliau lebih sering berkomunikasi dengannya daripada berkomunikasi dengan anak kandungnya sendiri. Jawabannya begitu sangat mengejutkan! Farhan kini sedang dirawat di salah satu Rumah Sakit di tengah kota, “Kenapa ibu baru kasih tahu sekarang!” dengan badanku yang gemetar aku tidak sengaja meneriaki ibuku lewat telepon setelah mendengar kabar yang mengejutkan tersebut. “Ibu gak tega dengan kondisi kamu nak, kalau ibu kasih tahu langsung, pasti kamu bakal nekad pergi jenguk Farhan dengan kondisi kamu yang lagi sakit juga.” “Astagfirullaah ibuuu, sekarang jelaskan Farhan sakit apa?” tanyaku yang penuh Tanya. “Dia hanya kecapean nak, jangan khawatir yah paling besok atau lusa juga sembuh, awas kamu jaga kesehatan jangan nekad jauh-jauh pergi nengokin Farhan.” Ibuku kalau berbohong itu payah. “Yaudah makasih bu, assalaamu’allaikum,” tanpa banyak basa-basi aku langsung mematikan telepon. Aku selalu mengetahui kalau ibuku lagi berbohong, terlebih masa hanya karena kecapekan Farhan bisa sampai dirawat begitu lamanya? Tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke Rumah Sakit tersebut meski hanya mendapatkan informasi yang sedikit. Di dalam taksi aku terus bertanya–tanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi, keringat dingin dan perasaan aneh pun mulai bercampur aduk menemani perjalananku menuju Rumah Sakit, aku coba terus menghubungi Farhan, namun hasilnya tetap nihil.

*****

“Hahaha, ouh iya Han, aku selalu ingat bagian itu, di mana pada saat Aliyah dulu kamu pernah kekunci di wc, pernah salah masuk tenda orang lain pas lagi kemping, pernah juga kita di kejar-kejar anjing pas pulang sekolah sampe pada akhirnyan kita harus nyebur ke kali biar si anjingnya gak ngejar kita lagi, hahaha kamu juga masih ingatkan?? Aku merindukanmu sobat, seperti ini mulai membuatku merasa sedikit gila, kenapa kau meninggalkan aku secepat itu? Lalu impian kita? Jika aku sulit menemukan jodohku dengan kondisiku yang cacat ini, paling tidak aku bisa melihatmu bahagia ketika melihatmu berdiri diatas pelaminan bersama seseorang yang kau cintai, tapi apa sepertinya semua impian kita tidak akan ada yang terwujud? Bukankah kau sudah berjanji pula, jika suatu saat nanti aku jadi penulis hebat kau akan menjadi orang pertama yang akan membaca semua karya-karyaku?” Tak kuasa air mataku pun mulai menganak sungai, mendarat di atas batu nisan yang tengah aku ciumi “kau meninggalkan aku tanpa berpamitan, tidak mengabari aku pun, kenapa kau setega itu?!” Tiba-tiba aku teringat sesuatu, kebiasaan lama seorang Farhan, kemudian aku bergegas pergi dari pemakaman sore itu, aku berlari menuju rumah Farhan yang letaknya lumayan jauh dari tempat pemakaman, tak sedikitpun aku menghentikan lariku, aku masih terus memburu waktu untuk cepat sampai kerumahnya, bahkan orang-orang yang ku lalui dan yang tak sengaja aku senggolpun tak ku hiraukan, “Aku tahu, kau tidak akan meninggalkan aku begitu saja Farhan, kau pasti meninggalkan sesuatu untukku!” bisikku dalam hati. Dengan masih terengah-engah aku berusaha menemukan kunci rumah Farhan yang biasa ia sembunyikan di bawah pot, aku terburu-buru membuka pintu rumah itu sehingga menimbulkan suara yang lumayan berisik, kulihat semua barang berharganya telah habis, nampaknya ia telah menjual semuanya demi pengobatan  dari penyakit yang dideritanya. Lalu aku langsung menuju kamar Farhan yang sudah mulai banyak debu, kuangkat bantal itu, dan ternyata benar, Farhan meninggalkan sesuatu di sana, dia meninggalkan pesan untukku, pesan perpisahan.

Tanganku bergetar ketika harus membuka lipatan kertas itu sedikit demi sedikit, kutemukan rangkaian kata yang Farhan susun dengan gaya huruf khasnya, tulisannya benar-benar membuatku teringat kembali dengan raut wajah Farhan. Akupun mulai membacanya.

“Assalaamu’alaikum sahabatku, kau memang benar-benar sahabatku, kau tahu aku meninggalkan pesan ini, mengetahui kebiasaanku dulu, ketika kita bertengkar, aku selalu menaruh secarik kertas di bawah bantalmu yang berisi permintaan maafku. Dan sekarang memang aku ingin minta maaf Hasan, tentang tempo hari yang tak sengaja membuatmu marah. Hasan, aku tahu dan aku mengerti betul apa yang kamu rasakan, karena kita ditakdirkan dengan kecacatan yang mirip. Kamu kehilangan tangan kananmu dan aku kehilangan kedua orangtuaku, aku yang dilahirkan tanpa pernah mengetahui bagaimana rupa dari kedua orangtuaku, aku tidak pernah merasakan hangatnya pelukan mereka, tidak pernah merasakan manisnya kecupan mereka, dan tidak pernah merasakan bagaimana bahagianya ketika diantar orangtua saat pertama masuk sekolah sejak SD. Sungguh aku merasa Allah telah menjawab dari do’a terdalamku, ketika dipertemukan dengan seorang teman yang ikhlas mau menjadi sahabat dari orang yang konon mereka sebut sebagai anak haram ini, dan hanya dibesarkan mati-matian oleh seorang janda tua hingga pada akhirnya aku hidup sebatangkara. Hanya kamu yang sudi menjabat tanganku dan mau berbaik hati menemani hingga berbagi makanan denganku ketika kamu tahu aku tengah kelaparan. Tidak mudah menghadapi hidup seorang diri itu sobat, tapi bersamamu mengajarkanku banyak hal ‘kemiskinan akan mengajarkanmu kesabaran, melatihmu berjuang untuk memenuhi hakmu, ketidakpunyaan akan mengajarkanmu cara bersyukur, dan aku akan mengajarkanmu bahwa kamu tidak hidup seorang diri,’ itulah yang kamu katakan ketika seseorang yang sangat aku sayangi, yang telah aku anggap sebagai orangtuaku sendiri telah lebih dahulu pergi menghadap-Nya, kehadiranmu menguatkan aku sobat, membuat aku mengerti arti kuat dan kasih sayang Allah yang bersembunyi dibaliknya melalui kehadiranmu dalam hidupku, berkecukupan tidak pernah membuatmu menjadi pribadi yang sombong, angkuh, dan semena-mena, kamu masih terus dengan lembut tutur bicaramu, bijaksana, penyayang terhadap sesama, itu adalah sebuah kesempurnaan akhlaq dirimu di mataku. 13 tahun berjalan persahabatan kita, aku tidak pernah menemukan teman sebaik dan sebijak kamu. Begitulah aku mengenalmu sobat, sebelum kejadian itu yang memakan habis sifat baik kamu, hal itu pula malah membuatmu semakin lalai dalam menjalankan kewabijanmu sebagai seorang Muslim. Kini aku tidak pernah melihatmu lagi berjamaah di mesjid, tidak pernah kudengar lagi suara handphoneku yang kini ia bisu total, yang biasanya kudengar tengah malam panggilan darimu untuk mengajakku qiyamu lail, dan kau tidak pernah lagi menginap di rumahku untuk sahur bersama pada tiap hari Senin dan Kamis. Kemanakah kini ajakanmu itu? Perlahan kamu mulai melupakan semua yang kamu ajarkan pada ku kala itu, tentang sabar, ikhlas, dan syukur. Kamu masih tetap sahabatku sekalipun kamu dalam keadaan cacat! Izinkan aku membalas semua budimu, biarkan aku menjadi tangan kananmu, aku rela menyuapimu, sekarang biarkan aku menggantikanmu mengendarai kendaraan itu, aku akan mengantarkanmu kemanapun kamu mau sekalipun aku harus meninggalkan waktuku demi waktumu. Biarkan aku yang menuliskannya untukmu, jangan berhenti membuat cerita-cerita hebat hanya karena sekarang kamu tidak memiliki tangan kananmu. Sekali lagi, biarkan aku membalas semua kebaikanmu, biarkan aku menjadi tangankananmu, asalkan Hasan yang dulu harus kembali! Hanya itu yang aku inginkan. Namun, sepertinya itu semua tidak akan pernah terjadi, mengingat penyakit yang bersemayam di dalam kepalaku ini. Sudah beberapa bulan ini dokter mendiagnosaku positif kanker otak, entah berapa lama lagi sisa waktuku untuk hidup, ibumu memergokiku sedang meminum obat pada saat setelah mengantarmu pulang dari Rumah Sakit. Ibumu mengirimiku banyak uang untuk berobat, namun aku menolaknya, sudah cukup aku terus merepotkan keluargamu, kini saatnya aku harus berjuang dengan tanganku sendiri, namun aku sadar semua tidak akan berjalan dengan semestinya, aku mulai merasakan pusing yang sangat keras di kepalaku, darah tidak henti-hentinya keluar dari hidungku, dan rambutku perlahan mulai rontok. Dan sepertinya aku harus memilih pilihan terakhir, yaitu menemui tangan kananmu di surga. Hasan, tolong wujudkan impianku itu, kembalilah menjadi Hasan yang dulu ku kenal, agar aku bisa menjumpai tangan kananmu di sana, agar aku masih bisa menggandeng erat tanganmu di alam yang berbeda sebagai tanda persahabatan kita yang kekal, atau jika seandainya tempatku adalah di neraka, aku harap tangan kananmu bisa menolongku, menariku keluar dari jilatan api neraka. Sekali lagi aku mohon Hasan, biarkan aku menjumpai tangan kananmu di surga, kembali lah menjadi Hasan sahabatku, jangan seegois itu! Biarkan Allah mengambil kembali hak-Nya setelah meminjamkannya sekian lama padamu, karena sejatinya kita tidak memiliki apa-apa, bahkan nanti hembusan napas terakhirku pun milik Allah. Ikhlaskanlah Hasan, kembalilah dan katakana: ‘Aku harus kuat!’ seperti apa yang pernah kau katakan padaku saat aku berada dalam situasi yang buruk. Maafkan aku, kau akan selalu menjadi sahabatku, aku tunggu kau di kehidupan selanjutnya. Semoga kita dipertemukan kembali di Jannah-Nya.”

Kini rumah Farhan tidak lagi sepi, setelah membaca pesan darinya. Teriakku memenuhi seluruh langit-langit dan air mataku jatuh dengan deras. Aku menyesal telah menutup pertemuan kita untuk yang terakhir kalinya dengan pertengkaran. Aku berjanji, aku akan kembali seperti dulu lagi Farhan, yah seperti ucapmu, aku harus kuat. Sekarang aku ikhlas dan aku akan menjemput diriku yang kemarin sempat menghilang. Melaluimu Allah mengingatkan aku. Melaluimu sahabatku, Allah takan biarkan aku kalah. Temuilah tangan kananku di sana, lalu entah esok atau lusa, cepat atau lambat, kabar itu akan sampai, lalu aku akan menyusulmu, menyusul tangan kananku.

By Muslim Nugraha, Penulis Madrasah Pena

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *