Sepenggal Kisah Kenangan Berpolemik Dengan Kang Jalal

Kewafatan Kang Jalal bisa menjadi kabar duka bagi Sebagian kalangan, namun menjadi kabar Bahagia bagi kalangan lain. Memang demikianlah Kang Jalal, semasa hidup hingga wafatnya senantiasa diliputi kontroversi.

Liku-liku hidup Kang Jalal yang penuh kontroversi memberikan banyak hikmah bagi saya pribadi, baik Fikrah maupun Kiprah, sejak duduk di bangku kelas 3 Tsanawiyah (TSN) PPI 1-2 Pajagalan hingga bergabung dengan Dewan Syuro ANNAS Pusat sekarang ini.

Sejak kelas 3 TSN itu, saya sangat akrab dengan cara beliau beretorika, humor-humornya yang segar—meskipun di akhir usia senjanya beliau sering emosi hingga meninggalkan arena diskusi—kehebatannya menarik simpati, dan tentu saja kejeniusannya menggiring opini pendengar dan pembaca untuk menerima idenya, sehingga tidak sedikit orang yang “tersihir” dengan retorika beliau melupakan substansi argumen, dan saat bersamaan terkadang tidak sadar bahwa beliau agak “nakal”—untuk tidak menyebut curang—dalam menuturkan fakta dan mengutip suatu teks dari sebuah sumber rujukan. Rujukan Ahlus Sunnah paling banyak menjadi “korban nakalnya” Kang Jalal. Dengan cara begitu, ide dan pemikiran Kang Jalal selalu saja diliputi misteri, berada pada grey area (wilayah abu-abu): atas dasar keyakinan taqiyah atau argumentasi ilmiah.

Ala kulli haal (bagaimana pun itu) saya tetap mengucapkan terima kasih kepada Kang Jalal karena telah memacu saya untuk banyak belajar, dan yang teristimewa berkesempatan “debat terbuka” di media hingga usia Kang Jalal yang tak lagi muda

Berikut ini beberapa contoh ‘Genealogi Karya Pribadi’ Terpicu kontroversi Kang Jalal

  1. “Imam Bukhâri Dalam Sorotan, Tanggapan Atas Jawaban Agus Efendi”, Thadzibul Washiyyah, Gumuruh, Bandung, 1994.

Merespon analisis kontroversial Kang Jalal dalam buku “Islam Aktual: Refleksi-Sosial Seorang Cendekiawan Muslim” (Terbitan Mizan, 1991), dengan kritik historis terhadap suatu Hadîts—yang  sesungguhnya bukan melakukan kritik dengan maksud meluruskan keyakinan umat, melainkan membelokkan keyakinan umat kepada keyakinan yang dianut oleh Kang Jalal soal keyakinan Syî’ah bahwa Abû Thâlib itu adalah seorang muslim yang saleh—kemudian mendapat sanggahan dari tokoh Persis Alumni Bangil KH.Ahmad Husnan (diterbitkan oleh Yayasan Almuslimun, Bangil, Surabaya, tahun 1992), yang ditanggapi balik oleh keponakan Kang Jalal Agus Efendi (penerbit Cahaya, Rancaekek, Bandung pada tahun 1993). Pembelaan Agus Effendi terhadap keyakinan Kang Jalal, kenyataannya bukan misi ilmiah yang dikemukakannnya melainkan memojokkan sejumlah para ahli yang telah berjasa terhadap perkembangan periwayatan Hadîts hingga sampai kepada umat sekarang, yang semestinya kita hargai jasa-jasanya itu. Kalau pun Agus Efendi meyakini bahwa hanya Hadîts-hadîts versi Syî’ah yang bisa diterima olehnya, maka ia tidak layak menjelek-jelekkan atau menuduh yang lain-lain, meski itu hanya merupakan kutipan. Kiranya tindakan ini tidak layak bagi orang yang memuliakan sikap santri yang sebenarnya.

  1. Misteri “Buku Misteri” Kang Jalal (Mei-Agustus 2015)

Tanggapan Atas pemikiran Kang Jalal dalam pendahuluan Disertasi Doktoralnya di UIN Makassar dengan judul Asal Usul Sunnah ShahabatStudi Historiografis atas Tarikh Tasyri’ , yang diterbitkan sarinya dengan judul: “MISTERI WASIAT NABI, Asal Usul Sunnah Sahabat Studi Historiografis Atas Tarikh Tasyri’.” oleh Penerbit Misykat Mei 2015

Naskah buku tanggapannya telah saya siapkan namun belum sempat diterbitkan. Beberapa catatan koreksi atas pemikiran Kang Jalal ditayangkan secara berseri di sigabah.com, misalnya

Kang Jalal manipulasi atas nama al-Hakim

https://www.sigabah.com/beta/misteri-buku-misteri-kang-jalal-bagian-ke-2/

“kenakalan” kang Jalal dalam “permainan” makna kata

https://www.sigabah.com/beta/misteri-buku-misteri-kang-jalal-bagian-ke-5/

Menguak “tiga tabir” dibalik lima paragraf plus iftitah Kang Jalal, dalam Kata Pengantar disertasi Doktoral dan buku “Misteri”nya

https://www.sigabah.com/beta/misteri-buku-misteri-kang-jalal-bagian-ke-11/

  1. Blunder di Akhir Hayat ?

Portal berita merdeka.com, edisi Jumat 29 Januari 2016, pukul 07.15, merilis hasil wawancara Mohammad Yudha Prasetya dengan tokoh Syiah yang juga Ketua Dewan Syuro IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), Jalaluddin Rakhmat, yang biasa dipanggil dengan sebutan Kang Jalal. Dua hari setelah itu, tepatnya Ahad 31 Januari 2016, website resmi IJABI (http://www.majulah-ijabi.org/) mengulas kembali rilis itu dengan judul: Indonesia Lahir Karena Toleransi.

Dalam Wawancara itu terdapat petikan penuturan Kang Jalal yang paling saya sukai. Pasalnya, selain menyebut-nyebut nama Amin Muchtar, Kang Jalal juga tertipu—untuk tidak menyebut ceroboh—oleh “pembisiknya” sehingga menyampaikan informasi keliru dan tidak akurat—untuk tidak menyebut Kang Jalal telah melakukan kebohongan publik. Meski suka namun saya juga kecewa karena kang Jalal telah berbohong—untuk tidak menyebut Kang Jalal telah melakukan kecurangan—atas nama pihak Setneg dan guru kami, KH Atian Ali, tapi mengapa “tidak berbohong” atas nama saya. Karena Kang Jalal tidak berani “berbohong atas nama Amin Muchtar,” maka saya menyampaikan keberatan kepada pihak merdeka.com. Hak jawab atas keberatan itu dimuta di sini

http://www.merdeka.com/khas/amin-muchtar-saya-tak-diundang-oleh-setneg-untuk-diskusi-syiah.html

Simak pula Terima Kasih Saya Pada Kang Jalal atas polemic ini di sigabah.com

https://www.sigabah.com/beta/terima-kasih-kang-jalal-2/

Penutup ‘Jalan Kenangan’

Mengkritik dan mengoreksi Kang Jalal, bukan berarti benci. Sebaliknya apriori tak harus bertukar jadi vendeta. Seperti kata Aristoteles kala berbeda pendapat dengan gurunya, “amicus Plato sed Magis amica veritas”, cintaku pada kebenaran melebihi cintaku pada guru.

Bandung, 16 Pebruari 2021

Al-Faqier Ilallaah

Amin Muchtar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *