SENGSARA SAAT SEJAHTERA (TAFSIR AL-QASHASH: 77)

Firman Allah Swt.:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” QS. Al-Qashash: 77

Penjelasan Umum

Di dalam Al-Qur’an didapati potret individu dan keluarga sepanjang zaman. Di satu sisi terdapat potret individu dan keluarga sukses, namun ada pula potret individu dan keluarga gagal. Berbagai potret tersebut meski terjadi pada masa dan di lingkungan yang berbeda dengan saat ini, namun kandungan nilainya senantiasa kekal sepanjang zaman. Qarun di antara sosok individu yang dipotret Al-Quran itu, karena kegagalannya dalam mensejahterakan hidup. Dia sosok manusia “yang sengsara dalam sejahtera”. Potret Qarun secara lengkap dapat dilihat dalam surah al-Qashash [28] ayat 76-82.

Kehadiran ayat ke-77 surat Al-Qashash di atas diberi “pengantar” berupa ulasan “Bio data” Qarun secara ringkas:

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’.” (QS. Al-Qashash:76)

Menurut Ibnu Abbas, “Qarun saudara sepupu Musa.”  Ayah Nabi Musa, bernama Imran, adalah kakak dari ayah Qarun, bernama Yashhub. Baik Imran maupun Yashhub, keduanya anak Qahits. Demikian Ibnu Juraij menjelaskan silsilahnya.

Pada awalnya Qarun termasuk orang shaleh di kalangan Bani Israil periode Nabi Musa. Ia populer dengan julukan Munawwir, karena suaranya yang bagus saat membaca kitab Taurat. Meski kaya secara spiritual, namun ia miskin secara material. Karena itu, suatu hari ia datang menghadap Nabi Musa, agar didoakan menjadi orang kaya secara spiritual dan material. Harapannya saat itu, agar ia semakin shaleh secara ritual dan shaleh secara sosial sehingga dapat membantu saudara-saudaranya Bani Israil. Berkat doa Nabi Musa, status sosial Qarun berubah 360 derajat, ia menjadi sangat kaya raya. Begitu banyak kekayaan yang dimilikinya, sampai-sampai anak kunci untuk menyimpan harta kekayaannya harus dipikul oleh sejumlah orang-orang yang kuat. (QS. Al-Qashash [28]: 76).

Setiap kunci perbendaharaan harta Qarun besarnya sama dengan jari telunjuk. Semuanya terbuat dari kulit. Setiap kunci dibuat terpisah untuk masing-masing gudang. Apabila Qarun berkendaraan, semua kunci itu diangkut dengan enam puluh ekor bagal (peranakan kuda dengan keledai) yang kuat; menurut pendapat yang lain diangkut dengan sarana lain. Demikian Khaisamah menjelaskan, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Qarun bukan hanya sukses secara harta, namun sukses pula dalam hal tahta. Ia diangkat menjadi salah satu “menteri keuangan dan asset” Negara dalam  kabinet Ramses II, pada saat itu. Cita-citanya untuk menjadi orang kaya kini sudah tercapai. Namun sayang, perubahan status sosialnya telah menggerus keshalehan ritual dan sosialnya. Niat awal agar lebih khusyu ibadah dan membantu sesama, tidak pernah ia jalani. Kekayaannya telah menjadikannya lupa dan durhaka. Keserakahan diri telah menjerumuskannya ke dalam kebinasaan, demikian menurut Qatadah bin Di’amah.

Penjelasan Khusus

Perubahan status sosial yang akan mengantar dirinya menjadi manusia lupa dan durhaka telah diingkatkan oleh beberapa orang dari kaum Nabi Musa As. Dalam rangka memberi nasihat dan petunjuk, mereka mengatakan kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga dengan apa yang telah kamu peroleh.” (QS. Al-Qashash: 76)

Ayat ke-77 surat ini mengisahkan lanjutan nasihat mereka kepada Qarun, “bahwa nasihat ini bukan berarti engkau hanya boleh beribadah semata dan melarangmu memperhatikan dunia. Tidak! Berusahalah sekuat tenaga dan pikiranmu dalam batas yang dibenarkan Allah untuk memperoleh harta dan hiasan duniawi, namun carilah secara bersungguh-sungguh kebahagiaan negeri akhirat melalui hasil usahamu itu dengan cara menginfakkan dan menggunakannya sesuai petunjuk Allah. Dan pada saat yang sama, janganlah mengabaikan bagianmu dari kenikmatan dunia dan berbuat baiklah kepada semua pihak, disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepadamu dengan aneka nikmat-Nya, dan janganlah engkau berbuat kerusakan dalam bentuk apa pun di bagian mana pun di bumi ini, karena Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.”

Dalam nasehat mereka digunakan ungkapan:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.

Kata  fiimaa (فيما), dalam pemahaman Ibnu ‘Asyur mengandung makna terbanyak atau pada umumnya, sekaligus melukiskan tertancapnya ke dalam lubuk hati upaya mencari kebahagiaan ukhrawi melalui apa yang dianugerahkan Allah dalam kehidupan dunia ini.

Jadi, maksud nasehat mereka, gunakanlah harta yang berlimpah dan nikmat yang bergelimang sebagai karunia Allah kepadamu ini untuk bekal ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan berbagai amal pendekatan diri kepada-Nya, yang dengannya kamu akan memperoleh pahala di dunia dan akhirat.

Selanjutnya, pemberi nasehat menyatakan:

{وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}

“dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Al-Qashash: 77)

Maksudnya, yang dihalalkan oleh Allah berupa makanan, minuman, pakaian, rumah dan pernikahan. Karena sesungguhnya engkau mempunyai kewajiban terhadap Tuhanmu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap dirimu sendiri, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap keluargamu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap orang-orang yang bertamu kepadamu, maka tunaikanlah kewajiban itu kepada haknya masing-masing.

Pernyataan ini perlu disertakan dalam nasihatnya itu agar pihak yang dinasihati  tidak menghindar dari tuntutan itu. Karena tanpa kalimat semacam ini, boleh jadi yang dinasihati akan memahami bahwa ia dilarang menggunakan hartanya kecuali untuk pendekatan diri kepada Allah dalam bentuk ritual semata. Dengan kalimat ini, menjadi jelas bahwa seseorang boleh menggunakan hartanya untuk tujuan kenikmatan duniawi selama hak Allah menyangkut harta telah dipenuhinya dan selama penggunaannya tidak melanggar ketentuan Allah Swt., antara lain membuat kerusakan di muka bumi dan berbuat jahat terhadap makhluk Allah, sebagaimana dinyatakan pada penghujung ayat:

وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ

“dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.” (QS. Al-Qashash: 77)

Nasehat bijak itu bukan saja tidak diterima Qarun, bahkan dengan sombong dia menyatakan bahwa kekayaannya itu adalah hasil kerja keras dan usaha sendiri, tidak ada kaitan dengan siapapun juga tidak ada kaitan dengan Allah. Sikap angkuhnya itu dipotret dalam ayat selanjutnya (ayat 78)

Kesombongan dan keserakahan Qarun membuat dirinya menjadi “orang sengsara dalam sejahtera”,  karena pada akhirnya ia ditenggelamkan beserta kekayaannya ke dalam perut bumi. (QS. Al-Qashash: 81)

Di manakah lokasi ditenggelamkannya Qarun tersebut? Mengapa banyak orang menganggap bila mereka menemukan harta terpendam selalu mengatakan dengan sebutan harta karun? Benarkah ia harta karun?

Menurut beberapa riwayat, lokasi tempat ditenggelamkannya Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi itu terjadi di daerah Al-Fayyum, sekitar 90 kilometer (km) atau dua jam perjalanan dengan menggunakan mobil dari Kairo, ibu kota Mesir. Menurut penduduk setempat, nama danau itu adalah Bahirah Qarun (laut Qarun). Di sekitar Al-Fayyum ini yang tersisa hanya berupa puing-puing istana Qarun.

Istana ini mengingatkan sekaligus menjadi saksi dan pelajaran bagi umat sesudahnya, bahwa kesombongan dan kekikiran dapat membinasakan dirinya, sebagaimana terjadi pada Qarun.

Penutup

Allah menampilkan sosok Qarun dalam bingkai Al-Qur’an sebagai pribadi yang amat serakah dengan harta, menjadikan dirinya gelap mata. Dibalik cerita itu tentu saja mengandung hikmah bagi manusia secara universal bahwa dalam sebuah masyarakat berideologi materialisme penyakit Qarunisme berpotensi menghinggapi banyak orang, sehingga nilai-nilai yang bersifat immaterial, seperti réligiositas (kesalehan) dan nilai-nilai moral dianggap sebagai suatu yang irasional dalam membangun kesalehan personal dan sosial.

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu menaati aturan Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan ini sehingga termasuk ke dalam golongan orang-orang yang disejahterakan dengan kekayaan dunia dan akhirat.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *