RAHMAT ALAM SEMESTA (RAS-3/TAMAT)

Tafsir RAS Sejati: Tafsir Aktual-Operasional

Di daerah tandus lagi panas, Mekah, Nabi Ibrahim pernah berharap bahwa seorang dari bangsa Nomad akan tinggal di lembah tandus itu yang akan menggembirakan Sang Pencipta. Harapannya itu terlambang dalam untaian doa berikut:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (AI-Qur’an) dan Al-Hikmah (As­-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” QS. Al-Baqarah: 129

Dalam waktu yang telah ditentukan, di tempat yang tandus ini, Allah mengabulkan doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim itu, dengan lahirnya nabi terakhir untuk seluruh alam semesta. Allah Swt. menyebutkan sifat-sifat nabi terakhir itu dalam rangkaian ayat-ayat berikut:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. Al-Ahzab: 40

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi pe­ringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”QS. Saba’: 28

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Ayat “Rahmat Alam Semesta” berada dalam satu surat yang merangkai pembicaraan tentang Al-Quran dan kisah 16 orang di antara para nabi. Surat ini dinamai dengan “Para Nabi” (al-Anbiyaa’).

Kita telah maklum bahwa semua misi para nabi adalah membina dan memimpin manusia dalam menghambakan diri pada Allah Swt. Esensi risalahnya tak mengenal batas waktu sepanjang sejarah. Allah Swt. mengingkatkan Nabi terakhir akan misi yang diemban para nabi sebelumnya. Allah Swt. berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” QS. Al-Anbiyaa: 25

Ungkapan singkat: “tiada tuhan melainkan Allah” adalah kata kunci yang menyatukan semua para nabi sejak Nabi Adam hingga Muhammad. AI-­Quran menyebut tema ini berulang kali guna meminta perhatian, khususnya Yahudi dan Nasrani.

Al-Anbiya termasuk surat Makkiyah yang diwahyukan pada masa terakhir periode Mekah, sebelum Nabi diperintah hijrah ke Madinah. Surat ini diturunkan pada urutan ke-71 setelah surat As-Sajdah dan sebelum surat an-Nahl. Mencermati salah satu ayatnya:

وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ

Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: ‘Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?(QS. Al-Anbiyaa’: 3) Dimungkinkan bahwa surat itu turun setelah keislaman sejumlah penduduk Yatsrib (Madinah) dari suku ‘Aus dan Khazraj. Seperti kita ketahui mereka masuk Islam dalam tiga gelombang; Pertama, pada tahun kesepuluh kenabian, Kedua, pada tahun kedua belas kenabian. Ketiga, pada musim haji berikutnya, jamaah haji yang datang dari Yatsrib berjumlah 73 orang. Atas nama penduduk Yatsrib, mereka meminta pada Nabi agar berkenan pinda ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi dari segala macam ancaman. Nabi pun menyetujui Aqabah kedua.

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa surat al-Anbiyaa ini turun di kisaran tahun ke 10 hingga ke-12 kenabian, setelah Nabi melakukan dakwah terbuka dan relatif banyak penduduk Mekah yang mengikuti dakwahnya, termasuk Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Nabi saw., dan Umar bin Khathab, ditambah pula delegasi penduduk Yatsrib (Madinah).

Arus masuk Islam tidak dapat tidak dapat dihentikan kaum Musyrikin betapapun mereka telah berusaha untuk membendungnya dengan berbagai cara, termasuk yang diharapkan paling efektif berupa penyiksaan para pengikut Nabi, sehingga terpaksa mengungsi ke Habasyah (Etiopia), juga boikot ekonomi terhadap dia dan keluarga klannya, Bani Hasyim.

Setelah merasa gagal menghalangi bertambahnya penduduk Mekah yang memeluk Islam, mereka berusaha supaya dakwah Nabi tidak dapat diterima oleh warga Arab dari kota atau daerah-daerah lain yang menunaikan haji. Untuk itu mereka memanfaatkan isu kekerabatan yang sensitif di kalangan masyarakat Arab sebagai bahan propaganda secara intens dan massif bahwa apa yang didakwahkan Nabi itu merupakan sihir yang memisahkan orang dari orang tua, saudara, isteri atau suami dan keluarganya. Disamping itu mereka juga melakukan provokasi dengan meminta an-Nadhr bin al-Harits yang sedikit banyak mengetahui agama Majusi untuk menjelaskan agama itu di hadapan jamaah haji yang baru saja diberi dakwah oleh Nabi, untuk menunjukkan bahwa agama yang didakwahkannya itu sama dengan agama yang ada di Persia.

Dalam konteks ini, surat al-Anbiya diturunkan untuk merespons propaganda dan provokasi itu dengan memberi pernyataan sangat tegas dalam ayat 107 itu bahwa risalah Nabi itu diwahyukan tiada lain kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan untuk memecah belah keluarga-keluarga Arab. Pernyataan itu sekaligus juga menunjukkan bahwa paganisme Arab dan agama-agama lain yang ada ketika itu yang mitis dan dekaden, tidak bisa menjadi rahmat bagi bangsa Arab khususnya dan bangsa manusia pada umumnya.

Penyataan bahwa risalah Nabi itu menjadi rahmat bagi seluruh alam menegaskan Islam sebagai agama universal yang diperuntukkan bagi umat manusia di seluruh dunia di sepanjang zaman. Nabi memang orang Arab dan bahasa al-Qur’an pun bahasa Arab, namun risalahnya melampaui ruang dan budayanya sehingga menjangkau bangsa-bangsa di kawasan lain.

Karena universalitas merupakan karakteristik Islam, maka sejak awal para pemeluknya tidak hanya berasal dari bangsa Arab, tetapi juga dari bangsa-bangsa di luar yang sudah mendengar dakwahnya, seperti Shuhaib ar-Rumi dan Salman al-Farisi yang berkebangsaan Romawi dan Persia. Karena itu pula setelah dakwah di kalangan bangsanya sendiri berkembang, Nabi berdakwah kepada raja-raja di sekitar Arabia (Romawi Timur, Persia dan Ethiopia) dengan mengirimkan surat berisi seruan kepada Islam yang dibawa langsung oleh utusan-utusannya.

Di sini menunjukkan bahwa Islam sebagai agama tidak datang kepada komunitas manusia dalam kondisi yang hampa budaya. Islam hadir kepada suatu masyarakat yang sudah sarat dengan keyakinan, tradisi, dan praktek-praktek kehidupan sesuai dengan budaya yang membingkainya. Konteks sosiologis yang dihadapi Islam membuktikan bahwa agama yang beresensi ketundukan secara total kepada Allah dengan berbagai ajaran-Nya, keberadaannya tidak dapat dihindarkan dari kondisi sosial yang memang telah ada dalam masyarakat. Meskipun dalam perjalanannya, Islam selalu berdialog dengan fenomena dan realitas budaya di mana Islam itu hadir. Kehadiran Islam telah merambah ke berbagai dimensi budaya manusia; mulai dari tradisi bahasa, pakaian, pergaulan, pola penyembahan, falsafah kearifan lokal, ritual kebahagiaan dan rasa syukur, prosesi kelahiran dan kematian, pernikahan dan warisan, politik kenegaraan sampai kepada hal yang bersifat privat seperti etika hubungan seksual.

Kesediaan Islam berdialog dengan budaya lokal masyarakat, selanjutnya mengantarkan diapresiasinya secara kritis nilai-nilai lokalitas dari budaya masyarakat beserta karakteristik yang mengiringi nilai-nilai itu. Selama nilai tersebut sejalan dengan semangat yang dikembangkan oleh Islam, selama itu pula diapresiasi secara positif namun kritis.

Unsur jahiliah merupakan nilai budaya lokal yang akan selalu dikritisi oleh Islam ketika ia hadir pada suatu tempat atau negeri. Karena unsur ini senantiasa ada pada setiap masyarakat dan dimiliki oleh rumpun bangsa manapun, yang sebanding dengan jahiliah yang pernah terjadi di masyarakat Arab.

Budaya lokal yang membelenggu dan merendahkan martabat kemanusiaan akan dipecahkan, bahkan dilenyapkan. Misalnya, tata sosial tanpa hukum, takhayul, mitologi, feodalisme, ketidakpedulian kepada nasib orang yang tertindas, pengingkaran hak asasi, perlawanan terhadap prinsip persamaan umat manusia, dan sebagainya. Semua itu diganti dengan ajaran-ajaran Islam tentang tauhid, yang berimplikasi kuat anti pemujaan gejala alam dan sesama manusia (kultus), tertib hukum, rasionalitas, penghargaan sesama manusia atas dasar prestasi dan hasil kerja, keadilan sosial, dan sebagainya.

Jadi, kehadiran Islam Rahmat Alam Semesta (RAS) akan selalu berdampak terhadap perombakan masyarakat atau “pengalihan bentuk” (transformasi) sosial pada suatu tempat atau negeri menuju ke arah yang lebih baik demi terciptanya prinsip kemanusiaan yang universal. Pada sisi lain, nilai budaya lokal yang steril dari berbagai unsur jahiliah akan dilestarikan Islam, dan pada saat yang sama dapat digunakan pula sebagai penopang efektivitas segi teknis dan operasionalnya dalam rangka mendorong pencepatan proses transformasi itu.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *