RAHMAT ALAM SEMESTA (RAS-2)

 

Tafsir RAS Sejati: Tafsir Tekstual

Pernyataan  bahwa Islam agama rahmatan lil ‘aalamiin merupakan kesimpulan dari firman Allah Swt:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata rahmat memiliki dua arti: pertama, belas kasih; kerahiman. Kedua, karunia (Allah); berkah (Allah). Sementara dalam bahasa Arab, rahmat (الرحمة) berarti kelembutan atau kasih sayang yang berpadu dengan rasa iba (الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ). Namun dalam pengertian umum, rahmat berarti:

رِقَّةٌ تَقْتَضِي الإِحْسَانَ إِلَى الْمَرْحُوْمِ

“Kelembutan atau kasih sayang yang menuntut sikap ihsan (berbuat baik) terhadap orang-orang yang dikasihi atau disayangi.”

Rahmat, apabila bersumber dari Allah swt. bermakna memberi karunia (إنعام) dan memberi anugerah (إفضال). Sementara jika bersumber dari makhluk-Nya, bermakna kelembutan atau kasih sayang yang berpadu dengan rasa iba (الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ). Demikian ar-Raghib al-Ashfahani menjelaskan (Lihat, Mufradat Alfazh al-Qur’an, hlm. 389).

 

Sebelum ayat “Rahmat Alam Semesta” ini ditampilkan, didahului pembicaraan tentang dua tema besar: Pertama, Al-Quran. Kedua, kenabian (nubuwwah). Tema Al-Qur’an hendak menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan peringatan atau bekal menuju kebahagiaan abadi serta kecukupan bagi siapa saja yang siap untuk menjadi pengabdi yang tulus kepada Allah swt. Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad saw. untuk disampaikannya kepada umat manusia. Atas dasar itulah Allah menegaskan di sini bahwa “Allah tidak mengutus Nabi Muhammad, melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.”

Sementara tema kenabian menguraikan kisah dan keistimewaan enam belas orang di antara para nabi, yang diakhiri dengan keistimewaan Nabi Isa As. dan ibu beliau. Kisah tentang para nabi itu dipungkas dengan keistimewaan Nabi terakhir, Nabi Muhammad saw. Keistimewaan Nabi terakhir itu bukan saja terletak pada ajaran-ajaran yang disampaikan dan diterapkannya namun meliputi pula kepribadian beliau sebagai rahmat. Artinya, sosok dan kepribadian Nabi saw. merupakan rahmat yang dianugerahkan Allah swt. kepada beliau. Ayat ini tidak menyatakan: “Kami tidak mengutus engkau untuk membawa rahmat” tetapi “sebagai rahmat atau agar engkau menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Meski dibalut dengan redaksi sangat singkat, namun ayat ini (Al-Anbiya:107) mengandung makna cukup luas. Hanya dengan lima kata, yang tersusun dari dua puluh lima huruf, termasuk huruf penghubung yang terletak pada awalnya, ayat ini menyebut empat hal pokok: (1) Rasul atau utusan Allah, dalam hal ini Nabi Muhammad saw.; (2) yang mengutus beliau dalam hal ini Allah; (3) yang diutus kepada mereka (al-‘aalamiin); (4) risalah. Keempat pokok itu mengisyaratkan sifat-sifat rahmat yang sangat besar. Selain itu, menggambarkan ketercakupan sasaran dalam semua waktu dan tempat.

Rahmat Allah bagi alam semesta, dengan pengutusan Nabi terakhir itu, meliputi kaum mukmin dan kafir. Rahmat bagi orang mukmin berarti Allah memberinya petunjuk dengan pedoman hidup yang dibawa Rasulullah saw.  Beriman terhadap beliau dan mengamalkan ajaran Allah yang dibawanya menjadi perantara masuknya manusia beriman ke dalam surga. Sedangkan bagi orang kafir, “Rahmat Muhammad” berupa penangguhan azab terhadap mereka, tidak seperti dialami umat-umat terdahulu yang mengingkari ajaran Allah. Demikian Imam ath-Thabari menjelaskan (Lihat, Tafsir ath-Thabari, XVI: 441).

Imam ath-Thabari merujuk penafsirannya itu kepada penjelasan Ibnu Abas berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، فِي قَوْلِ اللَّهِ فِي كِتَابِهِ : { وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } قَالَ :مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ كُتِبَ لَهُ الرَّحْمَةُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ عُوفِيَ مِمَّا أَصَابَ الأُمَمَ مِنَ الْخَسْفِ وَالْقَذْفِ

 “Dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah dalam kitab-Nya: ‘Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107), ia berkata, ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar.

Dalam riwayat lain, dengan redaksi:

تَمَّتِ الرَّحْمَةُ لِمَنْ آمَنَ بِهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ عُوفِيَ مِمَّا أَصَابَ الأُمَمَ قَبْلُ

Rahmat yang sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu.” (Ibid., XVI: 439-440)

Dalam bahasa Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah,  “Alam semesta secara umum mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus; Orang kafir yang memerangi beliau, manfaat yang mereka dapatkan adalah disegerakannya pembunuhan dan maut bagi mereka, itu lebih baik bagi mereka. Karena hidup mereka hanya akan menambah kepedihan adzab kelak di akhirat. Kebinasaan telah ditetapkan bagi mereka. Sehingga, dipercepatnya ajal lebih bermanfaat bagi mereka daripada hidup menetap dalam kekafiran; Orang kafir yang terikat perjanjian dengan beliau, manfaat bagi mereka adalah dibiarkan hidup di dunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini lebih sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi saw.; Orang munafik, yang menampakkan iman secara zhahir saja, mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain. Adapun bagi umat manusia setelah beliau diutus, Allah Swt. tidak memberikan adzab yang menyeluruh dari umat manusia di bumi. Kesimpulannya, semua manusia mendapat manfaat dari diutusnya Nabi saw.” Masih kata Ibnul Qayyim, “Dapat dimaknai pula bahwa Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya. Sehingga bagi orang kafir, Islam tetap dikatakan rahmat bagi mereka, namun mereka enggan menerima. Sebagaimana jika dikatakan: ‘Ini adalah obat bagi si Polan yang sakit’. Andaikan si Polan tidak meminumnya, obat tersebut tetaplah dikatakan obat.” (Lihat, At-Tafsir al-Qayyim, II:45)

Dalam penafsiran Imam ash-Shabuni, “Allah Ta’ala tidak mengatakan ‘rahmatan lilmu’miniin‘, namun mengatakan ‘rahmatan lil ‘aalamiin‘, karena Allah Swt. ingin memberikan rahmat bagi seluruh makhluk-Nya dengan diutusnya pemimpin para nabi, Muhammad saw. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia. Bahkan orang-orang kafir mendapat manfaat dari rahmat ini, yaitu ditundanya hukuman bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak lagi ditimpa azab berupa diubah menjadi binatang, atau dibenamkan ke bumi, atau ditenggelamkan dengan air.” (Lihat, Shafwatut Tafasir, II:210)

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *