PRINSIP KOMUNIKASI (5): QAUL LAYYIN

Empat prinsip komunikasi telah selesai dibahas pada beberapa edisi sebelumnya, meliputi qaul baligh, qaul karim, qaul maisur, qaul ma’ruf. Melengkapi keempat prinsip itu perlu dibahas pula prinsip komunikasi kelima: qaul layyin, pada edisi sekarang. Semua prinsip itu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena satu sama lain saling melengkapi untuk mencapai kesempurnaan sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik.

Berbicara prinsip komunikasi berarti sedang membicarakan nilai kandungan dari komunikasi tersebut.  Memang tidak mudah untuk bisa menerapkan kelima prinsip komunikasi ini secara langsung, tetapi setelah mengenal dan berusaha terus untuk  memahaminya setidaknya kita akan lebih berhati-hati dalam berucap. Dengan prinsip-prinsip ini kita akan selalu disadarkan akan konsekuensi berkomunikasi, bukan hanya di dunia namun berdampak pula terhadap nilai ukhrawi.

Di dalam Al-Qur’an, kalimat qaul layyin hanya ditemukan satu kali, yaitu di dalam  rangkaian ayat 43- 44 surat Thaha, yaitu “Pergilah kamu bedua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”

Ayat ini memaparkan kisah Nabi Musa As. dan Harun As. ketika diperintahkan untuk menghadapi Fir’aun, agar mereka berdua berkata kepadanya dengan perkataan layyin. Makna asal layyin adalah lembut atau gemulai.  Semula digunakan untuk menunjuk gerakan tubuh. Namun kemudian, kata ini digunakan untuk menunjuk perkataan yang lembut. Sementara maksud qaul layyin adalah perkataan yang mengandung anjuran, ajakan, dan pemberian keteladanan, di mana si pembicara berusaha meyakinkan pihak lain bahwa apa yang disampaikannya itu benar dan rasional, dengan tidak bermaksud merendahkan pendapat atau pandangan orang yang diajak bicara tersebut. Jika demikian, Qaul layyin juga dapat digunakan sebagai salah satu metode dakwah, karena tujuan utama dakwah adalah mengajak orang lain pada kebenaran, bukan untuk mengejek, memaksa dan unjuk kekuatan.

Penggunaan qaul layyin oleh Nabi Musa ketika berkomunikasi dengan Fir’aun menarik untuk dicermati, sebab kita tahu Fir’aun sebagai tokoh amat jahat. Padahal ucapan keras terhadap Fir’aun bisa jadi dianggap lebih relevan. Rahasia dibalik itu telah diungkap oleh Imam Fakhruddin ar-Razi. Menurut beliau, terdapat dua alasan: Pertama, Musa pernah dididik dan ditanggung kehidupannya sejak bayi sampai dewasa. Karena alasan ini, maka penggunaan qaul layyin hendak mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap kepada orang yang telah berjasa besar dalam hidup kita. Kedua, seorang penguasa zalim sudah lazim bersikap lebih kasar dan kejam jika diperlakukan secara kasar dan merasa terganggu kehormatannya.

Dengan demikian, prinsip qaul layyin ini digunakan dalam berkomunikasi dengan lawan bicara yang mempunyai  dua kriteria berikut: (1) Berkarakter keras, (2) seseorang yang berjasa terhadap pembicara. Selain itu, perlu memperhatikan kadar daya fikirnya, seperti berkomunikasi dengan  anak dan dewasa tentu saja berbeda.

Berbagai prinsip komunikasi yang telah disampaikan pada bulletin ini semoga saja dapat mengantarkan kita kepada suatu ucapan  bernilai ukhrawi karena sesuai petunjuk illahi.

Sumber: Buletin Humaira, Edisi 9, April 2016

Info dan pemesanan Buletin, Hubungi: 0813120261681

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *