POSISI TANGAN KETIKA I’TIDAL BA’DA RUKU

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa dalam tata cara salat jumlah qiyam (berdiri) dalam satu raka’at ada 2: (1) qiyamu qiroatin sesudah takbiratul ihram sebelum ruku, (2) qiyamu i’tidalin sesudah ruku’ sebelum sujud. Sebagaimana diterangkan dalam hadis sebagai berikut:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا

Bila engkau berdiri hendak salat, bertakbirlah. Kemudian bacalah Alquran yang engkau hafal. Lalu rukulah hingga engkau tumakninah ruku. Kemudian bangunlah (dari ruku) hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga engkau tumakninah sujud. Kemudian bangunlah (dari sujud) hingga engkau tumakninah duduk. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh salatmu. HR. Muslim, No.602

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلّم يَسْتَفْتِحُ اَلصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ , وَالْقِرَاءَةَ : بِـ (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ ) وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ , وَلَمْ يُصَوِّبْهُ , وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ . وَكَانَ إِذَا رَفَعَ مِنْ اَلرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا . وَإِذَا رَفَعَ مِنْ اَلسُّجُودِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah saw. biasa memulai sholat dengan takbir dan memulai bacaan dengan alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin (surat al-fatihah). Bila beliau ruku’ beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya tetapi pertengahan antara keduanya; bila beliau bangkit dari ruku’ beliau tidak akan bersujud sampai beliau berdiri tegak; bila beliau mengangkat kepalanya dari sujud beliau tidak akan bersujud lagi sampai beliau duduk tegak HR. Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ إِذَا قَامَ إِلَى اَلصَّلَاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ , ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ , ثُمَّ يَقُولُ : “سَمِعَ اَللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ” حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنْ اَلرُّكُوعِ , ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ : “رَبَّنَا وَلَكَ اَلْحَمْدُ” ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا , ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ, ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ   ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ , ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي اَلصَّلَاةِ كُلِّهَا , وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِنْ اِثْنَتَيْنِ بَعْدَ اَلْجُلُوسِ  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi saw. mengucapkan takbir pada waktu berdiri untuk salat. Kemudian bertakbir ketika hendak ruku. Lalu, dia mengucapkan, “Sami’allaahu liman hamidah” ketika mengangkat punggungnya dari ruku, kemudian mengucapkan [sambil berdiri], “Rabbana lakal hamdu”. Kemudian dia mengucapkan takbir pada waktu akan sujud dan pada waktu mengangkat kepalanya dari sujud. Beliau melakukan hal itu dalam setiap salatnya. Dan takbir pada waktu bangun dari duduk pada rakaat kedua (tasyahud awal).” Muttafaq alaih. Abu Huraerah mengatakan, “Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya! Sungguh salatku lebih dekat kepada salat Rasulullah daripada salat kalian, dan inilah cara shalat beliau sampai meninggal dunia.”

Adapun posisi tangan pada qiyamu qiroatin adalah sedekap (tangan kanan di atas tangan kiri ditempatkan pada ulu hati), sebagaimana diperintahkan dan dicontohkan oleh Nabi saw.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ

Dari Saal bin Sa’ad, ia berkata, orangorang diperintah supaya menyimpan tangan kanannya diatas tangan kirinya di dalam salat.” HR. Al-Bukhari

 

Hadis ini memerintahkan agar menempatkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika salat, dan sebaliknya dilarang menyimpan tangan kiri diatas tangan kanan. Adapun tempatnya sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah sebagai berikut:

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنَ الثَّوْبِ ثُمَّ رَفَعَهُمَا فَكَبَّرَ فَرَكَعَ فَلَمَّا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمَّا سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ.

Dari Wail bin Hujr, sesungguhnya ia melihat Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya ketika ia memasuki salat (lalu ia takbir), kemudian menyelimutkan bajunya (mungkin kedinginan) lalu menyimpan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Bila akan ruku ia menngeluarkan kedua tangamyna dari dalam bajunya, kemudian mengangkatnya dan ia takbir, terus ruku, dan ketika mengucapkan samiallohuliman hamidah ia mengangkat kedua tangannya. Ketika sujud, ia sujud di antara dua telapak tangannya. HR. Ahmad

 

Dalam redaksi lain:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ قَائِمًا فِي الصَّلَاةِ قَبَضَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ

Aku pernah melihat Rasulullah saw. bila ia berdiri dalam salat ia mengepal (memegang) dengan tangan kanannya atas tangan kirinya. HR.An-Nasai

 

Kalimat qaaiman fis shalaah tidak mencakup qiyam i’tidal, karena pada hadis Ahmad di atas telah diterangkan oleh Wail sendiri bahwa tempat menyimpan tangan kanan diatas tangan kiri itu ialah setelah takbir diawal rakaat.

 

Sedangkan posisi tangan pada qiyamu i’tidalin adalah irsal (diulurkan atau tidak sedekap). Kesimpulan ini diambil setelah memperhatikan semua dalil tentang tata cara salat Nabi saw. dengan pendekatan metode istiqra’ ma’nawi, yaitu menelusuri poin-poin parsial pada makna untuk menetapkan hukum yang lebih universal, secara qathi’y atau dzanniy. Dan bersifat tidak ditetapkan dengan dalil tertentu tapi dengan dalil-dalil yang berkaitan satu sama lain namun berbeda maksud. Selanjutnya dengan satu tujuan itu dapat menghasilkan satu cakupan hukum. Adapun dalil-dalil itu sebagai berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ اعْتَدَلَ قَائِمًا وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَى بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ

“Rasulullah saw. bila berdiri hendak salat beliau tegak berdiri, dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya. HR. Ibnu Majah

 

Riwayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah bila akan salat i’tadala qaa’iman (berdiri tegak). Kalimat i’tadala qooiman menunjukkan secara pasti bahwa Rasulullah tidak sedekap ketika akan memulai salat.

 

Kalimat yang sama digunakan pula ketika menjelaskan tata cara bangkit dari ruku saat berdiri i’tidal

…ثُمَّ قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ، وَرَفَعَ وَاعْتَدَلَ قَائِمًا

…Kemudian beliau mengucapkan sami’allahu liman hamidah dan mengangkat (kedua tangannya), dan beliau berdiri tegak. HR. Al-Bazzar, al-Musnad, II:51

 

Kalimat i’tadala qaa’iman menunjukkan secara pasti bahwa Rasulullah tidak sedekap ketika berdiri i’tidal bangkit dari ruku. Tata cara ini bukan hanya dicontohkan melainkan juga diperintahkan:

ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا

Kemudian hendaklah kau bangkit dari ruku hingga tegak berdiri. HR. Al-Bukhari dan Muslim

Kesimpulan

Kita diperintahkan untuk i’tidal setelah ruku itu seperti dipermulaan salat dengan kalimat ta’tadilu qaa’iman. Karena i’tadala qaa’iman  sewaktu akan salat itu tanpa sedekap, maka demikian pula halnya i’tadala qaa’iman di waktu bangkit dari ruku, yakni tanpa sedekap.

 

By Amin Muchtar, sigabah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *