PERKATAAN “ANTI PANCASILA” SANGAT MUDAH DIPAKAI SEBAGAI ALAT PEMUKUL

Pada sekitar tahun 80-an ada buku yg menjadi buku wajib sebagai kurikulum pendidikan siswa Indonesia, PMP (Pendidikan Moral Pancasila, tepatnya). Yang menjadi persoalan bukan tentang Pancasila, tapi mengenai konten dari buku PMP tersebut yang seolah dikatakan sebagai penafsiran dari Pancasila. Isi dari buku tersebut ditentang oleh kaum beragama terutama umat Islam, karena dianggap meresahkan.

Mantan Perdana Mentri Pertama Indonesia, Mohammad Natsir, mengatakan ketika beliau menjadi delegasi umat Islam ke DPR-MPR RI untuk menyampaikan aspirasi umat terkait hal buku tsb. Beliau merupakan orang yang menyaksikan tiga masa perjuangan Indonesia;  masa penjajahan Belanda, masa Jepang, dan masa kemerdekaan. Di antara kutipan beliau “Bapak Pimpinan DPR yg saya hormati. Sekarang ini perkataan “anti Pancasila” sangat mudah orang menyebutnya dan sangat banyak dipakai sebagai alat pemukul golongan-golongan atau yang berbeda faham dengan yang memakainya itu.
Ini satu hal yang menyedihkan. Menyedihkan sekali. Dalam 37 tahun kita sudah merdeka ini kita kehilangan satu kekayaan yang sangat bergharga, yang dahulu kita miliki waktu kita mulai memperjuangkan kemerdekaan kita dari tangan Belanda, dari tangan sekutu, dari tangan Jepang.
Apa mustika yang hilang itu? Mustika yang hilang itu adalah keterbukaan antara kita sama kita. Sekarang ini tak ada keterbukaan sama sekali. Keterbukaan itu tidak kelihatan dalam kehidupan kita sehari-hari.” (Media Dakwah, hal. 10, Muharram 1403 H / Oktober 1982)

Kasus seperti ini mirip dengan kondisi sekarang, di mana umat Islam ketika menyampaikan, memaparkan, mengamalkan ajaran agamanya dicap dan dilabeli dengan anti Pancasila, anti NKRI, anti Kebhinekaan, tanpa adanya keterbukaan pikiran, tanpa adanya diskusi, tanpa adanya tabayun.
Jalan yg ditempuh bukanlah keterbukaan, tetapi dgn cara bagaimana yg dianggap musuh bisa hancur sehancur-hancurnya, bahkan yg paling mengerikan ketika hukum tidak dirasa memenuhi nafsu, cara bar-bar digunakan (contoh kasus di Bandung pada 12 Januari ’17 terkait pemeriksaan Habib Riziq Shihab di Polda Jabar)

Hentikan menggunakan kalimat “Anti Pancasila” sebagai alat mengadu domba sesama anak bangsa!

By Ibnu Suyuti, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *