Pemuda Persis dan Nasionalisme; Teladan Nasionalisme Sang Founding Father

“Perjuangan yang tidak melibatkan generasi muda adalah perjuangan yang mandul. Sedangkan pemuda yang tidak terlibat dalam perjuangan adalah generasi pemutus garis sejarah”. Demikian kutipan dari QA QD Pemuda Persis 2015-2020.

Berbicara tokoh-tokoh pemuda Islam di masa lalu tentu banyak hikmah yang bisa kita teguk untuk sedikit meredakan haus kerinduan akan panutan. Sejak zaman Rasulullah saw sampai masa-masa penjajahan Indonesia, banyak tokoh Pemuda Islam yang begitu menginspirasi.

Dalam jejak sejarah lahirnya Pemuda Persis (Persatuan Islam), terdapat nama tokoh pemuda yang memiliki andil besar di dalam proses kelahirannya, beliau tiada lain bernama tuan Fachruddin Al Kahiri. Adalah Majalah Al-Lisan no 4 edisi Maret 1936 yang memberitakan tentang rapat yang diselenggarakan Persatuan Islam (Persis) di Jl. Pangeran Soemedang (sekarang Jl. Otista) tertanggal 22 Maret 1936 dimulai pukul 09.00-12.30. Selama  rapat berjalan tuan Fachruddin banyak memberikan usul, dan di antara hasi rapat itu ialah mengadakan suatu bagian khusus kepemudaan. Maka dari saran itu lahirlah Bidang Pemuda (waktu itu Pemuda Persis belum menjadi otonom).

Seorang satrawan sekaligus budayawan sunda almarhum Ajip Rosidi, menggambarkan sosok sahabat dekat M. Natsir ini. Buku berjudul “Biografi M. Natsir” anggitan Ajip Rosidi menghikayatkan secara selintas tentang persahabatan dua Pemuda tersebut. Ajip menggambarkan sosok Fachruddin sebagai pemuda berpostur tubuh tinggi, selalu berapi-api dalam berbicara, lantang, dan agak emosinal. Bahkan yang memperkenalkan M. Natsir untuk belajar kepada Syaikh Ahmad Hassan tiada lain adalah  Fachruddin sendiri. Dari sanalah ranah dan sepak terjang perjuangan mereka menjadi lebih luas dan mendalam, baik di organisasi Persis, Jong Islamitien Bond,  atau di ranah intelektual seperti pengelolaan majalah Majalah Pembela Islam, Al-Lisan, dan pendirian sekolah Pendis. Hal ini pun diamini oleh mantan Rektor UIN Yogyakarta, Prof. Akh Minhaji, dalam bukunya “A. Hassan Sang Ideologi Reformasi Fikih Indonesia 1887-1958”.

Namun, ada kisah menarik  tentang Fachruddin yang kiranya perlu kita ketahui sewaktu beliau bersekolah MULO di Padang. Diceritakan oleh M. Natsir dalam sebuah surat yang ia tulis untuk keluarganya:

“Sebelum itu, Aba sebagai murid H.I.S menyangka bahwa anak-anak Belanda itu adalah sejenis manusia yang melebihi kita dalam semua hal. Memang dalam masyarakat, golongan Belanda itu hidupnya terpisah dari kita dan dianggap semacam ‘orang-orang cabang atas’. Belanda administator kebun disebut ‘Tuan Besar’ oleh mandor dan kuli-kulinya.

Tetapi, sesudahnya duduk bersama-sama dalam satu kelas dengan bangsa menak-menak ini, ternyata, warna kulit mereka itu tidak menjamin bahwa mereka lebih dari kita bangsa berkulit sawo dalam semua hal. Di antara mereka banyak juga ketinggalan di kelas setiap tahun, ada yg bahasa belandanya sendiri kucar kacir, tidak karuan, dll. Tapi congkaknya lagaknya terus besar saja. Kita ini mereka namakan dengan nama yang dirasakan ejekan diwaktu (itu. Pen.) vuile inlanders (bumi putera yang kotor-kotor). Tak heran, kalau di sekolah MULO Padang itu seringkali terjadi perkelahian antara anak-anak Indonesia dan Belanda.

Tempo-tempo sama seorang lawan seorang. Tempo-tempo secara beramai-ramai. Kalau yang ramai-ramai itu, dibawa ke tanah lapang. (Di muka rumah Pak Etek Rasidin sekarang). Dalam adu tenaga semacam ini Oom Fachruddin dan Oom Bachtiar selalu mengambil peranan yang penting. Tanyakanlah nanti bila bertemu!

Guru-guru bahasa Belanda di MULO itu ada yang dapat memahamkan apa sebab terjadi perkelahian itu. Dan sering kali mereka juga mengoreksi tingkah laku yg terlampau congkak dan sombong dari anak-anak Belanda itu. Tetapi ada juga, yang terlampau buruk sangka, dan melihat segala kejadian-kejadian itu dari sudut ‘politik’.” (Dikutip dari “Aba -M. Natsir- Sebagai Cahaya Keluarga, hal. 130-131”)

Kisah tersebut menjadi jejak sejarah bagi kita, betapa seorang yang kelak menjadi pejuang ini sudah memiliki jiwa nasionalisme yang besar dan bukan isapan jempol semata. Di waktu usianya masih remaja, beliau tak takut kepada para penista agama dan negara. Memang nama beliau mungkin asing dan tidak terlalu famous, namun kontribusinya dalam perjuangan Islam dan bangsa tentu amat sangat besar.

Beliau Membela bangsa dengan melawan penjajah, sesuai proporsi beliau waktu itu. Perlawanan tak semata di medan perang, bisa saja pada ranah intelektual dan mempertahankan harga diri sesame anak bangsa. Sebagaimana dilakukan oleh Tuan Fachruddin.

Jiwa nasionalisme beliau tumbuh sejak dini, di samping jiwa keislaman yang mengakar kuat.

Lain hal dengan banyak orang di masa ini, konon membela NKRI dan berteriak pancasila, tapi yang “dipukul” adalah saudara sebangsa seagama.

Salam Perjuangan.

انا مسلم قبل كل شيء

Fajri Abdurofi

[Pemuda Persis Kabupaten Bandung]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *