Organisasi dan Kepemimpinan Ala Nabi

BANDUNG (sigabah.com)—Dalam rangka ihya al-lail (menghidupkan lailatul qadar), Pesantren Ibnu Hajar menggelar kajian lailatul qadar perdana pada malam ke-21 Ramadhan, Kamis (15/06/17), di Pendopo Pesantren Ibnu Hajar. Kajian ini langsung menghadirkan Pembina Pesantren Ibnu Hajar, Ustadz Amin Muchtar dengan membawakan materi “Organisasi dan Kepemimpinan Ala Nabi”.

Mengawali pembahasan dengan permasalahan kepemimpinan, Ustadz Amin Muchtar menyampaikan bahwa setiap manusia memiliki tugas untuk memainkan fungsi yang berbeda tetapi saling mengisi.

Fungsi pertama ialah manusia sebagai ‘abdullah. “’Abdullah bertugas yaitu mengabdi kepada Allah dalam kerangka ketaatan ritual transendental, vertikal, atau kita menyebutnya hablun minallah,” ungkap Ustadz Amin.

Fungsi kedua ialah manusia sebagai khalifatullah. Fungsi ini diwujudkan agar terciptanya hamba Allah yang mengabdi pada-Nya dalam kerangka ketaatan sosial. Artinya, fungsi ‘abdullah adalah hamba yang mengabdi kepada Allah dalam kerangka ketaatan ritual personal, atau hablun minallah. Sedangkan fungsi khalifatullah adalah mengabdi kepada Allah dalam kerangka ketaatan sosial, melalui interaksi antar individu, atau hablun minannas.

Dengan demikian, lanjut Ustadz Amin, kepemimpinan harus berangkat dari kedua fungsi ini. “Kepemimpinan dalam pandangan Islam sifatnya fundamental mendasar, harus berangkat dari paradigma fungsi manusia.”

Adapun menyoal organisasi, Ustadz Amin mengembalikannya kepada surat Ali Imran ayat 104 yang membahas mengenai fungsi dari organisasi. Menurut beliau, organisasi dalam Islam memiliki tiga fungsi, yaitu dakwah ilallah, amar ma’ruf, serta nahyun ‘anil munkar, terbebas dari bentuk dan badan hukum lembaganya.

Dengan ketiga fungsi tersebut, organisasi dalam Islam boleh jadi menjadi sebuah keharusan. “Dalam konteks ini, maka organisasi dalam Islam boleh jadi bukan sekedar dibutuhkan tetapi diharuskan adanya. Karena bisa jadi ternyata masyarakat tidak membutuhkan adanya organisasi itu, tetapi Islam yang menghendaki adanya,” kata Ustadz Amin.

Dari pemaparan materi tersebut, Ustadz Amin memberikan dua buah catatan penting. Pertama, organisasi dan kepemimpinan merupakan kemuliaan jika sesuai jengan syari’ah. “Mengelola organisasi dan kepemimpinan bukanlah perkara enteng. Tanggung jawabnya berat di dunia dan akhirat, tetapi yakinilah kemuliaan telah menanti bagi orang-orang yang terlibat di organisasi saat dia mampu untuk menempatkan diri sesuai dengan arah.”

Adapun catatan kedua, bahwa organisasi dan kepemimpinan yang sesuai syariat akan senantiasa didukung dan dibantu oleh Allah dengan cara-Nya tersendiri. “Seberat-beratnya tantangan dan tugas di organiasi, tugas seorang pemimpin, jika jabatan itu bukan keinginannya, Allah lah yang akan memberikan dukungan dan bantuan dengan cara Allah yang kita tidak tahu seperti apa Allah memberikan kekuatan,” pungkas Ustadz Amin.

By: Ikhwan Fahmi, jurnalis sigabah.com

2 thoughts on “Organisasi dan Kepemimpinan Ala Nabi

  1. Kalau bisa dan boleh, mau makalahnya.

    Ada sedikit pertanyaan: yang dimaksud berorganisasi yang benar itu seperti apa? Apakah harus jelas keanggotaannya seperti memiliki kartu anggota, ketuana jelas dll.

    1. Terima kasih atas pertanyaannya.
      Permasalah seperti kartu anggota, iuran, no induk, cap-stempel, surat, dll. Adalah permasalahan untuk kemaslahatan berorganisasi dan manajemen. Hakikat organisasi adalah berkumpul (bukan berkerumun) bersama dalam taat pada pimpinan selama tidak dalam kemaksiatan. Termasuk juga taat jika pemimpin memerintahkan untuk membuat kartu anggota, memerintahkan untuk iuran, dan contoh-contoh lain yang termasuk dalam manajemen berorganisasi karena hal itu dilakukan untuk kemaslahatan anggota juga dalam berorganisasi. Wallahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *