MENIMBANG SYI’AH (Bagian ke-40)

Syiah, Sahabat, dan Ahlussunnah (5)

Melaknat Sayyiduna Abu Bakar, Umar dan Usman Ra.

Melaknat terhadap para khulafa’ ar-Rasyidin selain sayyidina Ali Ra., terutama pertama dan kedua, Abu Bakar dan Umar, merupakan hal yang sudah umum berlaku di kalangan Syiah. Selain terpampang dalam kitab-kitab induk Syiah, pelaknatan itu antara lain juga terletak di dalam doa yang mereka sebut dengan doa “Shanamai Quraisyin” (dua berhalanya suku Quraisy, yang mereka kehendaki adalah Abu Bakar dan Umar).

Bacaan doa tersebut cukup panjang dan sangat populer di kalangan Syiah. Doa itu antara lain tercantum dalam al-Misbâh (hlm. 552-553), Bihâr al-Anwâr (juz 85 hlm. 260-261) karya al-Majlisi dan dalam Ihqâq al-Haq (juz 1 hlm. 337) karya at-Tusturi.[1] Berikut cuplikan dari doa di maksud:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ وَالعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ جِبْتَيْهِمَا وَطَاغُتَيْهِمَا وَإِفْكَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا الَّذَيْنِ خَالَفَا أمْرَكَ وَأنْكَرَا وَحْيَكَ وَجَحَدَا إنْعَامَكَ وَعَصَيَا رَسُولَكَ وَقَلَّبَا دِيْنَكَ وَحَرَّفَا كِتَابَكَ وَعَطَّلَا أَحْكَامَكَ وَأَبْطَلَا فَرَائِضَكَ وَأَلْحَدَا فِي آيَاتِكَ وَعَدَيَا أوْلِيَاءَكَ وَوَالَيَا أعْدَاءَكَ وَخَرَّبَا بِلَادَكَ وَأفْسَدَا عِبَادَكَ. اللَّهُمَّ الْعَنْهُمَا وَاَنْصَارَهُمَا، فَقَدْ أخْرَبَا بَيْتَ النُّبُوَّةِ وَرَدَمَا بَابَهُ وَنَقَضَا سَقْفَهُ وَأَلْحَقَا سَمَاءَهُ بِأرْضِهِ وَعَالِيَهُ بِسَافِلِهِ وَظَاهِرَهِ بِبَاطِنِهِ وَاسْتَأصَلَا أهْلَهُ وَأبَادَ انْصَارَهُ وَقَتَلَا أطْفَالَهُ وَأخْلَيَا مِنْبَرَهُ مِنْ وَصِيِّهِ وَوَارِثِهِ وَجَحَدَا نُبُوَّتَهُ وَأشْرَكَا بِرَبِّهِمَا فَعَظِّمْ ذَنْبَهُمَا وَخَلِّدْهُمَا فِي سَقَرَ وَمَا أدْرَاكَ مَا سَقَرُ لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرْ… الخ

Doa ini juga difatwakan dan dijadikan sebagai bacaan rutin oleh pembesar-pembesar Syiah, seperti:

  • Muhsin al-Hakim
  • Abu al-Qasim al-Khu’i
  • Ruhullah Khomaini
  • Mahmud al-Husaini
  • Muhammad Kazhim
  • Ali Naqi an-Naqawi
  • Husain al-Barwajardi
  • Abu al-Hasan al-Asfihani
  • Muhammad Baqir
  • Muhammad Mawi
  • Zhuhur Husain Shahib

Dalam kitab al-Kâfî, al-Kulaini menjelaskan sebuah riwayat yang menganggap Abu Bakar dan Umar Ra. adalah orang yang zalim dan menjadi penyebab pecah belahnya agama Islam:

عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حَنَّانِ بْنِ سَدِيرٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ عَنْ حَنَانِ بْنِ سَدِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلام عَنْهُمَا فَقَالَ: يَا أَبَا الْفَضْلِ مَا تَسْأَلُنِي عَنْهُمَا فَوَ اللهِ مَا مَاتَ مِنَّا مَيِّتٌ فَطُّ إِلا سَاخِطاً عَلَيْهِمَا وَمَا مِنَّا الْيَوْمَ إِلا سَاخِطاً عَلَيْهِمَا يُوصِي بِذَلِكَ الْكَبِيرُ مِنَّا الصَّغِيرَ إِنَّهُمَا ظَلَمَانَا حَقَّنَا وَمَنَعَانَا فَيْئَنَا وَكَانَا أَوَّلَ مَنْ رَكِبَ أَعْنَاقَنَا وَبَثَّقَ عَلَيْنَا بَثْقاً فِي الإسْلامِ لا يُسْكِرُ أَبَداً حَتَّى يَقُومَ قَائِمُنَا أَوْ يَتَكَلَّمُ مُتَكَلِّمُنَا.

Aku bertanya kepada Abu Ja’far As. mengenai keduanya (Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar), maka beliau menjawab: Hai Abu al-Fadhl, apa yang kau tanyakan tentang keduanya? Demi Allah, tidak seorang pun yang mati dari kelompok kita melainkan membenci keduanya, dan tidak seorang pun dari golongan kita hari ini melainkan membenci terhadap keduanya. Kebencian tersebut diwasiatkan oleh generasi tua terhadap generasi muda, bahwa keduanya telah menzalimi hak kita, mencegah harta fai’ kita, menunggani leher-leher kita dan mendeportasi kita dalam Islam yang tidak dapat diredam hingga munculnya Imam Mahdi.”[2]

Mulla Muhammad Baqir al-Majlisi, seperti dikutip oleh Syekh Syiah, Ahmad al-Ahsa’i, yang mereka sebut sebagai “Syaikh al-Auhad”, dalam kitab Syarh az-Ziyârah al-Jâmi’ al-Kabîr (juz 3 hlm. 189) mengatakan sebagai berikut:

وَمِنَ الْجِبْتِ أَبُو بَكْرٍ وَمِنَ الطَّاغُوْتِ عُمَرُ وَالشَّيَاطِيْنُ بَنِي اُمَيَّةِ وَبَنِي العَبَّاسِ وَحِزْبُهُمْ أَتْبَاعُهُمْ وَالغَاصِبِيْنَ لإِرْثِكُمْ مِنَ الإِمَامَةِ وَالفَئِ فَدَكَ وَالخُمُسِ وَغَيْرِهَا.

“Termasuk dari jibti adalah Abu Bakar, dan termasuk dari thagut adalah Umar; para setan adalah kalangan Bani Umayyah dan Bani Abbas, sedangkan golongannya adalah para pengikut-pengikutnya yang merampas warisan kalian, baik berupa imâmah, harta fai’ berupa tanah Fadak, khumus dan lain-lain.

Termasuk perkataan buruk tokoh Syiah lantaran kejengkelan mereka yang memuncak, adalah perkataan Syaikh al-Islam mereka, Mulla Muhammad Baqir al-Majlisi, dalam Bihâr al-Anwâr (juz 58 hlm. 268):

ثُمَّ إِنَّا بَسَطْنَا الكَلَامَ فِي مَطَاعِنِهِمَا فِي كِتَابِ الفِتَنِ، وّإِنَّمَا ذَكَرْنَا هُنَا مَا أَوْرَدَهُ الكَفْعَمِيْ لِيَتَذَكَّرَ مَنْ يَتْلُوْ الدُّعَاءَ بَعْضَ مِثَالِهِمَا، لَعْنَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا وَمَنْ يَتَوَلَّاهُمَا.

Kemudian kita berbicara panjang lebar dalam melaknati keduanya (Sayyidina Abu Bakar dan Umar) di dalam Kitâb al-Fitan. Langkah kami di sini dalam menyebutkan doa yang ditulis oleh al-Kaf’ami, tak lain adalah agar orang yang membaca doa ini ingat terhadap sebagian sifat keduanya dan orang yang mengakui kekuasaannya.”

Caci-maki Syiah bukan cuma dilontarkan kepada Sayyidina Abu Bakar Ra. dan Sayyidina Umar Ra., akan tetapi Sayyidina Usman Ra. juga tidak meleset dari julukan-julukan menyakitkan. Beliau, misalnya, dikatakan sebagai orang yang banci, serampangan terhadap makanan haram, serta dijuluki na’tsal (si tua Yahudi, dan ada juga yang mengartikan srigala jantan sebab, menurut mereka, Sayyidina Usman serupa dengan hewan itu).[3] Julukan tersebut antara lain dilontarkan oleh al-Bayadhi, seorang tokoh Syiah, dalam kitab as-Shirât al-Mustaqîm, juz 3 hlm. 30 dan at-Tusturi dalam Ihqâq al-Haq, hlm. 306.

Tanggapan

Sub ini sebetulnya sudah terwakili oleh tanggapan sebelumnya. Akan tetapi dengan melaknat dan mengkafirkan kedua sahabat tersebut, Syiah berpikir telah menebang ajaran Ahlussunnah dari akarnya. Jika Abu Bakar dan Umar kafir, berarti hadis-hadis yang disampaikannya, ajaran-ajaran yang diajarkannya, juga tidak layak pakai. Bagi Syiah, kekafiran Abu Bakar dan Umar juga menetapkan kekafiran para pengikut dan pendukungnya. Karena itu, hal ini perlu ditanggapi secara spesifik.

Selain melenceng dari ajaran Islam, pelaknatan terhadap saudara sesama muslim, apalagi pengkafiran, juga tidak pernah dilakukan oleh panutan agung mereka, Sayyidina Ali Ra. Beliau tidak pernah mengkafirkan, menyacat keturunan orang-orang yang telah memeranginya dalam tragedi Jamal dan Shiffin, tidak pernah mengambil harta mereka atau melakukan penganiayaan yang lain. Ini adalah sikap Sayyidina Ali Ra. terhadap orang yang jelas-jelas memerangi beliau, bagaimana mungkin beliau akan mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Usman dan segenap sahabat yang lain?. “Aku tidak senang kalian menjadi tukang laknat dan pencaci.” Begitu kata Sayyidina Ali Ra. kepada para pendukung beliau:[4]

كَرِهْتُ لَكُمْ أنْ تَكُونُوا لَعَّانِيْنَ شَتَّامِيْنَ.

Saya tidak senang jika kalian menjadi tukang laknat dan tukang caci.

Dalam Syarh Nahj Balâghah, Ibnu Abi al-Hadid menulis jawaban Abu Jakfar Muhammad bin Ali, ketika beliau ditanya oleh sebagian orang Syiah, “Apakah Abu Bakar dan Umar telah menzalimi Anda atau mengambil hak Anda? Beliau menjawab, “Tidak, demi Allah yang telah menurunkan al-Qur’an kepada hamba-Nya, mereka berdua tidak menzalimi hak kami meskipun hanya seberat biji sawi.” Asy-Sya’bi bertanya, “Apakah kami boleh mencintai dan setia kepada keduanya?” Dia menjawab, “Ya, mengapa tidak? Bersikap setialah kepada mereka berdua di dunia dan akhirat, sedangkan apa yang menimpamu, maka itu merupakan beban yang aku pikul sendiri.”[5] Redaksi asli Syarh Nahj al-Balâghah sebagai berikut:

…أَرَأَيْتَ أبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ هَلْ ظَلَمَاكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ شَيْئًا أوْ قَالَ: ذَهَبَا مِنْ حَقِّكُمْ بِشَيْءٍ؟ فَقَالَ: لَا وَالَّذِيْ أنْزَلَ القُرْآنَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُوْنَ لِلْعَالَمِيْنَ نَذِيْرًا، مَا ظَلَمَانَا مِنْ حَقِّنَا مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ، قُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ أفَأتَوَلَّاهُمَا؟ قَالَ: نَعَمْ وَيْحَكْ! تَوَلَّهُمَا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَا أصَابَكَ فَفِي عُنُقِي”.

Pada masa pemerintahan khalifah Umar Ra., Sayyidina Ali Ra. menyampaikan pidatonya yang panjang, seperti tertuang dalam Nahj al-Balâghah. Sayyidina Ali Ra. menyebut kedekatan Sayyidina Umar Ra. dengan Rasulullah saw. dan keistimewaan beliau, serta informasi Rasulullah tentang beberapa rahasia Umar, sehingga Sayyidina Ali mengatakan, “Orang-orang Islam telah memilih setelah Rasulullah seorang dari mereka (Abu Bakar), lalu dia bersahaja dan dia berusaha sekuat tenaga dan semangat yang tinggi. Kemudian orang-orang Islam mengangkat seorang pemimpin (Sayyidina Umar Ra.) lalu dia pun berbuat adil dan istiqâmah.”[6] Berikut redaksi asli Syarh Nahj Balâghah:

(وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي كَلَامٍ لَهُ وَوَلِيُّهُمْ وَالٍ فَأقَامَ وَاسْتَقَامَ حَتَّى ضَرَبَ الدِّيْنَ بِجِزَانِهِ) وَيَقُوْلُ ابنُ أبِي الحَدِيْدِ المُعْتَزِلِيُّ الشِّيْعِيُّ: (الشرح) الجِرَانُ مُقَدَّمُ العُنُقِ وَهَذَا الوَالِيُّ هُوَ عُمَرُ بنُ الخَطَّابِ وَهَذَا الكَلَامُ مِنْ خُطْبَةٍ خَطَبَهَا فِي أيَّامِ خِلَافَتِهِ طَوِيْلَةٍ يَذْكُرُ فِيْهَا قُرْبَهُ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلّم وَاخْتِصَاصَهُ لَهُ، وَإفْضَاءَهُ بأسْرَارِهِ إِلَيْهِ حَتَّى قَالَ فِيْهَا: فَاخْتَارَ المُسْلِمُوْنَ بَعْدَهُ بِآرَائِهِمْ رَجُلًا مِنْهُمْ فَقَارَبَ وَسَدَّدَ حَسْبَ اسْتِطَاعَتِهِ عَلَى ضَعْفٍ وَجِدٍّ كَانَا فِيْهِ، ثُمَّ وَلِيُّهُمْ بَعْدَهُ وَالٍ، فَأقَامَ وَاسْتَقَامَ حَتَّى ضَرَبَ الدِّيْنَ بِجِرَانِهِ.

Dalam kumpulan pidato Sayyidina Ali Ra. itu (Nahj al-Balâghah) juga disebutkan: menanggapi pertanyaan mengapa umat Islam memilih Abu Bakar untuk menjadi khalifah Rasulullah saw. sepeninggalan Nabi saw.? Al-Murtadha (julukan Sayyidina Ali) menjawabnya: “Kami melihat Abu Bakar-lah yang paling berhak menerima itu, dia teman Rasulullah di dalam gua Tsur dan orang kedua dari dua orang (yang berada di dalam gua). Rasulullah saw. juga telah memerintahkannya untuk menjadi Imam shalat, sementara beliau masih hidup.” Jawaban serupa juga dinyatakan oleh Zubair bin Awam Ra.[7] Redaksi asli Syarh Nahj Balâghah sebagai berikut:

وَلِمَ اخْتَارَ المُسْلِمُوْنَ أبَا بَكْرٍ خَلِيْفَةً لِلنَّبِيِّ وَإمَاماً لَهُمْ؟ يُجِيْبُ عَلَيْهِ المُرْتَضَى رضي الله عنه وَ ابنُ عَمَّةِ الرَّسُولِ زُبَيْرُ بنُ العَوَّامِ رضي الله عنه بِقَوْلِهِمَا: وَإنَّا نَرَى أبَا بَكْرٍ أحَقَّ النَّاسِ بِهَا، إنَّهُ لَصَاحِبُ الغَارِ وَثَانِي اثْنَيْنِ، وَإنَّا لَنَعْرِفُ لَهُ سُنَّةً، وَلَقَدْ أمَرَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِالصَّلَاةِ وَهُوَ حَيٌّ.

Sebelumnya kami telah menjelaskan bahwa sebutan na’tsal (cacian) terhadap Sayyidina Usman Ra., sebagaimana yang telah lumrah, adalah datang dari tokoh-tokoh Syiah, semacam al-Bayadhi dan at-Tusturi dalam kitab-kitab mereka. Namun apa yang dilakukan oleh sebagian Syiah kontemporer, bahwa ternyata mereka telah melakukan pemutar-balikan fakta. Mereka justru mengatakan bahwa julukan na’tsal untuk Sayyidina Usman bin Affan Ra. adalah muncul dari Sayyidina Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ. Hal itu antara lain dilakukan oleh Ali Umar al-Habsyi, salah seorang guru di Pesantren YAPI, Bangil. Tanpa menunjuk terhadap referensi mana pun, dalam bukunya, Keluarga Suci Nabi, ia menulis:

atau karena sikap tegasnya (Sayyidah Aisyah Ra.) yang mengkafirkan Usman bin Affan, khalifah ketiga umat Islam, dan perintahnya agar Usman segera dibunuh dan ditumbangkan kekuasaanya? Ia berkata, “Bunuhlah na’tsal (si Tua Yahudi, maksudnya adalah Usman), semoga Allah membunuhnya.[8]

Ali Umar al-Habsyi, sekali lagi tanpa merujuk terhadap referensi apa pun, mengatakan bahwa tuduhan itu merupakan perkataan Sayyidah ‘Aisyah disebabkan kebenciannya yang memuncak kepada Sayyidina Usman Ra. Padahal, sebagaimana telah kami kemukakan dimuka, dengan berbagai referensi yang jelas, bahwa sebetulnya riwayat ini muncul dari prakarsa orang-orang Syiah sendiri, akibat kebencian mereka kepada Ummu al-Mu’minin dengan membuat berita palsu, kemudian dikatakan bahwa Sayyidah ‘Aisyahlah yang mengatakannya.[9] Kalau kita melihat literatur-literatur sejarah yang bisa dipertanggung-jawabkan keabsahannya, maka pemutar-balikan fakta seperti itu akan sangat mudah dimentahkan, sebab nyatanya julukan na’tsal untuk Sayyidina Usman Ra. itu justru memenuhi literatur-literatur Syiah,[10] dan tidak ditemukan dalam kitab-kitab Ahlussunnah.

Tuduhan itu semakin tidak logis ketika sejarah berbicara bahwa Sayyidah Aisyah-lah yang memperjuangkan keadilan untuk Sayyidina Usman bin Affan Ra., dengan berupaya mempersatukan kekuatan bersama Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. guna menegakkan hukum qishash terhadap para pembunuh Sayyidina Usman bin Affan Ra. Untuk itulah Sayyidah Aisyah bersama para sahabat yang lain pergi ke Bashrah dan selanjutnya menemui Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra.[11] Jika yang berinisiatif untuk membunuh Sayyidina Usman adalah Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, berarti keberangkatan beliau ke Bashrah hanya untuk bunuh diri.

Entah motivasi apa yang mendorong orang-orang Syiah hingga mereka begitu bersemangat mencaci-maki dan bahkan mengkafirkan Sayyidina Abu Bakar dan Umar Ra. padahal junjungan mereka, Sayyidina Ali Ra. tidak bersikap demikian. Rasulullah Saw. dalam hadisnya, berulangkali menekankan agar tidak mencemooh para sahabat beliau. Dalam satu hadis ditegaskan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لَا تَسُبُّوا أصْحَابِي، لَعَنَ اللهُ مَنْ سَبَّ أصْحَابِيْ. (رواه الطبراني).

Dari Sayyidina Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, dia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda, ‘Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku, mudah-mudahan Allah melaknat orang yang mencaci sahabat-sahabatku’.” HR. Ath-Thabrani.[12]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ سَبَّ أَصْحَابِي فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ والمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. (رواه اطبراني).

Dari Ibnu Abbas Ra. bahwa Nabi Muhammad saw. Bersabda, “Barangsiapa mencaci sahabat-sahabatku maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan semua manusia.” HR. Ath-Thabrani.[13]

Dengan penjelasan dua hadis ini, maka dengan mencaci-maki para sahabat, sebetulnya orang Syiah telah melakukan bunuh diri. Mereka melakukan pelaknatan pada para sahabat, tapi merekalah yang justru dilaknat oleh Allah Swt., para malaikat dan semua manusia.

By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku: Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

 

[1]Syiah juga mempunyai kitab khusus yang merangkum doa-doa, sama dengan Dalail al-Khairât di kalangan ahlussunnah, kitab itu bernama Miftâh al-Jinân, di antara doa-doa yang terangkum di dalamnya adalah doa “Shanamai Quraisyin”, mereka mengatakan bahwa doa ini merupakan doanya Sayyidina Ali Ra. Lihat, Catatan kaki Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna ‘Asyariyah hlm. 285. Sama persis dengan Miftâh al-jinân adalah Dhiyâ’ as-Shâlihîn karya al-Jauhari. Al-Musawi dalam Lillâh Tsumma Li at-Târikh hlm. 69 mengatakan bahwa Khomaini rutin membaca doa ini setiap hari setelah shalat subuh.

[2] Lihat, Al-Kâfî, juz 8, hlm. 245, No. Hadis 340.

[3] Keserupaan itu, menurut mereka, adalah disebabkan Sayyidina Usman Ra. ketika berburu hewan tidak langsung dimakan, akan tetapi masih digauli terlebih dahulu. Demikian juga ketika beliau mau merajam perempuan yang berbuat zina, tidak langsung dilaksanakan, akan tetapi dikumpuli dulu. Tuduhan-tuduhan kotor ini ditulis al-Bayadhi, seorang tokoh Syiah, dalam kitab as-Shirat al-Mustaqim juz 3 hlm. 30 dan at-Tusturi dalam Ihqaq al-Haq hlm. 306. Fakta ini antara lain dikutip oleh Abdurrahman bin Abdullah as-Sahim dalam al-Ijabat al-Jaliyah ‘an asy-Syubuhat ar-Rafidhah, juz 1 hlm. 22

[4] Lihat, Mustadrak al-Wasa’il, juz 12, hlm. 306, dan Biharul Anwar, juz 22, hlm. 299, Waq’atu Shiffin, hlm. 102.

[5] Lihat, Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, juz 4, hlm. 82.

[6] Ibid, juz 4 hlm. 519.

[7] Lihat, Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, juz 1, hlm. 332.

[8] Lihat, Ali umar al-Habsyi, Keluarga Suci Nabi: Tafsir Surat al-Ahzab Ayat 33, hlm. 125, Ilya, Jakarta (2004).

[9] Lihat, Abdurrahman bin Abdullah as-Sahim, al-Ijâbât al-Jaliyah ‘an asy-Syubuhât ar-Râfidhah, juz 1 hlm. 22.

[10] Lebih jelasnya, telaah dalam Bihâr al-Anwâr, juz 23 hlm. 306; ash-Shirâth al-Mustaqîm, juz 3 hlm. 30; Tafsîr al-‘Iyâsyî, juz 2 hlm. 166; al-Khishâl, hlm. 458-459 dan Tafsir al-Qummî, juz 2 hlm. 106.

[11] Lihat, Daf’ al-Kadzb, hlm. 216-217 dan 190-194.

[12] Al-Haitsami mencamtumkan hadis ini dalam kitabnya, Majma’ az-Zawâid (juz 10, hlm. 21), dan mengatakan bahwa sanad hadis ini shahîh.

[13] Imam as-Suyuthi menulis hadis ini dalam kitab Jâmi’ as-Shaghîr-nya. Dalam Shahîh Jâmi’ as-Shaghîr, Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *