Mengamankan Umat, Mengembalikan Khittah

Dalam pentas sejarahnya yang membentang hampir sembilan puluh lima purnama, Persatuan Islam (PERSIS) pernah menegaskan jalan pengembalian kepada khittah awal perjuangan.

Dicetuskan oleh E. Abdurrahman, ketua umum Persatuan Islam ketiga yang terpilih lewat referendum saat muakhot di Pesantren Persatuan Islam Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Sebagai seorang pembaca juga mustami’ atas babaran jejak-jejak sejarah Persatuan Islam baik di masa jayanya, masa silang sengketanya, juga masa kontemporernya. Saya coba menafsir kembali arah mengamankan umat (kembali ke khittah) yang pernah digagas oleh Ust. Abdurrahman sebagai sebuah gerakan perbaikan kualitas jam’iyyah itu sendiri. Berusaha untuk kembali merajut benang-benang yang dulu nyaris terkoyak ketika silang pendapat mengemuka baik di ranah internal maupun eksternal. Maka hari ini, ketika pertanyaan tentang sasora, sausaha, dan sarasa dalam pemikiran yang konon jauh panggang dari api mesti diluruskan dan ditata ulang kembali.

Mengembalikan kejayaan Persatuan Islam seperti masa jayanya dulu adalah mengembalikan literatur Persatuan Islam yang telah disusun dan ditulis oleh banyak generasi juga peneliti baik dari dalam maupun luar ke pangkuan jam’iyyah.

Tentu, kita akan merasakan satu hal miris ketika literatur berkenaan Persatuan Islam yang tersimpan rapi di perpustakaan Pimpinan Pusat Persatuan Islam hanya separuh dari sekian banyak literatur lainnya di tempat lain.

Sementara, penjagaan terhadap warisan para ulama Persatuan Islam yang ditulis, diteliti juga ditelisik mesti dihadirkan kembali. Sebab bisa jadi, ini juga merupakan salah satu ikhtiar penting untuk tetap menjaga umat (mengembalikan khittah Persis). Bukan sekedar mengenang romansa debat Ahmad Hassan, kegemilangan Mohammad Natsir, kepekaan E Abdurrahman, atau ketegasan Isa Anshary. Tapi, satu pandangan ke depan tentang bagaimana mengamankan dan mengembalikan nilai-nilai luhur para ulama dengan meneruskan jejak-jejak mereka yang tetap berpijak pada sumber-sumber utama.

Menarik, ketika saya dan seorang kawan menyambangi Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun yang digagas oleh Ust. Hadi Nur Ramadhan, salah satu kader dan anggota Pemuda Persis yang juga anggota Dewan Tafkir PP Persis lantas menyaksikan ribuan koleksi buku serta literatur Persatuan Islam di kediaman orang tuanya di daerah Depok.

Yang menarik adalah tantangan beliau terhadap kader muda Persatuan Islam untuk mengembalikan ribuan literatur tersebut ke pangkuan jam’iyyah. Tentu bukan suatu proses yang mudah bilamana pengembalian ribuan pustaka itu hanya dilakukan oleh Pemuda Persis saja, sebab memerlukan dukungan dari seluruh elemen jam’iyyah tanpa kecuali mulai dari Persis, Persistri, Pemudi, HIMA, HIMI, IPP, dan IPPI. Sebab, bila mengutip pernyataan Imam Malik yang menyatakan ‘jika engkau ingin mengembalikan kejayaanmu, tapakkilah jalan panjang yang telah dilalui orang-orang di masa lalu’. Maka, pemahaman terhadap sasora, sausaha, dan sarasa tidak akan lagi menjadi jargon hampa jika seluruh elemen di jam’iyyah Persatuan Islam bisa satu suara, satu usaha, dan satu rasa dalam mengembalikan, meneruskan, serta berkomitmen untuk turut andil dalam menjaga setiap warisan pustaka yang diwariskan para alim ulamanya terdahulu. Seperti kata pak Anies Baswedan bahwa pusaka terbesar suatu bangsa adalah pustakanya.*

Pesantren Persis 20 Ciparay, 09 Juli 2018

Aldy Istanzia Wiguna, santri pembaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *