Preloader logo

MAHKOTA SUNNAH (01): SHAHIH AL-BUKHARI (Bagian Ke-11)

Pada edisi sebelumnya telah diterangkan proses dan metode al-Bukhari dalam menyusun kitab Shahih al-Bukhari, juga strukturalisasi baru yang dilakukan beliau terhadap metode al-Jami’ periode sebelumnya dengan dengan memperluas topik pembahasan (kitab). Pada edisi ini, pembaca akan diajak untuk menelusuri Strukturalisasi al-Bukhari dalam penulisan bab.

 

Penulisan Bab

 

Tujuan utama yang paling mendasar bagi para penghafal dan pencatat hadis pada periode sebelum al-Bukhari adalah menghimpun hadis dan memeliharanya agar tidak punah. Keadaan ini dikembangkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Shahih-nya dengan   banyak mengemukakan masalah-masalah penting mengenai akidah, ilmu pengetahuan, hukum, dan adab. Dengan keluasan ilmunya, beliau memberikan penjelasan tentang matan hadis yang tertulis dalam kitabnya. Begitu pula mencantumkan ayat-ayat Alquran yang menyangkut masalah fikih dan bahasa yang berhubungan dengan bab tertentu, serta mencantumkan penafsiran ayat-ayat yang diterima dari ulama salaf.

 

Imam al-Bukhari sangat menaruh perhatian dalam  membuat judul-judul bab bagi setiap kitab. Beliau menguraikan bab demi bab secara terperinci, sehingga sistematika bab menjadi corak fikih Imam al-Bukhari yang paling menonjol. Karena itu, telah dikenal di kalangan ahli ilmu bahwa

فِقْهُ الْبُخَارِيِّ فِي تَرَاجِمِهِ

Corak fikih Imam al-Bukhari terdapat pada judul-judul bab[1]

 

Dalam penulisan bab, beliau menggunakan beberapa model, sehingga kita dapat melihat di dalam kitab Shahih-nya  ada beberapa bab yang memuat banyak hadis. Ada pula yang memuat satu hadis saja. Ada pula bab yang berisi ayat Alquran saja tanpa hadis, bahkan ada bab yang kosong tanpa isi.

 

Adapun model penulisan bab yang dijadikan fokus pengamatan dalam peneltian ini adalah sebagai berikut:

 

Pertama, pembuatan judul bab dengan redaksi yang jelas. Model ini bertujuan agar maksud bab tersebut mudah difahami, seperti

بَاب ذِكْرُ هِنْدٍ بِنْتِ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا

Kedua, membuat judul bab dengan seluruh redaksi hadis yang ditempatkan pada bab tersebut, atau sebagiannya atau maknanya saja. Model ini memiliki beberapa tujuan, antara lain:

 

  1. menjelaskan bahwa lafal hadis yang disebut pada bab itu memiliki makna lebih dari satu (musytarakah), dan beliau menyusun bab tersebut dengan salah satu maknanya. Seperti[2],

بَاب الِاغْتِبَاطِ فِي الْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ

Dengan judul ini Imam al-Bukhari bermaksud menjelaskan bahwa kata hasad yang disebut dalam sabda Nabi:

لاَحَسَدَ في اثْنَتَيْنِ رَجُلٌتَاهُ اللهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ فَهُو يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

maksudnya al-ghibthah, bukan hasud sebenarnya.

 

  1. menjelaskan maksud hadis, seperti[3],

بَاب قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ

Judul bab diambil dari hadis sebagai berikut:

عن ابن عباس قَالَ ضَمَّنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ

Lafal hadis dijadikan judul bab dengan tujuan menjelaskan bahwa doa seperti itu (allahumma…) bukan khusus untuk Ibn Abas.[4]

 

  1. membuat judul bab dengan redaksi istifham (pertanyaan). Model ini dipergunakan ketika salah satu makna yang dikandung hadis pada bab itu tidak dapat dipastikan. Di samping itu, bertujuan memberikan peluang untuk membuat perbandingan serta mengingatkan bahwa di sana terdapat banyak kemungkinan atau kontradiksi yang mengharuskan tawaqquf. Contoh[5],

بَاب هَلْ يُدْخِلُ الْجُنُبُ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ قَبْلَ أَنْ يَغْسِلَهَا إِذَا لَمْ يَكُنْ عَلَى يَدِهِ قَذَرٌ غَيْرُ الْجَنَابَةِ

 

  1. membuat judul bab yang kelihatannya tidak berfaedah, tetapi setelah dikaji sangat besar faedahnya. Contoh[6],

بَاب قَوْلِ الرَّجُلِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا صَلَّيْنَا

Model ini menunjukkan penolakan Imam al-Bukhari terhadap mereka yang tidak menyukai perkataan seperti itu.[7]

 

  1. membuat judul bab, kemudian mengemukakan ayat atau atsar, namun tidak memuat satu pun hadis marfu’. Contoh[8],

بَاب عَفْوِ الْمَظْلُومِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ

 

Maksud Imam al-Bukhari hendak menjelaskan bahwa yang menjadi dalil untuk penetapan hukum dalam bab tersebut berdasarkan Alquran, bukan berdasarkan sunah.

 

  1. membuat judul bab dari lafal hadis marfu riwayat orang lain yang tidak memenuhi syarat sahih al-Bukhari. Untuk memperkuat judul pada bab itu Imam al-Bukhari mencantumkan satu hadis yang memenuhi syarat sahih-nya sebagai syahid (penguat) bagi hadis marfu’ itu. Contoh[9],

فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ اْلأُمُورِ ) وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ (بَاب لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

Judul ini adalah lafal hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lain, dari sahabat Ibnu Umar. Hadis tersebut memiliki banyak jalur, namun semuanya tidak memenuhi syarat sahih menurut al-Bukhari. Karena itu, ia meringkas penyebutannya dalam bab itu dan mengemukakan hadis lain dari Abu Hurairah sebagai syahid (penguat), yaitu

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

 

  1. membuat judul bab dengan tidak mencantumkan satu hadis pun pada bab itu, namun menempatkan ayat Alquran atau atsar (riwayat). Bentuk ini mengisyaratkan bahwa bab itu sebagai tafsir ayat, dan pada bab itu tidak terdapat satu pun hadis  sahih yang memenuhi syaratnya. Contoh[10],

بَاب فَضْلِ الْعِلْمِ وَقَوْلِ اللهِ تَعَالَى يَرْفَعْ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ  وَقَوْلِهِ عَزَّوَجَلَّ رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

 

  1. membuat bab tanpa judul, tetapi langsung meyebutkan hadisnya. Seperti:

بَابٌ  حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو إِدْرِيسَ عَائِذُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِاللَّهِ أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ وَكَانَ شَهِدَ بَدْرًا وَهُوَ أَحَدُ النُّقَبَاءِ لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِك

 

Bentuk seperti ini kami temukan sebanyak 97 bab,  dengan rincian sebagai sebagai berikut: Kitab bad al-wahy (5 bab), al-iman (2 bab), al-haidh (1 bab), al-tayammum (2 bab), al-shalah (3 bab), al-adzan (2 bab), al-jumu’ah (2 bab), al-tahajjud (1 bab), al-janaiz (2 bab), fadhail al-madinah (1 bab), al-shaum (1 bab) al-harts wa al-muzara’ah (4 bab), al-luqathah (1 bab), al-hibbah (1 bab), al-jihad wa al-siyar (1 bab), al-jizyah (1 bab), al-anbiya (3 bab), al-manaqib (7 bab), manaqib al-anshar (1 bab), al-maghazi (8 bab), tafsir al-quran (20 bab), al-nikah (2 bab), al-ath’imah (1 bab), al-tibb (1 bab), al-libas (1 bab), al-da’wat (1 bab), al-riqaq (1 bab), al-qadr (1 bab), istitabah al-murtaddin (1 bab), al-hiyal (1 bab).

 

Data ini diolah dari Shahih al-Bukhari, terbitan Dar al-Salam, Riyadh, tahun 1997. Kemudian dilakukan studi komparatif dengan Fath al-Bari terbitan al-Maktabah al-‘Ashriyyah, Beirut, tahun 2000, dengan editor Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

 

Suatu hal yang perlu mendapat perhatian mengenai penetapan bab di atas, mengingat pada sebagian litografi lainnya terdapat perbedaan, yaitu perbedaan jumlah serta tempat bab yang dimaksud. Bahkan pada sebagian naskah, semua bab di atas ditampilkan berjudul.  Perbedaan itu terjadi karena pada cetakan tertentu, bab yang tidak berjudul itu ditiadakan. Hadis yang dimuat pada bab itu digabungkan pada bab sebelum atau sesudahnya. Seperti “kasus” hadis di atas, pada Shahih al-Bukhari versi lainnya[11], ditempatkan pada bab sebelumnya, yaitu

عَلاَمَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ

Demikian pula dengan hadis lain yang ditempatkan pada bab-bab tak berjudul itu.

 

Perbedaan penetapan judul, sebagaimana kita lihat di atas, sangat berpengaruh terhadap penghitungan jumlah bab yang dimuat di dalam kitab Shahih al-Bukhari. Oleh sebab itu, para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah bab di dalam kitab tersebut.

 

  1. membuat bab dengan mencantumkan isyarat hadis pada bab sebelumnya atau sesudahnya. Contoh[12],

بَابُ مَنْ غَزَا وَهُوَ حَدِيثُ عَهْدٍ بِعُرْسِهِ فِيهِ جَابِرٌ عَنِ النَّبِيِّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kalimat “fihi Jabir anin Nabiyyi” menjadi isyarat kepada hadis yang telah disebut pada bab sebelumnya, yakni

بَاب اسْتِئْذَانِ الرَّجُلِ الْإِمَامَ لِقَوْلِهِ (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

 

  1. membuat bab dengan tidak mencantumkan apa pun pada bab itu. Menurut pengamatan kami, bab seperti ini terdapat pada 8 tempat sebagai berikut:

 

10.1. kitab al-Hajj

بَابُ التَّعْجِيْلِ إِلَى الْمَوْقِفِ

 

Rujukan Shahih al-Bukhari, terbitan Dar el-Fikr, 1981, juz II, h. 175 dan 213; Dar el-Salam, Riyadh, 1997, Toha Putra, Semarang, t.t., juz II, h. 199; Maushu’ah al-Hadits al-Syarif, Ver. 1.2, 1991-1996.

Namun pada Shahih al-Bukhari lainnya, yakni terbitan Dar Ibn Katsir, al-Yamamah, Beirut, 1987, II:599,  dengan editor Dr. Musthafa Daib al-Bugha; Maktabah al-Hadis al-Syarif, ver. 2, 1998,  bab ini tidak tercantum.

 

Sehubungan dengan itu para ulama telah memberikan komentar sebagai berikut:

a) Ibn Hajar (W. 852 H/1148 M) berkata, “Demikian judul ini menurut kebanyakan riwayat tanpa hadis. Namun pada riwayat Abu Dzar bab ini tidak ada sama sekali. Dan pada naskah al-Shagani ada keterangan

يَدْخُلُ فِي الْبَابِ حَدِيْثُ مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ يَعْنِي الَّذِي رَوَاهُ عَنْ سَالِمٍ وَهُوَ الْمَذْكُوْرُ فِي الْبَابِ الَّذِيْ قَبْلَ هذَا وَلكِنِّي أُرِيْدُ أَنْ أُدْخِلَ فِيْهِ غَيْرَ مُعَادٍ

Maksudnya hadis yang tidak diulang-ulang seluruhnya, baik sanad maupun matan. Menurut pendapatku: ‘Beliau menunjukkan bahwa tujuan pokoknya tidak mengulang-ulang hadis. Kemungkinan bahwa setiap pengulangan hadis itu tiada lain bila padanya terdapat perbedaan, baik sanad ataupun matan, sehingga bila beliau meriwayatkan hadis itu pada dua tempat dari dua orang guru yang keduanya menerima dari Malik, maka kedua hadis itu tidak akan diulang-ulang, demikian pula bila beliau meriwayatkannya pada dua tempat dengan satu sanad,  beliau akan meringkas sedikit matannya, atau pada satu tempat memuat secara maushul sedangkan pada tempat yang lain secara mu’allaq, dan metode ini tidak akan berbeda kecuali sedikit pada beberapa tempat. Seolah-olah ketika itu (membuat bab ini) tidak ada jalan lain untuk hadis yang disebut dari Malik selain melalui kedua jalan yang telah diterangkannya, dan ini menunjukkan bahwa beliau tidak akan mengulang hadis kecuali ada faidah, baik sanad maupun matan. (Lihat, Al-Asqalani, op.cit. IV:326-327)

b) al-Karmani mengutip bahwa ia melihat keterangan tambahan setelah bab ini pada sebagian naskah Shahih al-Bukhari, yaitu

بَابُ التَّعْجِيْلِ إِلَى الْمَوْقِفِ وَ قَالَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ: يُزَادُ فِي هذَا الْبَابِ هَمْ حَدِيْثِ مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ وَلكِنِّي لاَ أُرِيْدُ أَنْ أُدْخِلَ فِيْهِ مُعَادًا

“bab al-ta’jil ila al-mauqif dan Abu Abdullah berkata “Pada bab ini akan ditambah makna yang mendekati hadis Malik dari Ibn Syihab, akan tetapi aku tidak ingin memasukan pada bab ini hadis yang diulang-ulang.”(Lihat, Umdah al-Qari, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.t., juz VIII, hal. 305)

c) Badr al-Din al-‘Aini (W. 855 H/1451 M) berkesimpulan bahwa hadis yang disebut pada bab sebelumnya sebenarnya sesuai bila dimasukkan pada bab ini, akan tetapi beliau tidak memasukkannya karena tidak ingin mengulang-ulang hadis. Atau beliau tidak mendapatkan jalur (rawi) lain untuk bab ini selain dua jalur yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, karena itu beliau tidak memasukkannya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak akan mengulang-ulang hadis pada kitab Shahih-nya tanpa faidah, baik dari segi sanad maupun matan. Dan bila ada sesuatu di luar prinsipnya ini, maka hal itu suatu kebetulan bukan merupakan kesengajaan. (Lihat, Umdah al-Qari, cit )

 

10.2. Kitab al-Mukatab

بَابُ إِثْمِ مَنْ قَذَفَ مَمْلُوْكَهُ

Rujukan Shahih al-Bukhari, terbitan Dar el-Fikr, 1981, juz III, h. 126. Sedangkan pada terbitan Dar el-Fikr, 1994, juz III, h. 172; Dar el-Salam, Riyadh, 1997; Maktabah al-Hadits al-Syarif, Ver. 2, 1998, tertulis

كِتَابُ الْمُكَاتَبِ, بَابُ إِثْمِ مَنْ قَذَفَ مَمْلُوْكَهُ

Sedangkan pada Shahih al-Bukhari terbitan Toha Putra Semarang, t.t., juz III, h. 198, tertulis

بَابُ إِثْمِ مَنْ قَذَفَ مَمْلُوْكَهُ*  الْمُكَاتَبُ وَنُجُومُهُ فِي كُلِّ سَنَةٍ نَجْمٌ وَقَوْلُهُ: …

Namun pada terbitan Dar Ibn Katsir, al-Yamamah, Beirut, 1987, II:902 dengan editor Dr. Musthafa Daib al-Bugha, bab tersebut digabung dengan bab sesudahnya. Di samping itu, pada terbitan ini al-mukatab tidak ditetapkan sebagai kitab tersendiri, melainkan salah satu bab pada kitab al-‘itq.Adapun redaksinya sebagai berikut:

بَابُ إِثْمِ مَنْ قَذَفَ مَمْلُوْكَهُ وبَاب الْمُكَاتِبِ وَنُجُومِهِ فِي كُلِّ سَنَةٍ نَجْمٌ وَقَوْلِهِ

Demikian pula pada Shahih al-Bukhari versi Maushu’ah al-Hadits al-Syarif, Ver. 1.2, 1991-1996, al-mukatab tidak ditetapkan sebagai kitab tersendiri, melainkan salah satu bab pada kitab al-‘itq. Namun bab ini tidak tercantum.

 

Sehubungan dengan itu para ulama telah memberikan komentar sebagai berikut:

a) Ibn Hajar berkata, “Demikian menurut semua riwayat kecuali riwayat al-Nasafi dan Abu Dzar, dan orang yang menetapkan adanya bab ini tidak menyebutkan satu hadis pun padanya, dan aku tidak tahu makna dimasukkannya judul itu pada bab-bab al-mukatab. Kemudian aku temukan judul itu pada riwayat Abu Ali bin Syabbuwaih didahulukan sebelum kitab al-mukatab, maka inilah yang dijadikan kecenderungan”. Dengan demikian, seolah-olah penulis menetapkan judul bab dan membiarkan kosong karena hendak ditulis hadis yang sesuai untuk bab itu, tetapi hadis itu tidak ditulis sebagaimana yang terjadi pada bab-bab lainnya. Dan beliau telah membuat bab pada kitab al-hudud dengan judul بَاب قَذْفِ الْعَبِيدِ . Pada bab ini, beliau mengemukakan hadis ( مَنْ قَذَفَ مَمْلُوكَهُ وَهُوَ بَرِيءٌ مِمَّا قَالَ جُلِدَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ) dengan itu beliau berisyarat bahwa judul itu (ismu man qadzafa..) akan ditempatkan pada bab-bab ini” (Lihat, Fath al-Bari, cit.,  V:493)

b) Al-Aini berkata, “Dikatakan bahwa seolah-olah al-Bukhari membuat judul untuk bab ini dan membiarkan kosong karena hendak ditulis hadis yang sesuai untuk bab itu; ketika hadis itu tidak diperolehnya, beliau membiarkan bab itu demikian adanya.” (Lihat, Umdah al-Qari, cit., juz XIII, hal. 116)

 

10.3. Kitab al-Jihad wa al-Siyar

بَابُ الْغَزْوِ عَلَى الْحَمِيْرِ

Rujukan Shahih al-Bukhari, terbitan Dar el-Fikr, 1981, juz III, hal. 220; 1994, juz III, hal. 290; Dar el-Salam, Riyadh, 1997, hal. 583. Namun pada terbitan  Toha Putra, Semarang, t.t., juz IV; Dar Ibn Katsir, al-Yamamah, Beirut, 1987, jilid III, dengan editor Dr. Musthafa Daib al-Bugha; Maushu’ah al-Hadits al-Syarif, Ver. 1.2, 1991-1996; Maktabah al-Hadits al-Syarif, Ver. 2, 1998,  bab tersebut tidak tertulis.

Sehubungan dengan itu al-Asqalani berkata, “Demikian hanya pada riwayat al-Mustamli tanpa hadis. Dan al-Nasafi menggabungkan bab ini dengan bab berikutnya, maka ia berkata:

بَابُ الْغَزْوِ عَلَى الْحَمِيْرِوبَغْلَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيْضَاءِ

Tidak terlihat untuk itu seorang pun dari pensyarah, dan perkara itu musykil (sulit) berdasarkan dua keadaan. Akan tetapi pada riwayat al-Mustamli lebih mudah, karena bisa dipahami bahwa beliau membuat judul dan membiarkan kosong untuk hadis yang laik dengannya, namun ternyata hal itu tetap demikian adanya.” (Lihat, Fath al-Bari, op.cit., VI:166) Komentar senada dikemukakan pula oleh al-‘Aini, hanya ia menegaskan bahwa beliau  tidak punya “jalan” sama sekali. (Lihat, Umdah al-Qari, op.cit. juz XIV, hal. 162)

 

10.4. Tanpa judul kitab

بَابُ الْخُرُوْجِ فِي الْفَزْعِ وَحْدَهُ

Rujukan Shahih al-Bukhari terbitan Dar el-Fikr, 1981, juz IV, hal. 11. Sedangkan pada terbitan Dar el-Fikr, 1994, juz IV, hal. 13; Dar el-Salam, Riyadh, 1997, hal. 602; Maushu’ah al-Hadits al-Syarif, Ver. 1.2, 1991-1996,  bab itu ditempatkan pada kitab al-jihad wa al-siyar. Namun pada terbitan Dar Ibn Katsir, al-Yamamah, Beirut, 1987,  dengan editor Dr. Musthafa Daib al-Bugha;  Toha Putra, Semarang, t.t.;  Maktabah al-Hadits al-Syarif, Ver. 2, 1998, bab itu tidak tercantum.

 

Komentar atas bab ini telah dikemukkan oleh para pensyarah Shahih al-Bukhari, antara lain:

  1. al-Karmani berkata, “Jika anda bertanya, ‘Apa faidah bab ini, di mana tidak ada satu pun hadis dan atsar padanya’. Aku jawab, ‘Hal itu merupakan pemberitahuan bahwa pada bab itu tidak ada satu pun hadis yang sesuai dengan syaratnya, atau ada suatu hadis yang akan dihubungkan dengan bab itu, ternyata tidak cocok menurut beliau, atau beliau mengganggap cukup dengan hadis yang dimuat pada bab sebelumnya.” (Lihat, Umdah al-Qari, cit., juz XIV, hal. 230)
  2. al-Asqalani berkata, “Demikian judul ini tanpa hadis. Seolah-olah penulis hendak menuliskan hadis Anas yang telah disebut dari jalur yang lain, namun meninggal dunia sebelum itu. Apa yang dikatakan al-Karmani terlalu jauh. Bab ini telah digabungkan dengan bab berikutnya oleh Abu Ali bin Syabbuwaih, maka ia berkata, ‘Bab al-khuruj fi al-faza’ wahdah wa al-ja’ail…’ namun pada hadis-hadis bab al-ja’ail juga tidak ada yang munasabah (yang relevan) untuk bab ini…(Lihat, Fath al-Bari, cit., jilid VI, hal. 226). Tanggapan serupa dikemukakan pula oleh al-‘Aini. (Lihat, Umdah al-Qari, loc.cit )

 

10.5. Tanpa judul kitab

بَاب جَوَائِزِ الْوَفْدِ

Rujukan Shahih al-Bukhari, terbitan Dar el-Fikr, 1981, juz IV, h. 31; Toha Putra, Semarang, t.t. Sedangkan pada terbitan Dar el-Fikr, 1994, juz IV, h. 13; Dar el-Salam, Riyadh, 1997, hal. 618; Maktabah al-Hadits al-Syarif, Ver. 2, 1998; Maushu’ah al-Hadits al-Syarif, Ver. 1.2, 1991-1996,  bab itu ditempatkan pada kitab al-jihad wa al-siyar. Hanya pada terbitan Dar Ibn Katsir, al-Yamamah, Beirut, 1987, III:1111, dengan editor Dr. Musthafa Daib al-Bugha, bab itu digabungkan dengan bab berikutnya sehingga berjudul:

بَاب جَوَائِزِ الْوَفْدِهَلْ يُسْتَشْفَعُ إِلَى أَهْلِ الذِّمَّةِ وَمُعَامَلَتِهِمْ

Al-Asqalani, al-‘Aini, dan para pensyarah Shahih al-Bukhari tidak berkomentar apa pun terhadap persoalan ini.

10.6. Kitab al-Aiman wa al-Nudzur

بَابُ إِذَا أَعْتَقَ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ آخَرَ

Rujukan Shahih al-Bukhari,  terbitan Dar el-Fikr, 1981, VII: 38; Dar Ibn Katsir, al-Yamamah, 1987, VI: 2470, dengan editor Dr. Musthafa Daib al-Bugha. Sedangkan pada terbitan Dar el-Fikr, 1994, juz VII, hal. 303; Dar el-Salam, Riyadh, 1997, hal. 1411; Maktabah al-Hadits al-Syarif, Ver. 2, 1998, bab itu ditempatkan pada kitab kafarat al-aiman. Demikian pula oleh Ibnu Hajar dan al-Aini. (Lihat, Fath al-Bari, op.cit., XIII: 464; Umdah al-Qari, op.cit., juz XXIII, hal. 222. Namun pada Shahih al-Bukhari versi Maushu’ah al-Hadits al-Syarif, Ver. 1.2, 1991-1996, bab tersebut tidak tercantum, baik pada kitab al-Aiman wa al-Nudzur maupun pada Kafarat al-Aiman. Di antara komentar para pensyarah terhadap bab itu sebagai berikut:

  1. al-Asqalani berkata, “Judul ini hanya terdapat pada riwayat al-Mustamli tanpa hadis, seolah-olah penulis hendak menetapkan pada judul ini hadis pada bab setelahnya melalui jalur lain, tetapi tidak sesuai. Atau beliau ragu-ragu pada dua judul, maka pada sebagian besar riwayat hanya ditulis judul bab berikutnya. Kedua judul itu ditulis apa adanya oleh al-Mustamli sebagai kehati-hatian, dan hadis pada bab berikutnya layak untuk kedua bab tersebut berdasarkan takwil. Sedangkan Abu Nu’aim menggabungkan kedua judul tersebut dalam satu bab.” (Lihat, Fath al-Bari, cit.)
  2. al-Karmani berkata, “Mereka mengatakan bahwa al-Bukhari membuat judul bab itu di antara satu judul dengan judul lainnya, lalu mencari hadis yang berhubungan dengan judul itu, tetapi beliau tidak mendapatkan hadis yang memenuhi syaratnya yang sesuai dengan bab itu, atau usia beliau tidak cukup untuk itu. (Lihat, Umdah al-Qari, cit )
  3. al-‘Aini berkata, “Perkataan al-Karmani itu tidak benar, karena beliau tidak menulis judul kecuali setelah mengetahui hadis yang sesuai dengan judul itu…Yang benar judul bab ini tidak dibuat oleh al-Bukhari. Karena itu, judul tersebut tidak ada pada periwayat lain selain al-Mustamli. Di samping itu, kepastian adanya judul tersebut pada al-Mustamli perlu diteliti lagi”. (Lihat, Umdah al-Qari, cit )

 

10.7. Kitab al-Faraid

 

بَاب مِيرَاثِ الْعَبْدِ النَّصْرَانِيِّ وَمُكَاتَبِ النَّصْرَانِيِّ وَإِثْمِ مَنِ انْتَفَى مِنْ وَلَدِهِ

Rujukan Shahih al-Bukhari terbitan Dar el-Fikr, 1981, juz VIII, hal. 11; Dar el-Fikr, 1994, juz VIII, hal. 15; Dar Ibn Katsir, al-Yamamah, 1987, VI:2484, dengan editor Dr. Musthafa Daib al-Bugha. Sedangkan pada terbitan Dar el-Salam, Riyadh, 1997, hal. 1421; Maktabah al-Hadits al-Syarif, Ver. 2, 1998 dan Maushu’ah al-Hadits al-Syarif, Ver. 1.2, 1991-1996,  lafal mukatab al-nashraniy menggunakan “al”

بَاب مِيرَاثِ الْعَبْدِ النَّصْرَانِيِّ وَ المُكَاتَبِ النَّصْرَانِيِّ وَإِثْمِ مَنِ انْتَفَى مِنْ وَلَدِهِ

Namun pada cetakan Dar el-Salam, setelah bab ini tertulis bab lainnya, juga tanpa keterangan apa pun, yaitu

باب إِثْمِ مَنِ انْتَفَى مِنْ وَلَدِهِ

Para pensyarah memberikan komentar sebagai berikut:

a) al-Karmani berkata, “Di sini terdapat tiga judul secara berurutan, yaitu:

  • بَاب مِيرَاثِ الْعَبْدِ النَّصْرَانِيِّ
  • باب إِثْمِ مَنِ انْتَفَى مِنْ وَلَدِهِ
  • باب بَاب مَنِ ادَّعَى أَخًا

Mereka menyebutkan bahwa al-Bukhari membuat judul-judul bab, dan bermaksud menghubungkan beberapa hadis dengan judul-judul tersebut, ternyata tidak cocok menurut beliau, dan ia membiarkan kosong di antara dua judul itu. Para pengutip riwayat menggabungkan sebagian bab itu dengan sebagian lainnya. (Lihat, Umdah al-Qari, op.cit. juz XXIII, hal. 261)

b) al-‘Aini berkata, “Demikian bab itu menurut kebanyakan riwayat tanpa bab selanjutnya, dan pada riwayat Abu Dzar, dari al-Mustamli dan al-Kusymihani terdapat bab

باب بَاب مَنِ ادَّعَى أَخًا أَوِ ابْنَ أَخٍ

(bab selanjutnya), dan ia tidak menyebutkan satu hadis pun padanya…Mereka menetapkan pada bab “itsmu manin taqa min waladih” kisah Saad dan Abd bin Zam’ah. Ibn Bathal dan Ibn al-Tin cenderung membuang bab itu dan menetapkan kisah Ibn Zam’ah bagi bab “manidda’a akhan”, tetapi keduanya tidak menyebutkan satu hadis pun pada bab “mirats al-‘abd al-nashrani”, sesuai dengan kebanyakan riwayat.” Dan pada riwayat al-Nasafi terdapat bab “mirats al-‘abd al-nashrani wal mukatab al-nashraniy’, dan ia berkata, ‘Tidak ada satu pun hadis yang ditulis pada bab itu’.” (Lihat, Umdah al-Qari, loc.cit.)

c) Dalam menyikapi bab ini, Ibn Hajar tidak memberikan komentar apa pun. (Lihat, Fath al-Bari, cit., XIV:544)

 

10.8. Kitab al-Ta’bir

بَاب عَمُودِ الْفُسْطَاطِ تَحْتَ وِسَادَتِهِ

Rujukan Shahih al-Bukhari terbitan Dar el-Fikr, 1981, juz VIII, hal. 76; Dar el-Fikr, 1994, juz VIII, hal. 98; Dar Ibn Katsir, al-Yamamah, 1987, VI:2573, dengan editor Dr. Musthafa Daib al-Bugha; Dar el-Salam, Riyadh, 1997, hal. 1473; Maktabah al-Hadits al-Syarif, Ver. 2, 1998; Maushu’ah al-Hadits al-Syarif, Ver. 1.2, 1991-1996.

 

Para pensyarah memberikan komentar sebagai berikut;

a) Al-‘Aini berkata, “Pada judul ini tidak ada satu pun hadis. Dan setelahnya bab

بَاب الْإِسْتَبْرَقِ وَدُخُولِ الْجَنَّةِ فِي الْمَنَامِ

Demikian menurut semua riwayat. Namun menurut riwayat al-Nasafi dan al-Ismaili tidak ada lafal “bab”  (langsung judul). Ibn Bathal menggabungkan kedua judul itu menjadi satu bab yaitu

بَاب عَمُودِ الْفُسْطَاطِ تَحْتَ وِسَادَتِهِ والْإِسْتَبْرَقِ وَدُخُولِ الْجَنَّةِ فِي الْمَنَامِ

Pada bab ini dimuat hadis Ibn Umar  yang akan datang. (Lihat, Umdah al-Qari, op.cit., jilid XXIV, hal. 152)

b) al-Muhlib berkata, “…Beliau banyak membuat bab seperti ini sebagaimana membuat judul bab dengan sesuatu dan tidak menyebutkannya. Beliau berisyarat bahwa hal itu telah diriwayatkan pada sebagian jalurnya, namun beliau tidak menyebutkannya karena pada sanad itu ada kelemahan. Sebelum memperbaiki kitab-nya al-maniyyah (kematian) telah mendahuluinya. (Lihat, Umdah al-Qari, cit.)

 

Setelah memperhatikan berbagai keterangan dari para ulama, kami cenderung untuk mengatakan bahwa penulisan bab “kosong” seperti ini bukan bagian dari metodologi Imam al-Bukhari. Karena itu, dalam menyikapi “misteri” bab-bab seperti ini para ulama berbeda pendapat. Sebagian menyatakan bahwa Imam al-Bukhari belum mendapatkan hadis untuk mengisi bab itu sesuai dengan kriterianya, sehingga bab tersebut dibiarkan kosong dengan harapan suatu saat akan menemukan hadis-hadis yang memenuhi kriteria sahihnya. Namun yang lainnya menyatakan secara tegas bahwa “Imam al-Bukhari belum sempat menyelesaikan kitab Shahih-nya secara sempurna”, bahkan ada ungkapan yang patut kita cermati bahwa bab-bab itu demikian adanya setelah mengalami perubahan karena “kreativitas murid” atau orang yang menyalin autograf Shahih al-Bukhari.

 

Perbedaan riwayat, sebagaimana kita lihat di atas, sangat berpengaruh terhadap penjumlahan bab yang dimuat di dalam kitab Shahih al-Bukhari. Oleh sebab itu, para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah bab di dalam kitab tersebut.

 

Menurut al-Karmani dan Dr. M. Muhamad Abu Syahbah jumlah bab itu sebanyak 3.450.[13] Muhamad Syarif al-Tauqadi menetapkan sebanyak 3.730.[14] M. Fuad Abd al-Baqi menghitung sebanyak 3.607.[15] Tim Syirkah al-‘Alamiah li al-Baramij (Jaringan Kerja Internasional untuk Program Hadis) menetapkan jumlah bab sebanyak 3.888.[16]

 

Menurut penelitian kami, perbedaan tersebut disebabkan ketidakjelasan kriteria dalam penetapan bab. Karena itu, ada “bab” yang dianggap sebagai “kitab”, juga sebaliknya ada “kitab” yang dianggap “bab”, bahkan terdapat pembahasan yang sama sekali tidak dianggap sebagai “kitab” dan “bab”. Hal ini mengindisikan dua kemungkinan;

a) bab tersebut dibuat oleh Imam al-Bukhari sendiri, namun terjadi perbedaan pada naskah salinan para murid dan atau generasi selanjutnya,

b) bab tersebut tidak dibuat oleh Imam al-Bukhari, tetapi dilakukan para murid atau generasi selanjutnya

 

By Amin Muchtar, sigabah.com

 

[1]Lihat, ‘Itr, op.cit, hal. 253

[2]Lihat, Kitab al-Ilm, Shahih al-Bukhari, Dar el-Fikr, 1981, I:26.

[3]Lihat, Kitab al-Ilm, op.cit., hal. 27

[4]Lihat, Al-Asqalani, Fath al-Bari, Dar el-Fikr, 1996, I:228

[5]Lihat, Kitab al-Ghusl, op.cit., I:70

[6]Lihat, Kitab al-Adzan, op.cit., I:157.

[7]Lihat, Al-Asqalani, op.cit, II:336.

[8]Lihat, Kitab al-Mazhalim, op.cit., IV:99.

[9]Lihat, Kitab al-Wudhu, op.cit., I:43

[10]Lihat, Kitab al-‘ilm, op. cit., I:21; Al-Asqalani, op.cit. I:192

[11]Terbitan Dar Ibn Katsir, al-Yamamah, Beirut, 1987, editor Dr. Musthafa Daib al-Bugha, I:14

[12]Lihat, Kitab al-Jihad  wa al-Siyar, op.cit., IV:10

[13]Lihat, Fi al-Rihab, op.cit., hal. 66

[14]Lihat, Miftah al-Shahihain, Dar el-Kotob al-Ilmiyah, Beirut, 1975, hal. 6

[15]Lihat, Miftah Kunuz al-Sunnah, op.cit., hal. ba-dal

[16]Lihat, Shahih al-Bukhari, Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, Ver. 1.2. Th. 1991-1996

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#main-content .dfd-content-wrap {margin: 0px;} #main-content .dfd-content-wrap > article {padding: 0px;}@media only screen and (min-width: 1101px) {#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars {padding: 0 0px;}#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars > #main-content > .dfd-content-wrap:first-child,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars > #main-content > .dfd-content-wrap:first-child {border-top: 0px solid transparent; border-bottom: 0px solid transparent;}#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width #right-sidebar,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width #right-sidebar {padding-top: 0px;padding-bottom: 0px;}#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars .sort-panel,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars .sort-panel {margin-left: -0px;margin-right: -0px;}}#layout .dfd-content-wrap.layout-side-image,#layout > .row.full-width .dfd-content-wrap.layout-side-image {margin-left: 0;margin-right: 0;}