Islam Tidak Mesti Mengikuti Budaya, Tetapi Budaya Harus Diislamkan

BANDUNG (sigabah.com)—Didasari dengan adanya keharusan untuk senantiasa berada dalam Islam kaffah, sementara di Indonesia muncul gagasan Islam Nusantara, Kajian Lailatul Qadar Pesantren Ibnu Hajar pada malam 23 Ramadhan menghadirkan Ustadz Amin Muchtar untuk membawakan materi terkait “Islam Kaffah dan Islam Nusantara”.

Sebelum masuk ke inti pembahasan, Ustadz Amin Muchtar terlebih dulu menyampaikan terkait pemaknaan syariat Islam sebagai jalan keselamatan hidup. Beliau mengungkapkan, bumi adalah amanah dari Allah kepada manusia agar digunakan bagi kesejahteraan bersama.

Untuk mencapai hal tersebut, tambah Ustadz Amin, Allah memberikan petunjuk melalui para Rasul-Nya. Petunjuk tersebut meliputi kebutuhan manusia dalam kehidupan, yakni akidah, akhlak, maupun amaliyah yang kemudian identik dengan syariah.

“Dua komponen pertama, yakni akidah dan akhlak, bersifat konstan. Keduanya tidak mengalami perubahan yang signifikan dengan berbedanya waktu dan tempat. Sedangkan amaliyah atau syariah, senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban umat yang berbeda-beda sesuai dengan masa rasul masing-masing,” tutur Ustadz Amin, di Pendopo Pesantren Ibnu Hajar, Sabtu (17/06/17) malam.

Adapun syariat Islam yang dibawa oleh rasul terakhir tidak hanya kamil atau komprehennsif, tetapi juga syamil atau universal. Hal ini didasari dengan ketetapan bahwa tidak akan ada syariat lagi setelah rasul terakhir.

Mengenai Islam kaffah sebagaimana tercantum dalam ayat 208 surat al-Baqarah, Ustadz Amin menuturkan bahwa istilah tersebut bermakna mengamalkan Islam secara menyeluruh. Pada ayat yang sama, umat Islam dilarang mengikuti jejak langkah setan karena bertolak dari Islam kaffah.

Begitupun pemaknaan dalam ayat 85 surat al-Baqarah. Ayat tersebut menjadi peringatan bahwa umat Islam dilarang mengikuti akhlak dan cara kaum Yahudi dalam beragama, yaitu tidak mau menerima syariat Allah jika syariat tersebut bertentangan dengan hawa nafsu mereka.

Sedangkan terkait pembahasan Islam Nusantara, Ustadz Amin mengartikannya sebagai Islam yang tidak terlepas dari budaya.

“(Islam Nusantara adalah) Islam dengan cara pendekatan budaya, tidak doktrin yang kaku dan keras. Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Berbeda dengan Islam Arab, yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara,” tutur Ustadz Amin merujuk kepada pernyataan Prof. Dr. Said Aqil Siraj dalam sebuah acara di Masjid Istiqlal Jakarta dua tahun lalu.

Menurut Ustadz Amin, gagasan Islam Nusantara sebagaimana pengertian dari Prof. Dr. Said Aqil ini patut diuji setidaknya dengan lima catatan kritis. Pertama, mengenai ketepatan Islam sebagai agama disandingkan dengan istilah Nusantara. Kedua, mesti dipertanyakan apakah Islam yang mengikuti budaya atau budaya yang mengikuti Islam. Ketiga, apa batasan kaku dan keras dalam Islam, serta siapa yang berhak menilai perbuatan tersebut. Keempat, terkait pemaknaan toleransi. Kelima, ketepatan ungkapan Islam Nusantara bukan Islam Arab patut dipertanyakan.

“Kita ingin mensikapi ide, pemikiran, gagasan, dan tidak secara emsional tetapi tetap dalam kerangkan ilmu agar kita menerima dan menolaknya kita betul-betul paham bukan sekedar a priori atau sentimen,” jelas Ustadz Amin.

Dalam mensikapi catatan kritis kelima, Ustadz Amin menyampaikan bahwa tidak tepat bila disebutkan Islam Nusantara bukan Islam Arab. Karena, yang paling tepat ialah muslim Nusantara dan muslim Arab.

Jika tetap menggunakan Islam Nusantara adalah bukan Islam Arab, Ustadz Amin menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah Arabiy (orang Arab), ttapi Islam sebagai ajaran yang beliau bawa bukan hanya untuk orang arab.

“Sejak di Makkah, Nabi selalu mendakwahkan universal. Ini di antara contoh yang ditulis oleh para ahli tarikh, misalkan, dakwah Nabi selalu menekankan, katakanlah tiada ilah selain Allah,” tegas beliau.

Penerangan ini menjadi bukti bahwa suku bangsa tidak menjadi patokan untuk ajaran Islam. Artinya, Islam membawa ajaran untuk seluruh suku bangsa yang di antaranya menyeru kepada nilai-nilai tauhid. Inilah yang disebut Islam secara kaffah. Karena hakikatnya kemuliaan tidak diukur berdasarkan suku bangsa, melainkan dengan ketakwaannya.

“Pada dasarnya, Islam yang harus merubah budaya apabila budaya ini jelas-jelas bertentangan. Di dalam khutbah yang cukup menarik waktu haji wada’, Nabi memberikan ukuran standar kemuliaan bukan atas dasar suku bangsa. Yaitu, yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Orang Arab tidak lebih utama dari non Arab, melainkan dengan takwa,” pungkas Ustadz Amin Muchtar.

By: Ikhwan Fahmi, jurnalis sigabah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *