INDONESIA DEMAM “BLOKIR”

Allah Swt. Berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجٌَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” (QS. Al-Hujurat, 49: 6).

Sejalan dengan itu, Rasulullah saw. melarang kita dari pengucapan qiila dan qiila: konon, katanya atau desas-desus. (HR. Al-Bukhari, hadis No. 6473).

Terhadap hadis ini, Ibnu Katsir berkata, “Yakni orang yang sering menyebarkan perkataan orang lain, tanpa meneliti kebenarannya terlebih dahulu, tanpa memperhatikannya, dan tanpa mencari tahu kejelasannya (tentang kebenarannya). [Lihat, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Syaikh Al-Mubarakfuri, Jilid 2, Hal. 597].

Beberapa bulan terakhir ini, media massa nasional tiba-tiba getol memberitakan seputar ISIS (Islamic State of Iraq and Syam). Setelah mendeklarasikan berdirinya Khilafah Islamiyah pada 1 Ramadhan 1435 H atau bertepatan dengan 29 Juni 2014, ISIS dibubarkan karena sudah tercapai cita-cita mendirikan IS (Islamic State), yakni Daulah Islam.

Alasannya, ISIS tidak akan mampu mewadahi umat yang akan terus bertambah seiring dengan ditaklukkannya wilayah di luar Irak dan Syam. Sehingga nama IS (Islamic State) atau Daulah Islam atau Khilafah Islam menjadi nama yang setara dengan kekuatannya kelak. Meski demikian, isu yang bergulir di media massa nasional saat itu dan sekarang masih saja ISIS. Padahal, isu untuk nama itu sudah terlalu jauh tertinggal di belakang masa lalu perjuangan mereka.

Sejak ISIS mendeklarasikan berdirinya Khilafah itu muncul beragam komentar, baik di kalangan kafir maupun di kalangan umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam, khususnya para alim ulama, merespon dengen respon yang berbeda-beda, ada yang mendukung dan ada yang bersikap tawaqquf dan tatsabbut sebagai sikap kehati-hatian, namun ada pula yang menolaknya.

Hari ini kita melihat banyak media yang begitu agresif menyerang ISIS, bahkan ada yang tidak malu-malu lagi menulis judul berita yang tidak sesuai dengan hakikatnya demi menjatuhkan ISIS. Entah apa sebabnya mereka begitu membenci ISIS, bahkan itikad dan bayan (penjelasan) ISIS tidak dijadikan referensi dalam menuliskan berita yang objektif.

Sejatinya, kita perlu membina umat Islam agar dapat bersikap objektif terhadap ISIS. Sehingga, jika ISIS harus ditolak hendaknya umat menolaknya berdasarkan ilmu. Begitu pula jika ISIS harus didukung hendaknya umat mendukungnya berdasarkan ilmu. Salah satu di antara bentuk pembinaan itu dengan menyajikan informasi, berita, dan analisa seputar ISIS secara berimbang. Dalam konteks inilah, laporan pemberitaan dan analisa dari media dakwah Islam perlu diapresiasi.

Namun, alih-alih dapat penghargaan dari pemerintah, laporan pemberitaan dan analisa berbagai media dakwah itu malah berbuah malapetaka. Website media Islam itu ditutup oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) atas perintah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) beberapa waktu lalu. Dalih yang disampaikan tentu sudah klise: media-media itu mengajarkan dan menganjurkan tindak kekerasan, radikalisme, dan terorisme. Jadi, apa sebenarnya kriteria radikalisme dan terorisme versi BNPT/Pemerintah?

Jika radikalisme yang dimaksud adalah “tindak kekerasan ISIS”—seperti yang dipertontonkan media sekuler—tentu saja pemblokiran itu tidak masuk akal. Sebab, media-media Islam yang masuk daftar blokir itu justru selama ini menentang cara-cara kekerasan yang dilakukan ISIS. Bahkan, sebagian konten website tersebut menjadi mitra BNPT untuk menangkal “terorisme”.

Selain itu, dalam tindak pemblokiran situs-situs media Islam tersebut terdapat “perilaku” menggelikan sekaligus menggemaskan, karena ternyata pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) mengakui kalau pihaknya tidak sampai meneliti isi konten media-media Islam online yang diminta ditutup oleh BNPT.

Jadi, masuk akal untuk dikatakan bahwa “Demam blokir” ini dikehendaki oleh pihak musuh Islam dengan memakai tangan BNPT. Karena selama media-media Islam “yang jadi target itu” tetap eksis, pihak musuh tidak dapat bergerak bebas. Modus operasi mereka selalu terendus oleh para mujahid media-media itu.

Siapa musuh yang dimaksud?

Bagi mereka yang akrab “mengkonsumsi” berbagai konten 7 website (yang mengadu ke Kemkominfo) maupun 22 website (yang sudah diblokir) akan mudah mendapatkan benang merah bahwa situs-situs yang diblokir itu gencar dakwahkan kesesatan Syiah; konsisten menentang liberalisme dan komunisme.

Apalagi sudah jadi rahasia umum, bahwa jauh-jauh hari sebelum “demam blokir” mewabah di Indonesia, media-media Islam “yang jadi target itu” telah “dikloning” oleh mereka hingga menjadi situs KW-2 (baca: situs kamuflase Syiah). Jadi, tidaklah mengherankan jika Syiah merupakan pihak yang paling girang dengan pemblokiran itu.

Sehubungan dengan itu, BNPT perlu bertindak bijaksana. Misalnya, beraudiensi terlebih dahulu dengan lembaga-lembaga Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dinilai sangat berkompeten.

Jangan sampai tindakan BNPT menjadi bumerang bagi BNPT dan pemerintah sendiri. Karena bagaimana pun pemblokiran situs-situs yang tidak ingin merebut negara itu pada hakikatnya akan merugikan pemerintah dan bangsa Indonesia di satu pihak, dan menguntungkan Syiah di pihak lain, yang jelas-jelas bertujuan merebut negara memakai “tangan lain”. Mari selamatkan Indonesia dari “demam blokir” !!!

By Amin Muchtar, sigabah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *