INDONESIA BER-“TOPENG RAMADHAN”

jihi Jika tidak ada aral gendala, Insya Allah, bulan Ramadhan akan kembali menyambangi Indonesia pada hari Rabu, 17 Juni 2015, sesaat setelah matahari tenggelam alias waktu maghrib. Genderang Ramadhan seakan-akan ditabuh oleh gema takbir shalat Tarawih perdana seantero nusantara. Esok harinya, Kamis 18 Juni 2015, sejak dini hari aktivitas super padat sejatinya dimulai dengan makan sahur, dilanjutkan shalat shubuh hingga “pertarungan dengan rasa lapar, dahaga, dan syahwat” kali pertama, 1 Ramadhan 1436 H.

Setiap Ramadhan tiba, sebagian besar warga negara Indonesia menghadapinya dengan mengubah tampilan, sikap, perilaku. Banyak di antara warga “mengislamkan” diri dan mengubah imej yang semula dipandang buruk, menjadi bagus. Yang tadinya tak mengenakan busana muslimah, di bulan Ramadhan, berjilbab. Hotel, restoran, televisi dan tempat-tempat yang banyak dikunjungi publik, berubah, menyesuaikan tampilan dan programnya bernuansa Ramadhan dengan label “islami”.

Di bulan Ramadhan, terkadang tidak sedikit warga negara berubah menjadi manusia “shalih”: bershaum, bangun sahur, shalat subuh, tarawih, mengenakan kopiah dan berbaju koko sebagai “pakaian dinas Ramadhan”. Inilah fenomena “musim Ramadhan” yang selalu berulang setiap tahun.

Melihat fenomena dan kecenderungan sebagian warga yang hanya ingin “berislam” di bulan Ramadhan, tentu sangat gembira sekaligus menyedihkan. Artinya, di bulan penuh berkah ini kita hanya sekadar menahan diri “sementara” untuk tak melakukan perbuatan munkarat dan maksiat. Setelah itu kita kembali pada “fitrah” yang tak sebenarnya sebagai “fitrah palsu”.

Dengan mematok “harga” sekadar menahan diri untuk tak bermaksiat atau sekadar “menunaikan” kewajiban di bulan Ramadhan, sesungguhnya kita telah mengenakan topeng di bulan suci ini. Dan memang, bukankah banyak di antara kita selama ini hidup diselimuti topeng? Lalu, di bulan Ramadhan, kita secara utuh mengenakannya, bahkan ironisnya, di antara kita ada yang secara blak-blakan—tanpa malu—mengakui untuk mengenakan topeng itu.

Di kalangan seleb, meskipun topeng yang dipakai terkadang tak bisa juga dibilang islami, toh kesan bahwa yang bersangkutan sudah berubah menjadi “islami” terlanjur jadi konsumsi publik.  Sejumlah tayangan televisi, tak ketinggalan, berlomba-lomba  ingin menampilkan kesan “islami”. Acara menjelang sore dan maghrib menyuguhkan tayangan “bernapaskan” Islam. Menjelang sahur dan subuh sederet artis dan pelawak muncul memandu dan mengisi acara “Islam”.

Dengan tak menafikan niat baik para penyelenggara program tersebut,  sesungguhnya “tanda petik” untuk kata Islam dan islami, tak bisa dihindari. Pasalnya, sulit untuk memungkiri sejumlah tayangan tersebut keluar dari koridor Islam.  Berjoget rame-rame di akhir acara—dengan penyanyi yang dibalut jilbab misalnya—seakan jadi tren, dan tentu saja tak sejalan dengan Islam. Itu sekadar contoh. Content, tampilan dan kemasan lainnya,  juga agak sulit disebut islami.

Demikianlah, Ramadhan sekadar kita jadikan sebagai “pelabuhan” make up dan topeng kita. Di bulan ini, sebagian kita hanya sekadar transit, sejenak, seakan mengikuti arus “musim Islam”.  Ramadhan telah mengubah suasana keseharian kita dalam sesaat.

Apa yang diharapkan dari Ramadhan?

Dilihat dari sisi penamaan, bulan Ramadhan tidak memiliki nilai plus, kelebihan apapun. Tidak ada bedanya dengan bulan-bulan yang lain. Ramadhan—yang menempati urutan ke-9 dari 12 bulan dalam almanak Hijriyyah—berasal  dari kata ar-Ramdhu, artinya sentuhan sinar matahari yang panasnya begitu menyengat. Demikian menurut Ar-Raghib al-Asfahani, dalam masterpiece-nya, kitab al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, hlm. 203. Mengapa bulan ke-9 dinamai Ramadhan? Ibnu Duraid menjelaskan:

لَمَّا نَقَلُوا أَسْمَاءَ الشُّهُورِ عَنِ اللُّغَةِ الْقَدِيمَةِ سَمَّوْهَا بِالْأَزْمِنَةِ الَّتِي وَقَعَتْ فِيهَا، فَوَافَقَ رمضانُ أَيَّامَ رَمَضِ الْحَرِّ وَشِدَّتِهِ فَسُمِّيَ بِهِ

“Tatkala bangsa Arab mengambil nama-nama berbagai bulan dari bahasa klasik, mereka menamainya sesuai kondisi musim yang terjadi waktu itu. Maka bulan Ramadhan bertepatan dengan musim panas yang begitu menyengat. Karena itulah bulan ini dinamai Ramadhan.” (dikutip oleh Ibnu Manzhur dalam Lisan al-‘Arab, Juz 7, hlm. 160)
Menurut al-Mawardi, pada masa jahiliyyah bulan ini bernama natiq (melelahkan). Kemudian diganti oleh generasi berikutnya menjadi Ramadhan. (Tafsir Al-Qurthubi, Juz II, hlm. 291)

Penjelasan para pakar bahasa dan sejarah di atas menunjukkan bahwa dari segi penamaan bulan Ramadhan tidaklah istimewa. Namun, mengapa bulan ini kemudian menjadi bulan teristimewa? Hal itu tiada lain karena disyariatkan shaum—diawali tahun ke-2 H—bagi kaum. Selain itu, Ramadhan dikenal sebagai bulan “dibukanya pintu surga” dan “ditutupnya pintu neraka” serta “setan dibelenggu”. Pada bulan itu diturunkan Al Qur’an serta terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang dikenal dengan sebutan Lailatul Qadar. Merujuk kepada berbagai keistimewaan tersebut pantas kiranya bulan Ramadhan disebut bulan penuh berkah dan penuh ampunan.

Syariat shaum di bulan Ramadhan merujuk kepada firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah, ayat 183, yang turun pada hari Kamis 28 Sya’ban tahun ke-2 H atau 23 Pebruari 624 M. Di kampung saya, ayat ini populer dengan sebutan ayat kutiba. Memang, ayat ini seakan jadi primadona selama Ramadhan, bahkan Ramadhan serasa hambar tanpa kehadiran ayat ini. Bak sayur tanpa garam.

Ayat ini menjelaskan bahwa selain kepada kaum mukmin, Allah juga mewajibkan shaum kepada umat-umat terdahulu, meskipun ukuran dan cara pelaksanaannya berbeda-beda. Demikian itu sebagai pengukuhan dan untuk menggemarkan shaum.  Karena shaum  adalah cara yang paling utama dalam membersihkan jiwa dan  merupakan ibadah yang paling kuat dalam menekan hawa nafsu, terutama syahwat. Jika demikian halnya berarti shaum itu hakikatnya bukan hanya pekerjaan lahiriah (fisik) tapi juga batiniah (jiwa). Dari sini kita akan fahami rahasia penggunaan kata kutiba (كُتِبَ) saat Allah mewajibkan shaum pada ayat di atas.

Makna asal kutiba adalah menulis. Sementara menulis berarti menyambungkan titik demi titik menjadi huruf, merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata menjadi kalimat. Penggunaan kata kutiba (menulis) dalam konteks kewajiban shaum mengandung makna filosofis bahwa pada hakikatnya ibadah shaum itu merangkaikan antara shaum lahiriah (menahan dari makan, minum dan hubungan suami istri ) dengan batiniah (menahan diri dari marah, ghibah dan lain-lain). Selain itu, mengandung pesan merangkaikan ibadah shaum dengan ibadah-ibadah penopangnya, berupa Qiyamu Ramadhan, Tadarus, zakat fitrah, Shadaqah dan amal shalih lainnya. Keberhasilan seseorang dalam merangkaikan shaum lahir-batin di satu aspek, serta shaum dengan berbagai ibadah itu pada aspek lain, akan mengantarkan dirinya kepada derajat orang bertakwa, sebagai target utama (maqashid) dari ibadah shaum.
Sungguh tepat kiranya redaksi doa tahni’ah (selamat) yang diucapkan para sahabat Nabi saw. ketika saling berjumpa di hari raya Iedul Fitri dengan kalimat :

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

“Mudah-mudahan Allah menerima segala amal ibadah kita.” HR. Abu al-Qasim al-Mustamli
Kalimat di atas mencakup segala ibadah yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan, bukan hanya ibadah shaum saja.
Maka dari itu, sebuah kemestian bagi setiap muslim untuk memperhatikan semua ibadah yang terkait dengan ibadah shaum, sebab ibadah shaum “satu paket” dengan ibadah-ibadah penopangnya. Salah besar bila kita menganggap ibadah di bulan Ramadhan hanya shaum saja, sementara kita mengabaikan ibadah penopangnya. Karena sikap demikian itu secara tidak langsung membiarkan diri kita celaka. Termasuk celaka juga seseorang yang melaksanakan shaum Ramadhan beserta ibadah penopangnya, namun setelah Ramadhan selesai ia tidak menjadi orang yang bertakwa. Bukankah tujuan diwajibkannya shaum Ramadhan itu adalah supaya menjadi orang yang bertakwa? Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw. telah mengingatkan kita dengan sabda beliau:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَتَى عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Alangkah hina/celakanya seseorang yang kedatangan bulan Ramadhan, sementara dia tidak diampuni dosanya.” HR. Al-Baghawi, al-Baihaqi, dan ath-Thabrani, dengan sedikit perbedaan redaksi.

Dalam menyambut bulan Ramadhan, Rasulullah saw. memperbanyak shaum sunat di bulan Sya’ban dibanding pada bulan-bulan lainnya sebagai warming up (pemanasan). Tentu saja shaum sunat tersebut adalah shaum-shaum sunat yang biasa dilakukan Nabi di bulan-bulan lainnya, bukan shaum yang khusus dikaitkan dengan bulan Sya’ban, tidak seperti shaum nisfu Sya’ban yang tidak sesuai syariat. Nabi saw. melakukan hal itu supaya tubuh siap dengan kondisi atau suasana shaum Ramadhan.  Selain itu, para istri Nabi saw. biasa  mengqodho shaum di bulan Sya’ban karena di bulan-bulan lain  mereka  sibuk melayani Nabi saw. Tidak  pernah diriwayatkan Nabi saw.  berziarah ke makan leluhur sebelum dan sesudah Ramadhan atau makan-makan yang kita kenal  dengan sebutan munggahan.

Karena itu, supaya ibadah Ramadhan kita selamat, mari kita awali dan jalani bulan Ramadhan ini dengan SOP (Standart Operating Prosedure) yang diperintah dan dicontohkan Rasulullah saw. berlandaskan kesadaran tingkat tinggi (iman) dan orientasi tingkat tinggi pula (Ihtisab), bukan sebatas formalitas, mengejar prestise sesaat (riya), atau hanya sekadar rutinitas tahunan. Sebab motif-motif tersebut hanya akan menjadikan sebuah amal berada pada kehancuran. Dengan demikian derajat takwa dapat kita raih dan keistimewaan-keistimewaan bulan Ramadhan dapat kita rasakan.

Jadi, boleh-boleh saja kita serasa kedatangan tamu agung bertitel “bulan Ramadhan”. Namun, yakinilah bahwa nilai keagungan Ramadhan hanya akan menemui orang-orang yang mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa dalam menyambutnya, tanpa make up dan topeng keakuan. Hal itu tak ubahnya tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, ia tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya. Semoga di tahun ini, kita termasuk di antara sedikit orang yang kembali dipilih bulan Ramadhan untuk menerima nilai keagungannya, karena ridha menyuci make up dan rela melepas topeng keakuan kita.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *