Ikhtiar Berjamaah

Prasangka yang hadir di tengah-tengah kita nyatanya jauh lebih rimbun dari apa yang kita pikirkan untu dikail titik temunya. Disambung ketika sepilihan rasa tetap memilih menjauh meski aroma satu ikhtiar kembali didengungkan. Kala beda tak sanggup ditenggang. Kala caci maki hadir sebagai pentas di arena sejarah yang gelap gulita. Adakah kesempatan bagi nurani yang terpandang dan dipandang beda untuk bisa menyatu dalam satu barisan yang sama. Barangkali kesempatan itu ada, tapi entah pada kesempatan ke berapa ia akan diberikan dan kita tidak pernah tahu. Di sinilah, pesan para alim perlu kita renungkan kembali. Ketika beda yang tak bisa ditenggang, ketika riuh terus diperbincangkan dan ketika caci maki tetap mendapatkan panggung meski bersalin nama demi mewujudkan kemaslahatan dan kebermanfaatan bersama di sepanjang alir perjalanan yang berkali-kali menemukan satu jalan beda dalam ikhtiar mewujudkan satu rumah dalam jamaah bukan satu rumah dalam ikhtiar.

Berjamaah adalah tentang bagaimana menghimpun ruang-ruang kebajikan dalam satu atau dua pentas berbeda. Berjamaah bukan sekedar banyak tidaknya masa. Tapi berjamaah adalah kesadaran atas asas-asas pahaman yang dibangun di sepanjang jalan pulang yang sama. Tempat yang dituju tentu tidaklah berbeda dengan apa yang diikhtiarkan meski pada akhirnya ikhtiar berjamaah menjadi satu dari sekian tuju yang coba kita tafsirkan kembali dalam rentang panjang perjalanan kita hari ini. Berikhtiar agar kelak ada yang memandu dan ada yang dipandu. Berikhtiar untuk menyelamatkan agar kelak sekumpulan masa itu tak sekedar menjadi buih yang bisa dipermainkan segelintir masa yang datang dan pergi mengisi lembaran sejarah dengan niatan mencoret apa yang seharusnya bisa diabadikan bukan kebalikannya. Terkadang mereka datang dengan ujud yang serupa. Cara yang sama juga ikhtiar yang tak jauh berbeda. Tapi apa yang jadi tujuannya tentulah jelas memecah bukan mempersatukan. Mereka bisa hadir dari barisan terbawah sampai teratas. Sebab di mata mereka beda menjadi semacam alasan yang tak bisa diterima kala pembagian tugas dari ikhtiar mengajak dan berjamaah ini sudah sedemikian adil terbagi-bagi tanpa perlu memanggungkan hal-hal yang bisa merusak di depan khalayak ramai.

Ikhtiar berjamaah adalah susur yang kembali digaungkan kala visi dan misi hanya selesai dalam tataran anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Kala kebesaran sejarah tak boleh dirombak demi menjaga marwah yang terkadang masih menimbulkan banyak tanya besar di benak. Marwah yang mana dan khittah yang mana. Begitulah tanya sebagian pertanda beda ketika ada segelintir masa yang kembali datang untuk meneguhkan apa yang disebutnya bagian dari kesadaran sejarah. Sementara kita paham, ada perjalanan dan ikhtiar lain yang harus terus diusahakan dan diupayakan sekuat tenaga demi terwujudnya kebermanfaatan dan kemaslahatan bersama di tengah-tengah ikhtiar umat yang dikoyak moyak musuh bersama. Di tengah selip tangis atas tragedi keumatan yang terus mendera. Di tengah bincang penjilat dan pendobrak yang kini dipandang sama bahkan tak lagi dijadikan kaca untuk bercermin menengok barang sebentar bahwa ikhtiar berjamaah adalah ikhtiar tak berkesudahan demi mewujudkan sebuah torehan emas sejarah yang tak lagi bertutur tentang kuantitas tapi justru kualitas. Bahkan tak lagi berbincang soal jumlah melainkan juga isi daripada perjalanan sejarah yang alirnya bisa dirasakan sebagai wujud manfaat dan maslahat atas ikhtiar berjamaah yang menemukan jalannya untuk tetap memandu dan mengisi ruang-ruang lain dalam perjalanan sejarah kita. Sebab seperti guru-guru kita yang tak pernah bosan merintihkan dan mengikhtiarkan harapan bersama agar Persatuan Islam tak sekedar besar dengan jumlah tapi juga dengan isinya. Tak sekedar banyak kuantitasnya tapi juga kualitasnya yang membaik. Sebab seperti kata guru kita KH Mohammad Isa Anshary dalam magnum opusnya yang berjudul ‘Renungan Empat Puluh Tahun Persis’. Ia berujar bahwasannya ‘Ia (Persis) mencari kualitas, bukan kuantitas. Ia mencari isi, bukan jumlah. Karena itu, organisasi ini tampil sebagai salah satu sumber kebangkitan dan kesadaran baru bagi umat Islam serta menjadi kekuatan dinamika dalam menggerakkan kebangkitan umat Islam’. Wallahu a’lam bishawab.****

By aldzi

sumber FB terlampir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *