IBADAH RAMADHAN TIDAK NYUNNAH (Bagian Ke-4)

Paket 5 Keutamaan Pada Bulan Ramadhan

Selain keyakinan istimewa dilihat dari klasifikasi hari-hari Ramadhan, juga terdapat penisbatan bulan itu langsung kepada Allah serta adanya pengukuhan bahwa Ramadhan adalah rajanya berbagai bulan, juga terdapat hadis lain yang berperan penting dalam membentuk keyakinan sebagian muslim tentang “paket 5 keutamaan bagi umat Islam di bulan Ramadhan”. Hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيَتْ أُمَّتِي خَمْسَ خِصَالٍ فِي رَمَضَانَ لَمْ تُعْطَهَا أُمَّةٌ قَبْلَهُمْ خُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ وَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُفْطِرُوا وَيُزَيِّنُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ ثُمَّ يَقُولُ يُوشِكُ عِبَادِي الصَّالِحُونَ أَنْ يُلْقُوا عَنْهُمْ الْمَئُونَةَ وَالْأَذَى وَيَصِيرُوا إِلَيْكِ وَيُصَفَّدُ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ فَلَا يَخْلُصُوا إِلَى مَا كَانُوا يَخْلُصُونَ إِلَيْهِ فِي غَيْرِهِ وَيُغْفَرُ لَهُمْ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَهِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ قَالَ لَا وَلَكِنَّ الْعَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرَهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Pada bulan Ramadhan umatku diberi lima hal (keutamaan) yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya; (1) bau mulut orang yang shaum lebih harum di sisi Allah dari pada minyak kesturi, (2) para malaikat memintakan ampunan untuk mereka hingga berbuka, (3) pada setiap harinya Allah Azza Wa Jalla menghiasi surga mereka, kemudian Allah berfirman, ‘hampir saja para hamba-Ku yang shalih dihindarkan dari kepayahan dan gangguan dan berjalan kepadamu (surga).’ (4) dan di dalam bulan Ramadhan para setan dibelenggu hingga mereka tidak bebas menggoda orang yang shaum sebagaimana mereka bebas mengganggu selainnya, (5) dan akan diampuni dosa-dosa mereka (orang yang shaum) di akhir malam bulan Ramadhan.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah apakah itu pada lailatul qadar?’ Rasulullah saw. bersabda, “Tidak, akan tetapi seorang yang beramal akan ditepati pahalanya jika telah selesai melaksanakan amalannya.” HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Ath-Thahawi, Ibnu Syahin.[1]

Kedudukan Hadis

Meski diriwayatkan oleh beberapa mukharrij (pencatat dan periwayat hadis) namun semua jalur periwayatan hadis itu melalui rawi-rawi yang sama, yaitu Yazid bin Harun, dari Hisyam bin Abu Hisyam, dari Muhammad bin Muhamad bin al-Aswad, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Huraerah.  Dengan demikian, hadis di atas dikategorikan sebagai hadis gharib mutlaq (benar-benar tunggal).

Hadis di atas sangat dhaif dengan sebab kedaifan rawi Hisyam bin Abu Hisyam, nama lengkapnya Hisyam bin Ziyad bin Abu Yazid al-Qurasyi Abu al-Miqdam bin Abu Hisyam al-Madani. Dia didaifkan oleh para ahli hadis, antara lain Imam Ahmad.

وقال النسائي، وغيره: متروك.

An-Nasai dan lainnya berkata, ‘Dia matruk”

وقال ابن حبان: كان يروي الموضوعات عَنِ الثِّقَاتِ.

Ibnu Hiban berkata, “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari para rawi tsiqah (kredibel).” [2]

وقال ابن حجر متروك من السادسة

Ibnu Hajar berkata, “Dia Matruk, thabaqat (generasi) ke-6.” [3]

Penilaian Para ulama Terhadap Hadis di atas

Al-Haitsami berkata:

رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ وَفِيهِ هِشَامُ بْنُ زِيَادٍ أَبُو الْمِقْدَامِ وَهُوَ ضَعِيفٌ.

“Hadisnya diriwayatkan oleh Ahmad al-Bazzar, dan pada sanadnya terdapat rawui Hisyam bin Ziyad Abu al-Miqdam, dan dia dhaif.” [4]

Syekh Al-Albani berkata:

ضَعِيفٌ جِدَّاً

“(Sanadnya) sangat dhaif.[5]

Syekh Syu’aib al-Arnauth berkata:

إسْنَادُهُ ضَعِيفٌ جِدَّاً

“Sanadnya sangat dhaif.” [6]

Kesimpulan

Hadis yang berkaitan dengan “paket 5 keutamaan” di bulan Ramadhan seperti di atas kedudukannya sangat dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah untuk keyakinan adanya keutamaan seperti itu.

Keyakinan tentang keutamaan sebagian perkara di atas sejatinya merujuk kepada hadis lain yang shahih “tanpa paket” alias disebut secara terpisah, sebagai berikut:

Pertama, bau mulut orang yang shaum lebih harum di sisi Allah dari pada minyak kesturi

Keutamaan “bau mulut” disebutkan secara terpisah dalam hadis shahih berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ إِنَّ الصَّوْمَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ إِنَّ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَيْنِ إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ اللَّهَ فَرِحَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Ra, keduanya berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah berfirman, ‘Shaum itu adalah bagi-Ku, dan Akulah yang akan memberinya pahala.’ Bagi seorang yang shaum, maka baginya ada dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan saat ia berbuka dan ketika ia berjumpa dengan Allah. Demi Dzat yang jiwa Muhmmad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang shaum adalah lebih wangi di sisi Allah daripada wangi minyak kesturi’.” HR. Muslim, Ahmad, Abd bin Humaid, Abu Ya’la, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, Ath-Thabrani. [7]

Sementara An-Nasai meriwayat hadis itu melalui Abu Sa’id, tanpa disertai Abu Huraerah.[8] Selain itu, ia juga meriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib dengan sedikit perbedaan redaksi. [9] Kemudian at-Thabrani meriwayatkan pula hadis itu dari Ibnu Mas’ud. [10]

Hadis keutamaan “bau mulut” diriwayatkan pula dengan redaksi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Shaum itu perisai, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali). Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak kesturi, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa.” HR. Al-Bukhari. [11]

Sementara at-Tirmidzi meriwayatkannya dengan redaksi sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَبَّكُمْ يَقُولُ كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ وَإِنْ جَهِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ جَاهِلٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya Rabb kalian berfirman, ‘Setiap kebaikan diberi pahala sebanyak sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan hsum diperuntukkan untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahala shaumnya (tanpa batasan jumlah pahala), shaum merupakan perisai dari api neraka, dan bau mulut orang yang shaum lebih wangi di sisi Allah daripada wangi minyak kesturi dan jika orang jahil mengajak bertengkar kepada salah seorang di antara kalian padahal dia sedang shaum, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang shaum’.” HR. At-Tirmidzi. [12]

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh An-Nasai dari Aisyah dengan perbedaan redaksi. [13]

Kedua, setan dibelenggu di bulan Ramadhan

Adapun keterangan tentang para setan dibelenggu di bulan Ramadhan kita peroleh dari hadis lain yang shahih secara terpisah, sebagai sebagai berikut:

Pertama, dengan kalimat Shufidat as-Syaathiin

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ ، وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadlan’.” HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Malik, al-Baihaqi, Ad-Darimi, Ibnu Hiban, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, dan Ath-Thabrani, dengan sedikit perbedaan redaksi. [14]

Kedua, dengan kalimat Sulsilat as-Syaathiin

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي أَنَسٍ مَوْلَى التَّيْمِيِّينَ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

Dari Ibnu Syihab, ia berkata, “Ibnu Abu Anas mawla at-Taymiyyiin telah mengabarkan kepada saya, bahwa bapaknya menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah Ra. berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu langit dibuka sedangkan pintu-pintu jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Al-Bukhari. [15]

Al-Bukhari meriwayatkan pula dengan redaksi: “Futihat abwaab al-jannah (dibuka pintu-pintu surga).” [16]

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi, Ibnu Hiban, dan Ath-Thabrani.[17] Juga diriwayatkan oleh An-Nasai, Ahmad, dan Abd bin Humaid dengan kalimat “Futihat abwaab ar-Rahmah (dibuka pintu-pintu rahmat).” [18]

Ketiga, dengan kalimat Tughallu fiihi as-Syaathiin

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Ketika datang bulan Ramadhan Rasulullah saw. bersabda, ‘Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, padanya Allah mewajibkan kalian shaum, padanya pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan Ramadhan ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan barangsiapa tidak mendapati malam itu maka ia telah kehilangan pahala seribu bulan.” HR. Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Abd bin Humaid, dan Ishaq bin Rahawaih. [19]

Hadis di atas diriwayatkan pula oleh an-Nasai dengan kalimat:

وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ

“dan setan-setan pembangkang dibelenggu.” [20]

Jadi, keutamaan “bau mulut” tidak perlu dipaketkan dengan “keutamaan bau setan”. 🙂

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

[1] Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, II:292, No. 7904; Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, V:219, No. 3330, Fadha’il al-Awqat:41, No. 38; Ath-Thahawi, Syarh Musykil al-Atsar, VIII:12; Ibnu Syahin, Fadha’il Syahr Ramadhan, hlm. 28, No. 26.

[2] Lihat, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A’lam, IV:533, No. rawi 418.

[3] Lihat, Taqrib at-Tahdzib, I:572, No. rawi 7292.

[4] Lihat, Majma’ az-Zawa’id, III:140.

[5] Lihat, Dha’ief At-Targhib wa at-Tarhib, I:586.

[6] Lihat, Ta’liq ‘ala Musnad Ahmad, II:292.

[7] Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:807, No. 1151; Ahmad, Musnad Ahmad, III:5, No. 11.022; Abd bin Humaid, Musnad Abd bin Humaid, I:288, No. 921; Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, II:286, No. 1005; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, III:198, No. 1900; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:273, No. 8117; Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Awsath, VIII:232, No. 8492.

[8] Lihat, As-Sunan al-Kubra, II:90, No. 2523 dan Sunan an-Nasai al-Mujtaba, IV:162, No. 2213.

[9] Lihat, As-Sunan al-Kubra, II:90, No. 2521.

[10] Lihat, al-Mu’jam al-Kabir, X:98, No. 10.078.

[11] Lihat, Shahih Al-Bukhari, II:670, No. 1795.

[12] Lihat, Sunan At-Tirmidzi, III:136, No. 764.

[13] Lihat, As-Sunan al-Kubra, II:240, No. 3258 dan Sunan an-Nasai al-Mujtaba, IV:167, No. 2234.

[14] Lihat, HR. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:67, No. 682; An-Nasai, Sunan An-Nasai, IV:126, No. 2097; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:526, No. 1642; Malik, al-Muwatha, I:311, No. 684; al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:304, No. 8284; Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, II:42, No. 1775;  Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VIII:222, No. 3435; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, III:188, No. 1882; Al-Hakim, al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:582, No. 1532; Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, XVII:133, No. 326, Al-Mu’jam al-Awsath, II:157, No. 1563.

[15] Lihat, Shahih Al-Bukhari, II:672, No. 1800.

[16] Lihat, Shahih Al-Bukhari, III:1194, No. 3103.

[17] Lihat, Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:303, No. 8283; Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VIII:221, No. 3434; Ath-Thabrani, Musnad asy-Syamiyiin, I:69, No. 82.

[18] Lihat, An-Nasai, Sunan An-Nasai, IV:128, No. 2101; Ahmad, Musnad Ahmad, II:281, No. 7767, dan Abd bin Humaid, Musnad Abd bin Humaid, I:420, No. 1439.

[19] Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, II:425, No. 9493; Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, II:270, No. 8867; Abd bin Humaid, Musnad Abd bin Humaid, I:418, No. 1429; Ishaq bin Rahawaih, Musnad Ishaq bin Rahawaih, I:73, No. 1.

[20] Lihat, as-Sunan al-Kubra, II:66, No. 2416, Sunan an-Nasai, IV:129, No. 2106.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *