IBADAH RAMADHAN TIDAK NYUNNAH (Bagian Ke-3)

Sya’ban Bulan Nabi dan Ramadhan Bulan Allah

Selain keyakinan istimewa dilihat dari klasifikasi hari-hari: Rahmat, pengampunan, dan pembebasan dari api neraka), bulan Ramadhan diyakini istimewa karena terdapat penisbatan bulan itu langsung kepada Allah juga pengukuhan bahwa Ramdhan adalah rajanya berbagai bulan. Penisbatan dan pengukuhan spesial semacam ini tidak diperoleh bulan-bulan lainnya. Keyakinan ini, menurut pengamatan kami, tidak terlepas dari peranan sebuah hadis sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ الله وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرِي : شَعْبَانُ المُطَهِّرُ وَرَمَضَانُ المُكَفِّرُ

Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda, ‘Bulan Ramadhan adalah bulan Allah dan bulan Sya’ban adalah bulanku. Sya’ban pembersih dan Ramadhan penghapus’.” HR. Ibnu Asakir. [1]

Ala’uddin al-Muttaqi al-Hindi menisbatkan hadis ini riwayat Ad-Dailami, dengan redaksi:

شَعْبَانَ شَهْرِي وَ رَمَضَانَ شَهْرُ الله وَ شَعْبَانُ المُطَهِّرُ وَرَمَضَانُ المُكَفِّرُ

“Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan bulan Allah, dan Sya’ban pembersih dan Ramadhan penghapus’.” [2]

Dalam penelusuran Ibnu Hajar redaksi hadis versi Ad-Dailami itu selengkapnya sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : شَعْبَانَ شَهْرِي وَ رَمَضَانَ شَهْرُ الله وَ شَعْبَانُ المُطَهِّرُ وَرَمَضَانُ المُكَفِّرُ

Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda, ‘Bulan Ramadhan adalah bulan Allah dan bulan Sya’ban adalah bulanku. Sya’ban pembersih dan Ramadhan penghapus’.” [3]

Kedudukan Hadis

Hadis di atas diriwayatkan melalui seorang rawi bernama al-Hasan bin Yahya al-Khusyani. Dia telah dikritik oleh para ulama, antara lain:

قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: صَدُوقٌ، سيئ الحِفْظ.

Abu Hatim berkata, “Shaduq, buruk hapalan.”

قال النَّسَائيّ وغيره: لَيْسَ بثقة.

An-Nasai dan lainnya berkata, “Ia tidak tsiqah.”

قال الدّارَقُطْنيّ: متروك.

Ad-Daraquthni berkata, “Ia Matruk.”

وقال ابن مَعِين: لَيْسَ بشيء

Ibnu Ma’in berkata, “Ia sama sekali tidak bernilai.” [4]

Penilaian Para ulama Terhadap Hadis di atas:

Syekh Abdul Ra’uf al-Munawi berkata:

وفيه الحسن بن يحيى الخشني قال الذهبي : تركه الدارقطني

“Pada sanadnya terdapat rawi al-Hasan bin Yahya al-Khusyani. Adz-Dzahabi berkata, ‘Dia dinilai matruk oleh ad-Daraquthni.” [5]

As-Suyuti berkata:

ابن عساكر عن عائشة وسنده ضعيف

“Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Aisyah, dan sanadnya dha’if.” [6]

Kata Syekh al-Albani, “(Hadis itu) mawdhu’ (palsu).” [7]

Kesimpulan:

Hadis tentang keutamaan bulan Ramadhan dilihat dari penisbatan spesial langsung kepada Allah kedudukannya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah untuk keyakinan adanya keutamaan seperti itu.

Bulan Ramadhan “Raja” Segala Bulan

Sementara pengukuhan spesial Ramadhan sebagai raja segala tidak terlepas dari peranan sebuah hadis sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَيِّدُ الشُّهُورِ شَهْرُ رَمَضَانَ وَأَعْظَمُهَا حُرْمَةً ذُو الْحِجَّةِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriyi, ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda, ‘Pemimpin bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kehormatannya adalah Dzulhijjah’.” HR. Al-Baihaqi, Al-Bazzar, Ibnu Asakir. [8]

Al-Baihaqi meriwayatkan pula dengan redaksi:

سَيِّدُ الشُّهُورِ شَهْرُ رَمَضَانَ

“Pemimpin bulan adalah bulan Ramadhan.” [9]

Kedudukan Hadis

Meski diriwayatkan oleh beberapa mukharrij (pencatat dan periwayat hadis) namun semua jalur periwayatan hadis itu melalui rawi-rawi yang sama, yaitu Khalid bin Yazid, dari Yazid bin Abdul Malik, dari Shofwan bin Sulaim, dari Atha bin Yasar, dari Abu Sa’id al-Khudriyi. Dengan demikian, hadis di atas dikategorikan sebagai hadis gharib mutlaq (benar-benar tunggal).

Hadis di atas dhaif dengan sebab kedaifan rawi Yazid bin Abdul Malik. Nama lengkapnya Yazid bin Abdul Malik bin al-Mughirah, Abu Nawfal an-Nawfaliy. Dia didaifkan oleh para ahli hadis, antara lain Ibnu Ma’in berkata, “Dha’if al-Hadits.” Ahmad berkata, “Munkar al-Hadits.” Abu Hatim berkata, “Dha’if al-Hadits,  Munkar al-Hadits jiddan.” Abu Zur’ah berkata, “Munkar al-Hadits.” Al-Bukhari berkata, “Ahaditsuhu syibh laa sya’ia.” An-Nasai berkata, “Matruk al-Hadits.” [10]

Penilaian Para ulama Terhadap Hadis di atas

Al-Baihaqi berkata:

فِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ

“Padanya terdapat kedhaifan.” [11]

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata:

وفي إسناده مقال

“Pada sanadnya terdapat perbincangan.” [12]

Syekh al-Albani berkata:

وهذا إسناد ضعيف يزيد بن عبد الملك – وهو النوفلي –  قال الحافظ في التقريب : “ضعيف”

“Dan ini sanad yang dhaif, Yazid bin Abdul Malik, dia An-Nawfali, Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Taqrib at-Tahdzib, ‘Dia dhaif’.” [13]

Kesimpulan

Hadis yang menunjukkan bahwa Ramadhan sebagai “raja” bulan kedudukannya dhaif. Karena itu, tidak dapat dijadikan hujjah untuk keyakinan akan hal itu.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

[1] Lihat, Mukhtashar Tarikh Dimasyqa, VI:84.

[2] Lihat, Kanz al-‘Umal fii Sunan al-Aqwal wa al-Af’al, XII:323, No. 35.216.

[3] Lihat, Al-Ghara’ib al-Multaqathah min Musnad al-Firdaws Mimmaa Laisa fii al-Kutub al-masyhurah, hlm. 1809, No. 1892.

[4] Lihat, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A’lam, IV:1091, No. rawi 68.

[5] Lihat, Faidh al-Qadier, XIV:405.

[6] Lihat, Jami’ al-Ahadits al-Kabir, I:13.580.

[7] Lihat, Shahih wa Dha’if al-Jami’ ash-Shagir, III:281.

[8] Lihat, HR. Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, V:310, No. hadis 3479; Al-Bazzar, Kasyf al-Astar ‘An Zawa’id al-Bazzar ‘ala al-Kutub as-Sittah, I:369; Ibnu Asakir, Mukhtashar Tarikh Ibnu Asakir, XI:357.

[9] Lihat, Syu’ab al-Iman, V:242, No. hadis 33640.

[10] Lihat, Al-Jarh wa at-Ta’dil, IX:279; At-Tarikh al-Kabir, VIII:348; Mizan al-I’tidal, VII:245; Tahdzib al-Kamal, XXXII:196-200.

[11] Lihat, Syu’ab al-Iman, V:242

[12] Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, VI:122.

[13] Lihat, Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Mawdhu’ah, VIII:205.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *