Preloader logo

BONGKAR KEPALSUAN BUKU PUTIH MAZHAB SYIAH (Bagian Ke-4)

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Wasshalatu Wassalamu ‘ala Assyrafil Anbiya wal Mursalin. Wa ‘ala Alihi Wa Ashabihi Ajma’in.

Sejak Revolusi Iran dicanangkan, tahun 1979, maka semenjak itu pula euforia revolusi Persi menyebarkan propaganda Syiah ke mana-mana. Khususnya di negara-negara Arab sebagai tetangga – dan juga negara Islam lainnya. Apalagi Indonesia, sebagai negara terbesar mayoritas Muslim di dunia, menjadi incaran pertama dan utama syiahisasi di sini dengan mengusung retorika revolusi dan anti Amerika, isu nuklir, serta pro Palestina yang tidak pernah kongkret.

Padahal, siapapun tahu bahwa Revolusi Iran (1979) saat itu disiarkan media internasional sebagai revolusi yang telah memakan anak kandungnya sendiri. PM Sadeq Qotbzadeh (PM pertama pasca revolusi) dihukum gantung oleh Khomeini. Presiden pertama, Bani Shadr divonis mati, andai tak lari mencari suaka ke Prancis (sampai kini) pasti ia mengalami nasib yang sama dengan Qotbzadeh. Ayatullah Bahesti dibom bersama konon puluhan anggotanya di parlemen, dan Ayatullah Syariat Madari dikucilkan dari revolusi karena bersaing dengan Ayatullah Khomeini.

Revolusi Iran sampai kini tercatat belum memberikan perubahan yang berarti, sampai terpilihnya Presiden Rouhani yang dianggap moderat. Semasa pemerintahan Ahmadinejad yang dekat dengan Rusia (padahal Khomeini saat revolusi menyebut Rusia sebagai syaitan bozor=setan besar) gagal membangun hubungan baik dengan negara-negara Arab sebagai tetangga, membangun ekonomi dalam negeri hingga riyal Iran anjlok, banyak migrasi Iran (mencari penghidupan dan suaka) ke Australia bahkan terdampar di Indonesia, juga ada sindikat perdagangan narkoba. Pasca perang Iran-Irak, mencuat kasus skandal Iran-Contra (perdagangan senjata yang melibatkan AS dan Israel). Sementara euforia revolusi dan anti Barat terus dijadikan sebagai kekuatan diplomasi propaganda yang intensif di Dunia Islam.

Orang lupa bahwa sesungguhnya Revolusi Iran adalah milik Iran sendiri, karena tidaklah mungkin dan tak akan pernah – minoritas Syiah Iran dapat mewakili mayoritas Muslim di Dunia yang menganut akidah dan mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah. Sementara perbedaan aqidah, manhaj, mazhab dan ideologi politik tidak saja berbeda prinsip dengan Sunni, melainkan berlawanan dengan prinsip keyakinan mayoritas.

Karena sebab-sebab itulah, maka pendekatan yang pernah dilakukan, sebut saja kesepakatan Yordan dan Qatar tidak akan pernah menghasilkan solusi yang kongkret. Karena memang kedua pihak tak mungkin dapat dipertemukan, tidak ada contohnya antara Sunni dan Syiah ini bisa bersatu. Jika umat Islam internal Ahlussunnah wal Jamaah, berbeda mazhab dan aliran bisa shalat berjama’ah (sebagai simbol persatuan/ukhuwwah) maupun bersepakat untuk kepentingan bersama, maka dengan Syiah Rafidhah hal itu mustahil bisa terwujud. Niat baik ulama Sunni untuk melakukan taqrib (hidup rukun dengan masing-masing aqidah) selalu gagal karena terhalang tradisi keyakinan mereka yang selalu menistakan pemuka sahabat dan isteri Nabi Muhammad saw.

Dengan semangat intervensi keyakinan inilah maka semangat dan kebiasaan Syiah Rafidhah untuk mendekonstruksi hadis-hadis Sunni, melecehkan Bukhari-Muslim, menggugat sejarah Ahlussunnah wal Jama’ah, sejak itu membuat cemas para ulama (baik mutaqaddimin maupun mutaakhirin) dan akhirnya jadi sumber perpecahan umat dan permusuhan abadi yang laten.

Hal tersebut dapat dibuktikan dari buku-buku propaganda Syiah di Indonesia sendiri selama ini. Katakanlah dimulai dari buku berjudul “Dialog Sunnah-Syiah”, terjemahan dari “Al-Muraja’at” karangan Abdul Husain Syarafuddin Al Musawy. Buku propaganda Syiah yang fiktif ini sempat mempengaruhi banyak orang awam, dan akhirnya sempat dicetak berulang-ulang memberi kesan seakan buku ini sudah diterima kebenarannnya. Padahal ada bantahannya, “Al-Bayyinat” yang ditulis oleh Az-Zaabi, sengaja tidak diterbitkan secara seimbang dan adil oleh penerbitnya.

Ada pula buku berjudul Saqifah, yang mengesankan seakan pemilihan Abu Bakar Asshiddiq sebagai khalifah (penerus ajaran, bukan penerus kenabian) itu sebagai suatu kesapakatan yang salah, dengan mengabaikan kompromi Ali bin Abi Thalib sendiri dengan beliau. Juga terbit meluas buku propaganda lain “Sudah Kutemukan Kebenaran” yang menggambarkan klaim kebenaran penulis Syiah. Belum lagi buku-buku kontroversial dan polemis lainnnya yang begitu banyak diterbitkan oleh penerbit-penerbit Syiah – yang sekaligus mengambil keuntungan besar dari pembaca Sunni. Bahkan beredarnya buku-buku yang menghujat ini, masih sempat-sempatnya seolah tanpa beban mengulurkan ajakan persatuan dan ukhuwwah. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bagaimana bisa bersatu jika disebut nama pemuka sahabat Nabi kita mengucap radhiallahu Anhum, sedangkan mereka menyebut Laknatullah Alayhim?

Untuk melangggengkan pengaruh dan propaganda kemudian diwujudkan dalam bentuk mobilisasi pelajar kita ke Qum (Iran) yang begitu tamat langsung melakukan syiahisasi. Sejumlah yayasan didirikan di mana-mana, pengajian Syiah digelar dengan ceramah-ceramah “panas” yang berkisar meremehkan bahkan menistakan pembesar sahabat dan isteri Nabi. Abu Hurairah dilecehkan dengan mengabaikan sumber primer Sunni, dan sengaja secara selektif mengutip hadis-hadis musykil Sunnah tanpa dijelaskan latar-belakang, riwayah dan dirayahnya secara holistis.

Akar permasalahannya adalah egoisme keberagamaan Syiah yang disertai militansi ideologi yang tinggi, dengan jargon “Kullu Ardhin Karbala, Kullu ‘Amin ‘Asyuro” (Setiap Bumi Karbala dan Setiap Tahun Asyuro) yang jelas mengisyaratkan ambisi besar untuk meluaskan ekspansi ideologi dan Syiahisasi di kalangan Sunni akhir-akhir ini yang sudah semestinya diantisipasi. Salah satu antisipasi berupa buku koreksi total atas ‘Buku Putih’ yang mereka terbitkan. Kini sudah dibantah oleh penulis buku di tangan Anda ini. Saudara Amin Muchtar, penulis buku berjudul Hitam Dibalik Putih Syiah: Bantahan Terhadap Buku ‘Putih’ Mazhab Syiah ini dapat memperjelas hal-hal yang syubhat mengenai Syiah Rafidhah yang berkembang secara sistemik di Indonesia belakangan ini. Semoga buku ini banyak memberikan manfaat, Wallahu a’lam, Wallahul Muwaffiq ila Aqwam at-Thariq.

 

By Prof. Dr. Mohammad Baharun (Guru Besar Sosiologi Agama, Ketua Komisi Hukum MUI Pusat), dalam Kata Pengantar Buku Hitam dibalik Putih, Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syiah.

 

 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#main-content .dfd-content-wrap {margin: 0px;} #main-content .dfd-content-wrap > article {padding: 0px;}@media only screen and (min-width: 1101px) {#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars {padding: 0 0px;}#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars > #main-content > .dfd-content-wrap:first-child,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars > #main-content > .dfd-content-wrap:first-child {border-top: 0px solid transparent; border-bottom: 0px solid transparent;}#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width #right-sidebar,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width #right-sidebar {padding-top: 0px;padding-bottom: 0px;}#layout.dfd-portfolio-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars .sort-panel,#layout.dfd-gallery-loop > .row.full-width > .blog-section.no-sidebars .sort-panel {margin-left: -0px;margin-right: -0px;}}#layout .dfd-content-wrap.layout-side-image,#layout > .row.full-width .dfd-content-wrap.layout-side-image {margin-left: 0;margin-right: 0;}