AL-QURAN & TANTANGAN ZAMAN (Bagian Ke-6)

Quran Karim Photos

I. I’jaz lughawi (aspek kebahasaan)

Kemukjizatan Alquran dari segi Bahasa, selain dilihat dari aspek Keindahan susunan ayat-ayatnya, gaya bahasa retorisnya (uslub) —seperti yang telah diuraikan sebelumnya—juga dari aspek keseimbangan antara kata-kata yang digunakan . Aspek ini secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut:

C. Keseimbangan antara kata-kata yang digunakan

Seperti yang diketahui, sering kali Alquran “turun” secara spontan, guna menjawab pertanyaan atau mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaan orang yahudi tentang hakikat ruh. Pertanyaan ini dijawab secara langsung, dan tentunya spontanitas tersebut tidak memberi peluang untuk berpikir dan menyusun jawaban dengan redaksi yang indah apalagi teliti. Namun demikian, setelah Alquran rampung diturunkan dan dilakukan analisis serta perhitungan tentang redaksi-redaksinya, ditemukanlah hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.

Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-I’jaz Al-Adabiy li Al-Qur’an Al-karim, mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat sebagai berikut.

(a) Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Beberapa contoh, di antaranya:

– Al-Hayah (hidup) dan Al-Mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali;
– Al-naf’ (manfaat) dan Al-Madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali;
– Al-har (panas) dan Al bard (dingin), masing-masing 4 kali;
– Al-shailhat (kebajikan) dan Al-sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali:
– Al-thuma ninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 kali;
– Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali;
– Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali;
– Kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali;
– Al-shayf (musim panas) dan al-syita’ (musim dingin), masing-masing 1 kali.

(b) Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya atau makna yang dikandungnya.

– Al-harts dan Al-zira’ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
– Al-‘ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali;
– Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali;
– Al-Qur’an, al-wahyu dan Al-Islam (Alquran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali;
– Al-jahr dan al-‘alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.

(c) Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.

– Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali;
– Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali;
– Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/pembakaran), masing-masing 32 kali;
– Al-Fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.

(d) Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.

– Al-israf (pemborosan) dengan al-sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali;
– Al-maw’izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali;
– Al-asra (tawanan) dengan Al-harb (perang), masing-masing 6 kali;
– Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali;

(e) Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.

(1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk yang plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata yang berarti “bulan” (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

(2) Alquran menjelaskan bahwa jumlah langit ada “tujuh”. Penjelasan ini diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra’ 44, Al-Mu’minun 86, Fushilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15, selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.

(3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi) atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pembawa peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

Demikianlah sebagian contoh tentang keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakan Alquran, yang dapat kami tampilkan secara sangat singkat dari hasil penelitian Abdurrazaq Nawfal, yang kami rangkum dari kitab Al-I’jaz Al-Adabiy li Al-Qur’an Al-karim.
By Amin Muchtar, sigabah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *