AKU MUSLIM SEBELUM SEGALA SESUATU

Hujan kecil nan mungil menempias di genting-genting dekil. Kesiap angin saling beradu mencipta percikan kecil yang mendentum merdu. Renyai senja menelikung batas imajinasi. Langit tampak renta. Namun penuh dengan cerita. Perlahan, mentari mulai redup mengatur jeda. Burung-burung mengatur ritme. Menemani hari yang mulai temaram. Di bawah, riak air kolam beradu manja dengan rintik gerimis. Indah, karena semua tak bercerita sesuai kehendaknya masing-masing.

Andai matahari di tangan kananku, takkan mampu mengubah yakinku, terpatri dan takkan terbeli dalam lubuk hati. Bilakah rembulan di tangan kiriku takkan sanggup mengganti imanku…

Alunan nasyid lawas membersamai senja dengan syahdunya. Liriknya menggetarkan hati, meluruhkan segala ego diri. Lirik yang mengingatkanku pada sebuah hadits yang mengungkap keteguhan hati Sang penyempurna Akhlak, Rasulullah Saw.

Antum kenapa?” Tanya Ustad Khalid.

“Oh tidak ustad, Ana hanya sedang merasa bersyukur,” Jawabku tenang.

Sesungguhnya ada hal lain yang membuatku termenung di balik jendela, namun aku masih malu untuk mencurahkannya pada Ustad.

**

Damainya hujan sore kemarin masih terasa hingga pagi ini. Ada nikmat yang dirindu, ada kenangan yang membatu. Hampir tak ada jeda pikiranku dihantui rasa sesal. Tanpa berhenti, masa lalu itu terus hadir seiring turunnya hujan sore hari.

Antum sudah setor hapalan?” Tanya Fauzan yang tampak bergegas dengan quran mungilnya yang khas.

Tafadhal, InsyaAllah sebentar lagi Ana menyusul,”

“Ya sudah, Ana duluan…”

Aku kira Fauzan orang yang tepat untuk mendengarkan kegelisahanku selama beberapa hari ini.

“Eh bentar Zan,” Panggilku meraih pundak pria gempal itu.

“Ada Apa, Man?”

“Sehabis setor hapalan, Ana minta waktu buat ngobrol ya,”

Fauzan mengernyitkan kening.

“Iya, Ana minta waktu buat diskusi. Gak lama, paling lama Cuma setengah jam. Bisa?” Pintaku.

Monggo..Akhi Salman,” Jawab Fauzan tersenyum.

Dua jam kemudian.

Fauzan menghampiriku di koridor masjid.

“Sebenarnya Antum mau ngobrolin apa?”

Aduh Afwan, Zan. Kayaknya nanti saja.”

Sesungguhnya aku tak benar-benar siap untuk menceritakannya pada siapapun. Termasuk pada sahabat karibku.

Antum kelihatan aneh, Man. Ada masalah apa?”

Aku tampak gelagapan.

“Curahkan saja, Man. InsyaAllah kalau mampu, Ana akan bantu problem Antum.”

Sudah hampir setahun aku tinggal di pondok pesantren, tapi baru kali ini memendam beban sendirian. Sungguh, aku malu dengan perbuatanku. Dan aku tidak ingin yang lain mengetahui hal itu.

“Tapi, Ana malu, Zan,” Kataku menundukan kepala.

Antum kelihatan lesu, Man.”

“Baiklah, nanti sore, kalau hujan, Ana mau ceritakan semuanya”

**

Air berwarna coklat itu menggulung cepat. Menyapu apapun, merusak segalanya. Tampak puluhan keluarga pergi untuk mengungsi. Dan aku, hanya bisa membisu. Merasakan sesak yang teramat. Beban yang membuatku semakin gamang.

Sore itu segera aku datangi Fauzan di kamarnya.

Akhi,” Suaraku terdengar berat.

Tanpa berkata apapun, tubuhku gemetar memeluk sahabat karibku.

“Sebenarnya Antum kenapa?” Tanya Fauzan pelan.

“Sore itu, Ana telah berbuat lalim”

“lalim?”

Ana terpaksa membuang sampah mie instan ke belakang asrama. Afwan, Akhi.

By Hilman Indrawan, Pelopor Komunitas Madrasah Pena

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *