AKSI DAMAI DINODAI OKNUM APARAT

Jakarta—(sigabah.com). AKSI BELA ISLAM II  pada Jumat 4 November 2016 dihadiri oleh jutaan umat Islam dari berbagai pelosok di tanah air.  Aksi ini dilakukan dalam rangka menuntut keadilan demi tegaknya kemuliaan agama dan supremasi hukum Negara.

Sejak awal, AKSI DAMAI KONSTITUSIONAL itu telah diprovokasi dan digembosi oleh sejumlah pihak yang tengah panik dan bingung—karena “pembersihan noda hitam” Sang Ahok  dalam beragam cara yang selama ini dilakukan mengalami kegagalan—dengan melempar berbagai isu yang menyesatkan, mulai dari isu bahwa aksi ini ditunggangi dan dibiayai kepentingan politik tertentu, berlandasan sentimen SARA dan bertujuan memecah belah persatuan bangsa, hingga diyakini akan berlangsung ricuh.

Alhamdulillah hingga proses negoisasi selepas maghrib waktu Jakarta masih berlangsung antara GERAKAN NASIONAL PENGAWAL FATWA MUI (GNPF MUI), yang diwakili oleh Ustadz Bachtiar Nasir dan kawan-kawan dengan pemerintah RI yang diwakili Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK)—karena tawaran dari pihak pemerintah RI yang akan memproses Ahok dalam waktu dua minggu belum bisa diterima pihak GNPF—semua isu menyesatkan ini tidak mendegradasi semangat peserta aksi yang memang hendak mendukung negara menindak tegas dugaan penistaan agama itu. Bahkan semua peserta aksi dalam jumlah jutaan itu cukup santun dan damai dalam melakukan aksinya.

fot-1

Namun tak lama kemudian, kedamaian itu berubah menjadi tragedy memilukan. Pasalnya, sekitar pukul 19.30 WIB tiba-tiba terdengar suara tembakan menggelegar di atas langit Ibu Kota, tepat di Depan Istana, Mobil Barracuda itu menyemburkan cahaya yang bercabang ke atas langit dan kembali bercabang menukik mengkilat keemasan. “Blush..” asap menyebar melayang-layang menyergap hidung dan mata.

“Dor..” “dug..” Dor..” susulan tembakkan terdengar super keras berdebam. Takbir menggema di segala penjuru di hamparan Jalan Merdeka Barat selemparan batu dari Istana Negara kita. Polisi memegang pentungan dan perisai mulai merangsek maju.

Lampu–lampu mobil baja itu berkelap-kelip. Gemuruh riuh di sana-sini. “Brrrmmmm…” mobil Water Cannon itu mulai menderung menyemburkan ribuan kubik air tak henti-hentinya.

Berdasarkan laporan pandangan mata di lapangan, wartawan JITU, Rizki LM Pizzaro dan Daus serta wartawan Sigabah.com, aksi kericuhan diperkirakan dipicu banyak hal. Di antaranya bermula karena ketidak-pastian Presiden Joko Widodo menemui massa umat Islam yang menuntut penegakkan hukum atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Massa mulai panik ketika dimulai tembakan gas air mata di tengah massa. “Jangan tembak kami, jangan tembak kami,” kata massa dengan tenang. Namun, suara-suara minor itu terkalahkan dengan suara menggelegar yang memenuhi awan. “dor..dor..dor..” Berpuluh-puluh gelegar menggantung di atas langit Jakarta.

fot-2

Korban gas air mata banyak terjadi di pihak massa Aksi Bela Al-Quran. Air mata menggeliat tak terasa dari sudut mata. “Ya Rabb…itu kiai dan habib kami ditembaki,” ujar seorang peserta massa melihat mengapa polisi menembaki kea rah mobil yang ditempati para tokoh Islam, kiai dan habaib. Termauk diantaranya ada KH Bachtiar Nasir, Arifin Ilham, Habib Rizieq Shihab dan beberapa lainnya.

fot-3

Di atas mimbar, Habib Rizieq masih tak bergeming dan tetap menenangkan massa. “Apa salah para ulama kami ya Allah,” lirih massa lainnya. Sementara massa terus menutup hidung dan mengucek mata. Hawa yang memekakkan mata membuat air mata terus berderai. Sebagian lari mencari tempat aman.

Para jurnalis terhenyak, menutup telinga, suara tembakkan yang berseru tak berhenti sekejappun. Semua menepi, mulai mengoleskan secuil odol di kantung-kantung mata dan apasaja yang bisa menjadi pengaman tubuh. Sebagian membasahi wajahnya dengan air. Gas air mata sudah mengambang di pelataran Medan Merdeka. “Allahu Akbar… Allahu Akbar, “teriak para wartawan yang ketakutan.

Sementara itu, di atas pick up, para ulama terus berseru takbir, beristigfar bahkan sempat menyeru melafalkan Kalimat Tauhid“Lailahailallah..lailahailallha..lailahailallah..” ujar suara Habib Rizieq. Sementara tembakan gas air mata tak berhenti dan beberapa peserta aksi ada yang tumbang.

Dampak tembakan gas air mata dialami pula oleh 40 mujahid dari Tim Sigabah Jawara, yang sejak awal mendapat amanat bertugas mengawal dan menyelamatkan para ulama apabila terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki.

Nampaknya, seruan jangan tembak menguap dan sirna di udara malam yang semakin memanas. Satu per satu peserta aksi tumbang, mual, hingga batuk-batuk dan muntah. Nyala keemasan menyala di atas langit, membentuk kabut merah.

fot-4

Gemuruh semakin hebat. Massa hanya bisa pasrah ditembaki hingga para kiai dan tokoh-tokoh Islam yang  berdiri di mobil komando Aksi Bela Islam. Kalimat takbir, tahlil, tahmid masih terus terlafal. Habib Rizieq bahkan masih berkali-kali menenangkan massa sambal berlafal kalimat tauhid lirih.

Tiba-tiba suara ketukan mikrophone  menggelegar. “Saya Panglima TNI, semua dengarkan saya, komando ada di saya,” ujar Jenderal TNI Gatot berusaha menenangkan suasana di tengah tembakkan yang terus terjadi. “Ini ada Kapolri ingin bicara, coba dengarkan,” kata Panglima TNI menyerahkan mikrophone ke Kapolri.

“Saya Tito Karnavian, Kapolri kalian, kepada setiap anggota kepolisian tolong hentikan tembakan,” kata Jenderal Tito yang datang memerintahkan kepada anggotanya untuk tak menembak. Bukannya mereda, suara tembakan justru semakin banyak.

“Tolong dengarkan saya sebagai Kapolri, hentikan tembakkan sekarang juga,” kata Tito kembali mengulang.

Namun, imbauannya tak digubris, suara tembakkan masih terus menggelegar. Polisi masih terus menembaki demonstran.

fot5

Jam 20.30 WIB suasana makin tak terkendali, massa sebagian mundur dan banyak terluka, terutama kena pengaruh gas air mata.

Pukul 21.00 malam massa umat Islam  menarik diri beristirahat di Masjid Istiqlal, sebagian terus melakukan menuju Kantor DPR-MPR Jalan Gatot Subroto–Jakarta untuk menginap dan beristirahat. Sementara itu, suasana sekitar Istana Negara mulai sepi.

Pukul 00.00 malam, Presiden Joko Widodo memberi pernyataan langsung di depan TV dan mengucapkan terima kasih pada pada kiai, habaib dan ustad atas aksi damai yang berjalan tertib juga aparat yang mampu mengawal aksi damai. Namun ia menyayangkan ada aksi di luar massa Aksi Bela Islam usai shalat Isya’ yang menurutnya ditunggangi aktor politik.

Untuk mengetahui peristiwa penodaan Aksi Damai oleh pihak aparat itu silahkan nonton video lengkapnya di sini

Kesaksian Habib Mahdi dan Kedustaan Media Sekuler

Habib Mahdi yang saat itu berada di lokasi kejadian, tak jauh dari Tim Sigabah Jawara,  mengklarifikasi tentang terjadinya penodaan Aksi Damai oleh aparat di depan Istana merdeka selepas Shalat Isya itu. Selain itu, Habib juga mengatakan jika ada media yang mengatakan kami yang memulai melakukan perlawanan itu adalah suatu fitnah yang sangat Dahsyat.

“Hari ini sungguh luar biasa apa yang dilakukan oleh aparat kepolisian, kami sedang negosiasi, ustadz Arifin Ilham masih dalam posisi dalam istana untuk bernegosiasi kepada pihak istana, namun, ketika habis shalat isya kami juga tidak tahu sebab musababnya  apa, masyarakat sedang duduk  rapih, sedang hikmah mendengarkan adzan lalu Habib Rizieq ingin menyampaikan sesuatu, maklumat, agar senantiasa kami tidak melakukan anarkisme, kedatangan kami ke istana tidak membawa apapun tapi, apa yang terjadi, peluru pertama ditembakkan ke arah kami di atas mobil yang akhirnya mata saya, kulit saya juga kena, ini sangat luar biasa, sangat keji!, kalau seandainya ada kabar berita yang mengatakan kami yang terlebih dahulu melakukan perlawanan, itu adalah satu fitnah yang sangat dahsyat daripada media, daripada berita-berita yang pro dengan kezaliman, mudah-mudahan Allah Swt. membuka hati mereka semua.

Sahabatku semua ketahuilah, kalau seandainya ini terjadi pada rumah tangga kalian, dihina, dihujat saya yakin kalian juga akan emosi, bagaimana dengan akidah kitab Al-Quran yang dihujat? Agama manapun tidak akan bisa terima, dan posisi hari ini kami tetap akan melakukan yang terbaik untuk bangsa kami, untuk negara kami. Jadi untuk pihak-pihak media, hendaklah selalu objektif di dalam memberikan pemberitaan. Peluru pertama mengenai mata saya, meledak di muka saya, ini bukan sesuatu yang yang lucu hingga mereka mengeluarkan berita-berita terbalik.

Untuk itu saya berharap kita semua gotong royong, satukan langkah, satukan kekuatan, ini pemerintah kondisinya sudah tidak adil, berada di dalam kezaliman yang sangat luar biasa. Kami manusia yang kalau seandainya ingin melakukan anarkisme, kita mampu dari awal tapi kami tidak melakukan. Jumlah kami sangat luar biasa lebih daripada dua juta pendemo yang hari ini turun ke jalan melebihi daripada pendemo tahun 98.” Pungkas Habib.

Penuturan Habib selengkapnya dapat ditonton di sini

By Tim Sigabah Waspada

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *