WUKUF BUKAN MUQADDAMAH WUJUD (Bagian ke-2)

Kedua, Struktur Kalimat (Shaum Arafah) dan Latar belakang penamaannya

 Penetapan hukum di atas, dapat kita uji pula melalui analisa struktur kalimat Shaum ‘Arafah, juga latar belakang mengapa shaum ini dinamakan Arafah. Berkenaan dengan struktur kalimat, mari kita baca kembali sabda Nabi saw. tentang shaum itu berikut ini:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Shaum hari Arafah.”

Jika kita telusuri dalam al-Kutub as-Sittah, kalimat Shaum Arafah digunakan Nabi saw. dalam tiga bentuk: Pertama, Shaum Yawm ‘Arafah (صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ). [1] Kedua, Shiyaam Yawm ‘Arafah (صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ). [2] Ketiga, Shaum ‘Arafah (صَوْمُ عَرَفَةَ). [3] Bentuk pertama ditemukan sekitar 15 kali. Bentuk kedua 5 kali. Bentuk ketiga 2 kali.

Struktur kalimat: Yaum ‘Arafah disebut idhafah bayaniyyah, yaitu penyandaran satu kata kepada kata yang lain untuk menjelaskan. Penjelasan di sini berkenaan dengan waktu (bayaan zamani), bukan berkenaan dengan tempat (bayaan makaani), tidak pula berkenaan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah (bayaan fi’li). Sehubungan dengan itu, Ibnu Abidin menjelaskan:

قَوْلُهُ يَوْمَ عَرَفَةَ الْإِضَافَةُ بَيَانِيَّةٌ لِأَنَّ عَرَفَةَ إِسْمُ اليَوْمِ

Perkataannya: ‘Yawm ‘Arafah.’ Penyandaran kata itu untuk menjelaskan karena Arafah adalah nama hari. [4]

Pernyataan Ibnu Abidin dikukuhkan oleh Mohammed bin Faramarz (w.885 H). Dia mengatakan:

قَوْلُهُ يَوْمَ عَرَفَةَ أَقُولُ عَرَفَةُ اسْمُ الْيَوْمِ فَالْإِضَافَةُ بَيَانِيَّةٌ

Perkataannya: Yawm ‘Arafah, saya berpendapat adalah Arafah adalah nama hari, maka penyandaran kata itu untuk menjelaskan. [5]

Merujuk kepada latar belakang penamaan Arafah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, juga penjelasan ulama di atas, maka struktur kalimat Shaum Yaum Arafah menunjukkan makna: “Shaum pada hari ke-9 bulan Dzulhijjah yang disebut hari Arafah”. Dengan demikian, penyandaran kata shaum pada kalimat Yaum ‘Arafah untuk menunjukkan bahwa Yaum Arafah (hari ke-9) itu sebagai muqaddamah wujud, yaitu syarat sahnya shaum tersebut. Dengan perkataan lain, shaum itu terikat oleh miqat zamani (ketentuan waktu). Apabila struktur kalimat Shaum Yaum Arafah akan dipahami bahwa “shaum itu waktunya harus bersesuaian dengan waktu wukuf di ‘Arafah”, maka harus disertakan qarinah (keterangan pendukung), karena cara pemahaman seperti ini khilaaful qiyaas (menyalahi kaidah), dalam hal ini kaidah tentang idhaafah bayaan zamani.

Selain itu, cara pemahaman tersebut juga menyalahi dalil-dalil tentang shaum itu. Karena dalam berbagai hadis digunakan pula “sebutan hari/tanggal” tanpa menyebut Arafah, sebagai berikut:

Pertama, Tis’a Dzilhijjah (9 Dzulhijjah)

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

Dari sebagian istri Nabi saw., ia berkata, “Rasulullah saw. shaum tis’a Dzilhijjah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan. HR. Abu Dawud, Ahmad, dan al-Baihaqi. [6]

Dalam hadis ini disebutkan secara jelas dengan kalimat Tis’a Dzilhijjah, berarti tanggal 9 Dzulhijjah. Hadis ini memberikan batasan miqat zamani (ketentuan waktu pelaksanaan) shaum ini, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Kedua, Shaum al-‘Asyru

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ : أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالعَشْرَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلغَدَاةِ

Dari Hafshah, ia berkata, ”Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw.: shaum Asyura, shaum Arafah, shaum tiga hari setiap bulan dan dua rakaat qabla subuh.”HR. Ahmad, an-Nasai, Ibnu Hiban, dan Ath-Thabrani. [7]

Kata al-‘Asyru secara umum menunjukkan jumlah 10 hari. Berdasarkan makna umum itu, maka dimungkinkan adanya pemahaman dari hadis tersebut bahwa Rasul tidak pernah meninggalkan shaum 10 hari bulan Dzulhijjah. Namun pemahaman itu jelas bertentangan dengan ketetapan Nabi sendiri yang melarang shaum pada hari Iedul Adha (10 Dzulhijjah). Ibnu Umar menyatakan:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ النَّحْرِ

“Rasulullah saw. Melarang shaum pada hari nahar (10 Dzulhijjah).” HR. An-Nasai. [8]

Juga penjelasan Aisyah:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا فِى الْعَشْرِ قَطُّ

“Aku sama sekali tidak pernah melihat Nabi shaum pada 10 (Dzulhijjah).” HR. Muslim. [9]

Jadi, kata al-Asyru pada hadis di atas maksudnya menunjuk tanggal 9 Dzulhijjah (Tis’a Dzilhijjah). Penyebutan al-Asyr untuk menunjuk tanggal 9 Dzulhijjah merupakan kiasan (majaaz). [10]

Adapun penamaan shaum tanggal 9 Dzulhijjah dengan al-‘Asyru, karena hari pelaksanaan shaum tersebut termasuk di antara 10 hari pertama bulan Dzulhijjah (Ayyaam al-‘Asyr) yang agung sebagaimana dinyatakan Rasul dalam hadis sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِي هَذِهِ قَالُوا ، وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ ، وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu Abbas, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, Tidak ada amal pada hari-hari sepuluh yang lebih utama daripada hari-hari ini (10 hari awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, ‘(apakah) jihad fi Sabilillah juga tidak termasuk? Rasul menjawab, ‘Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang berkorban dengan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak mengharapkan apapun dari hal itu.” HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah, Abdurrazaq, Abu Dawud Ath-Thayalisi, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hiban, Ath-Thabrani, dengan perbedaan redaksi. Redaksi di atas versi al-Bukhari. [11]

Selain itu, penamaan shaum 9 Dzulhijjah dengan al-‘Asyr hendak menunjukkan bahwa hari ‘Arafah itu merupakan hari teragung di antara hari-hari yang sepuluh tersebut, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi saw.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ المَلاَئِكَةُ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

“Tiada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah, dan bahwa Ia dekat. Kemudian malaikat merasa bangga dengan mereka, mereka (malaikat) berkata, ‘Duhai, apakah gerangan yang diinginkan mereka?’.” HR. Muslim, an-Nasai, Ibnu Majah, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim. [12]

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa:

  • Penamaan Shaum itu dengan yaum Arafah, Tis’a Dzilhijjah, dan al-Asyru menunjukkan bahwa pelaksanaan shaum tersebut terikat oleh miqat zamani (tanggal 9 Dzulhijjah)
  • Penamaan shaum Arafah bukan karena fi’lun (wukuf dalam ibadah haji). Dengan perkataan lain, fi’lun (wukuf dalam ibadah haji) bukan muqaddamah wujud disyariatkannya shaum Arafah. Karena itu, penamaan tersebut tidak dapat dijadikan dalil bahwa waktu shaum itu harus bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah.

 

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1] Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:819, No. 1162, Ahmad, Musnad Ahmad, V:295, No. 22.570; V:296, No.22.588; V:296, No.22.590; V:304, No. 22.641. Di luar al-kutub as-Sittah, hadis ini diriwayatkan pula oleh an-Nasai, As-Sunan al-Kubra, II:151, No. 2800; II:152, No.2806; II:153, No.2813, al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:282, No. 8163; IV:286, No.8182, Ath-Thahawi, Syarh Ma’ani al-Atsar, II:72, No. 9717, Ibnu Abi al-Ja’d, al-Musnad, I:264, No. 1740, Ath-Thayalisi, al-Musnad, I:84, No.602; Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Ausath, VI:10, No. 5646. Imam Ahmad meriwayatkan pula dengan redaksi:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ

“Rasulullah saw. melarang shaum Arafah di ‘Arafat.” (Musnad Ahmad, II:304, No. 8018).

[2] Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:818, No. 1162, At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, III:124, No. 749, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:551, No. 1730. Di luar al-kutub as-Sittah, hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VIII:395, No.3632, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, III:288, No. 2087, al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:283, No. 8165; Abdurrazaq, al-Mushannaf, IV:284, No. 7826 dan 7827, Ath-Thahawi, Syarh Ma’ani al-Atsar, II:72, Abd bin Humaid, al-Musnad, I:97, No. 194.

[3] Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, V:307, No. 22.669. Di luar al-kutub as-Sittah, hadis ini diriwayatkan pula oleh an-Nasai, As-Sunan al-Kubra, II:151, No. 2802, al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:283, No. 8165, Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, II:341, No. 9717, Abu Ya’la, al-Musnad, X:17, No. 4875, Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Ausath, V:133, No. 4875, al-Mu’jam ash-Shagir, II:27, No. 718. Imam Ahmad meriwayatkan pula dengan redaksi:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ

“Rasulullah saw. melarang shaum Arafah di ‘Arafat.” (Musnad Ahmad, II:446, No. 9759)

[4] Lihat, Hasyiah Radd al-Mukhtar, II:177.

[5] Lihat, Durar al-Hukkaam Syarh Gharar al-Ahkam, II:163.

[6] Lihat, HR. Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz VI:418, No. 2081; Ahmad, Musnad Ahmad, 45:311, No. 21302, 53:424. No. 25263, dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:285, Syu’abul Iman, VIII:268.

[7] Lihat, HR. Ahmad, al-Musnad, VI: 287, No. 26.502, an-Nasai, As-Sunan al-Kubra, II: 135, No. 2724, Sunan an-Nasai, IV: 220, No. 2416, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, XIV:332, No. 6422, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir, XXIII:205, No.354, XXIII:216, No.396

[8] Lihat, as-Sunan al-Kubra, II:156.

[9] Lihat, Shahih Muslim, II:833, No. 1176. Lihat pula penjelasan lengkap Imam asy-Syaukani tentang masalah ini dalam ad-Darariy al-Mudhiyyah Syarh ad-Durar al-Bahiyyah, II:178.

[10] Lihat, penjelasan lengkap Syekh al-Mubarakafuri tentang masalah ini dalam Mir’ah al-Mafaatiih Syarh Miskat al-Mashabih, XV:343.

[11] Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, I:330, No. 926, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III: 130, No. 757, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:325, No. 2438, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah I:551, No. 1727, Ahmad, Musnad Ahmad, I:224, No. 1968, I:339, No. 3139, II:167, No. 6559, Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, II:41, No. 1773, Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, IV:376, No, 8121, Abdurrazaq, al-Mushannaf, IV:228, No. 19.540, Abu Dawud Ath-Thayalisi, al-Musnad, I:344, No. 2631, al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:284, No. 8175, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:273, No. 2865, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, II:31, No. 324, Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, XI:450, No. 12.278, XII:14, No.12.327 & 12.328, XII:48, No. 12.436, al-Mu’jam al-Ausath, VII:9, No. 6696, dengan perbedaan redaksi. Redaksi di atas versi al-Bukhari. Hadis ini diriwayatkan pula oleh (1) Ahmad, Musnad Ahmad, II:162, No. 6505, II:223, No. 7079, Abu Dawud Ath-Thayalisi, al-Musnad, I:301, No. 2283, dari Abdullah bin Amr. (2) Abu Ya’la, al-Musnad, IV:70, No. 2090, dan Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, IX:166, No. 3853, dari Jabir bin Abdullah. (3) Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, X:200, No. 10.455, dan al-Mu’jam al-Ausath, X:200, No. 10.455. (4) Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:551, No. 1728, dari Abu Huraerah.

[12] Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, I:982, an-Nasai, as-Sunan al-Kubra, II:420, No. 3996, Sunan an-Nasai, V:251, No. 3003, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:1003, No. 3014, ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II:301, No. 291, al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, V:118, No. 9263, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:259, No. 2827, al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, I:636, No. 1705.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *