Ustad Emon, Sekum PP. Persis Terbaik Sepanjang Sejarah

Sekira pukul 01.46, sebuah pesan singkat via WhatsApp masuk ke handphone saya, dari ustad Tatan Ahmad Santana, menantu Ustad Emon, yang berbunyi; “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun telah berpulang ke Rahmatullah Ayahanda (Mertua) kami Al Ustadz H. Emon Sastranegara pada hari ini, Senin, 25 Februari 2019 Pukul 01.15 di RS. Muhammadiyah Bandung. Untuk selanjutnya Jenazah akan dibawa ke kediaman orang tua kami di Jalan Gumuruh. Gg. Maleer Selatan 206/117 Bandung”.

Pesan singkat itu baru saya buka pukul 02.45. Serasa sesak dada ini mendengar wafatnya salah seorang tokoh ulama dan mantan Sekretaris Umum PP. Persis di masa kepemimpinan Allahuyarham Ustad Latief Mukhtar (1990-1997) dan Ustad Shiddiq Amien (1997-2000). Satu persatu para pejuang penegak Quran Sunnah itu, dipanggil pulang.

Saya mengenal Al-Ustad KH. Emon Sastranegara hampir 30 tahun lalu. Tepatnya bulan September tahun 1990 ketika Muktamar Persis digelar di Pesantren Tarogong Garut. Sejak itu, hampir tiap hari sabtu, saya berinteraksi dengan almarhum di Kantor PP. Persis Jl. Pajagalan Bandung, karena beliau sebagai Sekretaris Umum PP. Persis (1990-2000) dan dimasa itu saya aktif di PP. Pemuda Persis.

Almarhum selain Sekum PP. Persis, tugas utamanya sebagai guru di Pesantren

Pajagalan juga sebagai pemimpin redaksi Majalah Iber, majalah dakwah berbahasa Sunda. Ia jadikan Majalah Iber sebagai media dakwah jamiyyah. Ustad Emon menulis secara rutin di majalah yang dipimpinnya itu.

Intensitas saya dengan almarhum semakin erat, ketika saya diminta oleh Ustad Shiddiq Amien untuk menjadi Ketua Bidang Garapan Pendidikan Tinggi (1998-2000), dua tahun menjelang Muktamar Persis di Jakarta tahun 2000.

Sekum PP. Persis Terbaik

Ketika akan mendirikan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persis yang menjadi agenda saya sebagai ketua Bidgar Dikti untuk melahirkan embrio awal bagi lahirnya Universitas Persis, menuntut banyak keperluan administratif, maka ustad emon yang dengan cepat dan sigap menyediakan segala sesuatunya. Disinilah saya belajar banyak mengenai manajemen organisasi dan administrasi di jamiyyah Persis. Saya berani menyebut Ustad Emon sebagai tokoh administratur dan Sekretaris Umum PP. Persis terbaik sepanjang sejarah.

Ketika saya diamanahi menjadi Sekretaris Umum PP. Persis menggantikan almarhum Ustad Emon di era Ustad Shiddiq Amien periode 2000-2005, sementara beliau duduk di Majelis Penasehat PP. Persis, saya banyak dibimbing oleh almarhum. Sebagai Sekum PP. Persis termuda di usia 33 tahun dan bukan lulusan Pesantren Persis saat itu, tentu saya sangat berutang budi dan utang pengalaman pada Ustad Emon, yang saya anggap sebagai guru dan mentor saya dalam menjalankan roda jamiyyah. Tidak jarang, surat surat saya dikritisi secara resmi melalui surat oleh Ustad Emon selaku Majelis Penasehat PP. Persis.

Menjelang Muktamar Persis Tahun 2000 di Jakarta, oleh Ustad Emon saya diminta bergabung dalam safari dakwah dan Nadwah jamiyyah ke Pulau Sumatera. Itulah Nadwah Jamiyyah pertama dan terjauh ketika itu. Saya paling muda diantara para ustad senior, seperti Ust. Aceng Zakaria, Ust. Entang Mukhtar, Ust. Didi Kuswandi, Ust. Umardia Saleh, Ust. Memen Rasiman, dll. Ust. Emon bertindak sebagai amir shafar.

Perjalanan ribuan kilometer itu, dari Bandung menuju Medan Sumatera Utara, hingga singgah di Danau Toba, menunjukkan gaya kepemimpinan Ustad Emon dalam mengatur kegiatan, administrasi, dan penjadwalan. Beliau begitu cermat dan detil dalam melaksanakan kegiatan Daurah Dakwah di berbagai cabang yang kami kunjungi di Pulau Sumatera selama lebih dari 10 hari.

Ia sekum yang aktif dan energik, mengendalikan organisasi. Dalam pandangan saya, beliaulah Sekretaris Umum PP. Persis terbaik yang saya kenal.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, beliau terbaring sakit. Hanya terbaring di tempat tidur. Beberapa kali saya berkesempatan menjenguk ke rumah beliau. Dalam keadaan sakit, masih sempat berikhtiar mengajak berbuat kebajikan. Mengumpulkan jamaah untuk berkurban, hingga mendukung kegiatan Persis lainnya. Dalam pembaringan yang lemah di tempat tidur, beliau masih memberi semangat pada setiap orang yang datang menjenguknya untuk tetap berkhidmat di jamiyyah.

Beberapa bulan yang lalu, ada yang titip pesan katanya Ustad Emon ingin bertemu saya. Karena sudah cukup lama belum menjenguknya lagi, saya dan istri menyempatkan menjenguk beliau di rumahnya. Masih tetap di pembaringan yang bertahun tahun beliau jalani dengan ikhlas, sambil menitikkan air mata dan menggenggam erat tangan saya, beliau berkata lirih, “… omat ulah ninggalkeun Persis sok sanajan sibuk di Jakarta…” itu pesan terakhir yang saya tangkap dari beliau beberapa bulan sebelum beliau wafat.

Malam ini, kita semua jamaah Persis kembali kehilangan seorang guru, ustad, dan aktivis jamiyyah sepanjang hayat. Semoga gerak langkah dan pengabdiannya tercatat sebagai amalan shalihan, amal jariyah yang mengalir deras di akhirat. Dalam duka yang amat dalam, dalam tetesan air mata, kami hanya dapat berdoa …

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا والذنوب كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَعَذَابِ النَّارِ.

Sebarkan Tulisan ini

Repost : persis.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *