URUNAN KURBAN TERGANTUNG HARGA DOMBA? (BAGIAN II)

Pada edisi sebelumnya telah disampaikan bahwa berdasarkan keterangan sabda (bayaan qawli) diketahui bahwa Nabi saw. mensyaratkan urunan pada sapi & unta maksimal tujuh orang. Sementara menurut keterangan amal (bayaan fi’li) diketahui urunan pada unta menunjukkan perubahan atau perkembangan jumlah. Dalam keterangan Jabir, 1 unta = 7 orang, sementara dalam keterangan Ibnu Abbas 1 unta = 7 atau 10 orang. Hal ini berbeda dengan urunan pada sapi, karena tidak mengalami perubahan atau perkembangan jumlah: 1 sapi = 7 orang.

Adakah Pendekatan lain?

Maksudnya penetapan kebolehan urunan sapi lebih dari 7 orang menggunakan perspektif lughah (bahasa), dalam hal ini makna kata al-Badanah. Untuk menguji tepat dan tidaknya pendekatan bahasa (kata al-Badanah) sebagai metode penetapan hukum (istinbath al-hukm) urunan kurban, ada baiknya kita kaji kembali makna badanah dan penggunaan (isti’maal) kata itu dalam seluruh riwayat berkenaan dengan kurban, baik hadyu maupun udhhiyyah.

Pengertian badanah

Al-Badanah menurut bahasa digunakan secara khusus untuk al-ibil (unta), baik jantan maupun betina. Bentuk jamaknya al-budn. Unta disebut badanah karena gemuk tubuhnya. Secara istilah, makna al-Badanah mengalami perkembangan, dari hakikat makna asal bahasa (haqiqah lughawiyyah) kepada hakikat syariat (haqiqah syar’iyyah). Artinya, pada awal penciptaan bahasa, kata badanah mengikuti makna bahasa, yaitu khusus al-ibil (unta). Namun karena dalam syariat qurban urunan sapi disamakan dengan unta dilihat dari aspek hukum kebolehannya, maka sapi dikategorikan badanah. [1]Jadi, kategorisasi sapi sebagai al-badanah bukan dari aspek kesamaan jenis binatang, namun dari aspek kesamaan hukum. Sehubungan dengan itu, Syekh Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq Abadi menyatakan:

وَالْمَعْنَى فِي الْحُكْم إِذْ لَوْ كَانَتْ الْبَقَرَة مِنْ جِنْس الْبُدْن لَمَا جَهِلَهَا أَهْل اللِّسَان وَلَفُهِمَتْ عِنْد الْإِطْلَاق أَيْضًا اِنْتَهَى

“Dan pemaknaan itu (badanah dimaknai sapi) dalam hukum, karena sekiranya sapi termasuk jenis badanah tentu ahli bahasa Arab mengetahuinya dan juga niscaya dipahami ketika disebutkan secara mutlak. Selesai.” [2]

Dengan demikian, bila disebut secara mutlaq (tidak dipisah) kata al-badanah mencakup unta dan sapi, namun bila disebut secara terpisah hanya bermakna unta, tidak meliputi sapi. Dalam konteks inilah hadis-hadis tentang badanah hendaknya dipahami dan ditetapkan. Misalnya, dalam sabda Nabi saw.

اشْتَرِكُوا فِي الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ

Berserikatlah kalian dalam unta atau sapi. Setiap tujuh orang berserikat dalam seekor Badanah.” HR. Ibnu Hiban. [3]

Karena pada kalimat di atas kata al-badanah disebut secara mutlaq (tidak dipisah) maka dapat dimaknai unta dan sapi. Berarti bersekutu 7 orang untuk tiap seekor unta dan 7 orang untuk tiap ekor sapi merupakan ketetapan Nabi saw.

Begitu pula dalam memaknai hadis Jabir sebagai berikut:

اشْتَرَكْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ لِجَابِرٍ أَيُشْتَرَكُ فِي الْبَدَنَةِ مَا يُشْتَرَكُ فِي الْجَزُورِ قَالَ مَا هِيَ إِلَّا مِنْ الْبُدْنِ وَحَضَرَ جَابِرٌ الْحُدَيْبِيَةَ قَالَ نَحَرْنَا يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ بَدَنَةً اشْتَرَكْنَا كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ

“Kami bersekutu bersama Nabi saw. di dalam haji dan umrah, yakni tujuh orang berkurban seekor Unta atau seekor Sapi.” Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada Jabir, “Bolehkah bersekutu dalam al-badanah sebagaimana bolehnya bersekutu dalam al-jazur (Unta)?” Jabir menjawab, “Tidaklah ia (al-jazur) kecuali termasuk al-Badanah.” Jabir juga turut serata dalam peristiwa Hudaibiyah. Ia berkata, “Di hari itu, kami menyembelih tujuh puluh ekor Badanah (Unta atau sapi). Setiap tujuh orang dari kami bersekutu untuk kurban seekor Badanah (unta atau sapi).” HR. Muslim, Ibnu Khuzaimah, dan al-Baihaqi. [4]

Pada hadis itu terdapat dialog antara Jabir dan seseorang tentang status al-Jazur. Orang yang bertanya mengira bahwa al-Jazur lebih berhak untuk digunakan dalam patungan. Maka Jabir berkata dalam jawabannya, “al-Jazur setelah dibeli untuk manasik hukumnya sama dengan al-badanah.” [5]

Dengan demikian pada hadis di atas terdapat pembedaan antara al-Badanah dan al-Jazur. Pembedaan ini bukan dari segi makna dan jenis binatang, karena keduanya sama-sama unta, melainkan dari aspek waktu dan tempat penyembelihan, karena al-badanah adalah unta yang disembelih ketika berihram, sedangkan al-Jazur adalah unta yang dibeli setelah berihram untuk disembelih di tempatnya. [6]

Selanjutnya, di akhir hadis Jabir menyatakan:

نَحَرْنَا يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ بَدَنَةً اشْتَرَكْنَا كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ

“Di hari itu, kami menyembelih tujuh puluh ekor Badanah. Setiap tujuh orang dari kami bersekutu untuk kurban seekor Badanah.”

 Karena pada kalimat di atas kata al-badanah disebut secara mutlaq (tidak dipisah) maka dapat dimaknai unta dan sapi. Berarti ketika itu para shahabat Nabi, yang turut serta pada peristiwa Hudaibiyyah, bersekutu 7 orang untuk tiap seekor unta dan 7 orang untuk tiap ekor sapi.

Sementara dalam hadis-hadis berikut ini, kata al-Badanah tidak dapat dimaknai meliputi sapi karena telah disebutkan secara terpisah atau masing-masing. Misalnya, Jabir berkata:

الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

“Seekor unta (mencukupi) dari tujuh orang dan seekor sapi (mencukupi) dari tujuh orang.” HR. Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah [7]

Sementara dalam riwayat al-Baihaqi dengan redaksi:

الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ

“Seekor sapi (mencukupi) dari tujuh orang dan seekor unta (mencukupi) dari tujuh orang.” HR. Al-Baihaqi. [8]

Memperhatikan penggunaan kata al-Badanah pada riwayat di atas, baik disebut secara mutlak maupun terpisah, tampak jelas bahwa urunan sapi tidak menunjukkan perubahan, yakni mencukupi dari tujuh orang. Adapun kalimat al-badanah ‘an ‘Asyrah (mencukupi sepuluh orang) tidak menunjukkan makna “sapi mencukupi sepuluh orang” karena kalimat al-badanah yang dimaksud adalah unta, hanya saja terjadi perbedaan dalam jumlah urunan unta antara mencukupi 7 orang atau 10 orang. Untuk keperluan itu di sini perlu ditampilkan variasi redaksi hadis-hadis tersebut.

Pertama:

الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

“Seekor unta (mencukupi) dari tujuh orang dan seekor sapi (mencukupi) dari tujuh orang.” HR. Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah [9]

Kedua:

فَاشْتَرَكْنَا فِي البَقَرَةِ سَبْعَةً وَفِي البَعِيرِ عَشَرَةً

“Maka kami berserikat pada seekor sapi tujuh orang dan seekor unta tujuh orang.” HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah.[10]

Ketiga:

فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَةِ عَنْ سَبْعَةٍ وَفِي الْجَزُورِ عَنْ عَشَرَةٍ

“Maka kami berserikat pada seekor sapi tujuh orang dan seekor unta tujuh orang.” HR. Al-Hakim. [11]

Dalam menyikapi perkembangan jumlah urunan pada unta, karena terdapat perbedaan dengan riwayat yang menyebutkan al-badanah ‘an ‘Asyrah (mencukupi sepuluh orang), maka para ulama menjelaskan, antara lain, sebagai berikut:

Abu Ja’far ath-Thabari (w. 310 H) berkata:

اِجْتَمَعَتْ الْحُجَّةُ عَلَى أَنَّ الْبَقَرَةَ وَالْبَدَنَةَ لَا تَجْزِئُ عَنْ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعَةٍ قَالَ وَفِي ذَلِكَ دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ حَدِيْثَ ابْنِ عَبَّاسٍ وَمَا كَانَ مِثْلَهُ خَطَأٌ وَوَهْمٌ أَوْ مَنْسُوْخٌ

“Telah sepakat hujjah bahwa sapi dan badanah (unta) tidak mencukupi lebih dari tujuh orang. Dan pada hal itu terdapat dalil bahwa hadis Ibnu Abas (unta mencukupi 10 orang) dan yang semisal dengannya keliru dan waham atau mansukh.” [12]

Abu Ja’far ath-Thahawi (w. 321 H) berkata:

قَدْ اِتَّفَقُوْا عَلَى جَوَازِهَا عَنْ سَبْعَةٍ وَاِخْتَلَفُوْا فِيْمَا زَادَ فَلَا تَثْبُتُ الزِّيَادَةُ إِلَّا بِتَوْقِيْفٍ لَا مَعَارِضَ لَهُ وَاِتِّفَاقَ قَالَ الأَثْرَمُ قِيْلَ لِأَحْمَدَ ضَحَى ثَمَانِيَةٌ بِبَقَرَةٍ قَالَ لَا يُجْزَئُ

“Mereka telah sepakat tentang kebolehan seekor unta untuk 7 orang, dan mereka berbeda pendapat tentang lebih dari 7. Maka keterangan lebih (dari 7) tidak kukuh kecuali dengan wahyu yang tidak ada penentangnya dan kesepakatan. Al-Atsram berkata, ‘Ditanyakan kepada Ahmad, ‘8 orang bersyerikat dengan seekor sapi. Beliau menjawab, “Tidak memadai,” [13]

Imam Abu Bakar al-Baihaqi (w. 458 H) berkata:

وَقَدْ رُوِىَ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِىِّ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ : نَحَرْنَا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ سَبْعِينَ بَدَنَةً الْبَدَنَةُ عَنْ عَشْرَةٍ وَلاَ أَحْسِبُهُ إِلاَّ وَهْمًا فَقَدْ رَوَاهُ الْفِرْيَابِىُّ عَنِ الثَّوْرِىِّ وَقَالَ الْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ. وَكَذَلِكَ قَالَهُ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَابْنُ جُرَيْجٍ وَزُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ وَغَيْرُهُمْ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالُوا : الْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ. وَكَذَلِكَ قَالَهُ عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ عَنْ جَابِرٍ وَرَجَّحَ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ رِوَايَتَهُمْ لَمَّا خَرَّجَهَا دُونَ رِوَايَةِ غَيْرِهِمْ

“Sungguh telah diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri, dari Abu az-Zubair, dari Jabir, ia berkata, ‘Dalam peristiwa Hudaibiyah kami menyembelih tujuh puluh ekor Badanah (Unta). Badanah mencukupi sepuluh orang.’ Dan saya tidak mengangapnya (kalimat: al-badanah ‘an ‘asyrah) kecuali waham. Sungguh al-Firyabi telah meriwayatkannya dari ats-Tsauri, dan ia berkata, ‘Badanah mencukupi tujuh orang. Demikian pula Atha bin Abu Rabbah mengatakannya dari Jabir, dan Muslim bin al-Hajjaj menganggap riwayat mereka lebih kuat ketika meriwayatkannya, bukan riwayat selain mereka.

وَأَمَّا حَدِيثُ الزُّهْرِىِّ عَنْ عُرْوَةَ فَإِنَّ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ بْنِ يَسَارٍ تَفَرَّدَ بِذِكْرِ الْبَدَنَةِ عَنْ عَشْرَةٍ فِيهِ وَحَدِيثُ عِكْرِمَةَ يَتَفَرَّدَ بِهِ الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ عَنْ عِلْبَاءَ بْنِ أَحْمَرَ وَحَدِيثُ جَابِرٍ أَصَحُّ مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ وَأَخْبَرَ بِاشْتِرَاكِهِمْ فِيهَا فِى الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَبِالْحُدَيْبِيَةِ بِأَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَهُوَ أَوْلَى بِالْقَبُولِ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ

“Adapun hadis az-Zuhri dari ‘Urwah, maka Muhammad bin Ishaq bin Yasar menyendiri dengan keterangan unta mencukupi sepuluh orang, dan hadis Ikrimah, al-Husen bin Waqid menyendiri dengan keterangan itu, dari ‘Ilba bin Ahmar. Sedangkan hadis Jabir lebih shahih dari semua itu dan mengabarkan berserikat mereka dalam unta pada haji dan umrah di Hudaibiyyah berdasarkan perintah Rasulullah saw., maka itu lebih utama untuk diterima.” [14]

Pada kesempatan lain, Imam Abu Bakar al-Baihaqi (w. 458 H) berkata:

وَإِجْمَاعُ هَؤُلاَءِ الأَئِمَّةِ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ ثُمَّ رِوَايَةُ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ عَلَى أَنَّ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ أَوْلَى مِنْ رِوَايَةِ الثَّوْرِىِّ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فِى الْبَدَنَةِ عَنْ عَشْرَةٍ. وَرُوِّينَا عَنْ عَلِىٍّ وَحُذَيْفَةَ وَأَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ وَعَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ قَالُوا : الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ.

“Dan semua imam menyepakati, dari Abu az-Zubair dari Jabir, lalu riwayat Atha dari Jabir bahwa unta mencukupi tujuh orang lebih utama dari riwayat ats-Tsauri, dari Abu az-Zubair dari Jabir tentang unta mencukupi sepuluh orang. Dan telah diriwayatkan kepada kami dari Ali, Hudzifah, Abu Mas’ud al-Anshari, dan Aisyah, semoga Allah meridhai mereka, bahwa mereka berkata, ‘Sapi mencukupi tujuh orang.” [15]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) berkata:

وَاتَّفَقَ مَنْ قَالَ بِالِاشْتِرَاكِ عَلَى أَنَّهُ لَا يَكُونُ فِي أَكْثَر مِنْ سَبْعَة إِلَّا إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ سَعِيد بْن الْمُسَيِّبِ فَقَالَ : تُجْزِئُ عَنْ عَشَرَةٍ وَبِهِ قَالَ إِسْحَاق بْن رَاهْوَيْهِ وَابْن خُزَيْمَة مِنْ الشَّافِعِيَّةِ وَاحْتَجَّ لِذَلِكَ فِي صَحِيحِهِ وَقَوَّاهُ وَاحْتَجَّ لَهُ اِبْن خُزَيْمَة بِحَدِيثِ رَافِع بْن خَدِيج أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسَمَ فَعَدَلَ عَشْرًا مِنْ الْغَنَمِ بِبَعِير الْحَدِيث وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الشَّاةَ لَا يَصِحُّ الِاشْتِرَاك فِيهَا

“Orang yang berpendapat dibolehkan urunan unta bersepakat bahwa urunan unta itu tidak melebihi dari tujuh orang kecuali salah satu riwayat dari Sa’id bin al-Musayyib, ia berkata, ‘Unta memadai dari sepuluh orang.’ Pendapat ini dikemukakan pula oleh Ishaq bin Rahawaih dan Ibnu Khuzaimah dari madzhab Syafi’I, dan ia berhujjah untuk itu dalam kitab Shahih-nya dan ia mengukuhkannya. Ibnu Khuzaimah berhujah dengan hadis Rafi’ bin Khadij bahwa Nabi saw. membagi rata di mana bagian setiap sepuluh kambing sama dengan satu ekor unta. Hadis itu diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari-Muslim, dan mereka bersepakat bahwa tidak sah urunan pada seekor kambing.” [16]

Imam Muhammad bin Ali Asy-Syawkani (w. 1255 H) berkata:

وَأَمَّا كَوْنُ البَدَنَةِ عَنْ سَبْعَةٍ كَالبَقَرَةِ فَلِحَدِيْثِ جَابِرٍ فِي الصَّحِيْحَيْنِ وَغَيْرِهِمَا قَالَ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَشْتَرِكَ فِي الإِبِلِ وَالبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ مِنَّا فِي بُدْنِهِ وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ فَقِيْلَ لِجَابِرٍ أَيُشْتَركُ فِي الْبَقَرَةِ مَا يُشْتَرَكُ فِي الْجَزُوْرِ فَقَالَ: مَاهِيَ إِلَّا مِنَ البُدْنِ وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَه عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: أَنَا عَلَى بَدَنَةٍ وَأَنَا مُوْسِرٌ وَلَا أَجِدُهَا فَأَشْتَرِيْهَا فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبْتَاعَ سَبْعَ شِيَاهٍ فَيَذْبَحُهُنَّ وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيْحِ وَلَا يُعَارِضُ هَذَا الْحَدِيْثُ حَدِيْثَ ابْنِ عَبَّاسٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَالنَّسَائِي وَابْنِ مَاجَه وَالتِّرْمِذِي وَحَسَّنَهُ قَالَ: كُنَّا فِي سَفْرَةٍ فَحَضَرَ الْأَضْحَى فَذَبَحْنَا البَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَعِيْرَ عَنْ عَشَرَةٍ وَكَذَلِكَ لَا يُعَارِضُهُ مَا فِي الصَّحِيْحَيْنِ مِنْ حَدِيْثِ أَبِي رَافِعِ بْنِ خَدِيْجٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسَمَ فَعَدَلَ عَشْرًا مِنَ الغَنَمِ بِبَعِيْرٍ لِأَنَّ تَعْدِيْلَ الْبَدَنَةِ بِسَبْعِ شِيَاهٍ هُوَ فِي الهَدْيِ وَتَعْدِيْلَهَا بِعَشْرٍ هُوَ فِي الأُضْحِيَّةِ وَالقِسْمَةِ

“Adapun unta memadai untuk 7 orang, seperti halnya sapi, berdasarkan hadis Jabir dalam Shahih al-Bukhari-Muslim dan lain-lain, ia berkata, ‘Rasulullah saw. memerintahkan kami agar berserikat dalam unta atau sapi. Setiap tujuh orang dari kami berserikat dalam seekor Badanah (unta atau sapi yang gemuk).’ Dalam redaksi Muslim: ‘Maka ditanyakan kepada Jabir, apakah bisa berserikat pada sapi sebagaimana pada unta?’ Ia menjawab, ‘Tidaklah sapi itu melainkan termasuk badanah.’ Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abas bahwa Nabi saw. didatangi oleh seorang laki-laki seraya berkata, ‘Aku berkewajiban untuk menyembelih seekor unta dan aku mampu untuk membelinya, namun aku tidak bisa mendapatkannya?” Nabi saw. lalu memerintahkannya untuk membeli tujuh ekor kambing dan menyembelihnya.’ Para rawi hadis itu shahih dan hadis ini tidak bertentangan dengan dengan hadis Ibnu Abas riwayat Ahmad, an-Nasai, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi, dan ia menilainya hasan, ia berkata, ‘ Kami (bersama Nabi saw.) dalam sebuah perjalanan, maka tibalah waktu berkurban, maka kami berserikat tujuh orang pada seekor sapi dan pada seekor unta sepuluh orang.’ Begitu pula tidak bertentangan dengan hadis Avu Rafi’ bin Khadij dalam Shahih al-Bukhari-Muslim, bahwa Nabi saw. membagi rata di mana bagian setiap sepuluh kambing sama dengan satu ekor unta, karena pembagian satu ekor unta sebanding dengan tujuh kambing itu pada ‘kasus’ al-hadyu, sedangkan pembagian satu ekor unta sebanding dengan sepuluh kambing itu pada ‘kasus’ al-udhiyyah (qurban) dan ghanimah (harta rampasan perang).” [17]

Abu Thayyib Muhammad Syams Al-Haq (w. 1329 H) berkata

وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي الْبَدَنَة أَيْ الْإِبِل ، فَقَالَتْ الشَّافِعِيَّة وَالْحَنَفِيَّةُ وَالْجُمْهُورُ إِنَّهَا تُجْزِئ عَنْ سَبْعَةٍ وَقَالَ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهْوَيْهِ وَابْنُ خُزَيْمَةَ إِنَّهَا تُجْزِئ عَنْ عَشَرَةٍ وَهَذَا أَيْ إِجْزَاءُ الْإِبِلِ عَنْ عَشَرَةٍ هُوَ الْحَقُّ فِي الْأُضْحِيَّةِ لِحَدِيثِ اِبْن عَبَّاسٍ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَضَرَ الْأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَة سَبْعَةً وَفِي الْبَعِيْرِ عَشَرَةً رَوَاهُ أَصْحَابُ السُّنَنِ . وَعَدَمُ إِجْزَاءِ الْإِبِلِ عَنْ عَشَرَةٍ هُوَ الْحَقُّ فِي الْهَدْي وَأَمَّا الْبَقَرَةُ فَتُجْزِئُ عَنْ سَبْعَةٍ فَقَطْ اِتِّفَاقًا فِي الْهَدْي وَالْأُضْحِيَّةِ اِنْتَهَى

“Dan diperselisihkan tentang al-badanah, yaitu unta. Ulama madzhab Syaf’I, Hanafi, dan ulama jumhur bahwa unta itu memadai dari 7 orang. Ishaq bin Rahawaih dan Ibnu Khuzaimah berkata, ‘unta itu memadai dari 10 orang.’ Dan pendapat ini, yaitu unta memadai dari 10 orang adalah benar dalam kurban berdasarkan hadis Ibnu Abbas, ‘Kami bersama Rasululah saw. (dalam perjalanan), maka tiba waktu iedul Adha, lalu kami patungan untuk seekor sapi tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang,” riwayat para pemilik kitab as-Sunan. Dan pendapat unta tidak memadai dari 10 orang adalah benar dalam hadyu. Adapun sapi memadai dari 7 orang saja disepakati dalam hadyu dan kurba. Selesai.” [18]

Memperhatikan penjelasan para ulama di atas tampak jelas bahwa perubahan jumlah urunan pada unta untuk sepuluh orang, hemat kami, juga merupakan taqdiir Syar’I, yaitu ukuran yang ditetapkan secara syariat, karena pada bayan fi’li itu pun Nabi saw. sama sekali tidak menyinggung qiimah (harga), baik harga unta, sapi maupun domba. Apalagi menetapkan harga domba sebagai standar harga pembagi terhadap jumlah urunan sapi atau unta.

Berdasarkan analisa makna al-badanah pada beragam riwayat dapat diambil kesimpulan yang sama bahwa penetapan 1 sapi = 7 orang dan unta = 7 atau 10 orang merupakan urusan ta’abbudi (ibadah), sementara penetapan harga saham tiap orang bukan urusan ta’abbudi, melainkan urusan keduniaan yang ta’aqquli (rasional) sesuai harga pasaran sapi atau unta.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

[1]Lihat, Tuhfah al-Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi, VI:110.

[2]Lihat, ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, Juz 7, hlm. 512.

[3]Lihat, Shahih Ibnu Hiban, IX:227, No. hadis 3919..

[4]HR. Muslim, Shahih Muslim, II:955, No. hadis 1318; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:287, No. 2.900; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IX:295, No. 19.018.

[5]Lihat, Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, IV:459.

[6]Ibid.

[7]Lihat, Shahih Muslim, II:955, No. 1318, Musnad Ahmad, III:363, No. 14.957, Sunan At-Tirmidzi, IV: 89, No. 1502, As-Sunan al-Kubra, II:450, No. 4121, Sunan Abu Dawud, III: 98, No. 2809, Sunan Ibnu Majah, II:1047, No. 3132

[8]Lihat, , As-Sunan Al-Kubra, V:235, No. hadis 9976

[9]Lihat, Shahih Muslim, II:955, No. 1318, Musnad Ahmad, III:363, No. 14.957, Sunan At-Tirmidzi, IV: 89, No. 1502, As-Sunan al-Kubra, II:450, No. 4121, Sunan Abu Dawud, III: 98, No. 2809, Sunan Ibnu Majah, II:1047, No. 3132

[10]Lihat, Sunan At-Tirmidzi, IV: 89, No. 1501, An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, III:59, No. 4482, Sunan An-Nasai, VII:222, No. 4392, Sunan Ibnu Majah, II:1047, 3131

[11]Lihat, Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, IV: 256, No. 7559

[12]Lihat, At-Tamhid limaa fii al-Muwatha min al-Ma’ani wa al-Asanid, XII: 160

[13]Ibid, XII: 160-161

[14]Lihat, As-Sunan al-Kubra, V:236

[15]Ibid., IX:295

[16]Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, III:535.

[17]Lihat, ad-Durariy al-Mudhiyyah Syarh ad-Durar al-Bahiyyah, II:199-200.

[18]Lihat, ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, XII:373.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *