ULAMA SEJATINYA PEMENANG REAL COUNT

Imam al-Ghazali mengingatkan, “Seorang Sultan atau Khalifah tidak boleh meninggalkan ulama. Namun, seorang Sultan juga harus cermat, tidak sembarang ulama yang harus diminta nasihat.”

Sambil mengawal proses penghitungan real count, dari TPS hingga penghitungan akhir oleh KPUD Jabar 7-9 Juli 2018, terdapat pelajaran kedua sebagai bahan evaluasi dan edukasi umat Islam yang dapat diambil dari peristiwa PILKADA Jabar 2018, berkenaan dengan peran para ulama, kyai, dan mubalig.

Dibalik “kekalahan Asyik” versi Quick Count, sesungguhnya terdapat kemenangan sejati dilihat dari peran edukasi para ulama “partisipan Ilahi” itu. Nasehat mereka lebih didengar oleh umat daripada para surveyor. Petuah mereka lebih dahsyat daripada “nasehat” analis politik. Peranan mereka tidak dapat dianggap enteng dibanding kerja keras “mesin” partai.

Mari kita telisik “realitas keberpihakan” umat Jabar selama bulan April-Juni, sebelum hari H pencoblosan dilaksanakan. Dalam rentang waktu selama itu, oleh berbagai lembaga survey yang hari kemarin melakukan quick count, pasangan Asyik selalu ditempatkan pada posisi “Runner Up Buncit” dalam hasil survey mereka, dengan kisaran angka 3-10 %, sedikit lebih unggul daripada pasangan Hasanah, 2-7 %.

Beginilah gambaran hasil survey sepanjang April hingga Juni 2018:

Populi Center

Periode: 22-30 April 2018
Responden: 800 orang di 80 kelurahan/desa di 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat
Metode: wawancara tatap muka
Margin of error: 3,39%

Hasil:

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum 41,8%
2. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi 38,6%
3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu 6,4%
4. TB Hasanuddin-Anton Charliyan 5,3%
5. Tidak tahu/tidak jawab 8%

Charta Politika

Periode: 23-29 Mei 2018
Responden: 1.200 orang
Metode: wawancara tatap muka dengan kuesioner terstruktur
Margin of error: -/+ 2,83%

Hasil:

1. Ridwan Kamil (Emil)-Uu Ruzhanul Ulum: 37,3%
2. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 34,5%
3. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 7,8%
4. Sudrajat-Ahmad Syaikhu: 7,6%
5. Tidak tahu/tidak jawab: 12,8%

SMRC

Periode: 23 Mei-30 Mei 2018
Responden: 820 orang
Metode: multistage random sampling
Margin of error: 3,5%

Hasil:

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul: 43,1%
2. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 34,1%
3. Sudrajat-Akhmad Syaikhu: 7,9%
4. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 6,5%

Indo Barometer

Periode: 7-13 Juni 2018
Responden: 1.200 orang
Metode: multistage random sampling
Margin of error: +/- 2,83%

Hasil:

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul: 36,9%
2. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 30,1%
3. Sudrajat-Akhmad Syaikhu: 6,1%
4. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 5,0%
5. Tidak jawab: 21,9%

Roda Tiga Konsultan

Periode: 28 Mei-2 Juni 2018
Responden: 1.200 orang
Metode: stratified systemic random sampling
Margin of error: +/- 2,9%

Hasil:

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul: 21%
2. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 21%
3. Sudrajat-Akhmad Syaikhu: 3,9%
4. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 2,9%
5. Tidak jawab: 41,1%

LSI Denny JA

Periode: 7-14 Juni 2018
Responden: 440 orang
Metode: multistage random sampling
Margin of error: +/- 4,8%

Hasil:

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul: 38%
2. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 36,6%
3. Sudrajat-Akhmad Syaikhu: 8,2%
4. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 7,7%

Poltracking Indonesia

Periode: 18-22 Juni 2018
Responden: 800 orang
Metode: stratified systemic random sampling
Margin of error: +/- 3,5%

Hasil:

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul: 42%
2. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 35,8%
3. Sudrajat-Akhmad Syaikhu: 10,7%
4. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 5,5%
5. Tidak jawab: 6%

Dari hasil survey di atas tampak jelas bahwa Paslon Nomor 3, dalam “kamus” surveyor seakan-akan hanya dianggap sebagai “penggembira” bukan peserta Pilkada Jabar, apalagi “Rival Sepadan” Paslon No.1.

Hasil survey ini seakan-akan upaya “Branding & Driving Opinion” bahwa Paslon No. 1 dan No. 4 lebih berpeluang memenangkan pertarungan Pilgub Jabar, sementara Paslon No. 3 dipandang tidak berpeluang.

Silahkan dicermati berbagai komentar para surveyor dan analis politik, sebelum hari H pencoblosan, misalnya Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari: “Ibarat pertandingan Portugal-Spanyol (di Piala Dunia 2018 yang berakhir imbang 3-3), Pilgub Jabar ini panas dan masih sulit diprediksi. Tetapi, dua paslon bakal mendominasi, pasangan Ridwan Kamil-Uu dan pasangan Deddy-Dedi. Kalau melihat hasil survei, sulit yang lain menyaingi,” ujarnya saat memaparkan hasil survei.

Pendapat serupa diutarakan pengamat politik Hanta Yuda. “Harus objektif saya katakan tidak begitu kuat menjual. Pak Sudrajat muncul belakangan. Beda ceritanya kalau misalnya figur yang populer. Kita lihat Ahmad Heryawan yang didukung mesin PKS pada 5 tahun lalu berpasangan dengan Deddy Mizwar yang populer. Bisa saling melengkapi,” ujarnya. Cek di sini

Selain itu, secara psikososial, masyarakat yang belum menentukan sikapnya, hasil survey itu boleh jadi cenderung akan mengarahkan pilihannya terhadap Paslon yang berpeluang, serta para pemilih yang telah bersikap akan menguatkan Pilihannya.

Namun, setelah hari H pencoblosan, siapa sangka Asyik jadi “Rival Terberat” Rindu, hanya terpaut selisih 0,2 %. Hasil hitungan cepat ini mengagetkan semua surveyor dari beberapa lembaga survei itu dan juga para pengamat politik, hingga mereka belum berani menarik kesimpulan Rindu “Pemenang Sejatinya”nya.

Pasalnya, pasangan Asyik mengejutkan bisa meraup suara sebanyak 30.12% (versi Charta Politika), 29.58% (versi SMRC), 29,53 % (versi Litbang Kompas), 28.54% (versi Indo Barometer), atau 27.98% (versi LSI Deni JA). Sementara pasangan Duo DM, yang sebelumnya dianggap rival terberat Rindu, mendapat nilai tertinggi 26,03 % (versi Indo Barometer).

Belum lagi jika dibanding dengan Quick Count dua lembaga lain yang menunjukkan hasil berbeda. Menurut data Quick Count yang dimiliki Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI),  Asyik (30,93 %), Rindu (30,41 %), Duo DM (27,49 %), Hasanah (11,17 %). Sementara itu, menurut Indonesia Development Monitoring (IDM): Asyik (33,12 %), Rindu (32,67 %), Duo DM (24,78 %), Hasanah (9,43 %).

Lepas dari hasil quick count, Tim Asyik memiliki perhitungan sendiri. Berdasar hasil real count internal pasangan ini unggul dari kandidat lainnya, menang tipis dari pasangan Rindu.

Atas hasil mengejutkan itu, para surveyor dan analis politik berkomentar, misalnya:

“Pilkada Jabar cukup mengejutkan. Pasangan Sudrajat dalam sebulan bisa naik suaranya dari prediksi sebelumnya yang hanya 10 persen,” ungkap Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi, Jakarta, Rabu (27/6/2018).

Senada, Ade Armando, peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) juga mengungkapkan keterkejutannya melihat perkembangan Pilkada Jabar.

Dia bahkan tidak berani menyimpulkan pasangan Rindu sebagai pemenang Pilkada Jabar hanya dari quick count.

“Kalau daerah lain saya pastikan hasil quick count sudah bisa diambil patokan. Khusus Jabar terlalu riskan bila memutuskan Ridwan Kamil yang menang karena selisihnya hanya 2,7 persen. Bila memperhitungkan margin eror 1,2 persen, maka selisihnya dengan Sudrajat hanya 0,2 persen,” bebernya.

Bahkan, dia menyebutkan, bisa saja pasangan Sudrajat-Ahmad nantinya yang akan menang di real count rekapitulasi KPUD Jabar. Karena itu, warga Jabar diminta untuk bersabar menunggu hasil akhir hingga penghitungan KPUD.

“Saya yakin peneliti di semua lembaga tidak bisa menarik kesimpulan Ridwan Kamil pemenangnya. Pilkada Jabar ini sangat mengejutkan dan unik,” pungkasnya. Cek di sini

“Uwais Al-Qarni” Faktor Penentu Kemenangan Asyik

Pengamat politik sah-sah saja menyatakan bahwa “kemenangan suara” asyik yang meroket karena mesin partai bekerja efektif. Begitu juga tausiah analis yang menyebut faktor tokoh partai masih dianggap berpengaruh. Namun menihilkan sama sekali peran ulama, kyai, dan para mubalig serta “senjata doa” umat dalam “mengkatrol” peningkatan suara itu, boleh jadi merupakan analisa tasaahul (serampangan).

Kerja keras dan ikhlas mereka sebagai “Partisipan Ilahi”, “Petugas Partai Allah” dalam mengedukasi umat agar memiliki keberpihakan sebagai bentuk pertanggungjawaban di dunia dan akhirat, terutama pada masa seminggu terakhir, berdampak signifikan terhadap kepedulian umat untuk terlibat dalam pilkada. Nasehat mereka lebih didengar daripada tausiah analis politik. Edukasi mereka lebih mengena daripada hasil-hasil survey lembaga-lembaga itu.

Belum lagi, kombinasi ukhuwah antara mantan Militer-Tokoh Islam yang memiliki kekuatan akidah Islam yang mumpuni, berwawasan global, berjiwa negarawan, memiliki komitmen yang sangat kuat untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia-secara konstitusional, memiliki kontribusi riil bagi peningkatan suara Asyik yang meroket itu.

Selain itu, di Jabar banyak para “Uwais Al-Qarni” yang tidak kenal lelah berjuang, tanpa mengenal bayaran, semata-mata hanya mencari keridaan Allah. Boleh jadi, peranan mereka senyap dalam pandangan masyarakat bumi Jabar, namun insya Allah amal shaleh senyap mereka dikenal “di masyarakat langit”.

Jadi, perjalanan menuju Gedung Sate sejatinya masih cukup panjang. Rapatkan shaf barisan. Kawal terus “amanat umat Islam”. Pelihara amal shaleh para “Uwais Al-Qarni” hingga Allah “memperlihatkan kabar” Lauhul Mahfuzh yang sesungguhnya.

By Amin Muchtar, sigabah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *