Taujih Seleksi Santri Baru, Ustaz Amin: Pesantren Ibnu Hajar Tidak Butuh Santri Pintar

BANDUNG (sigabah.com)—Dalam tahap penerimaan santri baru, Pesantren Ibnu Hajar menggelar seleksi dengan tes akademik pada mata pelajaran Bahasa Arab di Pendopo Pesantren Ibnu Hajar, Senin (10/12/18). Sebelum acara tersebut dimulai, Ustaz Amin Muchtar selaku Pembina Pesantren Ibnu Hajar memberikan sambutan sebagai taujih kepada seluruh calon santri.

Dalam taujih tersebut Ustaz Amin menyampaikan, terdapat beberapa tujuan didirikannya Pesantren Ibnu Hajar. Pertama, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan sumber daya manusia. Kedua, menyambung kesinambungan warasatul anbiya ketika terciptanya kesenjangan di masyarakat dengan semakin langkanya para ulama.

Ketiga, ingin memelihara tradisi ilmiah dan suasana intelektual. Oleh karena itu Pesantren Ibnu Hajar didirikan dalam rangka mengembangkan dan membina manusia yang berpaham, berpikir, dan berakhlak islami serta mempunyai spirit untuk mewujudkan dan mengembangkan khazanah ilmu keislaman.

“Jadi kami menginginkan, bahwa siapapun yang bergabung dengan Ibnu Hajar, ucapan dan tindakannya selalu berbasis ilmu sehingga kita berusaha menempatkan ilmu sebagai imamul amal, ilmu sebagai panglima, pemandu, bahkan menjadi komando bagi ucapan dan tindakan kita,” ungkap Ustaz Amin.

Kemudian yang tidak kalah penting yang menjadi prinsip perjuangan Pesantren Ibnu hajar, didirikan bukan karena dibutuhkan. Tetapi Pesantren Ibnu Hajar didirikan karena diharuskan adanya.

“Nasihat orang tua kami, Ibnu Hajar ini bagaikan guru madrasah yang tidak boleh bosan mengajarkan A sampai Z-nya Islam. Setelah tahapan Z selesai, maka harus kembali ke A. Seperti anak-anak di lingkungan madrasah belum tentu mereka membutuhkan madrasah, tetapi ada atau tidak ada anak, madrasahnya harus ada,” sambung beliau.

Adapun dalam rangka mewujudkan visi misi dan berpegang teguh terhadap prinsip perjuangan, lanjut Ustaz Amin, Pesantren Ibnu Hajar tidak perlu santri yang pintar, tetapi Pesantren Ibnu Hajar membutuhkan orang yang sehati.

“Orang pintar banyak tetapi tidak sehati hanya akan membuat kacau perjuangan. Jadi tidak butuh orang yang pintar, tetapi orang yang sehati. Dan tidak mungkin tercipta orang-orang yang sehati tanpa dilandasi dengan keikhlasan. Maka keikhlasan menjadi modal utama prinsip perjuangan kami,” tegas Ustaz Amin. (/IF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *