Tarian Politik SBY dan Demokrat

Sepekan terakhir, kita menyaksikan sebuah tarian politik berkelas dan dimainkan dengan apik oleh para aktor dan penari politik papan atas di republik ini. Bermula dari Istana Bogor pada Senin (23/7) malam lalu saat Presiden Petahana Joko Widodo mengundang enam ketua umum partai politik anggota koalisi pemerintahannyaa, pada keesokan harinya, kelompok oposisi juga menggelar pertemuan yang justru ditunggu hasilnya.

Saya mengamati, kuantitas pemberitaan media pada pertemuan antara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto jauh lebih banyak dibanding pertemuan pada malam sebelumnya yang dilakukan koalisi pro pemerintah.

Sangat wajar jika pertemuan SBY dan Prabowo menjadi perhatian media. Pertama karena media ingin tahu kemana arah koalisi Partai Demokrat setelah hampir selama empat tahun mendeklarasikan diri sebagai kekuatan penyeimbang dari dua kubu yang bertikai secara politik. Demokrat kita tahu sejak Pilpres 2014 bukan koalisi pemerintah, namun juga bukan koalisi oposisi.

Pertemuan SBY dan Prabowo di kediaman SBY di Mega Kuningan telah sama sama kita ketahui membuahkan kesepakatan untuk saling berkoalisi dalam kesepahamam dan kesejajaran serta saling menghormati. Hal ini menurut saya mengejutkan kelompok pemerintah. Karena kehadiran Demokrat di kubu Prabowo diyakini akan memberi tambahan tenaga untuk meriah kemenangan di Pilpres mendatang.

Efek dari pertemuan antara SBY dan Prabowo pada Selasa malam pekan lalu telah pula sama sama kita lihat. Parpol koalisi pemerintah ramai ramai menyerang SBY dan Demokrat. Mulai dari tudingan bahwa tidak diterimanya Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres oleh Jokowi menjadi penyebab SBY berpaling sampai tudingan usang adanya keterlibatan SBY dalam kasus Kerusuhan 27 Juli 1996 silam.

Kelompok partai pendukung pemerintah juga bertambah panik saat Ketua Umum PPP Romahurmuzy dan staf Ahli Utama KSP Ali Mukhtar Ngabalin melempar pernyataan ke media yang menyebutkan SBY memaksaan AHY sebagai cawapres Jokowi.

Tapi SBY tetaplah seorang penari politik. Ia tahu dan sudah memprediksi seranga tersebut akan diarahkan kepadanya. Dan bukan berkelit, SBY justru menyambut serangan Ngabalin dengan satu hentakan keras. “Ngabalin jangan asal bicara”. Ujungnya sama sama kita baca di media. Politisi kutu loncat itu minta maaf terbuka.

Tarian politik SBY dan Demokrat tidak berhenti sampai disana. Hari ini, sebuah pertunjukan baru dan memantik penasaran akan kembali disajikan. Para penonton aksi politik sudah memprediksi bahwa Prabowo akan melenggang sebagai capres dari koalisi oposisi. Wakilnyapun mereka sudah pastikan itu adalah AHY. Namun tunggu dulu, politik bukan apa yang terlihat di permukaan.

Hari ini, SBY akan menggelar dua pertemuan dengan dua tokoh politik di dua tempat berbeda. Pagi di Kertanegara, malam di Hotel Melia Jakarta. Kedua tokoh yang ditemui adalah Prabowo dan Sohibul Imam. Kita akan tunggu atraksi politik tingkat tinggi apa yang akan tersaji.

Pendaftaran Pilpres memang menunggu hari, namun tarian SBY dan Demokrat tetap menarik untuk disimak, dianalisa karena ia pernah dua kali memang Pilpres dengan hasil nyaris sempurna.

By Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

sigabah.com | politiktoday.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *