TARGET RAMADHAN (III): HAMBA PANDAI BERSYUKUR

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sarat dengan ragam kenikmatan, baik jasmani maupun ruhani. Dengan berbagai kenikmatan itu diharapkan kita semakin tergerak untuk pandai bersyukur melalui peribadatan kepada Allah Swt. secara hakiki. Sehubungan dengan itu, Allah Swt. Berfirman:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah:185)

Pengertian dan Bentuk Syukur

Syukur, menurut Imam ar-Raghib al-Asfahani:

الشُّكْرُ تَصَوُّرُ النِّعْمَةِ وَإِظْهَارُهَا

“Syukur adalam gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.” (Lihat, Mufradat Alfazh Al-Qur’an, hlm. 461)

Menampakkan nikmat antara lain mempergunakan kenikmatan itu pada tempat yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah sebagai pemberi nikmat itu.

Dalam ungkapan Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin:

الشُّكْرُ هُوَ الْقِيَامُ بِطَاعَةِ اللهِ بِامْتِثَالِ أَمْرِهِ وَاجْتِنَابِ نَهْيِهِ بِاللِّسَانِ وَالأَرْكَانِ وَالْقُلُوْبِ

“Syukur adalah menunaikan ketaatan kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan lisan, anggota badan, dan hati.” (Lihat, Syarah Riyadh ash-Shalihin, I: 1175)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa syukur menurut Islam mencakup tiga bentuk: (1) Hati, (2) lisan, (3) anggota badan.

  1. Syukur hati, yaitu mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh bersumber dari Allah serta tidak ada seorang pun yang dapat memberikan kenikmatan itu selain Allah
  2. Syukur lidah, yaitu dengan mengucapkan kalimat (الحمد لله ربّ العالمين). Ucapan ini menunjukkan bahwa kekuasaan kita terhadap alam semesta itu tidak absolut.
  3. Syukur amal, yaitu mempergunakan anggota tubuh dalam melakukan hal-hal yang positif yang diridhai Allah, menggunakan harta sesuai ajaran Islam dan menafkahkannya di jalan Allah dan Jika nikmat itu berupa ilmu, ia akan memanfaatkan ilmu itu untuk keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan manusia.

Objek Syukur Bulan Ramadhan

Kalimat La’allakum Tasykuruun (agar kamu bersyukur) ditempatkan sebagai khatimah (penutup) beberapa topik pembicaraan dalam QS. Al-Baqarah:185, sebagai berikut:

Pertama:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Melalui ayat ini, Allah Swt. memuji bulan Ramadan di antara bulan-bulan lainnya, karena Dia telah memilihnya di antara semua bulan sebagai bulan diturunkan-Nya Al-Qur’an yang agung pada Nabi Muhammad Saw.

Sebagai kitab Allah, Al-Quran menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam dan berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Posisi dan fungsi Al-Quran inilah yang senantiasa diapresiasikan oleh Nabi, melalui pengamalan dan pengajaran selama hidup di Mekah sekitar 13 tahun dan Madinah sekitar 10 tahun.

Selain diturunkan Al-Qur’an, pada bulan Ramadan pula kitab Allah lainnya diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Sehubungan dengan itu, Nabi saw. bersabda:

أُنْزِلَتْ صُحُف إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ. وَأَنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لسِتٍّ مَضَين مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشَرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ  وَأَنْزَلَ اللَّهُ الْقُرْآنَ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ”

“Lembaran-lembaran Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadan, sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadan.” HR. Ahmad, Musnad Ahmad, XXXIV:346, No. 16.370)

Proses penurunan Al-Qur’an dan kitab-kitab lainnya, dapat dibaca selengkapnya di sini

Adapun firman Allah Swt.:

هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Hal ini merupakan pujian bagi Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah Swt. sebagai petunjuk buat hati hamba-hamba-Nya yang beriman kepada Al-Qur’an, membenarkannya, dan mengikutinya.

Bayyinaat min al-Hudaa bermakna petunjuk-petunjuk dan hujah-hujah yang jelas lagi gamblang dan terang bagi orang yang memahami dan memikirkannya, membuktikan kebenaran apa yang dibawanya berupa hidayah yang menentang kesesatan, petunjuk yang berbeda dengan jalan yang keliru. Sedangkan Al-Furqaan bermakna pembeda antara perkara yang hak dan yang batil serta halal dan haram.

Kedua:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia shaum pada bulan itu; dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya shaum) sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.”

Firman Allah Swt.:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia shaum pada bulan itu.”

Hendak menegaskan bahwa hukum wajib ini merupakan suatu keharusan bagi orang yang menyaksikan hilal masuk bulan Ramadan, yakni dia dalam keadaan mukim di negerinya ketika bulan Ramadan datang, sedangkan tubuhnya dalam keadaan sehat, maka dia harus mengerjakan shaum.

Ayat ini menghapus keberlakuan hukum takhyir atau pilihan alternatif antara shaum dan fidyah pada masa awal pensyariatan ibadah shaum Ramadhan. Kronologis perubahan itu dapat dibaca selengkapnya di sini

Setelah masalah ketetapan shaum dituntaskan, selanjutnya disebutkan kembali fasilitas keringanan bagi orang yang sakit dan orang yang bepergian. Keduanya boleh berbuka, tetapi dengan syarat kelak harus mengqadanya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya shaum) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”

Maknanya, siapa yang sedang sakit hingga shaum memberatkannya atau membahayakannya, atau ia sedang dalam perjalanan, maka dia boleh berbuka. Apabila berbuka, maka ia harus shaum sebanyak hari yang ditinggalkannya di hari-hari yang lain (di luar Ramadan). Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.”

Ayat itu menegaskan bahwa fasilitas keringanan ini diberikan bagi kalian hanya dalam keadaan kalian sedang sakit atau dalam perjalanan, tetapi shaum merupakan suatu keharusan bagi orang yang mukim lagi sehat. Demikian itu tiada lain hanyalah untuk mempermudah dan memperingan kalian sebagai rahmat dari Allah Swt. buat kalian.

Ketiga:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ

“Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya”

Maknanya, sesungguhnya Aku memerintahkan kalian untuk mengqadanya agar kalian menyempurnakan bilangan bulan Ramadan kalian.

Kalimat ini diungkapkan setelah Allah menegaskan pemberian fasilitas keringanan untuk hamba-Nya yang yang sakit dan yang sedang dalam perjalanan serta uzur lainnya, tiada lain karena Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya yang mukmin.

Keempat:

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian.”

Maknanya, agar kalian ingat kepada Allah di saat ibadah kalian selesai. Seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lainnya, antara lain firman-Nya:

فَإِذا قَضَيْتُمْ مَناسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آباءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً

“Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyang kalian, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu.: (QS. Al-Baqarah: 200)

فَإِذا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Dan firman-Nya:

سَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبارَ السُّجُودِ

“Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai salat.” (QS. Qaf: 39-40)

Karena itulah maka disebutkan di dalam sunnah bahwa disunatkan membaca tasbih, tahmid, dan takbir setiap sesudah mengerjakan salat lima waktu. Sahabat Ibnu Abbas mengatakan, “Kami tidak mengetahui selesainya salat Nabi Saw. melainkan melalui takbirnya.”

Atas dasar firman-Nya itu, umat Islam disyariatkan membaca takbir dalam Hari Raya Idul Fitri. Sementara tata cara pelaksanaannya dijelaskan oleh Nabi bahwa beliau mensunahkan takbiran pada hari raya, sejak keluar dari rumah untuk menuju tempat salat,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وآله وسلم كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ وَالتَّهْلِيْلِ حَالَ خُرُوْجِهِ إِلَى الْعِيْدِ  يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى

“Dari Ibnu Umar sesungguhnya Nabi saw. bertakbir dan bertahlil (menyebut laa ilaha illallah) dengan suara keras dari mulai keluar hendak pergi salat iedul fitri hingga sampai ke lapang.” (HR. Al-Baihaqi, Nailul Authar III:355)

Cara bertakbir di hari fitri, selengkapnya dapat di baca di sini

Dari rangkaian beberapa topik pembicaraan sebelum ditutup dengan kalimat La’allakum Tasykuruun (agar kamu bersyukur), dapat diambil kesimpulan bahwa objek syukur bulan Ramadhan meliputi: (1) Allah menurunkan Al-Quran sebagai pedoman hidup kita, (2) Allah memberi kemudahan bagi kita, (3) Allah menghilangkan kesukaran bagi kita, (4) Allah menganugerahkan kemampuan kepada kita untuk menyempurnakan ibadah sebulan penuh, (5) Allah menganugerahkan hidayah-Nya: ilmu dan amal.

Target: “Supaya Kamu Bersyukur”

Sehubungan dengan kalimat penutup: La’allakum Tasykuruun (agar kamu bersyukur), para ulama ahli tafsir menyampaikan penjelasan sebagai berikut: 

Pertama, Imam Ath-Thabari menjelaskan:

وَقَوْلُهُ : {وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ : وَلِتَشْكُرُوهُ عَلَى إِنْعَامِهِ عَلَيْكُمْ بِذَلِكَ ، فَعَلَ ذَلِكَ بِكُمْ لِتُفْرِدُوهُ بِالشُّكْرِ ، وَتُخْلِصُوا لَهُ الْحَمْدَ ، لأَنَّهُ لَمْ يُشْرِكْهُ فِي إِنْعَامِهِ عَلَيْكُمْ بِذَلِكَ شَرِيكٌ ، فَلِذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ لاَ يَكُونَ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْحَمْدِ عَلَيْهِ

“Dan firman-Nya: ‘Supaya kalian bersyukur.’ (QS. Al-Baqarah: 185) Artinya Dia berfirman: ‘Dengan itu supaya kalian bersyukur pada-Nya atas karunia-Nya pada kalian. Dia berbuat demikian pada kalian supaya kalian bersyukur hanya kepada-Nya, dan memurnikan pujian hanya untuk-Nya, karena tidak ada satu pun pembanding (sekutu) bagi-Nya dalam melimpahkan karunia pada kalian. Karena itu, alangkah pantasnya meniadakan pujian dari pembanding (sekutu) bagi-Nya.” (Lihat, Tafsir ath-Thabari, 18:306)

Kedua, Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ أَيْ إِذَا قُمْتُمْ بِمَا أَمَرَكُمْ اللَّهُ مِنْ طَاعَتِهِ بِأَدَاءِ فَرَائِضِهِ وَتَرْكِ مَحَارِمِهِ وَحِفْظِ حُدُوْدِهِ فَلَعَلَّكُمْ أَنْ تَكُوْنُوْا مِنَ الشَّاكِرِينَ بِذَلِكَ.

“Dan firman-Nya: ‘Supaya kalian bersyukur.’ (QS. Al-Baqarah: 185) Artinya, apabila kalian menunaikan apa yang diperintahkan Allah kepada kalian berupa ketaatan kepada-Nya dengan mengerjakan semua yang difardukan-Nya dan meninggalkan semua apa yang diharamkan-Nya serta memelihara batasan-batasan-Nya, maka semoga saja kalian akan menjadi orang-orang yang bersyukur kepada-Nya karena mengerjakan hal tersebut.” (Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, I:271)

Ketiga, Syekh Ibnu Asyur menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: (وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ) تَعْلِيْلٌ آخَرُ وَهُوَ أَعَمُّ مِنْ مَضْمُوْنِ جُمْلَة (وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ) فَإِنَّ التَّكْبِيْرَ تَعْظِيْمٌ يَتَضَمَّنُ شُكْرًا وَالشُّكْرُ أَعَمُّ لِأَنَّهُ يَكُوْنُ بِالأْقَوَالِ الَّتِيْ فِيْهَا تَعْظِيْمٌ لِلهِ تَعَالَى وَيَكُوْنُ بِفِعْلِ الْقَرْبِ مِنَ الصَّدَقَاتِ فِي أَيَّامِ الصِّيَامِ وَأَيَّامِ الْفِطْرِ وَمِنْ مَظَاهِرِ الشُّكْرِ لَبِسَ أَحْسَنَ الثِّيَابِ يَوْمَ الْفِطْرِ

“Dan firman-Nya: ‘Supaya kalian bersyukur.’ (QS. Al-Baqarah: 185) adalah keterangan sebab yang lain, dan ungkapan ini lebih umum daripada kandungan kalimat (وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ) karena takbir itu adalah mengagungkan yang mencakup syukur, dan syukur lebih umum karena syukur itu dengan ucapan, yang di dalamnya terdapat pengagungan Allah Ta’ala, dan dengan perbuatan taqarrub (ibadah) berupa shadaqah pada hari-hari shaum dan hari-hari fitri, dan di antara fenomena rasa syukur ialah mengenakan pakaian yang paling bagus di hari raya fitri.” (Lihat, at-Tahrir wa at-Tanwir, I: 525) 

Keempat, Syekh Muhammad bin Shalih Utsaimin menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: (وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ)  أَيْ لِأَجْلِ أَنْ تَشْكُرُوْا اللهَ عَز وجل عَلَى نِعَمِهِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يَشْكُرَ اللهَ عَلَى نِعَمِهِ لِأَنَّ نِعَمَ اللهِ لَا تُحْصَى وَلَاسِيَّمَا النِّعَمُ الدِّيْنِيَّةُ لِأَنَّ بِهَا سَعَادَةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ .وَالشُّكْرُ هُوَ الْقِيَامُ بِطَاعَةِ اللهِ بِامْتِثَالِ أَمْرِهِ وَاجْتِنَابِ نَهْيِهِ بِاللِّسَانِ وَالْأَرْكَانِ وَالْقُلُوْبِ

“Dan firman-Nya: ‘Supaya kalian bersyukur.’ (QS. Al-Baqarah: 185) Yaitu agar kalian bersyukur kepada Allah Azza wajalla atas berbagai nikmat-Nya. Maka wajib bagi tiap orang untuk bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmat-Nya karena berbagai nikmat Allah itu tidak akan terhitung banyaknya, terlebih lagi berbagai nikmat agama karena dengan agama kebahagiaan dunia dan akhirat dapat digapai. Dan Syukur adalah menunaikan ketaatan kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan lisan, anggota badan, dan hati.” (Lihat, Syarah Riyadh ash-Shalihin, I: 1175)

Adapun efek positif hamba pandai bersyukur dengan beragam nikmat bulan Ramadhan, dijelaskan oleh para ulama, antara lain:

﴿ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ﴾ [إبراهيم: 7]، يَكُوْنُ فِي أُمُوْرِ الدِّيْنِ كَمَا يَكُوْنُ فِي أُمُوْرِ الدُّنْيَا، فمَنْ شَكَرَ اللهَ – تعالى – عَلَى نِعْمَةِ إِدْرَاكِ رَمَضَانَ، فَعَمَرَهُ بِالأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، تَأَذَّنَ اللهُ – تَعَالى – لَهُ بِالزِّيَادَةِ فِي أَعْمَالِ الْبِرِّ، فَفُتِحَ لَهُ مِنْهَا أَبْوَابًا لَا تَخْطُرُ لَهُ عَلَى بَالٍ.

“(لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ) terjadi pada urusan agama sebagaimana terjadi pada urusan duniawi, maka barangsiapa bersyukur kepada Allah Swt. atas nikmat dapat bertemu dengan Ramadhan, lalu ia memakmurkannya dengan amalan shaleh, Allah telah memberitahukan kabar gembira padanya berupa tambahan pada amalan kebajikan, kemudian akan dibukakan baginya pintu-pintu kemuliaan yang tidak terbayang oleh akal/pikiran.”

Semoga pertemuan kita dengan bulan Ramadhan ini bukanlah sekedar pertemuan dengan musim “kalender” yang datang dan pergi begitu saja tanpa mengikat makna bagi kita. Namun pertemuan ini harus dimaknai sebagai nikmat Allah tak terkira, sehingga semakin sering kita bertemu dengan bulan mulia, kita semakin sadar untuk selalu pandai bersyukur atas berbagai kenikmatan yang telah kita terima sepanjang perjalanan hidup kita, hingga menggapai kebahagian di alam Baqa.

Bandung, 03 Ramadhan 1439 H/19 Mei 2018 M

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta.

Baca pula target Ramadhan (I): Pengendalian Diri, di sini

Baca pula target Ramadhan (II): Upgrading Kualitas Ilmu, di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *