TARGET RAMADHAN (I): PENGENDALIAN DIRI

Kurikulum pembinaan orang beriman melalui momen Ramadhan terangkum dalam Al-Quran surat al-Baqarah: 183-187. Target pembinaan itu disebutkan dalam setiap penghujung ayat: (1) Taqwa (ayat 183 dan 187), (2) berilmu (ayat 184), (3) Syukur (ayat 185), (4) Rusyd (ayat 186).

Sifat Insan Taqwa: Pengendalian Diri

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah:183

Bentuk kalimat: La’allakum Tattaqun, hendak menunjukkan target akhir shaum adalah membentuk karakter muttaqin. Berarti shaum sejatinya merupakan bagian dari proses menuju Muttaqin, bukan sebagai tujuan. Pemaknaan demikian itu merujuk kepada penggunaan bentuk kata Tattaqun (فعل المضارع) yang mengandung makna proses-arus-nilai (values stream). Dalam hal ini, shaum adalah alat yang digunakan dalam proses-arus-nilai itu. Hasil dari proses itu berupa nilai-nilai takwa.

Dengan demikian dapat dikatakan, seorang shaim (yang bershaum) tidak dapat secara otomatis disebut sebagai Muttaqin sebelum ia mampu melahirkan sifat-sifat ideal, antara lain pengendalian diri. Pengendalian diri meliputi:

A. Mengkonsumsi barang dan jasa

Selama sebulan penuh (30 hari atau 29 hari dalam tahun hijriyah), setiap orang yang bershaum dilarang untuk makan, minum, dan kebutuhan seksual kecuali pada waktunya berbuka dan bagi orang-orang tertentu yang dibolehkan tidak bershaum, seperti orang yang sedang sakit, orang yang dalam perjalan jauh (musafir), atau seorang ibu yang sedang menyusui bayinya. Tindakan bershaum, memiliki makna mengendalikan diri akan keinginan untuk mengkonsumsi barang dan jasa, meskipun semua barang dan jasa itu sah, halal, dan sangat diinginkannya.

Jika kita salah orientasi dalam mengkonsumsi tiga aspek kebutuhan dasar tersebut (makan, minum, dan berhubungan seksual), maka rusaklah peradaban dunia. Pada gilirannya, hal ini juga akan merembet pada masalah perekonomian suatu bangsa.

Dari sudut konsumen, shaum berarti mengendalikan diri dalam membeli hanya sesuai kebutuhan (need), bukan sekedar memenuhi syahwat keinginan (won), apalagi untuk menimbun sebanyak-banyaknya.  Sementara dari sisi produsen, shaum dapat berarti menahan diri untuk tidak me-markup harga dan “kongkalikong” dengan pihak lain semata-mata hanya untuk mencari untung dengan cara yang menyakiti kesejahteraan publik. Jadi, shaum  mengendalikan tujuan mengkonsumsi semata untuk memenuhi kebutuhan (need), bukan keinginan (want). “Kebutuhan” relatif terbatas, sementara “keinginan” relatif tidak terbatas.

Perekonomian suatu bangsa berpotensi rusak karena tindakan para pelaku ekonomi yang hanya mendasarkan diri pada syahwat untuk memenuhi keinginan. Saat individu atau kelompok hendak memenuhi keinginannya, lalu bertindak dengan cara-cara terlarang dengan menjadi penumpang gelap (free rider, rentenir, mafia migas dan semacamnya), maka tindakan sejenis itu boleh dibilang tindakan yang menyakiti perekonomian publik.

Segelintir pelaku yang menikmati hasil pembangunan dengan cara mengorbankan kepentingan rakyat banyak, adalah bagian dari perwujudan pemenuhan “keinginan” tanpa batas itu.

Dalam konteks ini, shaum berarti mengendalikan diri untuk tidak mengorbankan hak publik, demi meraih keuntungan pribadi atau kelompoknya. Dengan demikian, shaum dalam konteks ekonomi makro, dapat kita artikan sebagai tindakan mengubah “budaya ekonomi rakus” menjadi “budaya ekonomi berbagi”.

B. Mengkonsumsi informasi dan berkomunikasi

  • Pengendalian diri dalam mengelola instrument informasi dan komunikasi (mata, mulut, telinga) dan bersikap, misalnya bertahan dari godaan maksiat dan menjauhi perbuatan keji, juga menjauhi perbuatan yang tidak terpuji lahir dan batin, misalnya berbuat curang dalam bertransaksi dan pengadaan barang
  • Mulut akan terjaga dari kata-kata kotor, caci maki, mengumbar aib orang dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaan orang lain, dan khianat terhadap janji yang telah dinyatakan baik secara lisan maupun tulisan.

Sehubungan dengan itu, Nabi saw. bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. -الجماعة الا مسلما والنسائي-

”Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan kotor, maka bagi Allah tidak punya keperluan dalam hal sekadar meninggalkan makan dan minum orang bershaum.” HR. Al-Jamaah kecuali Muslim dan An-Nasai

Pengendalian diri ini tidak hanya berlaku pada bulan Ramadhan, namun akan senantiasa diterapkan secara utuh dalam kehidupan sehari-hari selama 11 bulan di luar Ramadhan. Nabi saw. bersabda:

صِيَامُ رَمَضَانَ إِلَى رَمَضَانَ كَفَّارَةُ مَا بَيْنَهُمَا

“Shaum bulan Ramadhan ke bulan bulan Ramadhan berikutnya menjadi penebus dosa di antara keduanya.” HR. Ath-Thabrani

Semoga kita termasuk orang-orang yang sukses dengan bulan Ramadhan dengan ciri kesuksesaannya berupa mampu mengendalikan diri dalam memproduksi, distribusi, dan mengkonsumsi barang dan jasa, juga informasi dan berkomunikasi.

Bandung, 01 Ramadhan 1439 H/17 Mei 2018 M

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *