SURAT KEPADA MUHAMMAD

Sepucuk surat ini, aku tujukan kepada ia yang namanya telah malampaui usia. Kepada ia yang heningnya telah menutup semua gegap gempita pesta perayaan. Kepada ia yang cahayanya telah menembus batas-batas tipis, dari hati manusia. Kepada ia yang direndahkan, ditinggalkan, dan disepelekan. Kepada ia yang selama ini namanya dicatut, digunakan, dan tak jua diteladani.

Sebuah ungkapan kekesalan? Mungkin saja. Kini aku ingin mengeluh kepada engkau, tentang aku, dan semua orang yang pernah menamakan diri sebagai ummat-mu. Tentang sebuah topeng putus asa, yang digunakan kemunafikan untuk menyanjung namamu. Ribuan bait shalawat kami kirimkan kepadamu. Dari sudut senyap, maupun ditengah pesta pora perayaan. Melalui hati yang marah, pun dari hati yang senyap. Dengan cara yang tepat, maupun yang tidak tepat. Aku tak pernah tahu, melalui lidah siapa shalawat itu akan kau dengar.

Semoga engkau tak merasa kesepian, jika suatu saat shalawat kami berubah dentuman musik keras maupun mendayu-dayu. Jika pesan-pesanmu, tak lagi didengungkan. Jika ayat-ayat yang kau pertaruhkan jasad-mu dengannya, hanya ujud sebagai ukiran asing di pojok lemari kami. Ketika namamu, berujung barang jualan. Sekedar untuk ditukar: harta, tahta atau wanita semata.

Aku harap, engkau tak akan bersedih. Ketika kami lebih peduli pada sosok jasad-mu, bukan pada harapan dan cita-citamu. Ketika kami bertengkar atas nama-mu, dan melupakan teladan-mu. Maafkan aku, jika aku akhirnya tak mampu jua mengenalmu lebih baik. Tertinggal jauh oleh musuh-musuhmu, yang begitu sering membuka pesan dan hikayatmu.

Untukmu, yang namanya telah melampaui sekat waktu dan tempat. Untuk engkau yang diteladani secara malu-malu oleh maghrib. Untuk engkau yang dikhianati secara bangga oleh masyriq. Untukmu, yang mengisi setiap sela kehidupan kami, hari ini, dengan segala keragaman yang tak pernah engkau basmi selama hidupmu.

Ya Rasul, bagaimana jika misalnya kerinduanmu di telaga Kautsar tak pernah terjawab? Jika penantianmu, menunggu kami, tak jua dipertemukan. Karena ternyata kami malah mengkhianati cita-cita dan teladan abadimu. Akankah kami membuat engkau lagi-lagi menangis. Seperti saat paman yang begitu kau cintai lebih memilih bertahan dengan kebanggaan kesukuannya, dibanding kasih sayangmu yang nyata.

Ya Rasul, bagaimana jika akhirnya kami yang menamakan diri sebagai ummat-mu ini, hanya berakhir sebagai seorang angkuh yang bodoh. Seorang ahli ibadah yang mewarisi kesombongan iblis. Seorang penderma yang ingin kaya. Seorang penghafal yang ingin terkenal. Seorang penyeru yang ingin seru. Akankah engkau kecewa, seperti dahulu, saat engkau ditinggalkan di puncak Uhud?

Untukmu, yang hingga saat ini tak pernah benar-benar kami kenal. Akankah segera tiba saatnya, di mana kesombongan mencengkram setiap jiwa manusia yang merasa mengenalmu. Ketika bahkan asal-usulmu, telah membuat kami dikotak-kotakan dalam wadah bernama aswaja dan wahabi. Apakah kami akan berdosa, jika pada akhirnya kami lebih memilih diam dan mundur dari perang saudara ini, ya Rasul? Haruskah kami berdiri dalam salah satu kelompok itu? Kanan? Kiri? Tengah? Atau kami cukup menonton dari belakang?

Ya Rasul, tahukah engkau. Jika saat ini, mesjid-mesjid tak lagi seperti zaman-mu dahulu. Tempat semua orang berkumpul, tanpa pandang pintar dan bodoh. Tanpa menilik kaya dan miskin. Tanpa melihat anak “kobong” atau anak “kuliahan”. Tempat semua orang mencari hikmah, dari tutur petuahmu yang sederhana, bukan dari konsep-konsep jlimet yang dibuat-buat. Yang dengannya, memang telah memisahkan si pintar dan si bodoh. Si kaya dan si miskin.

Ya Rasul, benarkah engkau dahulu pernah menyampaikan kabar mengerikan itu. Tentang para pembaca ayat, yang tak lagi acuh pada pesan dan maknanya. Benarkah engkau pernah menyebut mereka dengan gelar “khawarij”? Orang-orang yang melepaskan diri dari teladan-mu. Akankah itu adalah kami ya Rasul?

Ketika stasiun televisi menampilkan anak-anak “biasa” di belahan lain dunia sana, sebagai sebuah tongkat pendongkrak kapitalisme media hiburan. Ketika agama hanya disimpan dalam kotak kecil bernama mesjid atau pesantren, dan dipaksa “talak tiga” dari politik, sains dan kehidupan seutuhnya. Akankah kami para khawarij itu ya Rasul?

Untukmu, Sang pembawa rahmat untuk alam semesta. Untukmu, yang kemanusiaannya melampaui segala sekat keimanan dan warna kulit. Benarkah dahulu engkau yang berpesan, “Allah tidak menyayangi orang yang tidak lagi berkasih-sayang pada sesamanya”?

Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana kiranya tanggapanmu kepada kami yang berteriak cinta Rasul, tanpa meneladani kehidupan-mu. Bukankah engkau, yang dahulu telah membuat seorang nenek Yahudi buta itu menangis dan ber-syahadat melalui jiwa kemanusiaanmu yang agung? Bukankah dahulu engkau, yang telah menahan para sahabatmu untuk berperang dan berseteru atas nama kebencian dan kemarahan, meski itu demi membelamu? Aku yakin itu engkau, yang telah membuat Ali mengurungkan hunusan pedangnya, hanya karena ludah yang terlempar ke wajahnya. Bukan malah mengompori, lalu menganiaya-nya.

Masih pantaskah kami menyandang gelar sebagai “ummat-mu” ketika bahkan pesanmu tak lagi kami ujud nyatakan? Lagi-lagi aku yakin itu engkau, yang pernah mengajarkan kami tentang “cermat dan hati-hati”, bukan malah kagetan dan asal bicara. Bukankah engkau yang pernah mengatakan, “Cukup kiranya seseorang dicap sebagai pendusta, ketika ia mengatakan apapun yang ia dengar”. Bukankah itupun engkau, yang pernah mengatakan, “Ketika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tinggal menunggu kehancurannya”. Lalu apa kabar dengan kami, yang masih saja rela dibodohi oleh pesan tidak masuk akal, yang bisa mengembalikan baterai smartphone menjadi seratus persen, misalnya.

Untukmu, yang pesan dan teladannya sekedar dijadikan mitos belaka. Dijauhkan dari nyata dunia, dan diukir indah dalam balutan perayaan belaka. Akankah kami lebih mengenal makam-mu dibanding semua tata-cara hidupmu ya Rasul?

Aku yakin itu dirimu, ya Rasul. Ketika engkau tengah merindukan kampung halamanmu, Makkah al-Mukarramah, dan hendak berhaji mengunjunginya. Ketika engkau dengan berpakaian ihram, dan pergi sembari membawa domba untuk hadyu, namun dihalang-halangi oleh pasukan perang berkuda. Ketika akhirnya engkau harus lebih memilih menanda-tangani perjanjian damai di Hudaibiyyah, dibanding mempertahankan Bai’atu Ridwan pada saat yang sama. Banyak para sahabat saat itu yang akhirnya kecewa, dan merasa dihinakan. Tapi engkau dengan tegas dan tegar menerimanya penuh kelapangan. Bahkan ketika Umar, orang yang begitu engkau harapkan keimanannya dahulu, memprotesmu. Engkau tak gentar, goyah ataupun luntur. Karena engkau yakin, dari kelembutan itulah, yang dahulu justru membuat hati dan watak Umar yang keras itupun takluk, dan akhirnya beriman. Dari doa-doa ikhlasmu, bukan dari umpat dan cacimu.

Maafkan kami ya Rasul. Jika kini kami hanya mengingat perangmu, dan melupakan lemah-lembutmu. Maaf, jika akhirnya kami hanya meniru poligami-mu. Tanpa meniru jua sikap romantis dan pengorbananmu untuk seluruh istrimu itu. Maaf, jika hanya yang nyaman-nyaman saja, yang kami amalkan. Maafkan kami, yang lebih mementingkan diri kami sendiri dari semua saudara kami lainnya. Pesan cintamu, akhirnya hanya kami tulis dalam artepak sejarah. Hadis-hadis yang kami hafal, tak jua ujud dalam nyata. “Ummatku, ummatku…” sebagai ungkapan perpisahanmu kala itu. Tak sedikitpun menggurat semangat di nadi kami.

Untukmu, yang dalam setiap senyap malam tak lupa mendoakan kami. Orang-orang yang bahkan tak pernah kau temui. Jangankan mengenal kami, mendengar namanya pun engkau tak sempat. Untukmu, yang namanya telah tercatat di absen surga.

Ajari kami untuk tak lagi bebal dan sombong, meski hanya bermodal pengetahuan yang tak seberapa dalam. Ajari kami hikmah Sang Bijak. Yang mendidik, tanpa hardik. Ajari kami falsafah padi itu. Yang bertumbuh, tanpa beriak. Semakin berisi, semakin merunduk. Ajari kami hikmah-mu, aku akan berusaha tak menjadi seperti Musa atas Khidir. Tentang kejadian saat engkau pernah berseru dengan keras, kepada para sahabat yang sedang ber-wudhu, “Wailun lil a’qab minan-nar” (celaka; api neraka akan kena pada lutut kalian!). Padahal mereka adalah para sahabatmu kan? Dalam kesempatan lain, engkau hanya diam saja ketika engkau dilukai, dicaci, dan dihinakan oleh orang-orang Thaif. Lagi-lagi engkau hanya menyampaikan, “Sungguh mereka hanyalah orang-orang yang tidak mengetahui”. Tidak mungkin saat itu engkau hanya cari sensasi kan? Sedang nyawamu yang tengah kau pertaruhkan. Tentang dakwah risalah yang akan lanjut atau tenggelam. Maka dari itu ya Rasul, ajari aku hikmah-mu itu.

Untukmu, yang cintanya telah melepaskan setiap belenggu menuju pembebasan. Untukmu, yang menyulam hening sebagai hamparan. Menjalin doa sebagai atap pelindung.

Ya Rasul, aku mendengar kakimu begitu sering bengkak. Perutmu sering kali kosong. Bajumu begitu compang-camping, dan sederhana. Alas tidurmu begitu keras. Sandalmu seringkali lepas talinya. Namun setiap sedekah yang kau berikan, tak pernah sedikitpun kau niatkan untuk memperkaya diri. Engkau memiliki banyak sahabat yang kaya raya. Katakanlah Abdurrahman bin ‘Auf dan Usman bin Affan. Mengapa engkau tak “meminta” mereka untuk menanggung kehidupanmu. Padahal mereka seringkali menawarkan diri kepada engkau, sekedar membantumu sedikit saja.

Setiap malam, engkau seringkali menghabiskan waktu untuk mendoakan ummat-mu. Ya, kami; orang-orang yang selalu engkau khawatirkan dan doakan. Mengapa engkau tidak meminta untuk sekedar diberikan secuil harta yang dikuasai-Nya? Padahal telah Ia perlihatkan untukmu semua kunci-kunci kekayaan di bumi ini. Mengapa tak coba saja engkau buka satu kunci saja? Tak pernahkah engkau merasa cemburu, kepada mereka para sahabatmu yang kaya itu? Aku masih ingat jawabmu saat itu, “Apalah urusanku dengan dunia ini? Jikapun dunia ini berarti, sedikit saja. Maka tidak akan Ia berikan secuilpun kepada musuh-musuh Allah”. Tidak akan ada Qarun maupun Firaun di dunia ini.

Ya Rasul, tahukah engkau. Hari ini, ketika telah jauh zaman-mu meninggalkan kami. Ketika hanya punggungmu saja yang dapat kami tatap. Bukan lagi senyummu. Bukan lagi uluran tanganmu. Hanya punggung, dan beberapa jejak yang mulai udar, dan tak henti-hentinya diperdebatkan. Akankah antara kami dan engkau, hanya tersisa sebuah jurang dalam, sejauh 1400 tahun lamanya. Akankah tinggal pedangmu yang kami ingat, bukan sandal-mu yang lusuh itu. Akankah hanya teriakmu yang kami dengar, bukan lagi lirih doamu malam itu.

Untukmu, yang kasihmu mengalahkan amarahmu. Untukmu, yang senantiasa meneladani Tuhan-mu dalam senyap. Mencintai-Nya dalam gelap dan buram. Maafkan kami, jika kami lebih patuh untuk tidak menelpon dalam keadaan hp di-charge, dibandingkan untuk memberi makan jiwa kami agar tidak mati.

Dari Ummat-mu yang tak tahu diri.

Semoga engkau tak malu memiliki pengikut seperti kami.

By M.Ridwan Nurrahman, Penulis Pesantren Sastra (PESAT) PP.Pemuda Persis

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *