Studi Klasifikasi Rawi Ahlu Bid’ah Syiah: Ibnu Asywa’

“Santri pesantren Ibnu Hajar mesti bersikap i’tidal terhadap produk pemikiran seseorang atau suatu kelompok. Wujud sikap itu dengan telaah karya secara tuntas.” By Ustadz Amin Muchtar Santri pesantren Ibnu Hajar Kls PKU Thabaqah Ula (Angkatan I) dalam Muthala’ah Buku “Periwayat Syi’ah” Karya Dr. Alwi Bersama Santri : Kategori Periwayat Syiah dalam Shahih Bukhari-Muslim (Kriteria Ahli Bid’ah): Studi Kasus Rawi Sa’id bin Amr bin Asywa’ Al-Hamdani (W. 120 H/738 M)

Materi kajian telah beranjak pada uji banding hasil pembacaan Dr. Alwi tentang beberapa contoh rawi dalam Shahih Bukhari-Muslim yang dikategorikan sebagai periwayat Syiah, seperti Sa’id bin Amr bin Asywa’ Al-Hamdani (W. 120 H/738 M)

Dalam pertemuan sebelumnya telah dipetakan klasifikasi Rawi Ahlu Bid’ah Syiah:

Level I: Tasyayyu’ (Syi’iy), Level II: Ghaal fii Tasyayyu’ (Raafidhiy), Level III: Ghaal fii Rafdh, Level IV: Asyaddu Fii Ghuluw.

Level I: Tasyayyu’ (Syi’iy). Ciri seorang rawi dikategorikan sebagai Syi’iy: “Menyintai Ali bin Abu Thalib dan mengutamakannya atas semua shahabat selain Abu Bakar dan Umar”

Level II: Ghaal fii Tasyayyu’ (Raafidhiy). Ciri seorang rawi dikategorikan sebagai Raafidhiy: “Mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar”

Level III: Ghaal fii Rafdh. Ciri seorang rawi dikategorikan sebagai Raafidhiy Ghall: “Mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar dan mencela keduanya atau membenci keduanya dengan terang-terangan”

Level IV: Asyaddu Fii Ghuluw, dengan ciri: “Meyakini bahwa Ali bin Abu Thalib akan kembali ke dunia.” (Lihat, Hadyu as-Saarii, Muqaddimah Fath al-Baarii, hal. 544)

Sehubungan dengan status periwayatan mereka, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy berkata,
التشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان ، وأن عليا كان مصيبا في حروبه ، وأن مخالفه مخطئ ، مع تقديم الشيخين وتفضيلهما ، وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا ، لا سيما إن كان غير داعية وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض ، فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة
“Tasyayyu’ dalam istilah urfi ulama mutaqaddimin adalah keyakinan mendahulukan Ali atas Usman dan sesungguhnya Ali benar dalam peperangannya serta yang menentangnya adalah keliru, disertai dengan keyakinan mendahulukan Abu Bakar dan Umar serta menganggap keduanya lebih utama daripada Ali. Terkadang sebagian dari mereka meyakini bahwa Ali adalah manusia paling utama setelah Rasulullah saw. Apabila orang berkeyakinan demikian itu wara’ dalam beragama dan benar dalam berijtihad, maka riwayatnya tidak ditolak dengan sebab keyakinan ini, apalagi ia tidak mempropagandakan keyakinannya. Adapun Tasyayyu’ dalam istilah urfi ulama muta’akhirin bermakna Syiah Rafidhah semata, maka syiah Rafidhah ghulul dan karamah tidak diterima riwayatnya” (Lihat, Tahdzib At-Tahdzib, I: 81)

Merujuk kepada kategori dan status riwayat itu, maka fokus penelitian kami, apakah rawi syiah dalam semua level itu dipergunakan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahihnya?

Dalam contoh kasus Rawi Sa’id bin Amr bin Asywa’ Al-Hamdani (W. 120 H/738 M), semua ulama sepakat bahwa ia dikategorikan Tasyayyu’ semata (level I), bukan Rafidhi (Level II) (Lihat, Taqrib At-Tahdzib, I: 239)

Adapun penilaian Imam Abu Ishaq Al-Jauzajani terhadapnya sebagai Rafidhiy (Ahwaal Ar-Rijaal, hlm. 66) telah dibantah oleh para ulama dan penilaiannya dinilai sebagai jarh aqraan (kritik atas dasar sentiment).

Dari contoh kasus ini dapat diambil kesimpulan sementara bahwa di dalam Shahih Al-Bukhari-Muslim terdapat rawi Syiah dalam dalam kategori Level I, tidak ada rawi Syiah level II, apalagi level III dan IV.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *