Soliditas dan Konsep Gerakan Persis dalam Upaya Menyamakan Visi Dakwah Jam’iyyah

Dakwah adalah kegiatan yang mengandung ajakan atau seruan, baik ajakan atau seruan kepada jalan Allah swt. Yang menuntun ke surga (dakwah Islamiyah), maupun ajakan atau seruan kepada jalan yang menuju neraka (Dakwah Syaithoniyyah).

Rasulullah saw. telah melaksanakan tugas dakwahnya selama masa kerasulan beliau yaitu selama kurang lebih 23 tahun. Dengan Dakwahnya, banyak manusia yang terselamatkan dari tepi neraka dan menempatkan mereka pada jalan Allah swt menuju keselamatan dunia dan akhirat. Dan beliau telah berhasil pula mendamaikan yang bermusuhan yang telah berabad lamanya sehingga menjadi bersaudara.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Ali Imron : 103)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. . (Q.S. Ali Imron : 110)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imron : 103)

Keberhasilan ini bukan tanpa tantangan, namun beliau menghadapinya dengan ikhlas, sabar, dan bijak, dan selalu bertawakal  kepada Allah Azza wa Jalla.

Berbagai tantangan yang beliau harus hadapi , baik tantangan yang datang dari kafir ahli kitab, musyrikin maupun munafiqin, mereka sama-sama ingin memadamkan cahaya Allah dan mengahalangi manusia dari jalan Allah dengan berbagai macam cara.

Pertama, dengan cara menghinakan penyampai risalah/Da’i/mubaligh mereka sengaja melontarkan tuduhan keji dengan menyebut sihir, kadzdzab, majnun dan pemecah belah persatuan.

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. (Q.S. Shaad : 4)

إِنْ هُوَ إِلا رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّى حِينٍ

Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu.” (Q.S. Al;-Mu’minun : 25)

Kedua , dengan cara menghinakan risalah / agama yang disampaikan Rasul/da’I /Mubaligh, mereka melontarkan tudahn keji pula terhadap agama dengan mengatakan agama itu sebagai asathitul awwalin, ifkun dan sesuatu yang baru yang hanya di ada-adakan saja.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا .وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلا

Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kelaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (Q.S. Al-Furqon : 4-5)

Ketiga, dengan cara  menghinakan ummat yang berpegang pada agama Allah/penerima Risalah. Mereka menyebutnya sebagai orang bodoh , miskin, hina, dana ketingalan zaman.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لا يَعْلَمُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.(Q.S Al-Baqarah : 13)

قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ

Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” (Q.S Asy-Syu’ara : 111)

Merupakan sunnatullah bahwa setiap ada upaya Da’wah/Tabligh dalam rangka menegakan agama Allah swt. Tentu akanmenghadapi gelombang rintang, kapanpun dan di manapun. Begitu pula dakwah pada masa kini dihadapkan dengangerakan sekulerisme, deislamisasi, demoralisasi, irtidan dan gerakan dlal mudlil, hal ini bukanlah sesuatu yang baru, karena hakikatnya hal ini dari sejak dahulu sudah ada hanya beda zaman dan pelakunya saja, sedangkan sifat dan tujuannya sama.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (As-shaf : 4)

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (Q.S. Saba’ : 46)

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (Al-Qolam : 9)

Persatuan Islam sebagai Jamiyyah yang bermuatan al-Jama’ah hendaknya :

  1. Memperkuat pagar dan menutup pintu Rumah, sehingga tidak gampang masuk, kecuali yang mendapat izin.
  2. Meningkatkan kesadaran dan penghayatan anggotanya, untuk apa ia ada didalam.
  3. Terus berupaya meningkatkan kualitas kemampuan para da’i
  4. Rekrutmen kader-kader da’i

Dan dalam hal ini pula da’i hendaklah memperhatikan hal-hal sebagai berikut, yaitu seperti yang diungkapkan K.H. Shiddiq Amien sebagi berikut :

Da’i/Mubaligh adalah merupakan salah satu subyek da’wah terpenting yang terkait dengan kaidah-kaidah, : Al-Fahmu, Al-Yaqinu, Al-Ikhlas, At-Tadhiyyah, Ats-Tsabat (Lapang Dada), Al-Jihad, Al-Ukhiwwah dan Al-Istiqomah.

Pengertian Jam’iyyah

Berdsarkan Tafsir Qanun Asasi dan Dakhili Persatun Islam yang dikeluarkan pada tanggal 23 Juni 1984, halaman : 13, terdapat keterangan bahwa yang dimaksud dengan kata Ummat itu,

فَالْمُرَادُ بِالْأُمَّةِ الَّتِي تُقِيمُهَا الْأُمَّةُ لِذَلِكَ مَا يُعَبَّرُ عَنْهُ فِي عُرْفِ هَذَا الْعَصْرِ بِالْجَمْعِيَّةِ

Yang dimaksud dengan kata umat itu ialah yang dibangun oleh umat itu sendiri. (untuk keprluan amar ma’ruf nahi munkar), yaitu yang pada masa sekarang ini dinamakan jam’iyyah.

الْجَمْعِيَّةُ : اِجْتِمَاعُ الْهَمِّ فِي التَّوجُّهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَالْإشْطِغَالِ بِهِ عَمَّا سِوَاهُ وَبِإِزَائِهَا التَّفْرِقَةُ

Al-Jam’iyyah adalah bersatunya kepentingan (tujuan) dalam menghadapkan diri kepada Allah swt. Dan mengsemata-matakan denang hal itu (hanya kepada Allah) dengan mengeyampingkan yang lain. Dan sebalikny adalah perpecahan” At-Ta’rifat, I : 106 no. 507

Al-Ustadz Syekh muhamad Abduh berkata :

فَإِنَّ مِنْ مَعْنَى الْأُمَّةِ أَنْ يَكُونَ لِلْأَفْرَادِ الَّذِينَ تَتَكَوَّنُ مِنْهُمْ وَحْدَةٌ فِي الْقَصْدِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَسَيْرِهِمْ فَإِذَا اخْتَلَفَتِ الْمَقَاصِدُ فَسَدَ الْعَمَلُ بِاخْتِلَافِ الْآرَاءِ وَتَنْكِيثِ الْقُوَى

Sesungguhnya dari antara makna umat adalah bagi setiap individu yang terbentuk dari mereka satu dalam tujuan dari amal-amal mereka dan langkah-langkah hidup mereka. Maka apabila berbeda-beda tujuan-tujuan, niscaya rusak amalnya dengan sebab fikiran-fikiran yang saling bertentangan dan melemahnya kekuatan” Tafsir Almanar, IV : 47.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Rasulullah saw. telah melaksanakan tugas dakwahnya selama masa kerasulan beliau yaitu selama kurang lebih 23 tahun. Dengan Dakwahnya, banyak manusia yang terselamatkan dari tepi neraka dan menempatkan mereka pada jalan Allah swt menuju keselamatan dunia dan akhirat.

 وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Ali Imron : 103)

Dan beliau telah berhasil membentuk barisan pelanjut perjuangan dalam pelaksanaan dakwah, sebagai realisasi dari ayat:

 كنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. . (Q.S. Ali Imron : 110)

 Persatuan Islam sebagai Jamiyyah yang bermuatan al-Jama’ah sebagai pelanjut perjuangan Rasulullah saw. hendaknya

1. Memelihara shaf yang bagaikan bunyan marshush, memperkuat pagar dan menutup pintu Rumah, sehingga tidak gampang masuk, kecuali yang mendapat izin.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ (ألصف:4)

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. As Shaf:4)

2. Memelihara keikhlasan dan tetap tawajjuh kepada Allah

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا (سبا:46)

 Katakanlah:”Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri kemudian kamu pikirkan    (Q.S. Saba:46).

3. Tidak Mudahanah

فَلا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ .وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ .(ألقلم:9)

Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).  (Q.S. Al Qalam:9).

Dan dalam hal ini pula khusushnya  Para  da’i /Mubaligh adalah merupakan salah satu subyek da’wah terpenting yang terkait dengan hal-hal sebagai berikut, : Al-Fahmu, Al-Yaqinu, Al-Ikhlas, At-Tadhiyyah, Ats-Tsabat (Lapang Dada), Al-Jihad, Al-Ukhiwwah dan Al-Istiqomah.

Kiranya perlu disampaikan pengertian  ummat dan  jam,iyyah Berdsarkan Tafsir Qanun Asasi dan Dakhili Persatun Islam yang dikeluarkan pada tanggal 23 Juni 1984, halaman : 13, terdapat keterangan bahwa yang dimaksud dengan kata Ummat itu,

فَالْمُرَادُ بِالْأُمَّةِ الَّتِي تُقِيمُهَا الْأُمَّةُ لِذَلِكَ مَا يُعَبَّرُ عَنْهُ فِي عُرْفِ هَذَا الْعَصْرِ بِالْجَمْعِيَّةِ

Yang dimaksud dengan kata umat itu ialah yang dibangun oleh umat itu sendiri. (untuk keprluan amar ma’ruf nahi munkar), yaitu yang pada masa sekarang ini dinamakan jam’iyyah.

الْجَمْعِيَّةُ : اِجْتِمَاعُ الْهَمِّ فِي التَّوجُّهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَالْإشْطِغَالِ بِهِ عَمَّا سِوَاهُ وَبِإِزَائِهَا التَّفْرِقَةُ

Al-Jam’iyyah adalah bersatunya kepentingan (tujuan) dalam menghadapkan diri kepada Allah swt. Dan mengsemata-matakan denan hal itu (hanya kepada Allah) dengan mengeyampingkan yang lain. Dan sebalikny adalah perpecahan” At-Ta’rifat, I : 106 no. 507

Al-Ustadz Syekh Muhamad Abduh berkata :

فَإِنَّ مِنْ مَعْنَى الْأُمَّةِ أَنْ يَكُونَ لِلْأَفْرَادِ الَّذِينَ تَتَكَوَّنُ مِنْهُمْ وَحْدَةٌ فِي الْقَصْدِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَسَيْرِهِمْ فَإِذَا اخْتَلَفَتِ الْمَقَاصِدُ فَسَدَ الْعَمَلُ بِاخْتِلَافِ الْآرَاءِ وَتَنْكِيثِ الْقُوَى

Sesungguhnya dari antara makna umat adalah bagi setiap individu yang terbentuk dari mereka satu dalam tujuan dari amal-amal mereka dan langkah-langkah hidup mereka. Maka apabila berbeda-beda tujuan-tujuan, niscaya rusak amalnya dengan sebab fikiran-fikiran yang saling bertentangan dan melemahnya kekuatan” Tafsir Almanar, IV : 47.

ISTIQAMAH

كنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. . (Q.S. Ali Imron : 110)

 Persatuan Islam sebagai Jamiyyah yang bermuatan al-Jama’ah sebagai pelanjut perjuangan Rasulullah saw. hendaknya

1. Memelihara shaf yang bagaikan bunyan marshush, memperkuat pagar dan menutup pintu Rumah, sehingga tidak gampang masuk, kecuali yang mendapat izin.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ (ألصف:4)

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. As Shaf:4)

2. Memelihara keikhlasan dan tetap tawajjuh kepada Allah

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا (سبا:46)

 Katakanlah:”Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri kemudian kamu pikirkan    (Q.S. Saba:46).

3. Tidak Mudahanah

فَلا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ .وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ .(ألقلم:9)

Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).  (Q.S. Al Qalam:9).

Dan dalam hal ini pula khusushnya  Para  da’i hendaklah memperhatikan hal-hal sebagai berikut,  :

Da’i/Mubaligh adalah merupakan salah satu subyek da’wah terpenting yang terkait dengan hal-hal sebagai berikut, : Al-Fahmu, Al-Yaqinu, Al-Ikhlas, At-Tadhiyyah, Ats-Tsabat (Lapang Dada), Al-Jihad, Al-Ukhiwwah dan Al-Istiqomah.

Kiranya perlu disampaikan pengertian  ummat dan  jam,iyyah Berdsarkan Tafsir Qanun Asasi dan Dakhili Persatun Islam yang dikeluarkan pada tanggal 23 Juni 1984, halaman : 13, terdapat keterangan bahwa yang dimaksud dengan kata Ummat itu,

فَالْمُرَادُ بِالْأُمَّةِ الَّتِي تُقِيمُهَا الْأُمَّةُ لِذَلِكَ مَا يُعَبَّرُ عَنْهُ فِي عُرْفِ هَذَا الْعَصْرِ بِالْجَمْعِيَّةِ

Yang dimaksud dengan kata umat itu ialah yang dibangun oleh umat itu sendiri. (untuk keprluan amar ma’ruf nahi munkar), yaitu yang pada masa sekarang ini dinamakan jam’iyyah.

الْجَمْعِيَّةُ : اِجْتِمَاعُ الْهَمِّ فِي التَّوجُّهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَالْإشْطِغَالِ بِهِ عَمَّا سِوَاهُ وَبِإِزَائِهَا التَّفْرِقَةُ

Al-Jam’iyyah adalah bersatunya kepentingan (tujuan) dalam menghadapkan diri kepada Allah swt. Dan mengsemata-matakan denan hal itu (hanya kepada Allah) dengan mengeyampingkan yang lain. Dan sebalikny adalah perpecahan” At-Ta’rifat, I : 106 no. 507

Al-Ustadz Syekh muhamad Abduh berkata :

فَإِنَّ مِنْ مَعْنَى الْأُمَّةِ أَنْ يَكُونَ لِلْأَفْرَادِ الَّذِينَ تَتَكَوَّنُ مِنْهُمْ وَحْدَةٌ فِي الْقَصْدِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَسَيْرِهِمْ فَإِذَا اخْتَلَفَتِ الْمَقَاصِدُ فَسَدَ الْعَمَلُ بِاخْتِلَافِ الْآرَاءِ وَتَنْكِيثِ الْقُوَى

Sesungguhnya dari antara makna umat adalah bagi setiap individu yang terbentuk dari mereka satu dalam tujuan dari amal-amal mereka dan langkah-langkah hidup mereka. Maka apabila berbeda-beda tujuan-tujuan, niscaya rusak amalnya dengan sebab fikiran-fikiran yang saling bertentangan dan melemahnya kekuatan” Tafsir Almanar, IV : 47.

Oleh: KH. Zae Nandang

sigabah.com | persis.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *