SA’ID BIN ZAID: MENIADAKAN DIRI DEMI MEWUJUDKAN SESUATU

Nama lengkapnya Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail, berasal dari suku Quraisy. Ayahnya Zaid bin Amr adalah sepupu Umar bin Khattab. Keluarga Said jumlahnya sedikit sehingga mereka tidak memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan Quraisy Makkah. Tetapi mereka satu-satunya keluarga di Mekkah yang masih berpegang teguh dengan agama Nabi Ibrahim, yang berisikan ketauhidan kepada Allah dan jauh dari kemusyrikan, di saat kondisi keagamaan di kota Mekkah penuh dengan kebiasaan Jahiliyah seperti menyembah berhala. Kemuliaannya yang lain, mereka adalah salah satu kabilah Arab yang tidak sampai hati mengubur anak perempuannya hidup-hidup bahkan mereka rela merawat dan mendidik bayi-bayi perempuan yang akan dibunuh, dengan mengharap pahala dari Allah Swt. Sementara kondisi sosial beberapa kabilah Arab saat itu memandang rendah kaum wanita, karena (1) dianggap tidak memiliki kemampuan berperang, (2) tidak bisa  menghasilkan uang, (3) dan wanita yang menjadi tawanan/budak adakalanya oleh tuannya dijadikan pelacur. Hal ini mengakibatkan orang tua merasa malu, sedih dan bingung bila dikaruniai anak perempuan (QS. An Nahl : 58-59), sehingga banyak diantara mereka yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup (QS. At Takwir : 8–9 ).

Sa’id bin Zaid dididik oleh seorang ayah yang sepanjang hidupnya mencari agama yang hak, sehingga sosok ayah menjadikan Sa’id seorang anak yang bertauhid dan berakhlak mulia. Tidaklah heran ketika Rasulullah saw. mendakwahkan Islam, Sa’id, yang saat itu berusia kurang dari 20 tahun, langsung menyambut dan menerima ajaran Islam.

Sai’d bin Zaid masuk Islam beserta istrinya, Fatimah binti Khattab, adik perempuan Umar bin Khathab. Keputusan Sa’id ini mengakibatkan dia disakiti, dianiaya dan dipaksa oleh kaumnya untuk kembali ke agama mereka. Tetapi di sini terbukti kekuatan imannya, dia tetap dalam agama Islam, bahkan Umar bin Khathab seorang tokoh Quraisy yang paling berpengaruh dan berbobot baik fisik maupun intelektualnya berhasil diajaknya untuk memeluk Islam.

Sa’id bin Zaid ikut serta dalam peperangan di zaman Rasulullah maupun di zaman sahabat, antara lain Perang Yarmuk, yang terjadi di akhir masa kekhalifahan Abu Bakar dan awal kekhalifahan Umar bin Khathab. Pada peperangan ini pasukan  Romawi berjumlah 120 ribu dengan persenjataan yang lengkap dan perbekalan yang mencukupi, sedangkan pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid hanya berjumlah 24 ribu dengan perlengkapan dan perbekalan terbatas. Kekuatan yang tidak seimbang antara pasukan Romawi dan pasukan Islam, ditambah pengalaman pertama pasukan muslimin memerangi kerajaan besar menyebabkan ketakutan pasukan Islam. Keimanan yang tinggi, ketaatan dalam beribadah dan ikhtiar menjauhi kemaksiatan menjadi senjata ampuh pasukan muslimin untuk mengalahkan kekuatan pasukan Romawi. Hal ini diakui pasukan Romawi kepada rajanya Heraclius seperti terekam dalam dialog ini: “Kami kalah disebabkan mereka (pasukan muslimin) shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, mengajak kepada perbuatan maruf (kebajikan), mencegah dari yang munkar dan saling jujur sesama mereka. Sementara kita (pasukan Romawi) gemar minum khamar, berzina, mengerjakan segala yang haram, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat kezhaliman, menyuruh kepada kemungkaran, melarang dari apa-apa yang diridhai Allah dan kita selalu berbuat kerusakan di muka bumi.”

Setelah kemenangan di Yarmuk di masa kekhalifahan Umar bin Khathab, Sa’id bin Zaid turut berperang menaklukan Damaskus, yang ketika itu menjadi pusat pemerintahan Byzantium, rajanya adalah Heraclius. Dahulu kota ini dijadikan ibukota kekhalifahan Bani Umayah oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan, kota ini sekarang menjadi ibu kota Suriah. Setelah kota itu menjadi bagian dari wilayah kaum muslimin, Said diangkat sebagai Gubernur pertama dari kaum muslimin di kota tersebut. Tetapi tidak lama kemudian Sa’id menolak jabatan itu dan menyarankan agar menunjuk orang lain. Hal ini disebabkan karena Sa’id ingin melanjutkan karir kemiliterannya dan ingin mati syahid di medan perang, dia tidak berambisi menduduki suatu jabatan. Sehingga seluruh kehidupannya dicurahkan untuk tugas-tugas bertempur.

Said bin Zaid meninggal tahun 51 H. pada masa kekhalifahan Bani Umayah, usianya saat itu 70 tahun. Jenazahnya dimandikan oleh Saad bin Abi Waqqash dan dimakamkan di Baqi Madinah.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah tokoh sahabat ini adalah : (1) untuk menghasilkan seorang anak yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, dan mempunyai kemuliaan seperti “Said bin Zaid”, diperlukan sosok orang tua yang bisa memberikan contoh tauladan seperti “Zaid bin Amr”. Dia adalah salah satu pemikir Quraisy yang terus mencari agama yang hak, mempertahankan tauhidnya dan berakhlak mulia; (2) di setiap peperangan atau perjuangan hidup  diperlukan keimanan yang tinggi seperti halnya dalam perang Yarmuk, suatu kemenangan karena keimanan. Selain itu perjuangan hidup perlu strategi, seperti dilakukan Sa’id bin Zaid. Dia bukan tokoh yang ingin selalu tampil melainkan mengambil posisi menjadi tokoh yang meniadakan diri untuk mewujudkan suatu kemenangan.

Sumber: Buletin Humaira, Edisi 10, Juni 2016

Info dan pemesanan Buletin, Hubungi: 0813120261681

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *