Ratusan Mahasiswa DIY Nilai Pemerintahan Jokowi Gagal Mengelola Ekonomi

Di masa akhir kepemimpinan rezim Jokowi-JK, rakyat seolah kehilangan pemimpinnya. Bukan hanya karena tak ada sosok pemimpin yang memihak pada rakyat, tetapi juga sosok yang mampu membuat rakyat optimis dan bangga membayangkan masa depan Indonesia.

Sulaiman Tahir, Kabid Kebijakan Publik KAMMI DIY dalam orasinya mengatakan, “Saban hari penguasa membuat kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Tipu-tipu menjadi hidangan yang membuat rakyat kenyang dengan bualan dan omong kosong.”

“Ketika pemerintah dikritik, justru menunjukkan wajah anti demokrasi, yakni: intimidasi, represif, presekusi, tudingan makar, dan berbagai sikap konyol lainnya, yang tentu saja adalah bukti betapa penguasa tak mau dikritik, tak mau membuka mata dan hati untuk melihat jeritan rakyat,” ungkap Sulaiman.

“Pencitraan menjadi pekerjaan sehari-hari rezim saat ini. Topeng dan kepalsuan adalah pakaian yang tiap hari melekat di badan penguasa. Nasib rakyat? Tak perlu lagi ditanya, karena rakyat adalah anak tiri dan bahkan telah menjadi yatim piatu selama penguasa ini bertahta,” pungkas alumni mahasiswa UIN Yogyakarta ini.

“Bukan hanya soal gagalnya penguasa menciptakan iklim demokrasi yang baik, persoalan ekonomi juga gagal dikelola dengan tepat oleh Pemerintah saat ini. Harga bahan pokok melambung, BBM naik berkali-kali, TDL mahal, impor ugal-ugalan sehingga menyebabkan melemahnya rupiah, timpangnya ekspor dan impor, defisit anggaran negara berada di angka cukup fantastis, hutang melambung tinggi. Akhirnya berefek luas ke berbagai macam sektor,” ungkap Elevan Yusmanto yang menjadi orator juga dalam aksi tersebut.

“Sayangnya, dengan anjloknya nilai tukar rupiah ini, pemerintah malah sibuk menyalahkan faktor eksternal, memang benar, bahwa berbagai Negara pun mengalami hal yang sama, ada faktor sosial yang memicu, tetapi bukan berarti pemerintah tidak malah melakukan evaluasi besar-besaran atas faktor internal yang justru ikut menjadi penyebab jatuhnya nilai tukar rupiah,” tambah Elevan yang juga Ketua KAMMI Wilayah DIY.

Dalam aksi tersebut demonstran menuntut pemerintah untuk segera mungkin memperbaiki kekacauan ekonomi yang terjadi. Pemerintah dituntut segera membenahi defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan. Karena itulah penyebab rentannya Indonesia dihantam gejolak ekonomi global. Selain itu pemerintah juga agar gerak cepat dalam membenahi fundamental ekonomi Indonesia.

Tuntutan yang lain oleh demonstran adalah agar pemerintah mengadili dan menghukum siapa saja yang terlibat dalam proses impor bahan pangan (beras, gula dan garam) secara ugal-ugalan.

Terakhir tuntutan mereka, agar Presiden Jokowi memecat menteri perdagangan, menteri perekonomian, menteri keuangan dan semua ekonom-ekonom pemerintah yang telah gagal mengendalikan situasi ekonomi nasional. Jika Presiden Jokowi tidak sanggup melakukan apa yang mereka tuntut, demonstran menuntut agar Presiden Jokowi mundur saja dari kursi kepresidenan.

Aksi yang digelar di depan Tugu Yogyakarta tersebut dihadiri oleh dua ratusan mahasiswa (14/9/2018). Aksi tersebut dimulai pukul 13.00 WIB dan berakhir menjelang Ashar, pukul 15.30 WIB. Aksi berjalan damai meski demonstran mengaku jika aksi yang sebelumnya akan digelar di DPRD DIY dan Istana Negara dihalang-halangi oleh pihak yang berwajib.[]

sigabah.com | jurnalpublik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *