PROPAGANDA KARBALA IV: SUNGKAWA SARAT REKAYASA

Bagi sekelompok orang, yang mengaku pengikut Ahlul Bait, berakidah Rafidhah alias Syiah Itsna ‘Asyariyyah alias Imamiyyah alias


Jakfariyyah, Asyura dijadikan hari berkabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai wujud bersungkawa serta ungkapan kesedihan dan penyesalan.

Pada setiap Asyura, mereka memperingati kematian Husen Ra. dan melakukan perbuatan-perbuatan tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi Husen secara histeria, membentuk kelompok-kelompok untuk berkeliling di jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukul badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan sebagainya. [1]

Menurut pengakuan ulama mereka, perbuatan ini adalah usaha mereka dalam menebus dosa-dosa orang-orang Syi’ah terdahulu, karena perbuatan merekalah Husen sampai mati terbunuh (syahid) di Karbala.

Adapun asal muasal kemunculan bid’ah yang demikian itu telah dijelaskan oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyah sebagai berikut:

وكانت الكوفة بها قوم من الشيعة المنتصرين للحسين وكان رأسهم المختار بن أبي عبيد الكذاب وقوم من الناصبة المبغضين لعلي رضي الله عنه وأولاده ومهم الحجاج بن يوسف الثقفي وقد ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال سيكون في ثقيف كذاب ومبير فكان ذلك الشيعي هو الكذاب وهذا الناصبي هو المبير فأحدث أولئك الحزن وأحدث هؤلاء السرور … وهذه بدعة أصلها من المتعصبين بالباطل على الحسين رضي الله عنه وتلك بدعة أصلها من المتعصبين بالباطل له وكل بدعة ضلالة ولم يستحب أحد من أئمة المسلمين الأربعة وغيرهم لا هذا ولا هذا ولا في شيء من استحباب ذلك حجة شرعية

“Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang mengkultuskan Husen. Pemimpin mereka adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dan terdapat hadis yang shahih dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda,

سَيَكُونُ فِي ثَقِيفٍ كَذَّابٌ وَمُبِيرٌ

‘Akan ada seorang pendusta dan seorang perusak dari bani Tsaqif.’ (HR. Muslim)

Si pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid—gembong Syiah—sedangkan si perusak adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang Syiah menampakkan kesedihan di hari Asyura, sementara orang Khawarij menampakkan kegembiraan. Bid’ah gembira berasal


dari manusia pengekor kebatilan karena benci Husen Ra, sementara bid’ah kesedihan berasal dari pengekor kebatilan karena cinta Husen. Dan semuanya adalah bid’ah yang sesat. Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab dan ulama lainnya yang menganjurkan untuk mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak ada dalil syar’i yang menganjurkan melakukan hal tersebut.” [2]

Dalam perkembangan Syiah selanjutnya, ekspresi kesedihan itu diwujudkan dalam beragam bentuk ritual, antara lain pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, di sebagian negara seperti Iran, sebagian wilayah Pakistan dan Irak, cahaya dimatikan, orang-orang keluar rumah, anak-anak memenuhi jalan, mereka meneriakkan: wahai Husein, wahai Husein…bunyi gendang terdengar di mana-mana. Ada juga yang menusuk dan menyayat tubuhnya dengan pedang. Sebagai bentuk belasungkawa yang mendalam atas kematian Husein. Pada saat yang sama, tokoh mereka berkhutbah menyampaikan kebaikan-kebaikan Husein dan mencela para sahabat lainnya. Mereka mencela Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan.

Sementara itu, ketika tanggal 10 Muharram (hari Asyura), dihidangkan berbagai makanan khusus. Semua orang keluar rumah, berkumpul di satu tempat yang disebut ‘tanah suci karbala’. Di sinilah mereka melampiaskan berbagai bentuk kesyirikan, thawaf mengelilingi kuburan, mencari berkah dengan mengusap-usap berbagai tempat yang mereka anggap suci, sambil mendendangkan lagu dan menabuh rebana.

Berbagai rekaman kegiatan mereka tersebar di internet. Anda yang ingin melihat gambar ritual Syiah, bisa mengakses di google atau youtube dengan kata kunci: كربلاء

Untuk menguatkan motifasi dan cara memperingati hari tersebut, ulama Syi’ah telah merekayasa hadis-hadis palsu atas nama Ahlul Bait, antara lain sebagai berikut:

إن من بكى على الحسين أو تباكى غفر الله له ما تقدم من ذنبه وما تأخر

“Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husen, maka Allah akan mengampuni segala dosanya baik yang sudah dilakukkan maupun yang akan dilakukan.” [3]

كل الجزع والبكاء مكروه إلا الجزع والبكاء لقتل الحسين

“Setiap kesedihan dan tangisan adalah tercela kecuali kesedihan dan tangisan karena terbunuhnya Huisen.” [4]

ان البكاء والجزع مكروه للعبد في كل ما جزع ما خلا البكاء على الحسين بن على (ع) فانه فيه مأجور

“Sesungguhnya tangisan dan kesedihan adalah tercela bagi hamba pada setiap kesedihan apapun kecuali tangisan atas Huisen bin Ali, karena tangisan padanya akan diberi pahala.” [5]

Selain riwayat-riwayat di atas, masih banyak lagi riwayat-riwayat palsu yang mereka rekayasa. Kurang lebih 458 riwayat, yang menerangkan kewajiban menziarahi makam para imam Syi’ah. Bahkan dari jumlah tersebut, 338 riwayat di antaranya dikhususkan mengenai kebesaran dan keutamaan serta pahala besar bagi peziarah makam Imam Husen Ra. atau ke Karbala, di antaranya:

إنّ زيارة قبر الحسين تعدل عشرين حجّة، وأفضل من عشرين عمرة وحجّة

“Sesungguhnya ziarah ke makam Husen pahalanya sebanding dengan haji 20 kali, dan lebih utama daripada 20 kali umrah dan haji.” [6]

من أتى قبر الحسين عليه السّلام عارفًا بحقّه كان كمن حجّ مائة حجّة مع رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Siapa yang ziarah ke makam Husen As. dalam keadaan mengenal haqnya, dia bagaikan orang yang berhaji 100 kali bersama Rasulullah saw.” [7]

من زار الحسين عليه السلام يوم عاشوراء حتى يظل عنده باكيًا لقي الله عز وجل يوم القيامة بثواب ألفي ألف حجة، وألفي ألف عمرة، وألفي ألف غزوة…

“Barang siapa menziarahi Husen pada hari Asyura hingga terus-menerus menangis di sisinya, niscaya ia bertemu dengan Allah pada hari kiamat dengan membawa pahala haji 2 juta kali, pahala umrah 2 juta kali, pahala perang 2 juta kali…”[8]

من أتى قبر الحسين عارفًا بحقّه في غير يوم عيد كتب الله له عشرين حجّة وعشرين عمرة مبرورات مقبولات.. ومن أتاه في يوم عيد كتب الله له مائة حجّة ومائة عمرة.. ومن أتاه يوم عرفة عارفًا بحقّه كتب الله له ألف حجّة وألف عمرة مبرورات متقبّلات

“Siapa yang ziarah ke makam Husen As. bukan pada hari ied—dalam keadaan mengenal haqnya—niscaya Allah mencatat baginya pahala 20 kali haji dan 2o kali umrah yang mabrur lagi maqbul…dan siapa yang mendatanginya pada hari ied, niscaya Allah mencatat baginya pahala 100 kali haji dan 100 kali umrah… dan siapa yang mendatanginya pada hari Arafah—dalam keadaan mengenal haqnya—, niscaya Allah mencatat baginya pahala 1000 kali haji dan 1000 kali umrah yang mabrur lagi maqbul …”[9]

Konon Ja’far ash-Shadiq berkata:

لو أنّي حدّثتكم بفضل زيارته وبفضل قبره لتركتم الحجّ رأسًا وما حجّ منكم أحد، ويحك أما علمت أنّ الله اتّخذ كربلاء حرمًا آمنًا مباركًا قبل أن يتّخذ مكّة حرمًا..

“Sekiranya saya menceritakan kepada kalian tentang keutamaan menziarahinya dan keutamaan kuburannya niscaya kalian meninggalkan haji dan tidak seorang pun di antara kalian melaksanakan haji. Adapun saya tahu bahwa Allah telah menjadikan Karbala sebagai tanah haram yang aman lagi diberkati sebelum Dia menjadikan Mekah tanah haram.” [10]

Demikianlah hari Asyura disikapi oleh Syiah Rafidhah, sekelompok orang yang membangun agama dan keyakinannya berdasarkan kedustaan tokoh dan pemuka Syiah, orang-orang yang beraqidah sesat. [11] Tentu saja perilaku demikian itu bukan berasal dari tradisi Islam dan memang sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam yang sesuai dengan akal sehat. Islam telah melarang melukai diri, tidak boleh meratapi mayat, dan nilai-nilai humanis (manusiawi) lainnya. Sabda Nabi saw.:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Bukan termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti teriakan orang-orang di masa Jahiliyah.” HR. Al-Bukhari, Al-Baihaqi, Ibnu Abu Syaibah, dan Abu Ya’la, [12]

Pada sisi lain, jika kita telusuri jejak riwayah dan sejarah mereka, tidak kita temukan sikap yang demikian “heboh” itu mereka tunjukkan pada hari meninggalnya Ali bin Abi Thalib. Bukankah Ali juga wafat terbunuh?

Selain itu, dalam ragam “ritual Karbala” tercium aroma dendam membara atas kekalahan suksesi kepemimpinan umat. Pasalnya, ritual Asyura itu dibumbui kecaman terhadap Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan. Padahal, apa hubungannya peristiwa Karbala dengan mereka? Bukankah para shahabat mulia ini telah wafat pada saat peristiwa itu bergolak?

Tidak berlebihan kiranya jika disimpulkan bahwa peristiwa Karbala merupakan momentum distribusi propaganda kaum Syiah untuk menjatuhkan kemuliaan dan kredibilitas para shahabat sebagai sasaran utama, Yazid bin Mu’awiyah hanyalah “sasaran antara”. Sementara Husen wafat secara tragis sebagai “tumbal” ambisi politik kaum Syiah.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1] Lihat, At-Tasyayyu’ Wa asy-Syi’ah, karya Ahmad al-Kisrawiy Asy-Syi’iy,Tahqiq Dr. Nasyir Al-Qafari, hlm. 141.

[2] Lihat, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, IV:333-334.

[3] Lihat, asy-Syi’ah wa at-Tashhih ash-Shara’ baina asy-Syi’ah wa at-Tasyayu’, hlm. 93.

[4] Lihat, Amaaliy Syekh ath-Thusi, I:163, bab 7, hadis No. 20; Wasaa’il asy-Syi’ah, IV:505, bab 66, hadis No. 10; Bihar al-Anwar, XXXXIV:280, hadis No. 9; XXXXV:312, hadis No. 14.

[5] Lihat, Kaamil az-Ziyarat, hal. 100, bab 32, Wasaa’il asy-Syi’ah, XIV:505, bab 66, hadis No. 13; Bihar al-Anwar, XXXXIV:280, hadis No. 9; XXXXV:312, hadis No. 14.

[6] Lihat, Furu’ al-Kafiy, I:324; Tsawab al-A’mal, karya Ibnu Babawaih, hlm. 52; Tahdzib al-Ahkam, karya at-Thusiy, II:16; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hlm. 161; Wasaa’il asy-Syi’ah, karya al-Hurr al-‘Amiliy, X:348

[7] Lihat, Tsawab al-A’mal , karya Ibnu Babawaih, hlm. 52; Wasaa’il asy-Syi’ah, karya al-Hurr al-‘Amiliy, X:350.

[8] Lihat, Bihar al-Anwar, karya al-Majlisiy, 100:290; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hal. 176.

[9] Lihat, Furu’ al-Kafiy, I:324; Tsawab al-A’mal, karya Ibnu Babawaih, hlm. 50; Man Laa Yahdhuruh al-Faqih, karya Ibnu Babawaih, I:182;Tahdzib al-Ahkam, karya at-Thusiy, II:16; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hlm. 169; Wasaa’il asy-Syi’ah, karya al-Hurr al-‘Amiliy, X:359.

[10] Lihat, Bihar al-Anwar, karya al-Majlisiy, 101:33; Kaamil az-Zayarat, karya al-Qummiy, hlm. 266.

[11] Lihat, Al-Bida’ Al-Hailiyah, hlm. 56 – 57.

[12] Lihat, HR.Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I:435, No. 1232, al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:64, No. 6909, Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, II:486, No. 11.338, Abu Ya’la, al-Musnad, IX:127, No. 5201. Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan sedikit perbedaan redaksi (Lihat, Musnad Ahmad, I:456, No. 4361).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *