PRINSIP KOMUNIKASI (6) QAUL SADID

Setelah kita mempelajari lima prinsip  komunikasi di dalam Al-Quran melalui beberapa edisi Sigabah, kita semakin menyadari bahwa komunikasi kita selama ini masih jauh dari prinsip komunikasi yang diajarkan Al-Quran. Meski begitu, setidaknya kita telah mendapatkan ilmu secara umum dari berbagai prinsip itu bahwa semua yang  diucapkan mesti berprinsip ketulusan hati dan kebersihan jiwa.

Pada edisi ini akan dibahas prinsip komunikasi keenam, yaitu Qaul Sadid. Prinsip Qaul Sadid mengacu kepada segi substansi atau isi pembicaraan yang mengandung pesan kebenaran. Didalam Al-Quran Qaul Sadid disebutkan dua kali:

Pertama, surat an-Nisa: 9

Melalui ayat ini Allah hendak mengingatkan kepada setiap orang tua hendaknya mempersiapkan masa depan anak-anaknya dengan sebaik baiknya agar tidak hidup terlantar yang justru akan menjadi beban orang lain.

Ayat ini turun dalam kasus seseorang yang akan meninggal, ia bermaksud mewasiatkan seluruh kekayaan kepada orang lain, padahal anak-anaknya masih membutuhkan harta tersebut.

Dalam menyikapi kasus semacam ini, Al-Quran mengajarkan dua prinsip komunikasi yang dapat dijadikan acuan: Pertama, menggunakan Qaul Maisur, yaitu perkataan yang disampaikan harus tepat dan argumentatif.  Misalnya dengan perkataan, “bahwa anak-anakmu adalah pihak yang paling berhak atas hartamu ini. Jika seluruhnya kamu wasiatkan, bagaimana dengan nasib anak-anakmu kelak.” Kedua, menggunakan Qaul Sadid, yaitu mengingatkan akan sebuah penyimpangan wasiat.

Kedua, surat Al-Ahzab:70

Ayat ini diawali dengan seruan kepada orang orang beriman. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu konsekuensi keimanan adalah berkata dengan perkataan yang Sadid (benar). Atau dengan bahasa lain, Qaul Sadid menduduki posisi yang cukup penting dalam konteks kualitas keimanan dan ketakwaan seseorang. Tingkatan ketakwaan seseorang terlihat pada keberesan dan ketepatan perkataannya.

Kedua ayat di atas mengajarkan bahwa Qaul Sadid sebagai model komunikasi yang berprinsipkan mengandung pesan kebenaran meski terkadang dirasakan pahit oleh si pendengarnya.

Prinsip komunikasi ini dikukuhkan pula oleh Nabi saw. sebagaimana pesan beliau kepada Abu Dzar: “Qul al-haqqo walaw kaana murron (katakanlah kebenaran itu walaupun pahit).” HR. Ibnu Hiban, Bulugh al-Maram, hlm. 181.

Sabda Nabi ini mengandung pesan bahwa ukuran Qaul Sadid bukan terletak pada manis atau enak didengarnya satu ucapan, melainkan pada substansi ucapan itu sendiri yang mengandung pesan kebenaran.

Sebelum mengakhiri bahasan prinsip komunikasi positif, sebagaimana diajarkan Al-Quran, perlu diulas kembali inti dan sifat keunikan dari setiap prinsip komunikasi ini agar tercipta satu kesatuan pemahaman yang utuh. Ketika suatu ucapan disampaikan dengan tegas dan jelas disebut Qaul Baligh. Ketika disampaikan kepada mitra bicara yang lebih tua usianya disebut Qaul Karim. Jika perkataan itu argumentative dan logis (alasan yang rasional) disebut Qaul Maisur. Jika perkataan itu logis dan sesuai dengan syariat disebut Qaul Ma’ruf. Ketika disampaikan kepada mitra bicara yang berkarakter keras dan berbeda tingkatan intelektualnya, baik usia maupun latar belakang pendidikan, disebut Qaul Layyin. Sementara ketika ucapan itu mengandung pesan kebenaran disebut Qaul Sadid.

Meski berbeda dilihat dari segi sifat ucapan namun setiap prinsip komunikasi itu pada dasarnya bertujuan sama, yaitu mengajarkan agar kita dapat menyampaikan sesuatu dengan cara yang benar dan berisikan kebenaran dalam rangka mendekatkan diri dan orang lain kepada Allah, tanpa bermaksud merendahkan mitra bicara, dan tentunya disampaikan dengan penuh ketawaduan (rendah hati).

Sebagai catatan akhir bahwa dalam praktek komunikasi keenam prinsip ini tidak berdiri sendiri tetapi saling melengkapi antara satu dengan lainnya, bahkan bisa juga semua prinsip itu  digunakan, tergantung dengan siapa mitra bicara kita.

Bila prinsip-prinsip komunikasi ini digunakan dengan benar, insya Allah akan berdampak positif terhadap beresnya amal seseorang, dan keberesan amal ini akan melahirkan kemaslahatan umat sehingga tercipta kehidupan yang damai dan tenteram.

Sumber: Buletin Humaira, Edisi 10, Juni 2016

Info dan pemesanan Buletin, Hubungi: 0813120261681

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *